Mungkin kebanyakan orang bilang menjadi orang kaya adalah hal paling gampang dilakukan. Tapi tidak jika dikaitkan dengan Some, ditengah terkaan dia malah diberi harapan panjang untuk menikah. Hal itulah menjadi awal - awal Some mengenal cowok - cowok yang lahir dengan keluarga sama darinya. Hanya cowok itu yang menerima seornag wanita mempunyai penyakit, namanya Dinner. Dari Dinner, Some dapat menerima segala sesuatu yang menimpanya. Meski bukan hal mudah ketika harus operasi beberapa kali, tapi Dinner menemaninya seperti seorang pacar. Pacaran bahakn menjalani hubungan dengan Dinner, seperti dijodohkan ini, menjadi pertanyaan besar apakah Dinner akan sanggup ?
•untuk kisahnya sudah tamat dari tahun lalu. dan masih bisa dinikmati dengan dukungan like, dan komentar kecil kalau ada kesalahan. thanf for one.
•karya original dari Nita Juwita
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NitaLa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Between 22
**
Tersenyum Bareng Dinner
**
Tepat pada pukul enam pagi Some sudah lengkap dengan pakaian sekolahnya. Dasi baru saja menempel di seragam putih bersihnya itu, ia menggunakan dasi SMA-nya dengan warna abu - abu netral. Hal yang membuat sebagian orang ingat kapan terakhir kali menggunakannya, mungkin pas terakhir kali melihatnya -- mangan pacarnya waktu di SMA. Some juga tidak yakin apa suatu saat nanti ia akan berpikir sampai sana, atau namanya hanya tertulis di batu nisan. Sedangkan mantan pacarnya mungkin Daniel meratapi kesedihannya seolah waktu berjalan terlalu cepat. Well dipastikan semua perpisahan itu menyakitkan. Jadi dipastikan tidak ada yang akan menunggunya, sekalipun rencana masa depan di susun papa dengan segenap kasih sayangnya.
Some merasa tersakiti, atau ia secata perlahan menyakiti orang - orang yang mengharapkannya untuk ada di dunia ini lebih lama lagi. Tidak ada yang memastikan bagaimana nantinya, selain harapan lebih besar dari apa yang Some nantikan.
Mengingat itu ia jadi menghembuskan nafas perlahan, lalu karena kelelahan sehabis menyiapkan diri untuk ke sekolah, cewek itu duduk di kasurnya. Terlihat kedua sepatunya yang dipakaikan converse hitam - putih kesukaannya. Sepatu itu nampak sederhana seperti dirinya, terdengar bunyi notifikasi dari hpnya.
Dina : Some loe beneran?
Some tersenyum kecil mengingat pesan Dina yang nampaknya sangat penasaran. Some memang sengaja membuat cewek itu begitu, bahkan untuk yang lainnya agar mereka kaget. Ia terkekeh dan membahas pesan itu.
Some : Iya Din, gue beneran mau jadi ketua OSIS.
Dina : Semua juga mau kali ada di posisi loe berkesempatan menjadi salah satu calon anggota OSIS.
Some : Emang tapi banyak banget musuh gue yang kayaknya semuanya pintar gitu.
Dina : Loe emang nggak punya juara kelas, loe juga suka akademik Some. Jadi mereka nunjuk loe.
Some : Iya sih gue kan pernah ikutan lomba fisika, sampai tingkah provinsi.
Dina : Itu sih kebanggaan loe.
Some : wkwk semoga kali ini yang terbaik.
Dina : promosi loe emang udah gila Some.
Some : Kenapa gila gue beneran mau melakukan itu, setiap calon kan punya visi sendiri.
Dina : Tapi jangan aneh deh, yang ada loe malah banyak dibicarakan sama anak - anak lain. Kemenangan itu nggak gampang loe raih.
