Setelah 8 tahun pacaran, Nisa yang menunggu dilamar di hari anniversary, justru merima kenyataan pahit jika ia diputuskan oleh Sandi dengan alasan tak setara.
Tapi takdir seperti sedang mengajak bercanda, sebulan kemudian Sandi datang ke rumahnya untuk melamar. Namun bukan ia yang dilamar, melainkan Naina, sang adik yang lulusan S1 dan bekerja sebagai teler di salah satu bank swasta.
Disaat ia terpuruk, ada sosok yang tak sengaja hadir dalam kehidupannya. Sosok yang begitu baik dan humoris, tapi kadang menyebalkan. Dia adalah Januar, seoarang driver ojol.
"Kalau jodoh memang harus setara, kamu nikah sama aku aja, Mbak." Ajakan nikah Januar alias Ojan, hanya disenyumin saja oleh Nisa.
Tapi Ojan, pantang menyerah, ia terus mendekati Nisa, hingga akhirnya wanita itu luluh. Tapi satu kenyataan pahit, membuat Nisa kembali terpuruk. Ternyata selain seorang ojol, Ojan juga merupakan mahasiswa S2. Apakah sekali lagi, ia harus patah hati karena alasan kesetaraan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21
Sandi reflek melepas tangan Naina yang menggamit lengannya. Wajahnya pias, tak menyangka akan bertemu dengan Nisa disini. Sementara Naina, ekspresinya terlihat datar. Rencananya, besok Sandi akan datang ke rumah, diperkenalkan sebagai kekasih, namun sepertinya, hubungannya harus terbuka sehari lebih cepat.
"A, apa ini? Apa maksud ini semua?" Tenggorokan Nisa tercekat, dadanya sesak. Ia bukan orang bodoh yang tidak bisa melihat bahasa tubuh orang. Naina dan Sandi, terlihat seperti sepasang kekasih.
"Maafin aku, Mbak." Naina menunduk, meraih tangan Sandi, menggenggam erat, seperti menujukkan, jika sekarang Sandi miliknya.
Nisa serasa seperti tersambar petir. Tubuhnya gemetar, sampai piring yang ada di tangannya hampir saja jatuh kalau Dinda tidak reflek mengambil alih.
Pacarnya Pak Sandi, mirip dengan kamu Nis.
Nisa teringat ucapan Anggita tempo hari saat mereka tak sengaja bertemu di lift. Laki-laki yang menelepon Naina pagi itu, yang profil picture nya terlihat familiar, bagaimana bisa ia lupa, itu PP WA Sandi. Clue itu sudah ada, tapi ia yang tak bisa membaca.
Sandi mengusap tengkuk, gelisah, tak berani menatap Nisa.
"Gila kamu ya, Nai!" bentak Dinda tak terlalu keras, takut menarik perhatian. Ia mendelik tajam, menatap Sandi dan Naina bergantian. "Apa tidak ada laki-laki lain selain anj**g ini, hah!" menunjuk Sandi dengan nafas naik turun. Bukan ia yang disakiti, tapi ia ikut merasakan sakitnya.
Nisa meremat rok nya kuat. Diputusin setelah 8 tahun pacaran memang sakit, tapi mengetahui fakta jika dua orang terdekatnya berkhianat, itu jauh lebih sakit. Ia pernah memergoki Naina dan Sandi saling tatap, tapi ia terlalu polos untuk bisa menyimpulkan jika itu adalah sebuah perselingkuhan. Ia buta karena cinta, ia menganggap Sandi adalah laki-laki terbaik, laki-laki yang tak mungkin menyakitinya, apalagi berselingkuh dengan adiknya.
"Aku dan Mas Sandi resmi pacaran setelah kalian putus." Naina mencoba membela diri, tak mau disalahkan atau pun dianggap tak tahu diri.
"Mau sudah putus atau belum, tak seharusnya kamu punya hubungan dengan dia!" Lagi-lagi, Dinda yang mengamuk, tak terima. "Laki-laki ini bajingan, dia sudah menyakiti kakak kamu."
Beberapa orang yang melintas dekat mereka menoleh, menatap 4 orang yang tampak tegang tersebut.
"Kamu benar-benar tak ada hati, Nai." Dinda menahan diri untuk tidak melempar makanan di tangannya pada kedua pengkhianat di depannya. Sekali lagi, karena ia tak mau membuat rusuh di acara orang. "Beruntung kita ketemu disini, karena kalau tidak!"
"Sudahlah Din," Nisa tersenyum, menyembunyikan perasaannya yang hancur tak berbentuk. Menangis di depan mereka, hanya akan membuat ia terlihat menyedihkan. "Mereka pasangan yang serasi, setara," tersenyum kecut. "Selamat ya. Semoga kalian bahagia, meski aku tidak rela." Ia melangkah pergi, menuju pintu keluar ballroom. Ia bisa memahami keinginan Sandi dan orang tuanya untuk bisa mendapatkan jodoh yang setara, tapi kenapa harus adiknya? Kenapa harus melukainya sekali lagi.
"Semoga kalian berdua tidak pernah merasakan bahagia!" Dinda menyumpahi. "Nis, Nisa." Dengan dua piring makanan di tangannya, mengejar Nisa.
"Kamu makan aja dulu, Din. Aku tunggu di luar." Suara Nisa bergetar, menahan tangis.
"Tapi, Nis."
"Sayang makanannya kalau gak dimakan. Aku tunggu di luar." Nisa melanjutkan langkah, berjalan cepat meninggalkan ballroom.
Tak tahu dimana letak toilet, Nisa terus saja berjalan hingga berhenti di depan lift. Dengan tangan gemetar, menekan tombol turun. Dadanya sakit sekali karena menahan tangis. Luka yang belum kering serasa seperti disiram air garam. Ini bukan lagi sakit, tapi sangat menyakitkan.
Pintu lift terbuka, beberapa orang keluar dari sana. Nisa mundur beberapa langkah menjauhi pintu lift, memberi jalan pada orang-orang tersebut. Satu persatu melangkah pergi hingga tak tersisa orang di depan lift. Tak ada lagi yang keluar, namun Nisa tak kunjung masuk, ia justru makin melangkah mundur, menjauh dari lift.
Ting
Pintu lift kembali tertutup, namun Nisa tidak masuk, kakinya makin melangkah mundur hingga jauh dari pintu lift, di tempat yang lumayan sepi. Tak kuat lagi, gadis itu berjongkok, membenamkan wajah di kedua lutut, dan tangisnya pecah seketika.
Suara derap langkah terdengar beberapa kali, namun Nisa tak peduli. Seperti apa orang menatapnya, ia tak mau tahu, ia hanya ingin menangis saat ini.
"Mbak."
Nisa mengangkat wajah, terlihat sepasang kaki dengan sepatu pantofel dan celana bahan warna hitam, berdiri di hadapannya. Ia mendongak, menatap wajah orang di depannya. "Ojan," panggilnya lirih, nyaris tak terdengar. Ia bangkit, lalu memeluk Ojan erat.