Dari: Renata]
_Malam, Pak. Ini CV calon asisten pengganti saya. Anaknya pinter, cekatan, dan bisa langsung mulai Senin depan. Namanya Harumi Nara. Saya jamin, Bapak nggak akan kecewa.
Devan mengangkat satu alisnya, merasa tidak asing dengan nama yang disebutkan oleh Renata. Tanpa ekspektasi apa pun, ia mengklik lampiran file dan kembali memindahkan pandangannya ke layar laptop.
Detik berikutnya, napasnya tercekat.
Matanya terbelalak, menatap foto 3x4 di pojok kanan CV itu. Jantungnya yang lima tahun ini berdetak datar seperti mesin yang teratur ritmenya, tiba-tiba bergejolak hebat menghantam sampai tulang rusuknya keras-keras.
Tangannya mengepal di atas meja, buku-buku jarinya memutih. Dia mengerjap, sekali, dua kali, mencoba meyakinkan bahwa matanya tidak salah lihat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wanudya dahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebab hati yang memilihmu 1
Mengapa harus seperti ini...? Lagi!
Butiran air mata meluncur deras di kedua pipiku tanpa bisa kutahan. Sesak. Sakit? Tentu saja. Ini sakit, bahkan teramat sakit untuk kurasakan.
Berkali-kali aku merutuki diriku sendiri. _Kenapa seperti ini? Apa salahku? Apa aku pantas mendapatkan semua ini?_ Aku memeluk diriku sendiri, merasakan sesak yang memenuhi dada. Kedua tanganku meremas undangan pernikahan yang sejak tadi kugenggam.
Iya, ini undangan pernikahan dari seseorang yang pernah kucintai: Fabian.
Hampir satu tahun aku menjalin hubungan dengannya. Selama itu, aku merasa hubungan kami baik-baik saja, setidaknya itulah yang kupikir saat itu.
Hingga pada satu waktu, aku mengetahui kenyataan yang begitu pahit. Tanpa sepengetahuanku, Fabian menjalin hubungan dengan perempuan lain. Dan yang lebih menyakitkan, perempuan itu adalah Raisya. Sahabatku sendiri.
Entahlah, apakah dia pantas disebut sahabat, sementara yang dilakukannya tak ubahnya seperti orang yang tidak punya hati.
Aku masih tidak habis pikir. Bagaimana bisa mereka berdua melakukan ini kepadaku? Kekasihku dan sahabatku. Kejam sekali, bukan? Dan lihatlah bukti kekejaman mereka: tanpa rasa bersalah, mereka berdua bahkan memberiku undangan pernikahan ini secara langsung. Tanpa simpati sedikit pun.
Mungkin aku yang terlalu bodoh, hingga tidak bisa melihat semua itu terjadi di depan mataku. Atau mungkin lebih tepatnya, aku memang sengaja menutup mata. Sebab aku tidak ingin mempercayai penghianatan dari dua orang terdekatku. Bagaimana mungkin aku bisa berpikir buruk tentang mereka?
Aku sadar aku bukan siapa-siapa. Hanya perempuan biasa yang mungkin kalah jauh jika harus dibandingkan dengan Raisya yang punya segalanya. Ya Tuhan, mengapa aku jadi begini? Menjadi kufur, membanding-bandingkan diri dengan orang lain, seolah tidak bersyukur atas semua anugerah-Mu.
Aku mengerti, mungkin sebagai laki-laki, Fabian sulit menolak godaan seseorang seperti Raisya, yang cantik, menarik, dan dari keluarga berada. Sementara aku... Ah, sudahlah. Tidak perlu dijelaskan lagi. Aku tidak ingin menyalahkan diriku atas semua ini, menjadikan kekuranganku sebagai pembenaran atas perbuatan kejam mereka.
Kuhapus perlahan air mataku. Aku harus kuat. Aku harus bisa melewati semua ini, meskipun dengan langkah kaki yang terasa berat.
Minggu, 12 Juni. Hari pernikahan Fabian dan Raisya.
Aku tidak bisa tidur semalaman karena memikirkannya. Haruskah aku datang ke resepsi mereka? Ekspresi seperti apa yang mesti kupasang jika harus berhadapan dengan mereka? Bukankah ini terlalu kejam?
Akhirnya, dengan sekuat tenaga, aku memantapkan hati. Aku memutuskan datang.
Aku mengenakan dress panjang warna biru, tapi aku bingung harus memakai kerudung warna apa agar cocok.
Aku tersenyum kecut menyadari betapa konyolnya pikiranku. Apakah penting aku harus memakai baju seperti apa? Memang siapa yang peduli? Untuk siapa lagi aku tampil cantik? Secantik apa pun aku berdandan, toh aku hanya akan dipandang sebagai pihak yang kalah di hadapan mereka.
Akhirnya, kuambil asal kerudung pasmina yang tersusun rapi di lemari. Aku menatap diriku di cermin. _Lihatlah, aku memang seperti ini. Perempuan sederhana yang bahkan berdandan saja tidak pintar. Tapi aku mencintai diriku sendiri dengan segala kesederhanaanku. Dan bukan salahku jika Fabian tidak bisa menerimaku apa adanya._
Aku menarik napas panjang. "Huft... Ini akan jadi hari yang berat untukmu, Nayma. Kuatlah," ucapku pada diri sendiri. Aku membayangkan pandangan orang-orang di sana nanti. Sementara banyak dari mereka yang tahu tentang hubunganku dengan Fabian selama ini.
Tiba-tiba, layar ponselku menyala, tepat saat aku ingin melangkahkan kaki. Ada pesan masuk dari Rama.
_Nay, kamu lagi ngapain? Nggak kepikiran yang aneh-aneh, kan? Aku khawatir banget, takut kamu kenapa-napa._
Keningku berkerut. _Emang aku kenapa?_ balasku.
_Fabian kan nikah hari ini. Aku takut kamu ngelakuin hal-hal aneh karena nggak kuat nahan sakit hati 😂_ balasnya lagi. Bahkan di saat seperti ini pun, dia masih saja meledekku. Dasar Rama.
_Apaan sih. Aku masih punya iman, kali. Masih takut dosa,_ balasku.
_Syukurlah. Ya udah, kita jalan yuk, Nay. Daripada kamu nangis brutal di kamar sendirian 😭_ katanya.
_Nggak lah. Orang ini aku mau jalan ke resepsi pernikahan mereka,_ balasku.
_Serius, Nay? Emang kuat liat mereka berdua?_
_Ya dikuat-kuatin, Ram,_ jawabku singkat.
_Ya udah, kita ketemu di sana. Kali aja kamu entar pingsan, kan ada aku yang udah siaga, ha-ha._
_Ngawur,_ balasku, mengakhiri _chat_.
Aku memang sedekat itu dengan Rama. Saking dekatnya, urusan serius pun bisa jadi bahan lelucon baginya. Seperti _chat_ barusan. Tapi aku yakin, Rama sebenarnya tahu pasti seberapa hancurnya hatiku saat ini. Sebab dialah satu-satunya orang yang tahu detail kehidupan pribadiku.
Dia tahu segala hal tentangku. Aku mempercayainya karena dia temanku sejak dulu. Meskipun suka bercanda, aku tahu dia peduli padaku. Aku dapat merasakan ketulusannya di balik sikapnya yang kadang asal-asalan itu.