Melihat pesan Dina ia jadi tahu kalau sebenarnya Dina juga punya pemikiran sama dengannya. Some menjadi ketua OSIS kayaknya nggak bakalan, selain karena Some masuk OSIS bukan karena menginginkan gelar tersebut. Ia melakukannya semata untuk menjadi anggota OSIS yang berbakti misal. Keinginannya tidak jauh dari Dina, ketika suatu hari nanti mereka disebutkan sebagai anggota OSIS yang rajin.
Some : Iya tapi loe bantuin gue buat promosi sama prompt oke? Gue nggak mau sibuk sama hal kayak gitu.
Dina : Oke.
Melihat waktu yang ditetapkan di hp, Some jadi mendesah karena ia mau cepetan ke sekolah. Ia mau langsung pasang brosur di dinding supaya di pilih. Maka buru - buru ia membawa tas, dan brosur - brosurnya untuk segera meninggalkan kamar. Ia keluar kamar dan dipertengahan jalan bertemu dengan Ranu sehabis selesai makan.
"Berangkat sekarang, nggak sarapan dulu kak?" tanya Ranu sambil menatap Some dengan bingung. Kakaknya memang suka berangkat pagi tapi ada sepuluh menit lagi buat sarapan.
"Udah," jawab Some sambil mengangkat bahunya.
"Kapan?" tanya Ranu tambah bingung.
"Tadi shubuh gue shalat dulu, dan langsung sarapan, gue ada rencana ke sekolah pagi," ujar Some dengan senyum kecil. Membuat Ranu penasaran .
"Ya syukur deh kalau loe makan duluan, biar papa dan mama nggak khawatir. Kenapa pagi banget?" tanya Ranu memastikan. Some menggaruk tengkuknya merasa malu untuk mengungkapkan kalau dia ada waktu untuk OSIS.
"Ya udah ah berisik dan lama," cerocos Some tanpa menjawab pertanyaan Ranu. Ia lalu berlari kecil ke lantai satu, langsung ke garasi, memasuki mobil ketika pak Supratman baru saja mengelapnya.
"Langsung berangkat non?" tanya pak Supratman heran.
"Iya pak," jawab Some.
**
Di sekolah seperti yang sudah Some rencanakan semua berjalan dengan lancar. Seperti yang ia tulis, hal pertama yang ia lakukan setelah sampai pagi sekali ke sekolah adalah memasang brosur, dan memastikan kalau brosurnya di bagikan secara rata di masing - masing kelas. Setelah selesai itu agak siangan ia memutuskan untuk membuat agenda kegiatannya selalu promosi berlangsung, bersama dengan Dina dan anggota kelompoknya yang lain. Karena anooota OSIS diharamkan untuk asuk kelas -- ada kegiatan mendesak. Mereka dikumpulkan di lapangan basket, menggunakan topi berlambang SMA Bhakti Darma. Semuanya nampak menggunakan seragam putih - biru sekalipun anak lain menggunakan batik karena sekarang sudah hari Rabu.
"Selamat pagi guys, maaf banget mengganggu aktivitas belajarnya dengan aktivitas kegiatan yang seharusnya bisa dihandle sama kita," ucap Gladys di depan para anak - anak OSIS yang sedang berbaris itu. Mereka menautkan tangganya di bawah perut, melakukan posisi istirahat setelah dipimpin sama ketua OSIS tadi.
"Pagi," jawab para OSIS itu berbarengan termasuk anggota yang ada di hadapan mereka.
"Karena pembagian kelompok juga udah, jadi kalian juga nggak kaku lagi soal pembagian tugas kali ini," ucap Gladys semangat meskipun anak - anak OSIS lain nampak ogah - ogahan, tugasnya tak lain adalah membersihkan lapangan karena lapang dan halaman saat ini sedang banyak sampah. Bukan karena tidak piket, melainkan banyaknya pohon - pohon di sekitar sekolah.
"Ya udah pagi ini, jam tujuh lewat sampai jam delapan kita bereskan halaman dulu. Lalu selesai itu kita lanjut ke, ulangan OSIS, dan promosi tiap anggota yang mewakilkan," ucap panjang Gladys yang dihadiahkan gepuk tangan oleh seluruh anggota OSIS karena merasa puas untuk hari ini.
