"Jika besok pria tua itu datang lagi untuk menagih jawabanmu, katakan padanya kau lebih memilih membusuk di sel ini," suaranya rendah, nyaris seperti desisan yang berbahaya.
Aku tersentak, mencoba mencerna kalimatnya. "Apa? Kau... kau menyuruhku tetap di penjara ini?"
"Ya," sahutnya pendek. "Aku tidak ingin menikah. Terlebih lagi, aku tidak ingin menikah denganmu. Kau tidak tahu apa yang akan kau hadapi jika melangkah masuk ke mansion utama sebagai istri seorang Grisham. Di sana, kau tidak akan hanya melihat darah, tapi kau akan mandi di dalamnya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24
Suasana mansion di tengah malam terasa jauh lebih mencekam daripada saat matahari masih bersinar. Lorong-lorong panjang yang tadinya terlihat klasik kini menyerupai labirin gelap yang dipenuhi bayangan. Aku terbangun dengan kerongkongan yang terasa terbakar. Aku meraba sisi ranjang, namun hanya menemukan bantal yang sudah dingin.
"Darrel?" bisikku pelan, namun hanya keheningan yang menyahut.
Aku melirik botol air di nakas; kosong. Dengan perasaan was-was, aku menyampirkan cardigan tipis dan melangkah keluar kamar. Lantai marmer yang dingin menusuk telapak kakiku saat aku menuruni tangga menuju lantai bawah. Namun, langkahku terhenti tepat di depan pintu ganda ruang kerja Erlan yang sedikit terbuka. Cahaya remang dari lampu meja di dalam ruangan itu tumpah ke lantai lorong.
"Kau terlalu lunak padanya, Darrel," suara berat Erlan terdengar, penuh dengan nada meremehkan. "Menghajar putra Winston itu adalah tindakan impulsif yang kekanak-kanakan. Kau melakukan itu karena kau mulai melibatkan perasaanmu pada gadis itu, bukan?"
Aku menahan napas, merapat ke dinding agar tidak terlihat dari celah pintu.
"Aku melakukan itu untuk menjaga martabat Grisham," sahut Darrel. Suaranya terdengar rendah, namun aku bisa merasakan ketegangan di setiap katanya. "Winston melecehkan istriku di tempat umum. Jika aku diam saja, itu baru namanya lemah."
"Istri?" Erlan tertawa sinis. Suara denting es batu yang beradu dengan gelas kristal terdengar jelas. "Jangan membohongi dirimu sendiri. Dia hanyalah kontrak yang kubeli untukmu. Dia adalah bidak untuk memancing keluar sisa-sisa loyalis keluarganya yang masih bersembunyi. Katakan padaku, Darrel... apa kau mencintai gadis itu?"
Keheningan yang menyiksa mengikuti pertanyaan itu. Jantungku berdegup kencang, menanti jawaban yang mungkin akan mengubah segalanya.
"Jawab aku, Darrel! Apa kau mencintainya?" desak Erlan lagi.
"Pertanyaanmu tidak relevan, Ayah," jawab Darrel dingin. "Yang perlu kau tahu adalah dia berada di bawah perlindunganku. Berhenti memojokkannya seolah dia hanya komoditas. Dia memiliki nama, dan dia adalah Nyonya Grisham sekarang."
"Oh, lihatlah pahlawan kita," ejek Erlan. "Kau membelanya seolah dia tidak bersalah. Kau lupa siapa dia sebenarnya? Kau lupa bahwa darah yang mengalir di tubuhnya adalah alasan kenapa kakakmu, Dante, harus berakhir di dalam tanah?"
Lututku terasa lemas. Apa? Darahku adalah alasan Dante meninggal? Apa maksud Erlan?
"Hentikan, Ayah! Jangan bawa-bawa nama Dante untuk membenarkan kegilaanmu!" gertak Darrel. Aku bisa mendengar suara langkah kaki mendekat ke arah pintu. "Lily tidak tahu apa-apa tentang masa lalu itu. Dia bersih dari dosa orang tuanya. Jika kau mencoba menyentuhnya atau menekannya lagi dengan omong kosong tentang keturunan, aku bersumpah akan menghancurkan apa pun yang kau bangun selama ini."
"Kau mengancam ayahmu demi seorang gadis yang orang tuanya adalah pengkhianat terbesar klan ini?" suara Erlan naik satu oktav.
"Aku melindunginya karena itu tugasku!" suara Darrel menggelegar. "Dan berhenti mengawasiku di kamar. Jika aku melihatmu masuk ke wilayah pribadiku tanpa izin lagi, kau tidak akan menyukai apa yang akan kulakukan."
