WARNING! Sebelum mulai membaca, tolong baca tagar dahulu. Karena di sini area bebas JULID, dilarang mengomel hanya karena keinginan Anda tak sejalan dengan pemikiran Author.
•
Cinta itu menuntun dirinya untuk membuat keputusan paling kejam, memilih satu diantara dua wanita. Di antara tangis dan perih dua wanita yang lain, ia tetap mempertahankan wanita yang ia cinta.
Setelah keinginan diraih, takdir kembali lancang menuliskan jalannya tanpa permisi. Sekali lagi ia kehilangan, tapi kali ini untuk selamanya.
Terombang ambing dalam amarah, serta sempat menjauh dari-Nya. Tapi sepasang tangan kecil tetap meraih dirinya penuh cinta, tulus tanpa berharap imbalan jasa.
Apakah tangan kecil itu mampu menuntun Firza kembali ke jalan-Nya?
Lantas bagaimana dengan dua wanita yang pernah disakiti olehnya?
Mampukah Firza memantapkan hatinya pada cinta yang selama ini terabai oleh keegoisannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#27
#27
Tepat ketika adzan maghrib berkumandang, mobil Ahtar berhenti di depan rumah Abah Husain. Ersha yang duduk di kursi belakang, segera turun sambil menggendong Abizar yang lelah setelah bermain serta kenyang makan es krim.
“Mau mampir dulu, Bang.” Meski basa-basi, Ersha tak lupa menawari Ahtar untuk mampir.
“Eh, iya. Kebetulan ada janji ngobrol dengan Abah,” jawab Ahtar.
“Oh, sudah ada janji rupanya.” Ersha buru-buru masuk ke dalam rumah, takut bila ada mata para tetangga yang melihat kedatangannya bersama pria asing. Rawan terjadi fitnah, meski apa yang terjadi tak seperti apa yang mereka pergunjingkan.
“Lho, kok, barengan datangnya?” tanya Abah Husain yang sudah bersiap pergi ke masjid.
“Tadi, tak sengaja bertemu di kedai es krim, Bah,” jawab Ersha.
“Owalah, begitu rupanya.”
Ahtar segera menghampiri Abah Husain dan mencium punggung tangan pria itu seperti biasanya. Ersha segera masuk dan membaringkan Abizar di tempat yang nyaman, sementara abah dan Ahtar pergi ke masjid untuk sholat maghrib disambung isya’, karena biasanya ada kajian singkat sambil menunggu waktu isya tiba.
•••
Firza melirik ponselnya, malas sekali rasanya karena sejak tadi hanya Resha yang menghubunginya. Pria itu menarik hand rem, lalu turun dari mobilnya, meninggalkan ponselnya di sana. Basement apartemen sunyi karena hari telah larut. Setelah sekian lama, Firza akhirnya memilih tinggal di apartemen lama yang dulu ia tempati bersama Biru.
Jika biasanya ia masih tinggal di rumahnya, tempat ia dan Ersha membangun keluarga kecil mereka. Kini Firza tak sanggup lagi, karena bayangan Ersha yang bisa tertawa bersama pria lain mulai mengganggunya. Apalagi Abizar terlihat baik-baik saja tanpa kehadirannya.
Ya sudah, mungkin ini saatnya Ersha bahagia, seperti doa yang pernah ia ucapkan beberapa bulan lalu, ketika palu perceraian mereka diketuk oleh hakim.
Meskipun rapi, tapi ruangan ini terasa lembab dan sangat berdebu.
Tek!
Tombol lampu di tekan, seketika ruangan menjadi terang. Untunglah, sofa dan beberapa perabot di tutup plastik lebar. Jadi benda tersebut tidak berdebu.
Firza hanya membuka plastik penutup sofa, lalu berbaring di sana. Sunyi, sepi, hidupnya hambar. Sambil menatap langit-langit ruangan, air mata tiba-tiba berlinang ketika ia hanya bisa memendam rindu pada putranya.
Apakah sudah terlambat?
Apa tidak apa-apa bila ia datang ingin bertemu Abizar?
Apakah Ersha akan mengizinkannya?
Apakah Ersha memaafkannya?
Lantas bagaimana dengan Mamak Karmila dan Ayah Ismail?
Pertanyaan-pertanyaan itu terus terngiang hingga tanpa sadar membawanya terbang ke alam mimpi. Kedua mata Firza telah terpejam, tapi ia bisa mendengar dengan jelas suara tawa Ersha dan suara lucu Abizar dulu ketika mereka masih bahagia. Teringat masa kecilnya yang selalu dihiasi dengan nasehat dan doa kedua orang tuanya.
