SMA Cakrawala Bangsa mempunyai Dua Wajah yang berbeda. Di satu sisi, ada **Adrian**, sang Ketua OSIS "Paripurna" yang cerdas, berwibawa, dan menjadi standar kesempurnaan bagi setiap gadis di sekolah. Di sisi lain, ada **Askara**, si *troublemaker* penuh pesona yang tangguh di lapangan basket dan tak terkalahkan dalam karate. Namun, ketenangan sekolah terusik saat kedua idola ini mulai berputar di orbit yang sama: **Aruna**. Aruna hanyalah siswi sains yang cantik dan kalem, yang lebih suka tenggelam dalam dunianya sendiri daripada menjadi pusat perhatian. Ia tidak pernah menyangka bahwa hidupnya yang tenang akan mendadak riuh karena kejaran dua kutub yang bertolak belakang. Mengapa pangeran sekolah dan sang jagoan liar tiba-tiba mendekati gadis yang selama ini memilih untuk tidak dikenal? Di antara kepastian yang ditawarkan Adrian dan tantangan yang dibawa Askara, hati siapakah yang akhirnya akan Aruna pilih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon minttea_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sisi Lain dari Sebuah Pilihan
Sabtu pagi tiba dengan cuaca yang sangat cerah. Sesuai janji, Aruna sudah siap dengan pakaian kasual namun tetap sopan—celana denim gelap dipadukan dengan kemeja oversized berwarna krem. Rambutnya diikat rapi, hanya menyisakan beberapa helai yang membingkai wajahnya yang kini sudah benar-benar segar.
Tepat pukul sepuluh, mobil sedan putih Adrian sudah berhenti di depan pagar rumah Aruna. Adrian turun dengan kemeja polo berwarna biru laut yang membuatnya terlihat sangat berwibawa dan bersih.
"Sudah siap, Na?" tanya Adrian dengan senyum ramahnya yang khas.
"Sudah, Kak. Ayo berangkat," jawab Aruna sambil mengunci pintu rumahnya.
Pameran sains di universitas pusat benar-benar megah. Lorong-lorong gedung dipenuhi oleh stan teknologi terbaru. Adrian adalah pendamping yang sangat ideal; ia menjelaskan beberapa teori sulit dengan bahasa yang mudah dipahami, sesekali memberikan opini cerdas yang membuat Aruna kagum.
Namun, di tengah-tengah penjelasan Adrian tentang Hydroponic Smart System, pikiran Aruna mendadak terdistraksi. Ia teringat kejadian beberapa hari lalu saat ia berada di angkot bersama Sasha dan Jelita.
Ia teringat pemandangan Aska di bengkel pinggir jalan itu—bagaimana cowok itu terlihat begitu fokus dengan tangan yang penuh oli, sangat kontras dengan dunia steril yang sedang ia pijak sekarang bersama Adrian.
"Na? Kamu dengerin aku, kan?" tanya Adrian, menyadari Aruna sedikit melamun.
"Eh, iya Kak. Menarik banget sistem sensor kelembapannya," kilah Aruna cepat, berusaha mengusir bayangan Aska dari kepalanya.
Adrian tersenyum dan mengacak rambut Aruna pelan. "Nanti setelah ini kita makan siang di restoran dekat sini ya? Aku sudah pesan tempat."
Makan siang bersama Adrian berjalan sangat formal dan tenang. Adrian memesan menu yang sehat dan berbicara tentang rencana masa depannya untuk kuliah di luar negeri. "Aku harap kamu juga bisa dapet beasiswa yang sama, Na. Kita bisa berjuang bareng di sana nanti," ucap Adrian penuh harap.
Aruna hanya tersenyum tipis. Kalimat "berjuang bareng" itu terdengar seperti sebuah rencana yang sangat indah, namun di sisi lain, Aruna merasa hidupnya sudah diatur sedemikian rupa hingga tidak ada ruang untuk kejutan.
Saat mereka berjalan menuju parkiran untuk pulang, ponsel Aruna bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak ia simpan, tapi ia tahu siapa pemiliknya karena gaya bahasanya yang khas.
Unknown: 'Gimana pamerannya? Masih betah di tempat yang terlalu bersih gitu? Gue di bengkel biasa, ada masalah sama mesin motor orang. Kalau lu bosen liat mikroskop, mampir aja. Gue butuh orang pinter buat bantu baca manual book yang bahasa Inggrisnya ribet.'