Aku segera membalikkan badan dan berlari sekecil mungkin kembali menuju tangga, mengabaikan rasa hausku. Kepalaku berdenyut. Pengkhianat? Kakak Darrel mati karena keluargaku?
Aku kembali ke kamar dengan napas tersengal, segera naik ke ranjang dan menarik selimut hingga ke dagu. Tak lama kemudian, pintu kamar terbuka perlahan. Aku memejamkan mata, berpura-pura tidur saat merasakan sisi ranjang bergerak turun. Darrel kembali.
Aku merasakan tangannya yang kasar namun hangat mengusap rambutku dengan sangat lembut—sentuhan yang sangat berbeda dari nada bicaranya yang meledak-ledak di bawah tadi.
"Maafkan aku, Lily," bisiknya sangat pelan, hampir tak terdengar di kegelapan malam. "Seharusnya kau tidak pernah terseret ke dalam neraka ini."
*
Sinar matahari pagi menyusup malu-malu melalui celah gorden kamar masa kecil Darrel. Aku tidak benar-benar tidur setelah mendengar perdebatan panas semalam. Kepalaku terasa berat, dipenuhi oleh potongan teka-teki yang mengerikan. Aku membalikkan tubuhku perlahan, mendapati Darrel masih tertidur lelap dengan lengan yang memeluk pinggangku secara posesif.
Wajahnya tampak jauh lebih damai saat tidur, menghilangkan kesan monster yang sering ia tunjukkan. Aku memberanikan diri mengusap rambut hitamnya yang berantakan, menelusuri garis rahangnya yang tegas dengan ujung jariku.
"Darrel..." bisikku sangat lirih, hampir seperti desahan angin.
Darrel mengerang kecil, alisnya bertaut sesaat sebelum kelopak matanya terbuka perlahan, menampakkan manik mata tajam yang langsung mengunci pandanganku. Tidak ada kantuk di sana, hanya kewaspadaan yang selalu siaga.
"Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanyanya, suaranya serak khas bangun tidur.
Aku tidak memalingkan wajah. Aku harus tahu. "Darrel, katakan padaku dengan jujur. Siapa sebenarnya orang tuaku? Apa yang mereka lakukan hingga namaku disebut sebagai penyebab kematian kakakmu?"
Cengkeraman tangan Darrel di pinggangku mengeras seketika. Sorot matanya meredup, berubah menjadi dingin dan kelam. Ia melepaskan pelukannya, lalu duduk di tepi ranjang, membelakangiku. Otot-otot punggungnya yang penuh luka sayatan itu tampak menegang.
"Kau tidak akan berhenti bertanya, bukan?" ucapnya tanpa menoleh.
"Aku tidak bisa hidup dalam kebohongan ini lagi, Darrel. Kenapa aku harus menanggung dosa yang tidak kupahami?" air mataku mulai menggenang.
Hening cukup lama. Hanya suara detak jam dinding yang mengisi kekosongan di antara kami. Darrel kemudian berdiri, mengambil kemejanya yang tersampir di kursi, dan memakainya tanpa terburu-buru.
"Bersiaplah," ucapnya datar sambil mengancingkan kemejanya. "Aku tidak bisa menceritakannya di sini. Mansion ini punya telinga di setiap dindingnya."
Ia berbalik, menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara perlindungan dan kepedihan yang mendalam.
"Aku akan mengajakmu ke suatu tempat hari ini. Tempat di mana semua rahasia ini bermula. Kau akan mendapatkan jawabanmu di sana, Lily. Tapi ingat satu hal..." ia melangkah mendekat, mencengkeram bahuku lembut namun tegas. "...setelah kau tahu kebenarannya, tidak ada jalan untuk kembali. Kau akan benar-benar menjadi bagian dari kegelapan ini selamanya."
Aku menelan ludah, mengangguk pelan. "Aku siap."
"Bagus. Pakai pakaian yang nyaman. Kita akan menempuh perjalanan jauh ke pinggiran kota," perintahnya sebelum melangkah keluar kamar untuk memberikan instruksi pada Leo.
***
Setelah meminta ijin pada Erlan kembali ke mansion, Darrel membawaku ke sebuah tempat. Memerlukan waktu satu jam dari mansion utama Grisham.
saat angin bukit yang dingin menerpa wajahku saat mobil berhenti di depan gerbang besi tinggi yang terlihat angkuh. Pemakaman keluarga Grisham. Tempat ini sangat sunyi, hanya ada suara gesekan daun pinus dan kicauan burung yang terdengar jauh.
