NovelToon NovelToon
Putri Yang Ditukar

Putri Yang Ditukar

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Teen
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Widia ayu Amelia

Setelah 17 tahun hidup dalam kemiskinan dan menjadi korban perundungan oleh Clarissa, si "Putri Mahkota" sekolah, sebuah kecelakaan tragis mengungkap rahasia besar: Adel adalah putri kandung keluarga konglomerat Mahendra yang tertukar saat lahir.
Kembali ke rumah mewah ternyata bukan akhir dari penderitaan. Adel harus menghadapi penolakan dari ibu kandungnya sendiri yang lebih menyayangi Clarissa si anak palsu. Namun, Adel bukanlah gadis lemah yang bisa ditindas. Dengan bantuan Devan, tunangan Clarissa yang dingin dan berbahaya, Adel bangkit untuk merebut kembali takhtanya, membalas setiap penghinaan, dan membuktikan siapa pemilik sah dari nama besar Mahendra.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widia ayu Amelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

22

Suasana aula utama Mansion Mahendra yang tadinya riuh oleh bisik-bisik ketakutan, mendadak senyap saat Nyonya Siska melangkah maju. Ia tidak lagi tampak seperti wanita yang tadi pingsan; ia kini adalah seorang singa betina yang sedang melindungi sarangnya, meski sarang itu dibangun di atas tumpukan bangkai kebohongan.

Siska bersimpuh di lantai marmer yang dingin, menarik tubuh Clarissa yang gemetar ke dalam pelukannya. Dengan gerakan yang sangat teatrikal, ia merampas mikrofon dari tangan salah satu staf keamanan.

"Hadirin... lihatlah anak ini!" suara Siska pecah, menggelegar melalui pengeras suara, menciptakan gema yang menyayat hati di langit-langit aula yang tinggi. Ia menunjuk Clarissa yang menyembunyikan wajahnya di pundak Siska. "Kalian melihat seorang penjahat? Kalian melihat seorang penipu? Tidak! Aku hanya melihat seorang anak yang dunianya baru saja dihancurkan dalam satu malam!"

Siska mendongak. Matanya yang merah karena tangis—entah itu tangis tulus atau akting—menatap tajam ke arah kerumunan tamu undangan, sebelum akhirnya mengunci pandangannya pada Adel yang berdiri kaku di bawah podium.

"Kalian bicara tentang tes DNA? Kalian bicara tentang golongan darah?" Siska tertawa getir, sebuah tawa yang terdengar sangat pedih. "Darah hanyalah cairan yang mengalir di pembuluh nadi! Tapi aku... akulah yang menyusui anak ini! Akulah yang merasakan jemari kecilnya mencengkeram bajuku saat dia bayi karena ketakutan pada gelap! Tujuh belas tahun aku memberikan setiap detik napasku untuknya! Apakah kasih sayang seorang ibu selama belasan tahun bisa dihapus begitu saja hanya oleh selembar kertas laboratorium yang dingin?"

Adel menarik napas tajam, dadanya terasa sesak. "Ibu... bagaimana bisa Ibu bicara soal kasih sayang, sementara Ibu membiarkanku menggigil kedinginan di paviliun tanpa sekali pun menjenguk?"

"Cukup, Adelard!" teriak Siska, memotong kalimat Adel dengan kasar. Ia berdiri perlahan, namun tangannya tetap menggandeng erat tangan Clarissa, seolah ingin menunjukkan pada dunia siapa yang benar-benar ia pilih untuk dilindungi.

"Kau datang ke rumah ini bukan sebagai seorang putri yang mendamba kasih sayang," lanjut Siska, suaranya kini merendah namun penuh racun yang merayap. "Kau datang dengan hati yang penuh daki dendam panti asuhan! Kau membawa kebencianmu dari jalanan ke dalam rumah kami yang damai. Kau sengaja, bukan? Kau sengaja menunggu malam perayaan perak ini—malam paling suci bagi pernikahan kami—untuk meledakkan bom ini?"

