NovelToon NovelToon
Antagonis Hamil Duluan

Antagonis Hamil Duluan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Reinkarnasi / CEO
Popularitas:10.1k
Nilai: 5
Nama Author: supyani

transmigrasi jadi tokoh yang harusnya mati mengenaskan? tidak, Terima kasih.
saat suami CEO-ku meminta cerai, aku pastikan 2 garis biru muncul terlebih dahulu. permainan baru saja dimulai, sayang.

#jadi antagonis#ceo#hamil anak ceo#transmigrasi#ubah nasib#komedi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon supyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

satu senti sebelum neraka

Hampir satu jam Vivian di kamar mandi. Detak jantungnya belum bisa terkontrol sempurna.

Uap air hangat udah lama mati. Cermin udah bening, gak berembun. Tapi pipinya masih panas, kayak abis lari maraton. Masih ada gugup, takut, deg-degan yang nyangkut di tenggorokan.

Biarpun dia tahu, dia cuman pemeran yang salah alamat di novel ini. Nyasar. NPC yang tiba-tiba dapat _script_. Tak usah takut jatuh cinta. Ini cuman dunia fana, dunia kertas, dunia yang bakal tamat.

Mau disentuh laki-laki atau tidak, tidur bersama, hubungan badan, tak akan mempengaruhi hidupnya di dunia asli. Di sana dia tetap Vivian Lin, anak kos, yang lagi namatin skripsi.

Vivian menatap pantulan dirinya di cermin. Tetes air dari ujung rambut jatoh ke dada. _Tik_. Rambut setengah basah, nempel di leher, di tulang selangka. Gaun tidur _satin_ merah muda sepaha, berenda, tipis. Kalau kena lampu, bayangannya keliatan.

"Misi mu adalah mengubah _ending_ Vivian," bisiknya pada diri sendiri. Suaranya bergetar. Jari telunjuknya napak ke cermin, dingin. "Buat Eric jatuh cinta. Jangan biarkan dia berpaling ke Alea. Jangan biarkan kamu mati seperti di novel asli"

Kembali pada misi yang pernah disebutkan Silvi di ruang putih itu. Ubah ending-nya.

Vivian narik napas. Dalam. _Hoo..._ Tahan. _Fuuuh_. Keluar.

Dia berjalan pelan ke arah luar kamar mandi. Kaki telanjang, gak pake sendal. Lantainya dingin, tapi gaunnya udah mulai anget kena suhu badan. Rambutnya masih setengah basah dibiarkan tergerai, ninggalin jejak basah di bahu gaun.

Matanya tertuju pada ranjang. King size. Di mana Eric sedang duduk. Punggung sandar ke _headboard_ kayu jati, kaki panjang selonjor, celana _training_ abu-abu. Kaos putih polos. Lengan. Otot. Dia lagi main HP, jempolnya _scroll_ pelan. Layarnya mantulin cahaya biru ke wajah datarnya, bikin rahangnya makin tegas, makin... sialan.

Kayak 1 jam lalu di kamar mandi gak pernah kejadian. Kayak dia gak liat punggung Vivian. Kayak tangannya gak gemeter pas olesin lulur.

Langkahnya pelan. Teratur. Sambil mengumpulkan kekuatan. Menghitung. _Satu langkah \= jangan baper. Dua langkah \= dia NPC. Tiga langkah \= inget misi._

Misi mu menaklukan hatinya. Eric cuman tokoh fiksi. Data. Pixel. Tapi kenapa jakunnya kalau naik turun bikin Vivian ikut haus?

Menghilangkan keraguannya, Vivian harus seperti karakter aslinya di dunia nyata. Vivian Lin, si ambisius. Yang kalau mau nilai A, bakal SKS dosen sampe dapet. Tak takut kalah, tak takut salah, tak takut ditolak. Malu? Itu menu nomor 27.

Dengan lembut, tapi gerakannya gak bisa dibilang lembut, Vivian menarik HP Eric. _Srett_. Dirampas. Layar langsung mati.

Membuat wajah Eric mendongak. Refleks. Kaget. Dagu naik, alis naik satu. Mata itu, mata sayu tapi tajam kayak elang, ketemu mata Vivian.

Satu detik. Dua detik. Hening.

Vivian tersenyum. Bukan senyum manis. Senyum _huntress_. Senyum _lo-milik-gue-malam-ini_.

