NovelToon NovelToon
My Husband Brondong

My Husband Brondong

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat / Romansa Fantasi
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Naelong

Dunia Maya jungkir balik saat ia terbangun dan menyadari bahwa ia telah terikat pernikahan dengan adik tingkatnya yang paling populer di kampus. Perbedaan usia lima tahun membuat Maya merasa seperti sedang mengasuh seorang adik daripada melayani seorang suami.

​Lucunya, sang suami justru bersikeras ingin membuktikan bahwa dirinya adalah pria dewasa yang bisa diandalkan. Mulai dari kecanggungan di dapur hingga usaha-usaha romantis yang berakhir gagal total, Maya mulai melihat sisi lain dari si "brondong" yang membuat jantungnya berdebar tidak karuan. Menikahi pria yang lebih muda ternyata bukan tentang mengajari, tapi tentang belajar mencintai kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naelong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 29 - MHB

Gema suara pintu yang dibanting Adrian masih menyisakan getaran di udara, namun atmosfer di dalam apartemen justru terasa jauh lebih berbahaya. Maya berdiri di tengah ruang tamu, napasnya memburu, matanya menatap tajam ke arah pintu kamar Arka tempat pemuda itu baru saja menghilang untuk mengenakan pakaian.

​"Arka! Keluar sekarang!" teriak Maya. Suaranya bergetar antara amarah dan sisa rasa malu yang belum tuntas.

​Beberapa detik kemudian, Arka keluar. Ia hanya mengenakan kaus hitam polos dan celana pendek, rambutnya masih setengah basah, namun ekspresi jenakanya sudah hilang. Ia bersandar di bingkai pintu dengan tangan bersedekap, menatap Maya dengan pandangan menantang.

​"Kenapa? Kamu menyesal aku mengusir pangeran mawarmu itu?" tanya Arka dingin.

​"Bukan soal Adrian!" Maya melangkah maju, tangannya menunjuk ke arah sofa. "Soal aksi handukmu tadi! Apa kamu tidak punya harga diri? Bagaimana kalau dia mengambil foto? Bagaimana kalau dia menyebarkan bahwa aku tinggal bersama pria yang... yang seperti itu? Kamu memperumit segalanya, Arka!"

​"Memperumit?" Arka tertawa hambar, langkahnya maju mendekati Maya. "Aku membelamu. Aku mengklaim apa yang seharusnya memang milikku di depan pria yang sudah membuangmu. Dimana letak kesalahannya?"

​"Kesalahannya adalah kita tidak benar-benar seperti itu!" Maya membalas dengan teriakan yang lebih keras. "Pernikahan ini kontrak! Perjodohan bisnis! Kamu melakukan itu seolah-olah kita... seolah-olah kita saling memiliki. Kamu membuat batasan kita menjadi kabur, Arka. Aku tidak bisa bekerja, aku tidak bisa fokus, karena kamu terus-menerus masuk ke ruang pribadiku!"

​"Lalu kenapa kamu tidak mendorongku tadi?" Arka kini berdiri hanya satu jengkal di depan Maya. "Kenapa saat aku merangkulmu di depan Adrian, kamu justru menggenggam tanganku? Kenapa saat di mobil kemarin kamu tidak menamparku saat aku bilang aku jatuh cinta padamu?"

​Maya tertegun. Lidahnya kelu. Ia merasa terpojok oleh kebenaran yang baru saja dilemparkan Arka ke wajahnya. "Itu... itu karena aku panik! Aku hanya mencoba menyelamatkan keadaan!"

​"Bohong," bisik Arka. Suaranya rendah, namun penuh penekanan. "Kamu hanya takut mengakui kalau kamu juga merasakan hal yang sama. Kamu lebih memilih bersembunyi di balik kertas perjanjian itu daripada mengakui kalau kamu mulai butuh aku."

​"Aku tidak butuh siapa-siapa! Aku sudah membangun karirku sendiri sebelum kamu datang dengan segala kekacauanmu!" Maya memukul dada Arka dengan telapak tangannya, mencoba menciptakan jarak yang mulai terasa menyesakkan. "Berhenti bersikap seolah kamu mengenalku, Arka. Kamu masih anak kuliah yang bahkan belum tahu kerasnya dunia!"

​"Dan kamu adalah wanita dewasa yang terlalu penakut untuk mencintai seseorang hanya karena masalah angka usia!" Arka menangkap pergelangan tangan Maya, menahannya di dadanya. "Sampai kapan kita mau sandiwara? Kamu cemburu pada Ghea, kamu marah pada Adrian, kamu gelisah setiap kali aku tidak ada. Itu bukan kontrak, Maya. Itu perasaan!"

​"Cukup, Arka! Cukup!" Maya berteriak, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya karena frustrasi. "Status kita itu tidak jelas! Kita ini apa? Suami istri? Kakak adik? Rekan kerja? Aku lelah dengan ketidakjelasan ini!"

​"Kalau begitu, biarkan aku memperjelasnya."

