Dara Kirana terpaksa meninggalkan gemerlap kota untuk menetap di kaki Gunung Marapi yang selalu diselimuti kabut misterius, namun kepindahannya justru menyeretnya ke tengah pusaran rahasia kuno yang mematikan. Saat nyawanya terancam oleh insiden tak wajar di tengah hutan hujan yang lebat, sesosok pemuda dingin dan tertutup bernama Indra Bagaskara muncul menyelamatkannya dengan kekuatan yang melampaui logika manusia. Di tengah aroma tanah basah dan desas-desus tentang legenda manusia harimau yang mulai menjadi nyata, Dara menyadari bahwa ketertarikannya pada Indra bukan sekadar romansa biasa, melainkan awal dari kebangkitan darah "Pawang" dalam dirinya yang ditakdirkan untuk menjinakkan sang penguasa rimba sebelum sisi binatangnya mengambil alih kesadaran manusianya selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28: Teror Siluman Kera dan Penyesalan Sang Betina
Hari ini di SMA Nusantara Lereng Marapi terasa seolah ditarik oleh karet yang sangat alot. Waktu berjalan merangkak, dibebani oleh ketegangan yang menggantung pekat di setiap sudut koridor.
Bagi murid-murid biasa, sekolah hari ini terasa aneh karena absennya beberapa tokoh penting. Tio dan Adi, si kembar pembuat onar dari kelas sebelas, tidak masuk sekolah dengan alasan 'sakit demam berdarah'. Raka Bagaskara, si pemuda kaku pendiam, juga absen karena 'urusan keluarga'.
Namun bagi Dara Kirana, absennya ketiga pemuda itu adalah pengingat berdarah tentang betapa dekatnya kematian mengintai mereka semua. Luka-luka akibat pertarungan di dalam kubah darah Anneliese semalam tidak bisa disembuhkan hanya dengan plester dan obat merah manusia.
Lebih dari itu, ketidakhadiran para pelindung sayap (flankers) itu membuat Indra Bagaskara berubah menjadi entitas yang sangat menyesakkan.
Pewaris takhta Cindaku itu kini bertindak layaknya seekor induk harimau yang sedang mengawal anak tunggalnya di padang perburuan. Sindrom kecanduan dari malam sebelumnya telah meninggalkan bekas psikologis yang sangat dalam. Sepanjang jam sekolah, Indra tidak beranjak lebih dari radius sepuluh meter dari Dara. Saat Dara berada di kelas, Indra berdiri di lorong luar, bersandar pada kusen jendela dengan tangan terlipat dan mata hazel yang menyipit tajam, mengawasi setiap orang yang berani berjalan terlalu dekat dengan meja Dara.
Aura dominasi Indra memancar begitu kuat hingga tidak ada satu pun guru yang berani menegurnya karena bolos pelajaran. Udara di sekitar pemuda itu terasa seperti aspal jalanan di tengah siang bolong—kering, panas, dan mengintimidasi.
"Ra," bisik Santi, merapatkan kursinya ke meja Dara saat jam pelajaran Kimia sedang berlangsung. Gadis berambut ekor kuda itu melirik takut-takut ke arah jendela, di mana siluet Indra berdiri kokoh bak patung penjaga kuil. "Pangeran es dari klan Bagaskara itu kenapa sih? Dari tadi pagi ngeliatin kelas kita terus. Dia lagi naksir kamu atau mau ngajak kamu berantem?"
Dara memaksakan tawa kecil, mencoret-coret asal di buku catatannya untuk menyembunyikan tangannya yang sedikit gemetar. "Mungkin dia cuma lagi nungguin adiknya di kelas sebelah, San. Jangan terlalu dipikirkan."
"Nungguin apanya, orang matanya ngunci ke arah kamu terus," gerutu Santi bergidik. "Sumpah, kadang aku ngerasa cowok-cowok di sekolah ini aneh semua. Bumi juga sama. Hari ini wajahnya tegang banget, nggak ada senyum-senyumnya sama sekali."
Santi benar. Bumi Arka memang hadir di sekolah, namun Alpha muda itu lebih banyak menghabiskan waktunya berpatroli di sekitar pagar batas sekolah yang mengarah ke sayap barat. Tragedi yang menimpa anggotanya semalam telah menghapus sisi remaja Bumi, menyisakan seorang jenderal perang yang sedang menyusun strategi balas dendam pada para mayat hidup.
Teng! Teng! Teng!
Suara lonceng pulang sekolah memecah ketegangan.
