Kiara adalah definisi dari wanita modern yang ambisius. Cantik, cerdas, dan gila kerja. Baginya, satu-satunya hal yang lebih seksi daripada pria tampan adalah saldo rekening yang terus bertambah.
Hingga dia bertemu mengenal Kenan Xequel.
Kenan adalah seorang CEO yang sombong menyebalkan dan sialnya sangat tampan. Dia mewarisi kerajaan bisnis Xequel Group dan terbiasa mendapatkan apa pun yang diinginkannya dengan jentikan jari.
Kiara memutuskan untuk menaklukkan hati pria sialan itu berstatus bosnya, bukan karena cinta saja tapi karena dia menginginkan segalanya.. Love and Money.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Momy ji ji, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 12.
Setelah Arkan baru saja melangkah pergi segala keusilannya, Kiara segera memasuki lift menuju lantai ruanganya.
Namun, pintu lift yang hampir tertutup itu tiba-tiba ditahan oleh sebuah tangan yang memakai jam tangan mewah. Arkan kembali masuk dengan seringai lebar.
"Kenapa Pak... maksudku Arkan kamu masuk lagi?" Kiara mendengus sambil menekan tombol lantai.
"Aku hanya mau bilang kalau aku harus segera ke mansion Mom dan Dad. aku belum sempat kesana," ucap Arkan santai sambil bersandar di dinding lift menatap Kiara yang tidak sudi melihatnya.
Satu-satunya wanita yang jual mahal di antara ribuan wanita bergila-gila memanfaatkannya dengan suka rela, memamerkan tubuh, kecantikan, dan keunikan mereka masing-masing dalam urusan merayu.
Tapi satu hal yang pasti, Arkan masih perjaka, dia memang play boy. tetapi masih menjaga diri dengan cukup baik.
Arkan tahu ada perasaan antara Kiara dan Kenan. dia tidak berniat merebut Kiara, dia justru senang setidaknya Kiara memenuhi kriteria dan dipastikan Mom akan senang dengan yang ini.
"Lalu? apa hubungannya denganku?" Kiara menoleh dengan dahi berkerut.
Arkan mendekatkan tubuhnya sedikit ke samping Kiara.
"Oh ya untuk info tambahan... kamu bisa bertanya apa pun padaku mengenai Kenan."
Kalimat itu berhasil memancing umpan. Kiara yang tadinya acuh tak acuh kini menoleh dengan mata berbinar penasaran.
"Apa saja?" Tanya Kiara.
"Segalanya," jawab Arkan yakin.
"Bagaimana dengan masa lalu Kenan? maksudku apa dia punya mantan?" Kiara bertanya dengan suara pelan, seolah takut ada CCTV lift yang merekam percakapannya.
Arkan terkekeh pelan.
"Tentu saja punya. satu! Kenan punya satu mantan yang kabur darinya."
Kiara terbelalak. Dia hampir tidak bisa membayangkan ada wanita yang sanggup kabur dari pria sesempurna... meski menyebalkan... seperti kenan.
"Kabur? kenapa? apa yang membuat wanita itu melarikan diri?"
"Hanya jika kamu mau menjadi temanku, kamu boleh bertanya apa saja Kiara. aku tidak bisa membagikan informasi kepada seseorang tanpa ikatan apa-apa."
Arkan menyilangkan tangan di dada, memberikan penawaran yang sulit ditolak.
Kiara menimbang-nimbang sejenak. mengenai mantan kenan yang kabur justru sangat membuatnya penasaran.
"Hmm... baiklah. kita bisa berteman satu hari. mulainya dari besok."
"Hahaha, oke! kita lanjutkan besok. aku akan cari cara agar kita bisa bercerita panjang lebar tanpa ketahuan Kenan."
Arkan menunjuk ke atas, merujuk pada lantai ruangan kakaknya.
Tepat saat pintu lift terbuka, Arkan melambaikan tangan dan tetap berada di dalam lift untuk turun kembali ke parkiran.
Kiara melangkah keluar dengan pikiran yang sangat memaksanya berfikir keras mengenai satu mantan Kenan yang kabur?
Di Ruang Kerja Kenan.
Kiara duduk di sofa ruang kerja Kenan dengan laptop di pangkuannya. dia sudah disana ketika Kenan memintanya untuk menyelesaikan beberapa laporan dan menyusun jadwal Kenan untuk besok di ruangan itu.
Jika biasanya dia akan terus mengoceh, mengganggu konsentrasi Kenan dengan candaan atau sekedar menggoda kenan.
Namun sore ini Kiara sangat diam. Jari-jarinya bergerak lincah di atas keyboard tanpa sepatah kata pun keluar dari bibirnya.