Kemudian duduk. Bukan di samping. Bukan di pinggir. Di pangkuan suaminya. _Plop_. Bokongnya pas di atas paha Eric yang keras. Presisi. Sniper.

Eric kaku. Sekujur badan. Kayak patung dipause.

Tangan Vivian bergelayut manja di leher Eric. Kalung hidup. Kuku _nude_-nya nggaruk pelan tengkuk Eric. Sebelah tangannya lagi, turun, nakal, menarik tangan gede Eric yang masih _freeze_ di udara.

Ditarik. Dipaksa. Diletakkan. Pas di atas perut yang sedikit buncit. Di atas _baby bump_ 4 bulan yang anget. Di atas anaknya.

"Katanya mau pijat," ucapnya manja. Bibirnya deket. 5 cm dari kuping Eric. Napasnya anget, wangi _mint_ abis sikat gigi. Disengaja. Sasarannya kuping. Titik lemah.

Eric berubah mode baru. Mode _System Error_. Jakunnya naik turun. Cepet. _Glek. Glek_. Urat di lehernya muncul.

Matanya buang ke kiri. Ke lampu tidur. Ke lemari. Ke CCTV yang gak ada. Ke mana aja asal gak ke belahan dada Vivian yang keliatan karena posisi duduk ini. Asal gak ke paha putih yang sekarang ngapit pinggangnya.

Istrinya gila lagi. Kambuh stadium 4.

Dengan cepat, secepat dia ACC _project_ 2 M, Eric menyusupkan dua tangan ke bawah lutut dan punggung Vivian. Bukan belai. Bukan elus. Bopong.

Sekali angkat. _Hup_.

Membuatnya tiduran di atas kasur. Pelan. Tapi gerakannya panik. Kayak naruh bom yang mau meledak. _Jangan pecah. Jangan pecah_.

Vivian kedip-kedip. _Lho? Kok dipindah?_

Pria itu kemudian bergeser, bokongnya geser ke pinggir kasur biar jauh. Tangannya narik laci samping ranjang. _Klek_. Suaranya keras di kamar hening.

Ngeluarin botol kecil berisi minyak urut. Kaca. Bening. Isinya kuning. Wangi _peppermint_ sama jahe.

Sudah ia siapkan dari 1 jam yang lalu. Sejak dia kabur dari kamar mandi. Sejak dia sadar punggung Vivian tegang. Sejak dia sadar... dia hampir nyium Vivian.

Karena bayi. Bukan karena Vivian. _Ingat itu, Eric. Ulangi 100x._

Tangannya nuang minyak ke telapak. _Crott_. Kebanyakan. Tangannya tremor. Digosok. Cepet. Sampai anget. Sampai panas.

Terus mulai mengurut pelan kaki Vivian. Nahan diri buat gak kabur.

Dari mata kaki. Naik ke betis. Jempolnya neken pelan. Profesional. Kayak tukang pijat beneran. Tapi keringet dingin.

Baru hamil 4 bulan, perut belum besar, gaun tidur masih muat longgar. Tapi kakinya sudah bengkak lumayan parah. Pergelangan kakinya ilang. Kayak roti sobek dikasih air. Efek hormon + jalan-jalan pas pesta + berdiri debat sama Chindy.

"Sakit tidak?" Tanya pria itu. Datar. Suara _kulkas 2 pintu_. Tapi jempolnya berhenti pas Vivian meringis. Gak berani menatap wajah istrinya. Hanya tunduk, fokus ke kaki jenjang Vivian saja. Ke kuku kaki yang pink natural. Ke urat halus biru yang muncul karena bengkak.

"Sedikit," sahut Vivian. Suaranya manja. Dibikin-bikin. Level _siren_. Matanya merem pura-pura nikmat. Padahal otaknya _screenshot_ semua: _Tangan Eric gede. Anget. Ada kapalan di jempol. Gerakannya... hati-hati_.

Sebelah kakinya, yang lagi gak dipijat, terangkat. Pelan. Kayak ular. Setengah sadar, setengah rencana. Ditaruh tepat di pundak pria itu.

Paha mulus. Masih dingin kena AC. Nyentuh kaos Eric yang anget. _Srett_.

Jelas ini adegan bahaya. _Code Red. Mayday_.

Refleks Eric memalingkan wajahnya. Cepet. Kayak kesetrum 220V. Dari kaki, ke jendela, ke badai di luar yang guntur-nya _DJEDAR_. "Turunin," katanya. Masih datar. Tapi ada getar di ujung kata. _Retak_.

