Demi menyelamatkan nyawa ibunya yang sekarat, Aluna terpaksa menerima tawaran yang tak masuk akal yaitu menjadi rahim bayaran bagi seorang pria yang dikenal sebagai mafia paling kejam dan tak tersentuh.
Pria itu, Arka Mahendra, bukan hanya dingin dan berbahaya, tapi juga menyimpan rahasia kelam di balik keinginannya memiliki seorang anak. Tidak ada cinta dalam perjanjian mereka. Hanya kontrak, batasan, dan harga yang harus dibayar.
Namun semuanya berubah ketika kehidupan Aluna perlahan terjerat dalam dunia gelap Arka. Ancaman datang dari musuh-musuh yang mengintai, sementara perasaan yang seharusnya tidak pernah ada mulai tumbuh di antara mereka.
Di tengah bahaya, pengkhianatan, dan rahasia masa lalu yang terkuak, Aluna dihadapkan pada pilihan yang menghancurkan, tetap menjadi “rahim bayaran”… atau mempertaruhkan segalanya untuk cint
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon I'ts Roomie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27
Setelah kepergian Pak Herman, suasana di ruang tamu itu masih terasa hangat namun kini mulai berubah menjadi tegang.
Tas berisi uang yang ditinggalkan oleh tamu istimewa tadi masih tergeletak di atas meja, menjadi saksi bisu keajaiban yang baru saja terjadi.
Tuan Mahendra tampak sangat lega dan bahagia. Ia menghela napas panjang lalu menatap putranya dengan penuh harap.
"Syukurlah... Arka, Ayah benar-benar bersyukur kau dulu pernah berbuat baik. Ternyata menanam kebaikan akan membuahkan hasil yang indah di kemudian hari," ucap Tuan Mahendra tulus.
Arka tersenyum, matanya berbinar penuh semangat. Ia tidak bisa menyembunyikan rencananya lagi. Kesempatan emas ini sudah ada di depan mata.
"Ya Yah... Itulah sebabnya tadi aku sangat antusias. Dan karena uang ini sudah ada di tangan kami, aku dan Aluna punya rencana besar," kata Arka penuh percaya diri.
Ia lalu menjelaskan secara detail tentang bakat Aluna dalam mendesain baju, tentang sketsa-sketsa indah yang dibuat istrinya, dan rencana mereka untuk membuka sebuah butik atau rumah produksi pakaian yang modern dan berkualitas tinggi.
"Dengan modal ini, kita bisa beli mesin bagus, sewa tempat strategis, dan promosi besar-besaran. Aku yakin usaha ini bakal cepat balik modal dan malah bisa jadi sumber pendapatan utama kita yang jauh lebih menjanjikan," jelas Arka antusias.
"Aku mau wujudkan impian Aluna, dan sekaligus kita bangkit lagi dari keterpurukan ini."
Tuan Mahendra mendengarkan dengan seksama dan tampak tertarik serta mengangguk-angguk setuju. "Wah... Ide yang bagus sekali Arka. Kalau memang bakat Aluna sehebat itu, kenapa tidak dicoba?"
Namun, baru saja kalimat itu keluar dari mulut Tuan Mahendra, suara ketus dan nada tinggi langsung menyela.
"JANGAN HARAP!!"
Nyonya Soraya langsung berdiri tegak dengan wajah memerah padam menahan amarah. Matanya melotot menatap tas uang itu seolah itu adalah nyawa satu-satunya.
"Kau mau pakai uang sebesar ini cuma buat jahit-menjahit dan main butik-butikan?! Arka, kau sadar tidak sih dengan posisi kita sekarang?!" cecam Nyonya Soraya keras.
"Perusahaan Ayahmu itu sedang diambang kebangkrutan! Tagihan menumpuk di mana-mana, karyawan butuh gaji, bank setiap hari menagih! Dan kau malah mau buang-buang uang cuma buat hobi wanita ini?!"
Nyonya Soraya menunjuk wajah Aluna dengan pandangan tajam dan sinis.
"Sudah cukup dia membawa sial! Jangan biarkan dia merusak kesempatan terakhir kita ini! Uang ini HARUS masuk ke perusahaan! Dipakai buat putar modal dagang biasa yang jelas hasilnya, bukan buat mimpi-mimpi indah yang belum tentu laku!"
"Tidak Bu!" Arka langsung membantah tegas.
"Ini bukan hobi sembarangan! Desain Aluna itu bernilai tinggi! Ini bisnis nyata! Kalau kita kembangkan, justru ini yang bakal selamatkan kita jauh lebih cepat daripada memaksakan perusahaan yang sudah sakit parah ini!"
"Perusahaan itu masalahnya bukan cuma kurang modal, tapi sistem dan manajemennya yang sudah bobok! Kalau uang ini dimasukkan ke sana, percuma Bu! Nanti juga habis tak bersisa!" jelas Arka.