Aruna menatap layar ponselnya cukup lama. Ada sesuatu dalam pesan singkat itu yang menyentuh bagian terdalam dari rasa lelahnya.
Sejujurnya, Aruna bukannya tidak suka belajar—dia mencintai sains—tapi belakangan ini, ia merasa hidupnya seolah terkurung dalam dinding-dinding laboratorium dan tumpukan buku yang tebalnya tidak masuk akal.
Di rumah ia harus belajar, di sekolah ia dipaksa mengejar target, dan bahkan di hari Sabtu yang cerah ini, ia masih harus berhadapan dengan mikroskop.
Ia merasa over. Otaknya terasa seperti mesin yang dipaksa bekerja terus-menerus tanpa pernah diberi pelumas.
Aska, di balik sikap kasarnya, ternyata adalah orang pertama yang menyadari hal itu. Ia ingat, dalam satu percakapan singkat di koridor minggu lalu yang tidak pernah ia ceritakan pada siapa pun, Aska sempat menatap matanya yang sembap karena kurang tidur dan berkata, "Lu tuh pinter, tapi muka lu kayak orang mau mati kelilit rumus. Sekali-kali liat dunia luar, Na. Jangan cuma liat angka."
Aska kasihan melihat Aruna yang seolah dikekang oleh ekspektasi dan ambisi belajar yang tanpa henti. Dan pesan ini, adalah cara Aska untuk menariknya keluar dari penjara tak kasat mata itu.
"Na? Kenapa? Dari siapa pesannya?" tanya Adrian, menyadari Aruna berhenti melangkah.
"Eh, bukan siapa-siapa, Kak. Cuma grup kelas," bohong Aruna. Ia segera memasukkan ponselnya ke saku. Adrian tersenyum dan membukakan pintu mobil untuk Aruna dengan sangat sopan.
Aruna masuk ke dalam mobil, tapi rasa sesak itu makin menjadi-jadi saat melihat pemandangan kota yang teratur dari balik kaca mobil Adrian yang bersih. "Kita langsung pulang ya, Na?" ujar Adrian lembut sambil mulai menjalankan mobilnya.
"Iya, Kak. Langsung pulang aja," jawab Aruna.
Di sepanjang jalan, Aruna menatap keluar jendela. Begitu mobil Adrian berhenti di depan rumahnya dan setelah ia mengucapkan terima kasih, Aruna tidak langsung masuk. Begitu mobil putih itu menghilang di tikungan, Aruna justru melangkah menuju pangkalan ojek di ujung gang.
"Ke bengkel depan mal lama ya, Pak," ucap Aruna mantap.
Saat ia sampai di bengkel, suasana sudah mulai temaram. Bau oli yang menyengat dan suara bising mesin motor yang sedang dites langsung menyambut indra penciumannya. Ini adalah pertama kalinya Aruna benar-benar menginjakkan kaki di tempat seperti ini.
Ia melihat Aska sedang duduk bersandar pada sebuah ban besar, wajahnya penuh coretan oli dan tangannya memegang kaleng minuman dingin. Begitu melihat Aruna datang dengan pakaian rapi bekas pameran sains, Aska tertegun sejenak. Ia meletakkan kaleng minumannya dan berdiri.
"Wah, Anak Pintar beneran dateng? Gue kira lu bakal terjebak di laboratorium selamanya," sindir Aska, namun kali ini suaranya tidak setajam biasanya.
Aruna berdiri di depan Aska, berusaha tidak terlihat canggung meskipun tempat itu sangat asing baginya. "Lu bilang butuh bantuan baca manual? Mana bukunya?"
Aska tertawa, suara tawa yang rendah dan parau. Ia mengambil sebuah buku panduan mesin yang tampak kotor terkena noda tangan. "Nih. Gue tau lu jago bahasa Inggris. Daripada lu cuma baca jurnal sains, mending bantu gue benerin motor ini."
Sore itu, untuk pertama kalinya, Aruna benar-benar berada di dunia Aska. Di antara tumpukan onderdil dan suara knalpot, Aruna menyadari bahwa hidup memang memiliki dua sisi.
Ada Adrian dengan dunianya yang tertata rapi, dan ada Aska dengan dunianya yang kasar namun apa adanya. Dan saat Aruna membantu Aska menerjemahkan instruksi mesin itu, ia merasa ada bagian dari dirinya yang selama ini tersembunyi kini mulai menemukan tempat untuk bernapas.
nyesek didada rasanya
lanjut thor
👍🏻