Vivian tersenyum tipis. Gak keliatan karena Eric buang muka. _Hidungnya merah. Kupingnya merah. Lehernya merah. Seluruh Eric merah._

Suaminya malu-malu. Kayak perjaka. Padahal bini udah hamil.

Gadis itu mengubah posisinya. Gak pake _countdown_. Gak pake _aba-aba_. Secepat kilat menerjang Eric.

_BUG_.

Eric kedorong ke belakang. Punggungnya jatoh ke kasur. _Jduk_.

Sampai tanpa sadar, Vivian sudah ada di atas pria itu. Menduduki perut Eric. Lututnya ngapit pinggang Eric. Gaun _pink_-nya ketarik naik sampai pertengahan paha. Masih aman. Tapi tipis.

Kedua tangannya napak di dada bidang Eric. Kiri kanan kepala Eric. Kurungannya. Penjaranya. Keringet dingin Eric berasa di telapak tangannya. Jantung Eric _dug-dug-dug_ kayak _drum band_.

Bersiap, siap menerkam. Kayak kucing. Kucing hamil tapi buas.

"Siapa yang tahan?" Batin Vivian sambil tertawa jahil di dalam hati. Matanya liar, turun dari mata Eric, ke hidung, ke bibir.

Situasi ini sering ia lihat di drama TV jam 10 malam. Di novel _Enemies to Lovers_. Di _reels_. Habis ini pasti ciuman. Terus kamera goyang. Terus _chapter_ besok judulnya "Pagi yang Bikin Kaki Lemas".

Vivian memiliki seluruh bagian wajah Eric sekarang. Dari jarak 5 cm. Nyaris gak ada jarak.

Wajah yang simetris, kayak dipahat dewa terus di-_edit_ Tuhan. Rahang kokoh, garisnya tegas, kalau dipegang bisa berdarah. Hidung mancung, ada keringet satu biji. Mata sayu, ngantuk, tapi kalau melot bisa bikin saham turun. Tatapannya tajam, dalem, kayak mau _scan_ dosa Vivian dari lahir. Definisi tampan sesungguhnya. _Final Boss_.

Begitupun Eric. Matanya mau gak mau melihat wajah Vivian sangat dekat. Terlalu dekat. Bahaya.

Rambut setengah basah Vivian menutupi sebagian pandangan-nya. Helaiannya jatoh ke pipi Eric, dingin, wangi _shea butter_. Tapi tak menutupi kecantikan wanita itu. Justru bikin makin... liar. _After-shower look_.

Bulu mata Vivian lentik, masih ada air. Bibirnya merah alami, gak pake _lipstick_, tapi basah karena dia jilatin bibir tadi. Pipi ada _blush on_ alami karena gugup, karena ambisi, karena... nafsu.

Dada Eric naik turun. Cepet. Kayak abis lari. Napasnya kena dagu Vivian, kena leher Vivian. Panas.

Tangan Vivian turun satu. Jari telunjuknya ngusap rahang Eric. Dari telinga, nyusuri garis rahang, berhenti di dagu. Terus naik. Ibu jari ngelewatin bibir bawah Eric. Pelan. Ngetes. Nguji iman.

Bibir Eric kering. Ketutup. Tapi anget.

"Eric," panggil Vivian. Berbisik. Suaranya serak. Bukan "Sayang". Bukan "Mas". Nama. Biar nusuk.

Eric diem. Gak jawab. Gak bisa jawab. Tenggorokannya kering. Tapi matanya... matanya ngkhianatin dia. Goyang. Gelap. Benteng es-nya retak, meleleh, netes.

Vivian nunduk. Pelan. Sepelan detik. Niatnya satu: ngunci. Menang. Malam ini.

Satu senti lagi.

Bisa ngerasain anget napas Eric. Bisa ngerasa bibir Eric udah gak dikatup rapat.

Dua senti.

Bisa ngitung bulu mata Eric. 42 helai.

Bisa ngedenger jantung Eric _DEG_. _DEG_. _DEG_.

_TING... TONG... TING... TONG..._

Bel rumah. Sialan. Kenceng. Gak tau adab. Jam 11.34 malam.

Diikuti suara Bu Ratna dari lantai bawah, teriak, panik, tembus sampe lantai 2: "ERIC! VIVIAN! CEPET TURUN! CHINDY PINGSAN DI KAMAR! BADANNYA DINGIN!"

_SRETT_.

Kayak disiram air es se-Kutub Utara + AC 16 derajat + kulkas.