"Aku tidak memilih waktunya, Ibu! Clarissa yang memaksaku dengan mencoba mencelakaiku!" sahut Adel, suaranya bergetar antara marah dan ingin menangis.

"Jangan berbohong lagi di depan orang-orang terhormat ini!" Siska melangkah ke tepi panggung, berdiri tepat di depan Adel yang berada di lantai bawah. "Jika kau ingin kebenaran, kau bisa bicara baik-baik di ruang kerja Ayahmu. Tapi tidak, kau ingin panggung. Kau ingin lampu sorot. Kau ingin melihat Mahendra Group, bisnis yang dibangun Ayahmu dengan darah dan air mata, hancur dalam semalam hanya agar kau merasa puas, bukan?"

Clarissa mendongak, wajahnya yang sembap oleh air mata menatap Adel dengan tatapan memelas yang sangat meyakinkan. "Adel... kalau kau benci padaku, hancurkan saja aku. Ambil kamarku, ambil perhiasanku, aku akan pergi... tapi tolong jangan sakiti Ayah dan Ibu. Aku rela hidup di jalanan asalkan kau berhenti menyiksa perasaan Ibu dengan drama ini."

"Dengar itu?" Siska menoleh pada para tamu, tangannya terentang lebar. "Lihat betapa mulianya hati anak yang aku didik ini! Di tengah kehancurannya, dia masih memikirkan orang tuanya. Sedangkan kau? Kau dididik oleh siapa di tempat kumuh itu, Adel? Kenapa kau tumbuh menjadi gadis yang begitu kejam dan licik? Apa mereka tidak pernah mengajarimu di panti asuhan itu tentang cara menghormati martabat keluarga?"

"Mereka mengajariku untuk tidak menjadi pembohong, Nyonya Siska!" balas Adel lantang, matanya berkilat menantang.

Siska tertawa sinis, menatap hadirin seolah meminta dukungan moril. "Kalian dengar cara dia bicara? Begitu angkuh. Begitu tidak terdidik. Inilah yang selama ini menjadi ketakutanku yang terdalam. Aku ingin menyambutnya, aku ingin mendidiknya agar dia layak menyandang nama Mahendra. Tapi setiap kali aku mencoba mendekat, dia menatapku dengan mata penuh rencana jahat. Dia merencanakan semua kekacauan ini agar kita semua bangkrut dan berakhir di jalanan bersamanya!"

Bisik-bisik di antara para tamu kelas atas mulai berubah arah. Pengaruh narasi "Ibu yang Terluka" dan "Anak Panti yang Dendam" mulai merasuk ke pikiran mereka yang sangat peduli pada status sosial.

"Benar juga," celetuk seorang wanita pemilik yayasan sosial di barisan depan. "Kenapa harus di depan publik kalau bukan untuk memeras atau menjatuhkan saham? Anak itu sepertinya memang punya niat buruk."

"Hendra, lihatlah!" Siska menoleh pada suaminya yang berdiri kaku di belakangnya. "Anak kandungmu ini adalah ancaman terbesar bagi bisnismu! Dia tidak peduli pada nama baikmu! Dia hanya peduli pada balas dendamnya yang picik karena dia merasa ditinggalkan. Padahal kita juga korban! Kita semua korban dari perawat gila itu, tapi dia bertindak seolah-olah kita adalah pelakunya!"

Tuan Mahendra terdiam, ia melihat bagaimana opini publik mulai berbalik 180 derajat menguntungkannya. Dengan cerdik, ia mendekati Siska dan merangkul pundak istrinya yang bergetar. "Sudahlah, Siska... Adel mungkin hanya sedang terpengaruh emosi masa mudanya."

