NovelToon NovelToon
Wanita Bercadar Kesayangan Mafia

Wanita Bercadar Kesayangan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Diam-Diam Cinta
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: putri Sefira

Arkan Xavier adalah definisi dari kekejaman. Sebagai pemimpin sindikat mafia paling ditakuti, dunianya hanya dipenuhi dengan pengkhianatan dan genangan darah. Namun, satu malam yang fatal mengubah segalanya. Dalam kondisi sekarat akibat penyergapan, Arkan diselamatkan oleh Aisyah, seorang wanita bercadar yang hatinya sedalam samudera dan imannya sekokoh karang.
​Bagi Arkan, Aisyah adalah anomali—cahaya yang seharusnya tidak pernah bersentuhan dengan kegelapannya. Terobsesi dengan ketenangan yang dimiliki Aisyah, Arkan mulai masuk ke kehidupan wanita itu, menyeretnya ke dalam pusaran bahaya yang belum pernah Aisyah bayangkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putri Sefira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29: Benang Merah Baskara

Malam di Jakarta terasa lebih berat, seolah awan mendung yang menggantung di atas cakrawala menyimpan ribuan rahasia yang siap tumpah.

Arkan Xavier menatap pantulan dirinya di cermin kamar mandi; ia melihat seorang pria yang mencoba melarikan diri dari bayang-bayangnya sendiri, namun bayang-bayang itu terus memanjang seiring langkahnya menuju cahaya.

Arkan merapikan jaket kulit hitamnya, menyembunyikan memar di buku jarinya akibat insiden dengan Bimo di laboratorium pagi tadi. Di atas meja kerja, ia meletakkan sebuah flashdisk kecil yang ia ambil dari brankas rahasia peninggalan ayahnya. Isinya bukan sekadar data keuangan, melainkan potongan rekaman CCTV asli dari pelabuhan malam itu—sudut pandang yang sengaja dihilangkan dari berkas perkara resmi.

"Kau benar-benar akan menemuinya?" Aisyah muncul, wajahnya tampak lelah namun matanya tetap waspada. Ia baru saja selesai mensterilkan ruang tindakan di klinik setelah kepergian pria-pria 'The Ghost' tadi.

"Bimo hanya pion, Aisyah. Dia digerakkan oleh kebencian yang salah alamat. Jika aku tidak memberikan kebenaran ini padanya, dia akan terus menjadi senjata bagi orang-orang yang ingin menghancurkanku," Arkan mendekat, mengusap lembut pipi istrinya. "Tapi ada yang lebih penting. Apa kau sudah memeriksa botol obat yang tertinggal tadi?"

Aisyah mengangguk, ia menyerahkan sebuah botol kecil tanpa label yang ia temukan di saku pria bertato itu. "Aku sudah melakukan tes cepat di laboratorium klinik. Cairan ini adalah Neuro-Strychnine, sebuah stimulan saraf yang dilarang secara internasional. Tapi yang membuatku takut adalah kode produksi di bawah botolnya: B-Pharm 2026."

Arkan mengerutkan kening. "B-Pharm? Itu perusahaan farmasi milik keluarga Baskara yang dikabarkan bangkrut setelah penangkapan ayahnya."

"Sepertinya mereka tidak bangkrut, Arkan. Mereka hanya berganti nama dan bergerak di bawah tanah," bisik Aisyah. "Adrian Baskara... dia belum selesai dengan kita."

Arkan memacu motornya menuju sebuah bar tua di pinggiran Jakarta bernama Blue Velvet.

Tempat itu remang-remang, beraroma tembakau dan wiski murah—tempat yang sempurna bagi seorang putra polisi yang sedang kehilangan arah.

Ia menemukan Bimo di pojok ruangan, sedang menenggak gelas kelimanya. Wajah pemuda itu tampak hancur, lengannya yang tadi dikunci Arkan masih dibalut perban kain.

"Kau punya nyali besar datang ke sini, Xavier," Bimo mendongak, matanya sayu oleh alkohol.

"Mau mematahkan lenganku yang satu lagi?"

Arkan duduk di depannya tanpa memesan minuman. Ia meletakkan flashdisk itu di meja kayu yang lengket. "Tonton ini saat kau sudah sadar, Bimo. Ini adalah rekaman dari kamera pengawas di gudang 04, lima menit sebelum ayahmu ditembak."