Semua hal indah serta bahagia sederhana itu terbayang, sebelum ia sendiri yang menghancurkan puing-puing bahagia tersebut. Demi sebuah pembuktian atas nama cinta, ternyata tanpa sadar ia sudah terperosok dalam jurang yang dalam. Sebuah jebakan yang manis, namun getir pada akhirnya.
•••
“Mari, Bah. Dan Nak Ahtar. Assalamualaikum,” ucap salah seorang jama'ah masjid yang juga mengenal Ahtar dengan baik.
“Waalaikumsalam,” jawab Abah Husain dan Ahtar bersamaan. Kajian telah lama berakhir, tapi sepertinya, para bapak-bapak kepo dengan pekerjaan Ahtar. Jadilah mereka ngobrol bersama hingga waktu menunjukkan pukul sembilan malam.
“Maaf, ya. Abah jadi banyak menyita waktumu.”
Ahtar tersenyum santai, “Tidak apa-apa, Bah. Pekerjaanku sudah ada yang mengurus, jadi waktuku sangat fleksibel. Justru ngobrol bersama di masjid, adalah hal yang dulu aku rindukan selama masih bekerja di luar negeri. Ringan, akrab, hangat, dan seperti memiliki keluarga dekat, padahal tak ada hubungan darah,” ungkap Ahtar jujur.
Ayahnya telah tiada, kini ia hanya hidup dengan ibu dan kedua adiknya. Jadi bisa ngobrol bersama Abah Husain dan bapak-bapak di masjid, rasanya seperti ngobrol dengan ayah sendiri.
“Kamu memang pemuda baik, Nak. Semoga kelak kamu juga bertemu wanita baik,” kata Abah Husain, segan rasanya bila membicarakan keinginannya agar Ahtar mau menjadikan Ersha sebagai istri.
Ahtar tersenyum simpul, sembari memasukkan kedua telapak tangannya ke saku celana. “Belum kepikiran, Bah.”
“Kenapa? Apa yang kurang? Dari kacamata Abah, Nak Ahtar sudah sangat mampu untuk menikah. Harta dunia yang membuat siapapun terpesona sudah ada, bahkan ketaqwaan yang tak perlu diragukan.”
“Harus, ya, Bah?”
“Ya nggak harus, tapi, kan, rasul kita sudah mencontohkan, langkah baiknya bila kita juga meniru beliau. Bukankah begitu?” nasehat Abah Husain, sekali lagi abah belum berani mengatakan maksud dan tujuannya mengajak Ahtar bicara secara personal.
Tiba-tiba Ahtar tertawa, “Jadi Abah mengajakku bertemu karena mau menyuruhku menikah?”
“Ya, jelas. Kan, kamu sudah seperti anak Abah. Jadi Abah juga wajib mengingatkanmu untuk menyempurnakan agamamu dengan menikah.”
Desir udara malam, mulai menusuk pori-pori, begitupun detak jantung Ahtar yang terus bertalu. Antara ragu dan yakin, antara berani dan segan. Ia pun setali tiga uang dengan Abah Husain yang bermaksud meminang Ersha yang kini telah menjanda. Tapi tak tahu harus dimulai darimana.
Kebisuan pun menyelimuti keduanya, namun, langkah kaki mereka semakin dekat menuju rumah. Jika tidak sekarang, mungkin kesempatan ini tak akan datang. “Bismillah, Ahtar, niatmu baik, Allah pasti memudahkan,” bisik Ahtar dalam hatinya.
“Abah—”
“Nak Ahtar—”
Kalimat itu terucap di waktu bersamaan, lalu sama-sama terkekeh pelan. “Abah mau bicara apa? Masa’ malu sama anak ingusan sepertiku?”
Abah tertawa semakin keras. “Entahlah, semakin tua Abah semakin takut asal bicara. Takut salah, takut tak sempat minta maaf, tapi lebih takut bila meninggalkan putri Abah satu-satunya tanpa seorang pendamping.”
Deg!
“Bah, jika Abah sudi, izinkan saya menjaga Ersha, dan Abizar pastinya.”
..sukurin....🤭🤭🤭🤭
Kuaaaapoooookkkk to,,anakmu memilih orang lain sbg sandaran rindunya..
semua orang di dekatmu sudah mengingatkan,,tapi kammu abaikan..
Skrg nikmati aja...makan tuh cinta...👊👊👊👊👊👊
Sampai kamu pun berani menantang Tuhan..
ikut tertawa dg kebodohan Firza
Gimana Rasanya Fir...? hatimu amankah..?
Orang yg kamu bela mati matian ternyata manipulatif....🤪🤪🤪🤪🤪🤪
tapi gak tahu dengan keluarga Ahtar..