Dara membereskan buku-bukunya dengan cepat. Ia tahu ia harus segera pulang sebelum langit sore berubah menjadi gelap. Kakek Danu telah memperingatkannya bahwa kabut hari ini akan turun lebih awal.
Begitu Dara melangkah keluar dari pintu kelas bersama Santi, Indra langsung mencegatnya.
"Kau pulang sekarang," titah Indra dengan suara baritonnya yang berat, tak memedulikan keberadaan Santi yang langsung menahan napas karena terintimidasi. "Aku tidak bisa mengantarmu sampai ke rumah hari ini. Pamanku, Sutan Agung, memanggilku ke balai adat untuk membahas kondisi Raka. Maya yang akan memastikan jalur pulangmu aman dari kejauhan."
Dara mengangguk mengerti. "Fokuslah pada keluargamu, Indra. Raka butuh dukunganmu. Aku dan Santi akan langsung pulang."
Indra menatap mata Dara lekat-lekat. Pemuda itu terlihat enggan, sangat enggan, untuk melepaskan pandangannya dari gadis itu. Tangan besarnya sedikit terangkat, seolah instingnya ingin mencengkeram lengan Dara dan menyeretnya ke tempat yang aman, namun Indra menahannya kuat-kuat. Ia menelan ludah, jakunnya bergerak turun naik.
"Gunakan napas akarmu. Jangan biarkan auramu bocor sedikit pun," bisik Indra sangat pelan, memastikan hanya pendengaran Dara yang menangkapnya. "Kalau kau mencium bau tanah kuburan, berlarilah."
Dengan langkah berat, Sang Harimau Putih berbalik dan berjalan menjauh, meninggalkan hawa hangat yang perlahan memudar ditiup angin koridor.
Perjalanan pulang dari sekolah menuju desa biasanya memakan waktu sekitar dua puluh menit berjalan kaki menyusuri jalan aspal sempit yang membelah pinggiran Hutan Pinus Marapi. Di hari-hari biasa, jalur ini cukup teduh dan menyenangkan. Namun sore ini, ada yang sangat salah dengan hutan tersebut.
Dara dan Santi baru berjalan setengah jalan ketika kabut putih tebal mendadak turun dari lereng gunung. Kabut itu tidak merayap pelan seperti biasanya; kabut itu bergulung-gulung turun layaknya ombak lautan, menelan pepohonan, semak belukar, dan akhirnya menyelimuti jalan aspal di depan mereka. Jarak pandang anjlok hingga kurang dari tiga meter.
Suara jangkrik dan burung pemakan serangga yang biasanya riuh terdengar kini lenyap tak berbekas. Kesunyian yang tercipta terasa sangat artifisial, seolah alam sendiri sedang menahan napas ketakutan.
"Ra... kabutnya tebal banget," Santi meraih lengan jaket Dara, mencengkeramnya dengan erat. Suara sahabatnya itu bergetar. "Jalannya jadi kelihatan seram. Kita jalan agak cepet, yuk."
Dara mengeratkan rahangnya. Ia memejamkan mata sejenak sambil terus berjalan, memfokuskan Napas Akar-nya. Ia menancapkan kesadaran sensoriknya ke tanah aspal di bawah sepatunya.
Seketika itu juga, rambut-rambut halus di tengkuk Dara berdiri.
Ada pergerakan di dalam hutan di sebelah kiri mereka. Bukan satu atau dua. Ada puluhan langkah kaki yang bergesekan dengan dedaunan kering. Namun, langkah kaki itu tidak berirama seperti langkah pasukan militer. Langkah itu kacau, melompat-lompat, dan bergerak memutar layaknya sekawanan primata buas.
"Santi, jangan lepaskan peganganmu," bisik Dara tajam, nadanya berubah mengeras. Wibawa Sang Ratu Penengah mulai mengambil alih gadis fana itu. "Apa pun yang terjadi, jangan lari meninggalkan aku."
"K-kamu bikin aku takut, Ra. Ada apa sih?" Santi mulai terisak panik.
Dara tidak sempat menjawab.
Dari balik kabut tebal di sebelah kiri mereka, sebuah bayangan hitam melesat terbang dan mendarat tepat di tengah aspal, menghalangi jalan.
Santi menjerit histeris. Dara refleks menarik sahabatnya itu ke belakang tubuhnya.
Makhluk yang mendarat di depan mereka bukanlah mayat hidup berseragam Belanda, bukan pula seekor serigala raksasa. Makhluk itu menyerupai seekor primata, namun dengan anatomi yang salah. Tubuhnya kurus kering hingga tulang rusuknya menonjol, kulitnya berwarna abu-abu pucat, dan wajahnya rata tanpa hidung, hanya menyisakan celah mulut yang dipenuhi gigi-gigi runcing yang bergemeretak. Sepasang matanya berwarna kuning menyala, menatap Dara dengan kelaparan yang tak terbayangkan.