Bimo tertawa getir. "Polisi sudah menunjukkan semua rekamannya. Ayahku tewas karena perintah ayahmu!"

"Polisi hanya menunjukkan apa yang ingin mereka tunjukkan," suara Arkan rendah namun menusuk. "Lihat siapa yang menarik pelatuknya.

Bukan orang-orang Xavier. Pria itu memakai seragam taktis tanpa lencana, dan dia keluar dari mobil yang terdaftar atas nama perusahaan cangkang milik keluarga Adrian Baskara. Ayahmu tidak dibunuh karena perang mafia; dia dibunuh karena dia tahu terlalu banyak tentang distribusi obat-obatan ilegal yang dilakukan Baskara di bawah perlindungan klan Xavier."

Bimo tertegun. Gelas di tangannya bergetar.

"Kenapa kau memberitahuku sekarang?"

"Karena kita berada di sisi yang sama sekarang, Bimo. Kita berdua adalah korban dari orang-orang yang duduk di kursi empuk dan memerintahkan kematian dari balik meja," Arkan berdiri. "Jangan datang ke kampus besok jika kau masih ingin membalas dendam padaku. Tapi datanglah ke Dekanat jika kau ingin kita bersama-sama menjatuhkan mereka yang sebenarnya."

Sementara itu, di panti, Aisyah tidak bisa tenang.

Ia membuka kembali catatan medis pria 'The Ghost' yang ia selamatkan. Ada sesuatu yang ganjil pada pola luka tembaknya. Luka itu terlalu bersih, seolah-olah penembaknya sengaja menghindari organ vital namun ingin menciptakan pendarahan yang hebat.

Ini bukan penembakan untuk membunuh. Ini penembakan untuk mengirim pesan, pikir Aisyah.

Tiba-tiba, lampu panti berkedip dan mati total.

Keheningan yang mencekam menyelimuti kompleks panti asuhan. Aisyah segera meraih ponselnya, namun sinyalnya hilang. Jammer.

Ia bergerak cepat ke kamar Rahman Malik, ayahnya. "Ayah, jangan keluar dari kamar," bisiknya sambil mengunci pintu.

Aisyah mengambil tas medis daruratnya. Di dalamnya bukan hanya ada obat-obatan, tapi juga sebuah pisau bedah nomor 11 yang sangat tajam. Ia teringat latihan beladiri dasar yang diajarkan Arkan: Gunakan apa yang ada di tanganmu, dan jangan pernah ragu.

Langkah kaki berat terdengar di koridor klinik. Aisyah bersembunyi di balik lemari obat. Pintu klinik terbuka pelan, cahaya senter menyapu ruangan. Seorang pria bertopeng masuk, ia memegang senjata dengan peredam suara.

"Dokter Aisyah... kami tahu kau di sini," suara itu terdengar tenang, hampir seperti suara seorang terapis. "Kami hanya butuh data yang dibawa oleh pasienmu tadi. Berikan pada kami, dan panti ini tidak perlu menjadi saksi pertumpahan darah lagi."

Aisyah menggenggam gagang pisau bedahnya hingga buku jarinya memutih. Ia tahu pria ini bukan 'The Ghost'. Ini adalah unit pembersih yang berbeda. Unit yang bekerja untuk 'The Ghost-Breaker'—satuan tugas gelap yang dibiayai oleh sisa-sisa kekuatan Baskara.

Saat pria itu mendekati lemari, Aisyah menendang rak botol alkohol ke arahnya. PRANG! Cairan alkohol tumpah dan mengenai mata pria itu. Dalam sepersekian detik, Aisyah melompat keluar, bukan untuk menusuk, tapi untuk memotong kabel listrik cadangan yang berada di dekat pintu, menciptakan percikan api yang membuat pria itu terkejut.

Aisyah lari menuju pintu belakang, namun di sana ia sudah dihadang oleh dua orang lainnya.

"Cukup permainannya, Dokter," salah satu dari mereka mengokang senjatanya.

Tepat sebelum pelatuk ditarik, sebuah bayangan melesat dari kegelapan luar. Sebuah motor besar menabrak pintu kaca klinik dengan keras, menciptakan kekacauan total. Arkan Xavier melompat dari motornya bahkan sebelum kendaraan itu berhenti.