"Yuk kalian ke anggota kelompok masing - masing, mereka udah bawa peralatan tuh," ujar Jendra dengan tampang bersemangat dan membuat kumpulan OSIS itu melingkar menjadi beberapa kelompok.
Some tak pernah menduga kelompoknya, itu terdiri dari dua cewek termasuk Dina, dan tiga pria, termasuk murid baru itu. Some tak pernah merasakan dirinya sedikit berbeda ketika pembagian tugas, karena ada murid baru yang sejauh ini belum ia ketahui mukanya. Selain karena beberapa kali berpapasan tapi hanya samar wajah tak di kenal.
Some hanya ingin mengenalnya, sebagai reka OSIS atau mungkin sesama satu tim untuk sekarang. Ingat Some tak mau berpikir terlalu jauh.
"Some!" baru saja Some mau menghampiri rekan kelompoknya tapi Dina menyentuh bahunya mengagetkan.
"Kita sekelompok sama murid baru," ujar Dina antusias yang tak di duga Some juga melakukan hal yang sama. Ia pikir murid baru itu ada di gerombolan kelompoknya tadi.
"Tadi dia sempat mau pindah karena nggak ada teman sekelasnya, tapi kan anak OSIS nggak gitu. Tuh anaknya, sini," ujar Dina sambil menghadap wajahnya pada sosok murid baru itu. Wajah yang cukup asing, postur tubuh yang tegap, dan ia nampak punya fashions yang lumayan.
Ia berjalan perlahan menuju mereka. Namun Some merasa semakin dekat ia semakin mirip dengan cowok itu, Diner.
"Hi gue Dina, ini Something, ini Andra, ini Gilang," ucap Dina meskipun ia sendiri agak gugup karena sikap cowok itu terlihat dingin dan cuek.
"Hi, nama gue Diner, salam semuanya," cowok itu menerima uluran tangan Dina dengan senyum kecil. Ia sebenarnya hanya fokus pada dirinya sendiri, tapi dia cukup yakin kalau ia tak salah mengira kalau itu Something, anak om.
Mereka nampak mengangguk mengerti meskipun selalu penasaran pada apapun yang jenisnya anak baru. Misal memangnya dulu dia sekolah dimana, apa dia punya pacar.
"Ya udah yuk beresin lapang," Andra mengajak cowok itu --Diner dengan cara menarik tangannya sembarang.
"Eh bentar gue belum kenal kalian," jawab Dinner perlahan melepas pegangan itu canggung. Lantas semuanya jadi terasa canggung.
"Sama kita juga, lagian kelasnya beda - beda jadi nggak akrab, tapi lumayan karena kita itu tim buat perwakilan ketua OSIS nanti," jelas Andra berusaha bersikap santai.
Semua orang juga tahu kalau sebenarnya Dinner juga anak osis sebelum ke sekolah ini. Makannya ia nampak bersemangat, kayaknya tak perlu diajari satu - satu. "Jadi gue bisa mewakili dong," ujar Dinner.
"Kita udah pilih tapi tetap saja Gladys dan Jendra maunya Some sama loe aja jadi wakili," ujar Gilang mendengar percakapan para pendahulu tadi.
"Gue? anak baru, nggak mungkin kalau pun gue mau rasnya terlalu muda untuk mengulang," ujar Diner malah terdengar tidak mau diangkat. Hal itu membuat Some mendesah nafas tenang.
"Tenang aja untuk wakilnya nanti gue aja yang pilih, jangan bikin kepala gue makin pusing," kata Some sambil memegang kepalanya bertingkah seolah paling pusing.
"Ih manja banget," ujar Dina keki.
"Ya udah buruan kita beresin lapangan nih," ujar Gilang sambil menunjukan sapu dan sodokan yang ia pegang. Langsung saja membuat mereka tertawa berbarengan. Setelah itu mereka berpencar mencari sampah - sampah yang kotor.
**