Itu adalah Begu. Siluman rendahan pemakan bangkai yang biasanya hanya berani berkeliaran di kedalaman Hutan Terlarang. Makhluk-makhluk ini tidak punya otak untuk berpikir taktis; mereka hanya digerakkan oleh insting lapar.
Krraaaakk! Hisssss!
Satu per satu, belasan Begu lainnya melompat keluar dari balik kabut. Mereka bergelantungan di dahan pohon pinus terendah, merangkak di aspal, mengelilingi Dara dan Santi dalam radius lima meter. Decakan gigi mereka terdengar seperti suara ribuan jangkrik logam yang saling bergesekan.
"Tolong... Dara, itu apa?!" jerit Santi, menutupi wajahnya dengan kedua tangan, lututnya lemas tak bertulang. Ia merosot jatuh ke atas aspal. Otak manusiawinya menolak untuk memproses kenyataan monster di hadapannya.
Dara berdiri tegak menutupi tubuh Santi. Keringat dingin mengucur deras di punggungnya, namun ia menolak untuk berteriak.
Otak Dara bekerja gila-gilaan. Begu tidak memakan manusia hidup kecuali jika diprovokasi oleh bau darah yang sangat kuat. Siluman rendahan ini pengecut. Sesuatu pasti telah memancing mereka keluar dari sarangnya. Sesuatu yang sengaja diarahkan ke jalur kepulangannya.
“Jangan pernah mempercayai Serigala Betina itu,” peringatan Maya terngiang di telinganya. “Ajag membunuh secara diam-diam. Mereka menggunakan taktik, pengepungan, dan pengkhianatan.”
Gendis.
Ini adalah perbuatan Gendis.
Seekor Begu yang paling besar melompat maju, mengulurkan tangan panjangnya yang bercakar kotor ke arah wajah Dara.
Dara tidak memejamkan mata. Insting pertahanan yang dilatih Maya hari sebelumnya merespons secara otomatis. Dara merasakan tekanan di aspal sebelum makhluk itu melompat. Ia menggeser tubuhnya ke kanan, membiarkan cakar kotor itu meleset dari pipinya.
Dengan gerakan cepat, Dara memutar telapak tangannya. Ia tidak bisa menggunakan sihir penyembuh untuk makhluk yang tidak berjiwa ini. Ia harus menggunakan serangan.
"Menjauh!" teriak Dara.
Dara melepaskan Napas Akar-nya secara eksplosif. Ia menghentakkan kakinya ke aspal, menarik energi bumi secara kasar, lalu menembakkan pendar cahaya biru yang luar biasa menyilaukan langsung ke arah wajah Begu tersebut.
BLAAAAAASH!
Cahaya kehidupan murni itu menghantam wajah si siluman rendahan. Begu itu memekik ngeri, sebuah lengkingan ultrasonik yang menyakitkan telinga. Matanya yang berwarna kuning pucat melepuh terkena energi suci Pawang. Makhluk itu terpelanting ke belakang, bergulingan di atas aspal sambil memegangi wajahnya yang berasap.
Melihat kawanannya dilukai, sisa kawanan Begu itu bukannya lari ketakutan, justru semakin beringas. Bau darah dan energi yang mendadak meledak memicu histeria massal. Mereka memamerkan gigi-gigi runcing mereka dan bersiap menerkam Dara secara serempak dari segala arah.
Dara mengepalkan tangannya. Energinya terbatas. Jika ia terus memancarkan cahaya untuk menyerang belasan Begu sekaligus, umurnya akan terkuras habis di jalan aspal ini. Ia tidak bisa melawan mereka semua.
"Maya! Indra!" batin Dara menjerit, berharap para Cindaku penjaganya mendengar. Namun kabut ini terlalu tebal, dan distorsi sihir dari Begu ini mungkin telah menyembunyikan posisinya.
Lima puluh meter di atas tebing batu yang menjorok ke arah jalan aspal tersebut, Gendis berbaring telungkup, mengawasi kekacauan yang ia ciptakan melalui teropong binokular berburu.
Gadis serigala itu menyeringai puas.
Dahan kayu berbalut sapu tangan bernoda darahnya telah sukses memancing koloni Begu itu ke jalanan. Gendis sengaja memilih Begu karena makhluk itu cukup menakutkan untuk membuat manusia trauma seumur hidup, namun tidak cukup kuat untuk membunuh seketika, memberi waktu bagi Dara untuk menyadari betapa lemahnya dirinya tanpa perlindungan Bumi atau Indra.
