NovelToon NovelToon
Istri Kepala Desa

Istri Kepala Desa

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Perjodohan / Cintapertama
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

Di usia 23 tahun, Laras harus memikul beban berat sebagai istri Kepala Desa yang disegani. Di balik potret keluarga harmonis, ia berjuang sendirian mengurus rumah dan dua balita yang masih menyusu, sementara perutnya kian membesar dengan anak ketiga.

​Sebagai anak tunggal, sang suami menuntut Laras terus melahirkan demi garis keturunan, tanpa peduli pada raga Laras yang remuk karena kelelahan. Di siang hari ia menjadi pengabdi warga, dan di malam hari ia dipaksa tetap "siaga" melayani suami. Laras terjebak dalam pengabdian yang membunuh perlahan: antara cinta, tuntutan tradisi, dan batas akhir kekuatannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 1

****

Fajar baru saja menyingsing di Desa Sukamaju, namun Laras sudah berada di dapur yang masih remang. Bau asap kayu bakar bercampur dengan aroma nasi yang baru matang. Di usianya yang ke-23, wajah Laras masih menyisakan sisa-sisa kecantikan remaja, namun lingkaran hitam di bawah matanya tak bisa berbohong tentang jam tidur yang terus berkurang.

"Eunggh... Mamah..." suara tangis kecil dari kamar memecah keheningan.

Itu si bungsu, Arka, yang baru genap dua tahun. Laras menghela napas, mengusap keringat di dahinya dengan ujung daster yang sudah agak kusam. Dengan langkah berat karena beban perutnya yang sudah masuk bulan ketujuh, ia berjalan menuju kamar.

"Iya, Sayang, ini Mamah," bisik Laras lembut. Ia mengangkat Arka yang masih mengantuk ke dalam gendongannya. Beban Arka yang berisi ditambah beban janin di perutnya membuat tulang punggung Laras terasa seperti mau patah.

Laras duduk di pinggir tempat tidur, membuka kancing dasternya untuk membiarkan Arka menyusu. Di saat yang sama, Bagas, suaminya, menggeliat di balik selimut tebal. Pria itu adalah sosok yang gagah, pemimpin desa yang sangat disegani karena ketegasannya.

"Sudah bangun, Ras?" suara berat Bagas terdengar serak khas orang baru bangun tidur.

"Sudah, Mas. Arka terbangun minta nenen. Mas mau mandi sekarang? Air hangatnya sudah kusiapkan," jawab Laras sembari mengelus kepala anaknya.

Bagas duduk, menatap istrinya dengan pandangan yang sulit diartikan. Ia mendekat, mengecup kening Laras lama. "Terima kasih ya. Aku ada rapat di kecamatan jam delapan pagi ini. Tolong siapkan seragam cokelatku, pastikan setrikanya rapi. Kamu tahu sendiri, aku harus tampil sempurna di depan camat."

"Iya, Mas. Nanti Laras kerjakan setelah memandikan anak-anak."

**

Pukul sepuluh pagi, rumah milik Kepala Desa itu sudah riuh. Anak pertama mereka, Gilang 4 tahun, sedang berlarian mengejar ayam di halaman belakang, sementara Arka merengek minta digendong terus karena sedang tumbuh gigi.

Laras sedang berjongkok di depan ember besar berisi cucian. Setiap kali ia membungkuk, perut besarnya terasa tertekan, membuatnya harus sering-sering menarik napas panjang.

"Aduh, Dek... jangan nendang kencang-kencang dulu ya, Mamah lagi capek," gumam Laras bicara pada janin di perutnya.

Tiba-tiba, suara ketukan pintu terdengar. "Permisi, Bu Kades! Ini ada titipan berkas dari balai desa untuk Pak Lurah."

Laras harus berdiri dengan tumpuan tangan pada lututnya, meringis sesaat menahan nyeri punggung yang biasa menyerang ibu hamil, lalu berjalan ke depan dengan senyum yang dipaksakan. Itulah tugasnya: menjadi wajah yang ramah bagi sang suami.