"BERANI-ARINYA KAU BILANG PERUSAHAAN KELUARGA KITA BOBOK?!" teriak Nyonya Soraya makin tinggi. "Itu warisan leluhur! Darah daging keluarga kita! Daripada percaya sama tangan wanita ini, lebih baik kita pertahankan apa yang sudah ada!"
"Uang itu milik keluarga! Jadi Ayah dan Ibu yang berhak menentukan pakainya buat apa!"
Terjadi perdebatan sengit di ruang tengah itu. Suara Arka dan suara Nyonya Soraya saling bersahutan. Tuan Mahendra hanya bisa memijat pelipisnya yang terasa pening, bingung harus memihak siapa.
Di satu sisi, ide Arka dan Aluna memang menjanjikan masa depan baru. Tapi di sisi lain, rasa sayang dan keterikatan emosional terhadap perusahaan lama sangatlah besar.
Aluna berdiri mematung di sudut ruangan, masih menggendong Arfan yang tertidur. Hatinya terasa sangat sesak dan tidak enak.
Ia melihat betapa kerasnya Arka membela rencana mereka, namun ia juga melihat betapa besarnya kebencian dan penolakan dari Nyonya Soraya.
Jika ia memaksakan kehendak dan uang itu dipakai buat butik, dipastikan hubungan mertua dan menantu ini akan semakin hancur berkeping-keping.
Nyonya Soraya pasti akan semakin membencinya, bahkan bisa jadi akan mengusir mereka lagi atau terus meneror hidup mereka.
Aluna tidak ingin Arka terus-terusan bertengkar dengan orang tuanya hanya karena dirinya. Ia tidak ingin menjadi sumber perpecahan.
Dengan tangan gemetar dan air mata yang mulai menggenang, Aluna perlahan melangkah maju dan menarik pelan lengan baju suaminya.
"Tuan... sudahi saja..." bisik Aluna pelan namun jelas terdengar.
Semua mata langsung tertuju padanya.
"Aluna... kenapa sayang?" Arka menoleh bingung dan khawatir.
Aluna menunduk dalam, suaranya bergetar menahan tangis. "Sudahlah Tuan... Ikuti saja kemauan Ibu. Uangnya pakai buat perusahaan saja."
"Tapi Aluna sayang! Itu kan mimpi kamu!" Arka tak terima.
"Tidak apa-apa Tuan..." potong Aluna cepat, ia mengangkat wajahnya menatap suaminya dengan senyum getir yang menyakitkan.
"Mimpi Aluna bisa ditunda. Bisa dicari lagi nanti kalau keadaan sudah lebih baik."
"Tapi perusahaan Ayah dan Ibu itu butuh pertolongan sekarang juga. Aluna tidak tega melihat keluarga ini bertengkar hanya karena masalah uang ini. Apalagi Aluna sungkan... Aluna takut kalau Aluna maksa pakai uang ini buat keinginan Aluna sendiri, Ibu akan semakin benci dan semakin tidak suka sama Aluna."
"Aluna tidak mau jadi durhaka. Aluna tidak mau Tuan jadi anak durhaka juga karena membela Aluna. Pakai saja uang itu buat selamatkan perusahaan, Yah, Bu. Aluna ikhlas..."
Kalimat itu keluar dengan sangat tulus namun menyayat hati. Aluna rela mengubur kembali mimpinya, rela menahan keinginan hatinya, demi menjaga kerukunan dan demi tidak memperburuk hubungan dengan mertuanya.
Nyonya Soraya tertegun sejenak mendengarnya. Ia tidak menyangka wanita ini akan setegar itu mengalah. Ada rasa sedikit bersalah yang menyelinap, namun dengan cepat ia tutupi dengan rasa puas.
"Sudah dengar kan Arka? Istrimu saja yang bijak dan mengerti keadaan. Daripada kau keras kepala, lebih baik terima saja keputusan baik ini," ucap Nyonya Soraya mencoba terlihat menang.
Arka menatap wajah istrinya dalam-dalam. Ia bisa melihat kesedihan yang terpendam di balik senyum ikhlas itu. Hati Arka hancur melihat istrinya harus berkorban sejauh ini.
"Kamu yakin sayang? Kamu benar-benar ikhlas?" tanya Arka parau.
Aluna mengangguk pelan, memaksakan senyum. "Iya Tuan... Kita berusaha lagi nanti ya. Sekarang selamatkan perusahaan dulu."
Malam itu berakhir dengan kemenangan pahit bagi keluarga Mahendra. Uang itu akhirnya diserahkan untuk menyelamatkan perusahaan yang sekarat.
Mimpi indah tentang butik dan desainer harus ditelan kembali oleh kenyataan pahit. Namun, di mata Arka, pengorbanan Aluna malam ini tercatat sebagai bukti cinta dan ketulusan terbesar yang tidak akan pernah ia lupakan seumur hidupnya.