"Larilah, Gadis Kota. Menangis dan berteriaklah minta tolong pada ibumu di Jakarta," bisik Gendis dingin. "Tunjukkan pada dunia betapa rapuhnya Ratu Penengah pujaan mereka."
Namun, seringai di wajah Gendis perlahan memudar.
Alih-alih lari terbirit-birit dan meninggalkan temannya, Dara Kirana tetap berdiri kokoh melindungi gadis berambut ekor kuda itu. Ia melihat Dara menghindar dari serangan Begu pertama dengan kelincahan yang mengejutkan, lalu meledakkan cahaya biru yang membuat siluman itu terpental.
"Sialan. Sejak kapan manusia itu bisa berkelahi?" gerutu Gendis, menajamkan fokus binokularnya.
Tiba-tiba, telinga serigala Gendis berkedut keras. Bulu-bulu halus di lehernya meremang secara otomatis.
Insting pemangsanya mendeteksi sebuah perubahan atmosfer yang luar biasa drastis. Ini bukan hawa panas dari Cindaku yang datang menyelamatkan Dara. Ini adalah hawa dingin absolut yang membusukkan paru-paru.
Gendis menyingkirkan binokularnya dan mengendus udara. Matanya terbelalak lebar. Jantung serigalanya berdegup liar karena horor yang tak terduga.
Bau logam berkarat. Bau tanah makam yang dikeruk. Bau mayat yang berjalan.
"Tidak... tidak mungkin," bisik Gendis, darahnya berdesir beku.
Dari arah yang berlawanan dengan kedatangan para Begu, tiga sosok jangkung melangkah keluar dari kabut pekat, berjalan tanpa suara menyusuri aspal menuju posisi Dara.
Ketiga sosok itu mengenakan seragam militer hijau lumut yang sudah robek dan lapuk. Topi baret mereka menutupi separuh wajah pucat yang menirus seperti tengkorak. Mata mereka bersinar merah darah di tengah kabut. Di tangan mereka tergenggam senapan bayonet panjang yang berkarat namun setajam silet.
Mereka bukan ilusi. Mereka adalah Marsose Darah yang sesungguhnya. Pasukan perintis elit milik Willem yang sedang berpatroli dan secara kebetulan tertarik oleh aroma darah Gendis di sapu tangan itu, serta pendar energi Pawang milik Dara.
Gendis telah melakukan kesalahan paling fatal dalam hidupnya. Ia berniat menakut-nakuti Dara dengan hewan liar, namun tanpa sengaja, ia justru melemparkan gadis itu ke rahang naga.
Di bawah sana, para Begu yang tadi mengurung Dara mendadak berhenti mendecakkan giginya. Siluman-siluman primata itu menoleh ke arah ketiga Marsose tersebut. Merasakan hawa kematian yang absolut, insting kepengecutan Begu langsung mengambil alih. Mereka memekik ketakutan dan berusaha melarikan diri ke atas pohon.
Namun, Marsose Darah bukanlah makhluk yang memberikan ampunan.
Salah satu tentara vampir itu melesat maju dengan kecepatan yang mengaburkan pandangan. Gerakannya tidak teratur, patah-patah layaknya serangga, namun mustahil dihindari. Hanya dalam hitungan dua detik, bayonet berkaratnya telah menebas horizontal, membelah tiga ekor Begu sekaligus di udara. Darah hitam dan organ dalam siluman itu berhamburan ke atas aspal.
Dua Marsose lainnya menyusul, membantai sisa-sisa Begu yang mencoba kabur tanpa perlawanan berarti. Daging-daging tercabik, tulang-tulang dipatahkan dengan satu putaran tangan yang brutal. Dalam waktu kurang dari satu menit, belasan Begu yang tadi mengepung Dara telah berubah menjadi tumpukan bangkai yang mengotori jalanan.
Santi yang melihat pembantaian sadis itu di depan matanya langsung kehilangan kesadaran sepenuhnya, pingsan terjerembap di atas aspal.
Dara berdiri mematung. Kengerian yang membelit dadanya membuat paru-parunya seolah lupa cara bekerja. Ia berhadapan dengan mesin pembunuh sejati.
Setelah siluman terakhir ditebas, ketiga Marsose Darah itu memutar tubuh mereka yang kaku. Tiga pasang mata merah darah kini terkunci tepat pada sosok Dara Kirana. Mereka memiringkan kepala mereka secara bersamaan, sebuah gestur analitis yang kosong dari emosi manusiawi.
