Bagi Alma, Nova adalah segalanya. Pria romantis yang menjadi pusat dunianya, sehingga dirinya mencintai pria itu dengan ugal-ugalan.
Namun, semuanya tak lagi sama, ketika tak sengaja ia mendengar dan melihat sendiri sang suami menyebut istri pada wanita lain. Dan lebih mirisnya lagi dirinya bukan yang pertama.
Danish, sosok pemuda yang hangat pada keluarga, tetapi sangat dingin dan cuek pada wanita setelah cintanya kandas. Akan tetapi, sejak pertemuannya kembali dengan Alma, perlahan sikapnya mulai berubah.
Bagaimana kisah selanjutnya? Mengalami pengalaman pahit yang hampir sama, akankah mereka bersatu?
Yuk, ikuti perjalanan mereka, hanya di sini; "Bukan Yang Pertama" karya Moms TZ. Bukan yang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hukuman
Suara benturan map dengan meja membuat Nova tersentak kaget. Pria itu menatap Alma dengan pandangan yang sulit diartikan, antara marah juga tak berdaya.
"Apa maksud ucapanmu? Aku sudah bekerja dengan baik selama bertahun-tahun di perusahaan ini!" balas Nova dengan suara yang sama kerasnya.
Alma berdiri dengan tegap, wajahnya tetap dingin lalu melipat kedua tanganya di depan dada. "Bekerja dengan baik atau hanya bermain-main dan mengandalkan seseorang untuk mengerjakan semuanya?" sindirnya tepat sasaran, membuat Nova bungkam tak berkutik.
Ia lantas mengambil salah satu lembar kertas dan mengibaskannya di depan wajah Nova. "Ini bukan kualitas kerja yang diharapkan dari seorang kepala bagian yang selama ini dianggap kompeten!"
Nova ingin membantah, tetapi kata-katanya terjepit di tenggorokannya saat melihat ekspresi wajah Alma yang sangat serius. Dirinya sadar sepenuhnya bahwa apa yang dikatakan wanita itu benar – laporan yang dibuatnya memang tidak sempurna. Dia mengerjakannya dengan asal-asalan karena selama ini Alma lah yang selalu membantunya menyelesaikan pekerjaannya.
"Anda tidak bisa membantahnya, kan?" tukas Alma penuh tekanan. "Karena selama ini saya yang mengerjakan semuanya. Hal itu lah yang membuat Anda begitu sombong dan terlena."
"Jadi sekarang, kerjakan ulang seluruh laporan ini dari awal. Dan jangan pulang sebelum pekerjaan Anda benar-benar selesai! Tidak ada kompromi!" titah Alma dengan tegas tak ingin dibantah.
"Aku tidak bisa! Ini sudah sore dan aku punya urusan penting di rumah!" gerutu Nova dengan tidak puas.
"Urusan penting? Atau hanya alasan untuk menghindari tanggung jawab?" balik Alma dengan tegas. "Saya tidak peduli apa yang Anda lakukan di luar sana. Tapi di kantor ini, saya adalah atasan Anda dan Anda harus mematuhi perintah saya."
Ia menunjuk ke arah kursi di depan mejanya. "Silakan duduk di sana dan kerjakan mulai sekarang! Tapi ingat, tidak boleh ada satu kesalahan sekecil pun. Paham!"
Nova menatapnya dengan wajah memerah menahan amarah, dia merasa harga dirinya telah diinjak-injak oleh Alma. Namun, akhirnya dia memilih untuk meredamnya, dan mencoba bernegosiasi. Dia memasang raut memelas untuk menarik simpati.
"Alma... Kenapa kamu tega melakukan ini padaku? Aku ada janji dengan Chika..."
Namun, Nova terhenti berbicara, kala Alma menatapnya dengan sengit dan memotong ucapannya.
"Pak Nova, tolong bersikaplah profesional. Jika Anda tak bisa melakukannya, silakan ajukan surat pengunduran diri. Karena di luaran sana masih banyak orang lain yang menginginkan posisi Anda. Mengerti!"
"Sekarang kerjakan cepat! Anggap saja itu sebagai hukuman karena datang terlambat. Waktunya terhitung dari sekarang dan akan terus berjalan jika tak segera Anda kerjakan!"
Nova mengangguk dengan terpaksa dan mendekati kursi yang ditunjuk. Dia sadar bahwa sekarang Alma adalah atasannya, dan dirinya tidak punya pilihan selain mematuhi, meski dalam hatinya memberontak.