Ia tidak menggunakan senjata api. Ia menggunakan tongkat besi pendek yang ia ambil dari perkakas motornya. Gerakannya sangat cepat, presisi, dan mematikan. Dalam tiga gerakan, pria pertama tumbang dengan lutut hancur. Pria kedua terlempar ke dinding dengan rahang yang bergeser.

Arkan berdiri di depan Aisyah, napasnya memburu. Matanya berkilat dengan intensitas yang hanya dimiliki oleh seorang predator yang sedang melindungi sarangnya.

"Arkan!" Aisyah memeluk punggung suaminya.

"Kau tidak apa-apa?" Arkan memastikan tanpa mengalihkan pandangan dari pria ketiga yang masih berdiri di depannya.

Pria itu, yang tadi matanya terkena alkohol, tertawa sambil menyeka wajahnya. "Kau masih hebat, Pangeran. Tapi kau salah lawan. Kami bukan lagi orang-orang yang bisa kau gertak dengan nama besarmu."

Pria itu menekan tombol di pergelangan tangannya. "Operasi gagal. Lakukan pembersihan area."

Tiba-tiba, suara ledakan kecil terdengar dari arah gerbang panti. Api mulai menjalar di pos penjagaan.

"Mereka membakar panti!" teriak Leo yang baru muncul dari arah asrama anak-anak.

Arkan menatap Aisyah. Dilema besar menghantamnya. Mengejar para penyusup ini, atau menyelamatkan puluhan anak yatim yang sedang ketakutan di dalam asrama yang mulai terbakar?

"Selamatkan anak-anak, Arkan! Pergi!" perintah Aisyah sambil mengambil alat pemadam api ringan.

Arkan mengangguk getir. Ia membiarkan para penyusup itu melarikan diri ke dalam kegelapan malam, sementara ia berlari menuju asrama yang mulai tertutup asap tebal. Di dalam sana, ia melihat Bimo berdiri di tengah kekacauan, memegang botol air dan mencoba memadamkan api kecil.

"Aku mengikutimu ke sini, Arkan! Aku melihat rekaman itu di mobil!" teriak Bimo sambil terbatuk. "Kau benar... bajingan itu yang membunuh ayahku! Biarkan aku membantumu sekarang!"

Arkan tidak punya waktu untuk bertanya bagaimana Bimo bisa sampai di sana secepat itu.

Mereka bekerja sama, menerobos asap untuk mengeluarkan anak-anak satu per satu. Arkan menggendong dua anak sekaligus, sementara Bimo membimbing yang lain keluar.

Saat matahari mulai terbit, api berhasil dipadamkan. Pos penjagaan hancur, dan klinik Aisyah berantakan. Namun, tidak ada korban jiwa. Anak-anak panti berkumpul di taman mawar, gemetar ketakutan namun selamat.

Jaksa Hendra tiba di lokasi dengan pengawalan ketat. Ia menatap Arkan dan Bimo yang duduk di tanah dengan wajah penuh jelaga.

"Apa yang terjadi di sini, Arkan?" tanya Hendra berat.

Arkan menyerahkan sebotol obat B-Pharm yang tadi diberikan Aisyah. "Perang sudah dimulai, Pak Jaksa. Dan kali ini, mereka tidak hanya mengincar nyawaku. Mereka mengincar sistem yang sedang kita bangun. Adrian Baskara telah memproduksi stimulan tempur untuk unit paramiliter ilegal."

Bimo berdiri, menatap Jaksa Hendra dengan pandangan yang kini penuh tekad. "Pak Jaksa, saya mahasiswa kedokteran tingkat akhir dan putra Komisaris Wijaya. Saya ingin memberikan kesaksian bahwa Arkan Xavier tidak bersalah atas insiden di lab, dan saya memiliki bukti baru tentang keterlibatan korporasi Baskara dalam pembunuhan ayah saya."

Hendra terdiam, lalu mengangguk. "Ikut saya ke kantor pusat. Kita tidak bisa membicarakan ini di sini."

Arkan menatap Aisyah yang sedang membalut luka gores di tangan seorang anak panti. Ia menyadari satu hal: untuk mengalahkan 'The Ghost', ia tidak bisa lagi hanya menjadi seorang dokter atau seorang narapidana yang bertobat. Ia harus menjadi arsitek dari sebuah jaringan keadilan yang lebih kuat daripada kegelapan yang diciptakan ayahnya dulu.

1
Amiera Syaqilla
salam sejahtera author🤗
sefira🐼: salam juga😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!