Sepanjang hari, ia tidak punya waktu untuk duduk. Mencuci, memasak sayur lodeh kesukaan Bagas, menyuapi dua balita yang susah makan, hingga membersihkan ruang tamu karena sore nanti akan ada tokoh masyarakat yang datang berkunjung. Semua ia kerjakan sendiri tanpa asisten, karena Bagas ingin menjaga citra keluarga yang sederhana dan mandiri.

**

Malam tiba. Setelah seharian yang melelahkan, anak-anak akhirnya tertidur. Laras baru saja selesai merapikan dapur ketika Bagas masuk ke kamar dengan wajah yang tampak puas setelah seharian bekerja.

Bagas menutup pintu kamar dan menguncinya. Ia melihat Laras yang sedang duduk di depan cermin, mengoleskan minyak kayu putih ke pinggangnya yang pegal.

"Sini, Mas bantu," kata Bagas lembut. Ia mengambil botol minyak itu dan mulai memijat bahu istrinya.

"Mas... Laras capek sekali hari ini. Pinggang rasanya mau lepas," keluh Laras pelan, berharap suaminya mengerti.

Bagas mencium pundak Laras yang terbuka, tangannya perlahan turun mengusap perut buncit istrinya. "Sabar ya, Sayang. Ini demi keluarga kita. Kamu tahu kan, aku anak tunggal. Bapak dan Ibu di surga pasti senang kalau kita punya banyak anak untuk meramaikan rumah ini. Aku ingin anak ketiga ini laki-laki lagi supaya ada yang menjaga desa ini nanti."

Laras hanya terdiam. Ia ingin memprotes, ingin mengatakan bahwa rahimnya butuh istirahat, namun kewajibannya sebagai istri dan rasa baktinya pada Bagas selalu membungkam mulutnya.

Bagas membalikkan tubuh Laras agar menghadapnya. Ia menatap mata Laras dengan gairah yang tak bisa disembunyikan. Meskipun perut Laras besar, bagi Bagas, istrinya tetap terlihat sangat menggoda dalam balutan daster tipis itu.

"Tapi Mas, Laras baru saja mau tidur..." bisik Laras saat Bagas mulai menciumi lehernya.

"Sebentar saja, ya? Aku rindu kamu. Seharian ini aku hanya memikirkanmu di kantor," suara Bagas merendah, berubah menjadi bisikan yang menuntut.

Bagas mulai menelusuri lekuk tubuh Laras dengan tangannya yang kasar namun penuh kasih. Laras memejamkan mata, mencoba menyingkirkan rasa lelahnya. Sebagai istri yang berbakti, ia tahu bahwa melayani suami adalah ibadah, meski raganya berteriak minta istirahat.

Sentuhan Bagas kian dalam, menuntut balasan. Di bawah cahaya lampu kamar yang temaram, Laras mulai terhanyut. Ia mengeluarkan rintihan halus saat bibir Bagas bertemu dengan kulitnya. Desahan-desahan kecil mulai lolos dari bibirnya, sebuah perpaduan antara rasa nikmat dan sisa-sisa keletihan yang luar biasa.

"Ah... Mas Bagas..." rintih Laras pelan ketika suaminya memberikan perhatian lebih pada sensitivitas tubuhnya di masa kehamilan ini.

Di tengah napas yang memburu dan peluh yang membasahi kening, Laras mencoba memberikan yang terbaik untuk suaminya, mengabaikan beban berat di perutnya demi menjaga keharmonisan yang selalu dipuja-puji orang sekampung.

****

Bersambung....

Hai man teman semogaa, kalian suka dengan cerita author satu ini yaa, hehehe

1
Paradina
😍
Heresnanaa_: Stay tune terus ya kak🙏😍
total 1 replies
arniya
mampir kak, bab pertama udh gereget sm Bagas
Heresnanaa_: Hai Kaka, terimakasih sudah mampir

happy reading yaa😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!