Mereka mengenali bau gadis ini. Ini adalah bau Ratu Penengah yang diperintahkan oleh tuan mereka untuk dibawa hidup-hidup.
Salah satu Marsose mengangkat bayonetnya, bukan untuk menusuk, melainkan untuk memukul kepala Dara dengan gagang senapan agar gadis itu pingsan. Mayat hidup itu melangkah maju.
Di atas tebing, Gendis gemetar hebat. Kepanikan meremukkan akal sehatnya.
Jika Dara mati atau diculik oleh pasukan Willem hari ini, penyebabnya adalah dirinya. Willem akan menggunakan darah Dara untuk memperkuat dirinya dan membangkitkan ratusan tentara lagi. Bumi Arka akan hancur oleh kesedihan, lalu sang Alpha akan mencabik-cabik Gendis dengan tangannya sendiri saat mengetahui kebenarannya. Gendis tidak hanya mengkhianati Dara; ia baru saja mengkhianati dan menghancurkan masa depan seluruh kawanannya karena ego pribadinya.
“Kau adalah pelindung kawananmu, Gendis. Bukan penghancurnya,” suara ayahnya, salah satu tetua Ajag yang telah tiada, bergema di kepalanya.
Gendis tidak punya waktu untuk memanggil bala bantuan. Ia tidak punya waktu untuk berpikir.
Dengan satu lolongan panjang yang memecah kabut, Gendis melompat dari atas tebing setinggi sepuluh meter.
Di pertengahan udara, gadis itu membiarkan insting liarnya mengambil alih. Tulang-tulangnya memanjang dan bergeser dengan bunyi derak yang kasar. Wajah cantiknya memanjang menjadi moncong serigala. Rambut bobnya melebur menjadi bulu-bulu lebat berwarna cokelat gelap. Pakaian berburunya robek berkeping-keping.
Gendis bertransformasi penuh (Full-Shift).
Ia mendarat di atas aspal dengan empat kaki yang sangat kokoh, menciptakan getaran yang meretakkan jalanan. Seekor serigala betina raksasa—meski tidak sebesar Bumi, namun jauh lebih gesit—kini berdiri menutupi tubuh Dara.
Dara terkesiap mundur, nyaris menabrak tubuh Santi yang pingsan. Ia menatap serigala raksasa di hadapannya dengan keterkejutan yang luar biasa. Ia mengenali warna bulu dan pendar matanya. Itu Gendis. Serigala betina yang sangat membencinya itu baru saja melompat dari tebing untuk menjadi perisai hidupnya.
Gendis memamerkan taringnya yang tajam, mengeluarkan geraman rendah yang sangat mengancam ke arah ketiga Marsose Darah tersebut.
Ketiga tentara mayat hidup itu tidak gentar sedikit pun. Mereka mengangkat bayonet mereka secara serempak. Bagi mereka, seekor serigala raksasa hanyalah anjing penjaga yang harus disingkirkan sebelum mengambil hadiah utamanya.
Pertarungan tidak seimbang antara Serigala Betina muda melawan tiga veteran tentara abadi meletus di tengah kabut yang berdarah.
Gendis menerjang maju dengan kecepatan angin, mengincar leher Marsose terdepan. Namun tentara pucat itu memutar senapannya dengan presisi militer yang mematikan. Gagang kayu senapan menghantam keras moncong Gendis di udara, membuat serigala betina itu terpental ke samping.
Sebelum Gendis sempat bangkit, Marsose kedua melesat dan menusukkan bayonetnya tepat menembus paha belakang sang serigala.
Sebuah lolongan kesakitan yang menyayat hati robek dari tenggorokan Gendis. Racun vampir di bilah perak berkarat itu langsung bekerja, membakar daging dan memperlambat regenerasinya.
Dara melihat darah Gendis berceceran di aspal. Rasa benci dan sakit hati atas makar yang dilakukan Gendis padanya seketika menguap, digantikan oleh simpati murni. Gendis sedang mengorbankan nyawanya demi menebus kesalahannya.
"Tidak!" jerit Dara.
Sang Ratu Penengah menolak untuk hanya menjadi penonton. Ia menyerap energi Napas Akar gila-gilaan dari bumi, mengumpulkannya di telapak kanannya hingga berpendar menyilaukan mata, lalu berlari menerjang ke depan untuk menghantam dada mayat hidup yang sedang menginjak tubuh serigala Gendis. Papan catur telah terbalik, dan bidak raja kini maju ke garis depan.