TELAHIR SAKTI: "Pencarian Pusaka Primordial"
Dunia yang damai ternyata hanyalah lembaran kertas di mata para dewa.
Pahlawan legendaris bernama Raka mengorbankan jiwa dan raganya yang merupakan tetesan "Tinta Primordial" untuk membebaskan dunia dari belenggu Naskah Takdir. Pengorbanannya memberikan kehendak bebas bagi seluruh penduduk fana. Namun, di dimensi kosmik yang jauh lebih tinggi, sebuah tempat bernama Ruang Redaksi, kebebasan ini dianggap sebagai "Kecacatan Cerita" yang harus segera dihapus."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abas Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
B 3: Rahasia Sang Ayah
Janji di Balik Kabut
Srakkk! Srakkk!
Dari balik tanah yang digali sedikit, ia mengeluarkan sebuah kotak kayu jati kuno yang dibalut kain sutra hitam."
"Dua puluh tahun yang lalu, saat badai ungu menghantam desa ini, aku tidak menemukanmu di rahim ibumu secara normal, Raka," bisik Darman.
Arini menunduk semakin dalam.
"Malam itu, seorang pria dengan jubah yang memancarkan cahaya perak datang ke gubuk ini. Ia membawa seorang bayi yang terbungkus cahaya emas.
Pria itu terluka parah, darahnya berwarna kebiruan." Raka tertegun. Darah biru?
"Pria itu berkata, 'Jaga dia. Namai dia Raka. Dia adalah matahari yang akan terbit dari kegelapan.'
Lalu pria itu lenyap menjadi butiran debu tepat di depan mata kami. Kami merawatmu seperti darah daging kami sendiri, Raka. Tapi kami selalu tahu, kau bukan milik tempat ini."
Darman membuka kotak itu. Di dalamnya tergeletak sebuah gelang lengan, yang terbuat dari logam hitam legam yang tidak memantulkan cahaya. Di tengahnya terdapat permata merah delima yang berdenyut seirama dengan detak jantung Raka.
Hummm... hummm...
"Ini adalah Gelang Penahan Sukma. Pakailah," ujar Darman.
"Ini akan membantumu menyembunyikan auramu dari musuh, sekaligus membantumu mengendalikan ledakan kekuatan yang ada di dalam dirimu."
Raka mengambil gelang itu. Begitu ia melingkarkannya di lengan kiri, tepat di bawah tanda naga, ia merasakan sensasi dingin yang menyejukkan. Energi panas yang biasanya membakar nadinya seketika menjadi tenang dan teratur.
Sring!
Cahaya di matanya meredup, kembali menjadi hitam pekat yang tajam. Raka merasa lebih ringan, namun jauh lebih berbahaya.
"Pergilah ke Utara, Raka. Cari Kuil Langit di puncak Gunung Meru. Hanya di sana kau akan menemukan jawaban siapa sosok misterius yang mewariskan kekuatan ini padamu," pungkas Darman dengan suara bergetar."
Malam semakin larut. Sebelum fajar menyingsing, Raka sudah mengemas sedikit bekal. Ia melangkah keluar dari desa, namun di jembatan perbatasan yang diselimuti kabut tebal, ada sesosok bayangan telah menunggunya." Itu adalah Sekar."
Gadis itu mengenakan kain tipis yang membungkus tubuhnya, namun pundaknya terbuka, memperlihatkan kulitnya yang mulus bersinar di bawah cahaya bulan yang pucat. Dinginnya udara malam membuat ujung hidungnya memerah, dan napasnya mengeluarkan uap tipis.
"Kau benar-benar akan pergi, Raka!?" tanya Sekar. Suaranya gemetar oleh emosi.
Raka mendekat, jarak mereka hanya beberapa senti. Ia bisa mencium aroma sabun sereh dan kehangatan tubuh Sekar yang kontras dengan udara malam.
"Aku harus, Sekar. Jika aku tetap di sini, orang-orang itu akan kembali dan menghancurkan desa ini."
Tanpa kata, Sekar menarik kerah pakaian Raka. Ia mencium bibir Raka dengan penuh kecintaan dan berat yang tertahan akan jauh darinya."
Mmm... Raka membalasnya, tangan kekarnya merangkul pinggang Sekar, menarik tubuh mungil gadis itu hingga melekat erat pada tubuhnya.
Tangan Sekar merayap masuk ke balik baju Raka, menyentuh kulit punggungnya yang keras dan berurat.
Mereka bergumul dalam ciuman yang dalam di balik kabut, seolah ingin merekam setiap jengkal sensasi tubuh masing-masing sebelum terpisah jarak.
Keinginan Raka sebagai lelaki hebat, darahnya mendidih, bukan karena kekuatan sakti, tapi karena murni terhadap wanita di pelukannya.
"Hiduplah untukku, Raka..." bisik Sekar di sela napasnya yang memburu."
Matanya berkaca-kaca, menatap wajah Raka yang kini tampak lebih dewasa dan penuh tekad.
Sekar mendesah pelan saat Raka memberikan kecupan terakhir yang sangat kuat di lehernya, meninggalkan tanda yang akan diingatnya selama Raka pergi.