Eric langsung dorong bahu Vivian. Pake dua tangan. Gak kenceng sampe jatuh, tapi cukup buat bikin Vivian keangkat. "Turun," katanya. Udah gak datar. Udah gak dingin. Panik. Takut. _Real_.

Vivian jatoh guling ke samping. _Bug_. Ke kasur. Gaunnya kusut. Rambut acak. Otak _blank_.

Eric udah lompat dari kasur. Kayak kesurupan. "Chindy," ulang dia. Suaranya pecah. Langsung lari ke pintu, buka _BRAK_, hilang ke koridor. _"CHINDY! TAHAN! KAKAK DATANG!"_

Tinggal Vivian di kasur. Posisi telentang. Nafas ngos-ngosan. Gaun berantakan naik sampe perut. Rambut nutupin muka. Bibir 1 senti lagi dari target. 1 senti dari mengubah _ending_.

Hening 3 detik. Cuma suara hujan sama guntur.

Terus: "ANJIIIIIIINGGGGG!!!"

Vivian teriak. Ke langit-langit. Ke semesta. Ke Silvi. Ke penulis novel.

Bantal ditonjok. _Bug!_ Guling dipeluk terus dibanting. _Bug! Bug!_ Kasur dipukul.

Kurang. Kurang terus. 2 senti lagi! 2 senti! Kenapa semesta lebih milih Chindy pingsan daripada Vivian ciuman?!

Di luar, hujan makin gede. Guntur nyamber tiang listrik. Lampu kamar _jepret_ mati 1 detik terus nyala lagi.

Di dalam, misi Vivian gagal lagi. Malam ini. Malam kesekian.

Dia ngesot ke pinggir kasur. Duduk. Ngusap muka.

Tapi Eric... Eric pas lari tadi, Vivian sempet liat.

Tangannya ngepal. Kenceng. Buku-buku jarinya putih.

Bukan karena Chindy.

Karena bibir Vivian. Yang gak jadi kecium. Yang gak jadi dia rasain.

Frustasi.

Dan itu... itu lebih bahaya dari badai. Lebih bahaya dari Chindy pingsan.

Karena artinya bentengnya udah gak cuma retak.

Udah bolong.

nanggung lagi?, Jawab jujur frustasi ngak?, kalo komen bab ini nyampe 20 malam ini, next bab autor bikin yang beneran🥵...

jangan lupa nyawer...

1
Uthie
Semoga sihhh pngaruh lain di otaknya lebih dominan 😁👍
lebih baik milih yg bernapas, sefrekuensi, dan bisa langsung di ajak ngobrol and melukis bareng-bareng 😁👍
daripada terus memandangi lukisan wanita benda mati aja, yg juga udah punya laki and lagi hamil anak orang pula 😜
Uthie
mantappp dehhh menghalau pengaruh buruk nya Vivian 👍😁
Uthie
Pokoknya bikin Vivian tetep jadi strong Women 💪💪🤨
buat bisa menghempas kan para hama wereng yg menggatal 😡😡💪
Uthie
Intinya sihh mereka sudah saling bisa menerima satu sama lain👍🤗
semoga gak goyah jika ada godaan yg bakal ganggu hubungan mereka lagi 👍👍
Uthie
Saya mahhh sukkkka selalu ceritanya 👍😘🤗
Anne
hanya sedang meraba hati.. n smg hati kecilny bs menuntun dia kelangkah yg baik. yg g merugikan diriny ataupun org lain.
Dinda Putri
mudah2 han baik
Dinda Putri
lagi
Nurfi Susiana
lanjut thor
Hikmal Cici
nah gitu dong 👍👍👍🙂
Hikmal Cici
vivian ini cewek barbar kan ya thor, bukan yg kalau dijahatin cm bisa nangis. pasti ada perlawanan yg seru ya kan 😊
Dinda Putri
makin seru up lagi thor
anonim
bikin greget
Hikmal Cici
lagi...lagi...lagi
Uthie
ratingku perpect.. 10 🌟🌟🌟
Uthie
Wadduuhhhh.. si Alea makin kurang ajar itu 😡😡😡
Uthie
Puasssss banget itu Vivian nunjukin bekas cinta nya ma dokter rasa Pelakor 😆👍
Uthie
kurrraangggg
Irsyad layla
tapi lengan kemeja nya digulung thor kek mana ni😄😄
Hikmal Cici
ya pasti kurang lah kk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!