"Tidak, Hendra! Aku tidak bisa diam lagi melihatmu dan Clarissa disudutkan!" Siska kembali menatap Adel dengan pandangan penuh penghinaan. "Kau bilang kami tidak adil? Kami memberimu tempat berteduh, memberimu makanan yang lebih baik dari panti asuhanmu, memberimu pakaian yang layak. Tapi kau membalasnya dengan meludahi muka kami di depan seluruh relasi bisnis kami! Inilah bukti nyata bahwa darah memang tidak menjamin karakter seseorang. Kau mungkin punya darah Mahendra, tapi kau tidak punya jiwa Mahendra yang luhur dan bermartabat!"

Adel merasa seolah-olah seluruh pasang mata di ruangan itu sedang menusuknya dengan jarum-jarum kebencian. Ia dikuliti habis-habisan di depan publik oleh wanita yang seharusnya menjadi tempatnya berlindung.

"Jadi..." Adel bicara dengan suara yang ditekan serendah mungkin namun bergetar hebat oleh kemarahan. "Karena Clarissa adalah anak yang Ibu susui, maka segala tindakannya—termasuk mencoba membunuhku di atap sekolah—adalah hal yang bisa dimaafkan dan dilupakan?"

Siska tertegun sejenak, namun dengan kecepatan otak seorang manipulator, ia segera memutarbalikkan fakta itu. "Dia melakukan itu karena kau memprovokasinya setiap hari! Kau menghantui hidupnya dengan ancaman-ancaman busukmu! Kau menekannya secara mental sampai dia kehilangan akal sehat! Anak mana yang tidak akan gila jika setiap hari diteror bahwa dia akan diusir dari rumahnya sendiri oleh orang asing sepertimu?"

Siska kemudian kembali menangis, kali ini tangisannya terdengar lebih halus, penuh keputusasaan yang mampu meluluhkan hati siapa pun yang mendengarnya.

"Hadirin... mohon maafkan kami. Kami hanya ingin menjadi keluarga yang utuh kembali. Aku benar-benar ingin mencintai Adel, Tuhan tahu itu. Aku ingin dia menjadi bagian dari kami. Tapi bagaimana bisa aku memeluk seseorang yang sedang menyembunyikan pisau di balik punggungnya untuk menusuk jantung keluargaku sendiri?" Siska menatap langit-langit seolah sedang mengadu pada Tuhan. "Di manakah letak kesalahan pendidikanku, sehingga anak kandungku sendiri tumbuh menjadi monster yang ingin melihat orang tuanya hancur?"

"Ibu benar-benar luar biasa," bisik Adel pelan, namun mikrofon di podium masih menangkap suaranya. "Ibu tidak hanya menukar bayinya tujuh belas tahun lalu, tapi Ibu juga baru saja menukar kenyataan dengan sebuah dongeng paling busuk yang pernah kudengar."

"JAGA BICARAMU, ADELARD!" Tuan Mahendra membentak, suaranya menggelegar memenuhi aula, membuat beberapa tamu terlonjak. "Minta maaf pada ibumu! Sekarang juga! Jangan sampai sisa-sisa rasa ibaku padamu hilang karena kelakuan tidak terdidikmu ini!"

Adel menatap pria yang menyebut dirinya ayah itu, lalu menatap wanita yang telah melahirkannya. Di sana, di samping mereka, Clarissa menenggelamkan wajahnya di dekapan Siska, namun dari sela-sela rambutnya, Adel bisa melihat seulas senyum kemenangan yang sangat tipis—senyum seorang iblis yang baru saja memenangkan jiwa manusia.

Di dalam aula yang megah dan penuh lampu kristal itu, Adel akhirnya menyadari satu hal yang paling pahit: Di rumah ini, kebenaran adalah sampah, dan sandiwara adalah satu-satunya mata uang yang laku. Ia berdiri sendirian, dikepung oleh orang-orang yang menganggap darah tidak lebih penting daripada sebuah cerita yang enak didengar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!