​Sebelum Maya sempat mengeluarkan bantahan berikutnya, Arka menarik pinggang Maya dengan satu sentakan kuat, menghapus jarak terakhir di antara mereka. Maya tersentak, mulutnya terbuka ingin memprotes, namun kata-katanya tertelan habis saat bibir Arka membungkamnya.

​Ini bukan ciuman karena kecelakaan seperti di drama televisi. Bukan pula ciuman lembut yang ragu-ragu. Ini adalah ciuman yang resmi, sarat dengan emosi yang telah mereka pendam berbulan-bulan—rasa frustrasi, cemburu, rindu, dan pengakuan yang jujur.

​Awalnya, tubuh Maya menegang. Tangannya yang berada di dada Arka sempat mengepal, berniat untuk mendorong pria itu menjauh demi menjaga benteng pertahanannya yang terakhir. Namun, aroma Arka yang familier, hangat tubuhnya, dan cara pria itu memegang punggungnya dengan begitu protektif membuat seluruh persendian Maya melemas.

​Perlahan, kepalan tangan Maya mengendur. Jemarinya merambat naik, meremas kaus hitam Arka, lalu berpindah ke tengkuk pria itu. Maya memejamkan matanya rapat-rapat, membiarkan air mata yang tadi tertahan mengalir jatuh, namun bukan karena sedih—melainkan karena ia akhirnya menyerah pada perasaannya sendiri.

​Dunia di sekitar mereka seolah lenyap. Tidak ada lagi Adrian, tidak ada lagi kontrak bisnis, tidak ada lagi perbedaan usia yang selama ini menghantui pikiran Maya. Yang ada hanya detak jantung yang saling beradu cepat dan pengakuan bisu yang lebih keras dari teriakan mana pun.

​Arka melepaskan ciuman itu perlahan, namun ia tidak menjauhkan wajahnya. Dahinya menempel di dahi Maya, napas mereka beradu, pendek dan memburu.

​"Masih mau bilang kalau ini cuma kontrak?" bisik Arka, suaranya serak namun terdengar jauh lebih lembut dari sebelumnya.

​Maya tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya menyandarkan kepalanya di bahu Arka, menyembunyikan wajahnya yang merah padam di sana. Ia tidak lagi mencoba mendorong Arka menjauh. Ia justru melingkarkan lengannya di leher Arka, memeluk pria itu dengan erat, seolah-olah mengakui bahwa di dalam pelukan "bocah" inilah ia akhirnya menemukan rumah yang sesungguhnya.

​"Jangan diam lagi seperti minggu lalu," gumam Maya pelan, suaranya hampir tenggelam di kaus Arka. "Aku benci saat kamu diam."

​Arka tersenyum, sebuah senyum kemenangan yang tulus. Ia mengeratkan pelukannya, mencium puncak kepala Maya dengan sayang. "Aku nggak akan diam. Aku akan terus mengganggumu sampai kamu bosan mendengar suaraku."

Bersambung...

1
Teh Fufah
keren bingits bukan lumayan keren mayaaaa
Ari Atik
ingat maya egoisnu akan membuat pecahnya bahtera samudra rumah tanggamu.😡
Teh Fufah
karena aku senang, aku kasih mvote nya hari ini buat maya 😍 arkaaaa
Naelong: makasi kak udah mampir😍🙏
total 1 replies
Teh Fufah
klw dah cemburu kayak gini mah otw unboxing hihi
Teh Fufah
otw bucin loe may...
Ari Atik
yap betul sekali.....

karena satu kebohongan,akan muncul seribu kebohongan lagi untuk menutupinya......

rumit hidupmu maya,tak tenang karena sebuah kebohongan....🤔
Teh Fufah
hadeh..... maya oh arka
Teh Fufah
senengnya hati ku
thanks neng otor... ku tunggu up ny lsgi
Ari Atik
mulai memahami satu sama lain....

good...😊
Ari Atik
arkanya gk jadi memperkenalkn diri,di kantornya maya kah?

memperjelas status pernikahan mereka...
Naelong: jadi tapi bukan sekarang ya😍
total 1 replies
Ari Atik
ya.. betul sekali langkah arka..
lebih baik blak2kan daripada di sembunyikn,biar gk jadi fitnah...
Ari Atik
kan...
setelah tau kebenarannya...
makanya jadi wanita jangan egois,merasa di atas,eh taunya kalah start....😡

lanjut thor....😊
Naelong: makasi udah mampir kak😍
total 1 replies
Ari Atik
muak dg egonya maya.....
Ari Atik
maya ...
jangan sok,terlalu egois dn merasa paling hebat....

ingat maya kesabaran sezeorang ada batasnya,jangan mandang susmimu sebelah mata,kalau gk nau menyesal kemudian....😡
Ari Atik
akting,sekaligus memanfaatkn keadaan....🤭😊😊
Ari Atik
ya sakitlah jadi arka....
suami yg tk di akui..😡
Ari Atik
sampai kapan maya bisa mempertahankn egonya....?
Naelong
makasi udah mampir kak🙏
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu, nggak pake lama... Semangat
Teh Fufah
mari kita berpetualang dengan kisah cinta ny sang berondong
Naelong: makasi udah mampir🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!