Kenan yang sedari tadi mencoba fokus pada berkas di depannya, berkali-kali melirik ke arah Kiara. mengapa wanita itu diam? mengapa dia tidak berbicara? mengapa tidak ada gangguan? keheningan ini justru membuatnya tidak nyaman.
"Kenapa kamu diam saja?" suara Kenan memecah kesunyian.
"Sedang kerja Pak," jawab Kiara seadanya tanpa menoleh dari layar laptop.
Kenan meletakkan penanya kesal.
"Biasanya mulutmu tidak bisa diam. apa Arkan mengatakan sesuatu yang membuat otakmu berhenti berfungsi?" Kata Kenan.
"Tidak ada Pak. saya hanya ingin profesional saja hari ini, nanti besok atau kapan-kapan baru saya mengganggu Pak Kenan lagi." sahut Kiara masih fokus.
Kenan menyipitkan mata. dia curiga kehadiran Arkan benar-benar telah memengaruhi isi pikiran Kiara. apakah Kiara mulai membandingkan dirinya dengan Arkan. tidak, seharusnya dia lebih baik dari semua pria manapun.
"Apa dia memberimu sesuatu?" tanya Kenan lagi, dia hanya ingin tahu saja.
"Hanya menawarkan pertemanan." jawab Kiara singkat.
"Sudah aku bilang untuk jaga batasanmu. dekat-dekat dengan seseorang akan mengganggu kinerjamu." Kenan berdiri dan berjalan mendekati meja tempat Kiara duduk.
"Tapi sekarang saya masih bertanggungjawab kok Pak.... tidak ada yang bisa ubah apapun dalam diri saya." Kiara menutup laptopnya dengan suara keras lalu menatap Kenan dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Kenapa kamu berbicara begitu!" Tanya Kenan.
"Saya merasa Pak kenan mulai cemburu saya dekat dengan siapa dan bahkan dengan adik bapak sendiri, iya kan?"
Kenan terpaku sejenak. pertanyaan itu terasa terlalu sulit dijelaskan.
"Aku tidak punya waktu untuk perasaan tidak berguna seperti itu."
"Ahhh ahhhhh...... pantas saja." gumam Kiara pelan, teringat kata-kata Arkan tentang mantan Kenan yang kabur.
"Apa yang pantas?" Kenan menuntut penjelasan.
"Bukan apa-apa. saya mau lanjut kerja di meja saya sendiri saja Pak. di sini AC nya terlalu dingin saya takut membeku." Kiara mulai membereskan barang-barangnya.
"Hanya boleh aku yang meminta keluar baru bisa keluar!" Tegas Kenan.
Kenan merasa kesal. perubahan sikap Kiara yang mendadak serius dan dingin justru membuatnya merasa tidak suka.
Dia merasa terabaikan dan itu adalah perasaan yang paling dia benci.
"Keluar!!" perintah Kenan tiba-tiba.
Kiara mendongak dan sedikit terkejut.
"Maaf?"
"Aku bilang keluar dari ruanganku sekarang. bawa semua barangmu. bekerja di mejamu sendiri," ucap Kenan tanpa melihat ke arah Kiara.
"Oh good... oh Pak Kenan saya mengerti, baik saya keluar pak." Kiara menghembuskan napas kasar.
"Pergi sana! kembali ke mejamu." Kenan kembali ke kursi kebesarannya dan membelakangi Kiara.
Kiara mendengus keras. dia menyambar berkas dan laptopnya dengan kasar.
"Baik! dasar tidak berperasaan! jangan menyesal ya kalau besok aku lebih betah bercerita dengan Arkan daripada melihat wajah Bapak yang seperti tembok ini!"
Kiara melangkah keluar dan menutup pintu ruangan Kenan dengan dentuman yang cukup keras. di dalam ruangannya, Kenan memejamkan mata rapat-rapat. dia marah pada Arkan dan dia kesal pada Kiara.
Tapi yang paling utama, dia marah pada dirinya sendiri karena merasa begitu terusik hanya karena Kiara cukup tenang dan tidak mengganggunya.
Di ruangannya.
"Satu mantan yang kabur?" gumam Kiara di mejanya sambil menatap pintu ruangan Kenan yang tertutup.
"Aku mulai paham kenapa wanita itu kabur. siapa yang tahan menghadapi wajah tembok dan sikap semena-mena dia setiap hari?"
Kiara kembali membuka laptopnya, namun kali ini bukan untuk bekerja.
Dia mencari jadwal jam makan siang besok. dia akan pergi lagi dengan Arkan, jika bukan jam makan siang. mereka bisa bertemu setelah selesai jam kerja, begitu pikirnya.
Bersambung...
tetap semangat berkarya 💪💪💪👍👍👍🥰🥰🥰
maafkan daku kak..salah ketik 🤣🤣😭