"Baiklah," ucapnya dengan suara rendah penuh kekesalan. "Aku akan kerjakan ulang."
Alma hanya mengangguk singkat, lalu kembali duduk di mejanya. "Bagus...! Dan jangan membuang waktu. Saya akan menunggu di sini dan memeriksa ulang hasil kerja Anda. Jangan berharap saya akan melepaskan begitu saja, sebelum semuanya benar-benar sempurna!"
Suasana ruangan kembali hening, hanya terdengar suara keyboard dari komputer, ketika Nova mulai mengerjakan ulang laporan yang membuatnya merasa sangat tertekan.
"Aah...benar-benar wanita sialan. Aku pasti akan membalasmu suatu hari nanti!" gerutu Nova dengan kesal dalam hati.
Sementara Alma tetap duduk di tempatnya, memantau setiap gerakan Nova dengan pandangan yang tak bisa ditebak.
...
Sementara itu, Danish tiba di depan kantor Al Gha Corp Cabang Kedua. Dia datang untuk menjemput Alma, karena pagi tadi dialah yang mengantarnya ke kantor tersebut. Di lobi suasana sepi, karena sebagian besar karyawan sudah pulang, sedangkan sisanya mungkin ada yang masih lembur.
Danish langsung naik ke lantai tiga menuju ruangan Alma. Saat hendak mengetuk pintu, terdengar suara tegas wanita itu dari dalam.
"Ulangi lagi! Cek yang mendetail sampai angkanya sesuai dengan data! Jangan ada selisih sedikit pun!"
Danish tersenyum tipis, seolah merasa puas dengan apa yang Alma lakukan pada Nova. Namun, alih-alih masuk ke dalam ruangan, dia justru melangkah mundur dengan teratur. Kemudian merogoh saku jasnya untuk mengambil ponselnya, lalu menelepon Alma.
"Halo Al, aku sudah di sini. Apa pekerjaanmu sudah selesai? Atau masih ada yang perlu kamu bereskan?" tanyanya santai.
Di dalam ruangan, Alma mengangkat telepon sambil menatap tajam ke arah Nova yang duduk membungkuk di kursinya. Wajahnya sangat serius, sibuk mengetik dan menghitung ulang laporan yang sudah berkali-kali salah dia buat.
"Masih ada sedikit berkas yang harus aku periksa. Tunggu sebentar ya, paling lama lima belas menit lagi selesai," jawab Alma tenang tetapi terdengar dingin.
"Oke, kalau begitu aku tunggu di mobil saja," sahut Danish, lalu menutup telepon.
Alma meletakkan ponsel, lantas melihat jam tangannya. Ia kembali menatap Nova dengan pandangan ambigu.
"Waktunya tinggal lima belas menit lagi, Pak Nova. Kalau masih salah, sebaiknya kerjakan di rumah, anggap saja itu PR."
Bagi Nova, waktu seakan berjalan begitu cepat, hingga tangan dan kakinya mulai gemetar karena belum juga bisa menyelesaikan pekerjaannya. Namun, dia terus memaksakan diri, meski otaknya sudah tak mampu bekerja. Ingin sekali dia melayangkan protes, tetapi nyalinya mendadak ciut. Sebab Alma yang sekarang memegang kendali penuh atasnya.
"Ah... sial bener nasibku hari ini! Dasar perempuan tak punya hati!" rutuknya dalam hati.
Tepat lima belas menit kemudian, Alma bangkit dan berjalan pelan mendekati Nova. Ia mengulurkan tangan meminta berkas yang sedang Nova kerjakan.
"Waktunya sudah habis, Pak Nova. Berikan hasil kerja Anda pada saya," kata Alma tegas seraya menatap Nova. Suaranya datar penuh tekanan.
Nova tersentak kaget. Tangannya bergetar hebat, memegang kertas yang baru saja dia print. Dia menelan ludah, lalu perlahan menyodorkan berkas itu pada Alma. Wajahnya pucat pasi saat wanita itu mengambilnya.
Alma memeriksa isi berkas itu satu per satu dengan teliti. Sementara Nova hanya bisa menunduk diam, tidak berani menatap. Jantungnya berdetak kencang tak beraturan menunggu keputusan apa yang akan wanita itu berikan padanya.