Darrel tidak bicara. Ia membimbingku melewati barisan nisan marmer putih hingga berhenti di depan sebuah makam yang paling megah. Di sana tertulis nama: Dante Maximilian Nikolas.
"Kenapa kita ke sini, Darrel?" tanyaku dengan suara bergetar. "Aku bertanya tentang ayahku, tentang identitasku. Kenapa kau membawaku ke makam kakakmu?"
Darrel hanya diam, menaruh setangkai bunga yang ia ambil dari mobil, lalu menunduk sesaat. Setelah keheningan yang menyesakkan itu berlalu, ia menarik lenganku menuju sebuah pondok kayu kecil yang berdiri di tepi tebing, tak jauh dari area pemakaman. Dari sana, seluruh kota terlihat seperti miniatur di bawah kaki kami.
Darrel menyandarkan tubuhnya pada pagar kayu pondok, matanya menatap kosong ke cakrawala.
"Dante meninggal karena keluarga Livingston," ucapnya tiba-tiba.
"Livingston? Siapa mereka? Aku tidak pernah mendengar nama itu dalam hidupku," balasku bingung.
Darrel menoleh, menatapku dengan sorot mata yang penuh luka lama. "Satu tahun yang lalu, aku mendapat telepon dari Erlan saat aku masih berada di luar negeri. Dante tewas dengan satu peluru tepat di otaknya. Dia ditemukan di sebuah apartemen rahasia, tempat dia biasa menemui wanita yang sangat dia cintai."
"Lalu apa hubungannya denganku?"
"Wanita itu bernama Evelyn Livingston," suara Darrel merendah. "Dan dia adalah kakak kandungmu, Lily."
Duniaku serasa runtuh. Jantungku berdegup sangat kencang hingga telingaku berdenging. "Tidak mungkin... Kakakku namanya Evelyn Sandrina, bukan Livingston! Dan dia sudah meninggal dalam kecelakaan bertahun-tahun lalu! Ayahku Jhonatan Alexander dan ibuku Shandra Alexander. Kami keluarga biasa, Darrel!"
Darrel melangkah mendekat, mencengkeram bahuku seolah ingin menahan tubuhku yang mulai goyah. "Livingston adalah nama asli keluarga besarmu, Lily. Alexander hanyalah nama samaran yang digunakan ayahmu, Jhonatan, untuk bersembunyi dari radar klan Grisham setelah dia mengkhianati Erlan belasan tahun lalu."
"Tidak... kau bohong..."
"Evelyn tidak meninggal dalam kecelakaan. Dia dikirim oleh ayahmu untuk mendekati Dante, untuk menghancurkan Grisham dari dalam. Dante mencintainya dengan tulus, dia bahkan berniat melepaskan takhta Grisham demi wanita itu. Tapi pada malam itu, Evelyn justru menarik pelatuknya. Dia membunuh Dante atas perintah ayahmu."
Aku menggeleng kuat, air mata mulai tumpah membasahi pipiku. "Itu tidak benar! Ayahku bukan pembunuh! Kakakku tidak mungkin melakukan itu!"
"Itulah alasan kenapa Erlan mengincarmu," lanjut Darrel, suaranya kini terdengar sangat pahit. "Kau adalah Livingston terakhir yang tersisa. Erlan ingin kau membayar dosa kakakmu dan ayahmu. Baginya, memiliki keturunan dari rahim seorang Livingston yang dipadukan dengan darah Grisham adalah cara terbaik untuk menunjukkan kemenangannya yang mutlak atas musuh bebuyutannya."
Aku jatuh terduduk di lantai pondok yang kasar. Nama asliku bukan Liana Sabrina. Aku adalah putri dari pengkhianat terbesar klan ini, dan kakakku adalah wanita yang membunuh pria yang paling dicintai suamiku.
"Dunia apa ini, Darrel?" rintihku di tengah isak tangis. "Jadi selama ini aku hanya alat untuk membalas dendam?"
Darrel berlutut di depanku, memegang wajahku dengan kedua tangannya. "Awalnya, ya. Tapi sekarang... kau adalah satu-satunya alasan kenapa aku masih sudi bernapas di mansion terkutuk itu. Kau bukan Evelyn, Lily. Dan aku tidak akan membiarkan Erlan atau siapa pun memperlakukanmu seperti piala berdarah lagi."
***
Bersambung...
makin seruu dan bikin penasaran🥰
double up dong biar makin puas 😂
apakah Lily juga anak dari klan mafia juga? jadi penasaran 🤨🤨🤨
Lily ikuti kata Darren, cukup kamu tersiksa 30 hari + 9 bulan. setelahnya kamu bisa bebas ( mungkin 🤔)
seru banget ceritanya