Arini, seorang mahasiswi sastra yang berjiwa bebas, terjebak dalam janji perjodohan antara ayahnya dengan pemilik Pondok Pesantren Al-Ikhlas. Ia membayangkan akan menikah dengan sosok pria religius yang kaku, namun kenyataan justru mempertemukannya dengan Gus Zikri.
Zikri adalah anomali di lingkungan pesantren. Di balik statusnya sebagai putra Kyai, ia adalah seorang pemberontak yang lebih akrab dengan deru motor gede, jaket kulit, dan balapan liar daripada kitab kuning. Baginya, pernikahan ini hanyalah beban hutang budi yang harus ia bayar.
Arini harus bertahan di tengah dinginnya sikap Zikri dan aturan ketat pesantren yang asing baginya. Namun, perlahan ia mulai menemukan sisi lain dari suaminya yang tersembunyi di balik topeng "bad boy". Di sisi lain, Zikri pun mulai terusik oleh kehadiran Arini yang tidak hanya melihatnya sebagai seorang "Gus", tapi sebagai manusia biasa.
Dua dunia yang bertolak belakang ini pun berbenturan. Bisakah Arini melunakkan hati Zikri yang liar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putri Sefira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7: Bayangan di Balik Tembok Putih
Gema langkah sepatu bot yang beradu dengan lantai keramik lorong pesantren terdengar lebih sering sejak subuh tadi. Arini merasakannya—sebuah atmosfer yang tidak biasa. Jika biasanya para santri pengurus keamanan hanya berkeliling untuk memastikan santri tidak terlambat masuk kelas, kini tatapan mereka lebih tajam, lebih menyelidik, dan anehnya, sering kali tertuju pada ndalem.
Zikri duduk di tepi ranjang, sedang melilitkan sorban di kepalanya dengan gerakan yang kaku.
Matanya menatap kosong ke arah cermin. Kilatan lampu kamera di jembatan semalam masih menghantui pikirannya.
"Zik, jangan terlalu jelas gelisahnya," bisik Arini sambil merapikan kerah baju koko Zikri. "Kang Said dan tim keamanan pusat sepertinya mulai diperintah Abah untuk lebih ketat. Jangan biarkan mereka melihat celah sedikit pun."
Zikri mendengus, tawa pahit lolos dari bibirnya. "Sepertinya aku tidak pernah benar-benar punya rumah, Rin. Di sini aku diawasi seperti narapidana, dan di luar aku dikejar seperti buronan. Hanya di kamar ini, denganmu, aku merasa bisa bernapas."
Arini tertegun. Ia menyentuh tangan Zikri yang masih memegang kain sorban. "Maka dari itu, kita harus mulai 'bersih-bersih'. Bukan cuma soal motor atau Marco, tapi soal citramu di mata Abah. Kita harus buat mereka percaya bahwa Gus Zikri telah 'kembali'."
Siang itu, Arini memulai misinya. Ia mengajak Zikri untuk ikut mengisi kajian sore di aula asrama putri. Ini adalah langkah yang berani, karena biasanya Zikri selalu menghindar dari urusan mengajar santriwati.
"Gus Zikri akan membawakan materi tentang Adabul Alim wal Muta’allim," umum Arini di depan ratusan santriwati yang tampak antusias sekaligus terkejut.
Zikri berdiri di samping Arini. Ia tampak gagah dengan jubah hitamnya, namun Arini bisa merasakan betapa dinginnya tangan Zikri saat mereka bersentuhan sebentar di balik meja kayu.
Zikri memulai kajian dengan suara beratnya. Awalnya terdengar kaku, namun lama-kelamaan, ia mulai menemukan ritmenya. Ia tidak bicara seperti robot yang menghafal teks; ia bicara tentang bagaimana menuntut ilmu adalah cara untuk menemukan diri sendiri—sebuah perspektif yang jarang didengar di pesantren itu.
Di sudut aula, Arini melihat Kang Said berdiri bersedekap, memperhatikan Zikri dengan tatapan yang sulit diartikan. Di sampingnya, seorang santri senior tampak memegang sebuah kamera digital—kamera yang sama dengan yang mereka lihat di jembatan semalam? Jantung Arini berdegup kencang.
Setelah kajian usai, Kyai Ahmad memanggil mereka ke ruang tamu utama. Wajah sang Kyai tampak datar, namun ada aura ketegasan yang lebih dingin dari biasanya.
"Abah dengar kajianmu tadi bagus, Zikri," ujar Kyai Ahmad tanpa menoleh, tangannya sibuk memutar tasbih kayu. "Tapi Abah juga dengar, belakangan ini kamu sering keluar lewat gerbang belakang menggunakan motor bebek tua yang seharusnya sudah masuk gudang rongsokan. Untuk apa?"
Zikri terdiam. Arini merasakan hawa dingin merayap di punggungnya.
"Zikri mencari buku-buku lama di pasar loak kota, Bah," sela Arini dengan suara tenang yang ia paksakan. "Dia bilang, referensi di perpustakaan kita perlu diperkaya dengan perspektif sastra.
Saya yang memintanya menemani saya, karena saya butuh riset untuk tulisan saya."
Kyai Ahmad mengangkat wajahnya, menatap Arini lekat-lekat. "Begitu? Lalu, apa yang kalian lakukan di jembatan tua kota jam satu dini hari tadi malam?"
Pertanyaan itu menghantam mereka seperti petir di siang bolong. Kyai Ahmad mengeluarkan sebuah amplop cokelat dan melemparkannya ke meja. Isinya adalah foto-foto mereka di jembatan.