"Aku akan kembali sebagai pria yang layak untukmu, Sekar," janji Raka rendah.
Raka melepaskan pelukannya dengan berat hati. Ia berbalik dan melangkah masuk ke dalam hutan yang gelap.
Tap... tap... tap... Langkah kakinya mantap, menghancurkan ranting-ranting kering di bawahnya.
Baru beberapa kilometer masuk ke dalam hutan, Raka merasakan kehadiran sesuatu. Bukan manusia, tapi sesuatu yang lebih purba.
Ggrrrr...
Dari balik semak-semak, muncul seekor serigala raksasa dengan mata merah menyala.
Ukurannya sebesar kerbau, dengan taring yang meneteskan air liur beracun. Serigala itu adalah peliharaan para Utusan Lembah Kelam yang tertinggal.
"Mau apa Kau! ingin mencoba kekuatanku yang baru?" gumam Raka pada dirinya sendiri.
Wusss!
Serigala itu melompat dengan kecepatan kilat, cakarnya yang tajam siap merobek dada Raka.
Srakkk!
Raka tidak menghindar. Ia hanya mengangkat tangan kirinya yang mengenakan gelang hitam. Sebuah perisai cahaya merah berbentuk naga muncul seketika.
Seketika Serigala itu terpental menghantam pohon jati hingga hancur berkeping-keping. Raka melesat maju, tangannya mengepal, dan dengan satu pukulan yang mengandung energi Matahari Hitam, ia menghantam kepala binatang itu.
Duar!
Tanah bergetar. Ledakan itu menciptakan lubang besar di tengah hutan. Serigala itu tewas seketika tanpa sempat melolong.
Raka berdiri di tengah kepulan debu, menatap tangannya yang kini tidak lagi gemetar. Gelang itu bekerja dengan sempurna."
"Raka melanjutkan perjalanannya." Utara!... aku datang," ucap Raka dengan nada dingin.
Petualangan yang baru saja dimulai. Di depan sana, ribuan pendekar, monster, dan rahasia kuno telah menantinya. Raka bukan lagi pemuda desa yang lemah, ia adalah pemangsa yang sedang mencari takhtanya."
Setelah menempuh perjalanan selama tujuh hari menembus hutan lebat dan menyeberangi sungai-sungai deras, Raka akhirnya tiba di gerbang Kota Karang Hitam.
Kota ini adalah tempat berkumpulnya para pendekar buronan, pedagang senjata ilegal, dan pencari keberuntungan dari seluruh penjuru negeri.
Bau besi berkarat, asap pembakaran arang, dan keringat manusia menyeruak masuk ke indra penciuman Raka.
Ting! Ting! Ting!
Suara palu godam menghantam landasan besi dari bengkel-bengkel senjata bersahutan, menciptakan irama yang bising namun hidup. Raka melangkah masuk dengan jubah lusuh yang menutupi Gelang Penahan Sukma di lengan kirinya.
Matanya waspada, mengamati setiap sudut jalanan yang dipenuhi orang-orang berwajah garang dengan pedang tersampir di punggung mereka.
"Kau terlihat seperti anak hilang, Anak Muda," sebuah suara serak menyapa dari sebuah kedai remang-remang bernama 'Naga Haus'.
Raka menoleh. Seorang wanita cantik dengan pakaian kulit yang sangat ketat duduk di depan meja kayu, menyesap minuman merah dari cawan perak."
Rambutnya dipotong pendek sebahu, memberikan kesan tomboi namun sangat seksi. Celana kulitnya begitu melekat, menonjolkan bentuk kakinya yang jenjang dan pinggulnya yang berisi.
"Aku mencari jalan menuju Kuil Langit," jawab Raka datar.
Wanita itu tertawa, memperlihatkan barisan gigi putihnya yang rapi.
"Kuil Langit? Kau bercanda? Itu tempat mitos. Tapi... jika kau punya cukup emas atau nyali, mungkin ada informasi yang bisa kau beli di sini."
Ia berdiri dan berjalan mendekati Raka. Aroma parfum mawar yang tajam bercampur dengan bau kulit binatang menyengat hidung Raka.
Wanita itu bernama Nara. Ia adalah seorang informan sekaligus petarung bayaran di kota ini. Saat ia mendekat, ia sengaja menyentuhkan jemarinya yang lentik ke pundak Raka, merasakan kerasnya otot pria itu di balik jubah.
"Badanmu cukup bagus untuk seorang pengelana," bisik Nara tepat di telinga Raka.
Ia meniup lembut telinga Raka, membuat bulu kuduk Raka meremang.
"Ikutlah denganku ke Arena Bawah Tanah. Jika kau menang satu pertarungan malam ini, aku akan memberitahumu siapa yang memegang peta menuju Gunung Meru."
Arena Lubang Maut
Arena itu terletak di bawah gudang tua yang pengap. Ratusan orang berkumpul di pinggir lubang besar sedalam tiga meter, berteriak-teriak sambil memegang lembaran uang taruhan. Udara di sana sangat panas dan lembap.
Duar! Duar!
Bersambung....