Namun, dari sudut pengambilan gambarnya, foto itu hanya memperlihatkan Zikri yang sedang memeluk Arini dengan latar belakang sungai—tidak ada motor Ninja, tidak ada jaket kulit, dan tidak ada Marco.
Zikri mengepalkan tangannya. "Abah memata-matai anak sendiri?"
"Abah menjaga martabat pesantren!" bentak Kyai Ahmad, suaranya menggelegar hingga membuat Nyai Salma keluar dari dapur dengan wajah cemas. "Seorang Gus dan istrinya berpelukan di tempat umum, di tengah malam, di atas jembatan yang sering dipakai tempat maksiat? Apa kata orang kalau foto ini tersebar?"
"Itu istri saya sendiri, Bah! Apa salahnya saya memeluk istri saya?" Zikri berdiri, suaranya bergetar karena amarah yang tertahan.
"Salahnya adalah tempat dan waktunya, Zikri! Kamu bukan orang biasa! Kamu adalah simbol!"
Arini segera berdiri dan memegang lengan Zikri, mencoba menenangkannya. "Maafkan kami, Bah. Semalam saya merasa sesak di dalam pesantren dan meminta Zikri membawa saya mencari udara segar. Kami tidak tahu kalau ada yang salah dengan itu."
Kyai Ahmad menghela napas panjang, tampak sangat kecewa. "Said melaporkan bahwa kalian terlihat mencurigakan. Untuk sementara, Abah melarang kalian keluar dari lingkungan pesantren tanpa seizin Abah langsung. Dan Said akan memastikan gerbang belakang dikunci ganda."
Malam itu, di dalam kamar, suasana benar-benar hancur. Zikri menendang kursi kayu hingga terjungkal.
"Lihat? Dia tidak pernah peduli apa yang aku rasakan! Dia cuma peduli pada 'martabat' dan 'simbol'!" teriak Zikri frustrasi.
"Zik, tenang..."
"Tenang bagaimana, Rin? Dia mengurung kita! Dia memperlakukan kita seperti tersangka!" Zikri duduk di lantai, menyembunyikan wajah di lututnya.
Tiba-tiba, tubuh Zikri mulai bergetar. Bukan karena marah, tapi karena isakan yang tertahan. Arini mendekat dan duduk di sampingnya. Saat ia menyentuh bahu Zikri, pria itu mendongak dengan mata yang sangat merah.
"Aku bermimpi lagi, Rin," bisiknya lirih. "Tadi malam... aku mimpi Ummi. Dalam mimpi itu, Ummi melambai padaku dari balik gerbang yang sama. Dia menangis karena dia tidak bisa masuk, dan aku menangis karena aku tidak bisa keluar. Dan Abi... Abi berdiri di atas menara sambil memegang kunci gerbang itu, tertawa melihat kami."
Ini adalah titik terendah Zikri. Trauma kehilangan ibunya yang dipadukan dengan tekanan Kyai Ahmad saat ini menciptakan luka baru yang lebih dalam. Arini tidak berkata apa-apa. Ia hanya menarik kepala Zikri ke pelukannya. Ia membiarkan Gus "bad boy" itu menangis sepuasnya di dadanya.
"Kita akan keluar dari sini, Zik. Suatu hari nanti," janji Arini, meski ia sendiri tidak tahu bagaimana caranya.
Di tengah kesedihan itu, sebuah perasaan aneh mulai mekar di hati Arini. Ia merasa sangat melindungi pria ini. Bukan lagi karena tuntutan cerita, tapi karena ia benar-benar peduli. Saat Zikri perlahan tenang dan mendongak menatapnya, jarak di antara mereka menghilang.
Zikri menyentuh pipi Arini, menghapus sisa air mata yang tanpa sadar juga jatuh dari mata istrinya.
"Kenapa kamu tetap di sini, Rin? Kamu bisa saja pergi dan kembali ke hidupmu yang normal," tanya Zikri pelan.
"Karena hidupku yang normal tidak punya kamu, Zikri," jawab Arini jujur.
Malam itu, mereka tertidur dalam posisi saling berpelukan di lantai, bersandar pada tempat tidur. Sebuah momen romantis yang lahir dari keputusasaan. Namun, di balik pintu kamar mereka, Arini tidak tahu bahwa ada sepasang mata yang terus mengawasi. Kang Said masih berdiri di lorong gelap, memegang ponselnya yang bergetar.
Sebuah pesan masuk dari nomor tidak dikenal:
"Jangan biarkan mereka curiga. Terus tekan mental Zikri sampai dia melakukan kesalahan fatal. Pastikan dia tidak pernah bisa menggantikan posisinya di yayasan."
Pengkhianatan itu nyata. Dan pelakunya jauh lebih dekat dari yang mereka duga. Arini dan Zikri mungkin mulai bersatu, tapi mereka sedang menari di atas ladang ranjau yang siap meledak kapan saja.
Keesokan paginya, Arini menemukan secarik kertas di bawah pintu. Bukan dari Marco, bukan pula dari Abah. Tulisan tangan itu sangat rapi:
"Jika ingin tahu kebenaran tentang kematian Ummi Fatimah, datanglah ke perpustakaan tua di gedung belakang besok malam saat jam malam dimulai. Ada rahasia yang sengaja dikubur oleh Kyai Ahmad."
Arini meremas kertas itu. Ia menatap Zikri yang masih tertidur pulas dengan wajah yang tampak begitu damai—kedamaian yang sepertinya akan segera direnggut lagi oleh badai yang lebih besar.
ceritanya menarikkk, sukses selalu thorr