Namanya Anna.. Dia anak yang polos namun tangguh, berjiwa bebas dan baik hati.. ia terlahir di sebuah gubuk sederhana di dalam hutan yang jauh dari pemukiman warga, meski hidup sederhana, ia merasa hari harinya selalu dipenuhi kebahagiaan.
Hingga sampai suatu waktu, tragedi menimpa keluarga kecilnya dengan tragis.. Ternyata ayahnya adalah seorang putra mahkota, dan Anna pun tiba tiba menjadi seorang Putri.
bisakah Anna beradaptasi di kehidupan barunya??
Lika liku percintaannya dimulai..inilah kisah Princess Anna..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diyah_ell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Musim semi yang sebentar lagi datang
Setelah acara doa selesai semua orang bergiliran mengucapkan belasungkawa dan memberikan doa penghormatan untuk Kaisar terdahulu kepada Baginda Kaisar dan Tuan Putri Sylvanna.
Dalam situasi sakral seperti itu pun orang orang masih berbisik bisik juga, kebanyakan orang bergosip tentang absennya Ratu Diana Angelos meski semua orang telah mengetahui tentang hubungan buruk antara Raja dan Ratu saat ini.
"Salam Baginda.. Saya turut berdukacita dan semoga mendiang Kaisar terdahulu selalu dalam ketenangan" ucap seorang pria muda yang memiliki senyum indah di wajahnya.
"Terimakasih sudah datang Leonard stephanos" ucap Kaisar.
"Maaf karena Ayah saya sedang ada urusan bisnis di luar negri, jadi saya yang mewakilinya"
"Iya Baiklah.. Kau pasti sibuk menggantikan tugas Ayahmu! Lekaslah kembali"
Ucap Kaisar dengan wajah sinisnya, karena Kaisar menyadari mata pria di depannya itu terus tertuju kepada anak gadisnya yang cantik yang saat ini sedang bertukar sapa dengan para lady seusianya.
"Tidak Baginda.. sebelum kesini saya sudah menyelesaikan pekerjaan saya, anda tak perlu khawatir!"
Leonard tetap tersenyum meski Kaisar terang terangan mengusirnya karena menyadari niatnya. akhirnya ia berhasil menghindari Kaisar dengan berpura pura tak mengerti maksudnya.
"Untunglah Kaisar disibukkan dengan orang-orang, aku menyukai situasi yang berpihak padaku" gumam Leo sambil tersenyum santai.
Saat hendak menyapa Putri Anna tiba tiba gadis itu menjauhi kerumunan dan pergi keluar, Anna terus berjalan dengan cepat menuju tempat persembunyian.
Saat hendak membuka pintu rumah kaca tiba tiba Anna menjadi waspada karena merasakan seseorang mengikutinya.
"Siapa ya? Kenapa mengikutiku?" ucap Anna waspada begitu menoleh.
Pria itu tersenyum, senyuman yang tidak asing tetapi juga tidak familiar baginya.
"Lama tidak berjumpa Yang Mulia..Saya Leonard stephanos, dulu saya yang anda kira kucing besar yang tersesat di dalam sini" Leo menunjuk rumah kaca di belakang Anna.
"Oh.. Duke muda? Benar.. Lama tidak bertemu ya? Apa sekitar 8 tahun?" Anna mencoba mengingat ingat.
"Tepat sekali yang Mulia, sebenarnya saya ingin menyapa anda di aula doa tadi, tapi tiba-tiba anda pergi jadi tanpa sadar saya malah mengikuti anda sampai kesini, maaf atas ketidak sopanan saya.."
"Tidak masalah, saya memang sengaja menghindari keramaian, untuk menghadapi banyak orang diperlukan energi yang besar, dan sekarang energiku sudah mencapai batasnya"
"Anda benar.. Saya juga merasakan hal itu, kalau begitu silahkan masuk dan beristirahat Yang Mulia.."
"Oh.. Baiklah, anda pasti sibuk, silahkan kembali.."
"Sebenarnya saya tidak sibuk sih.." ucapnya sambil tersenyum penuh harap. Tapi Sylvanna tidak mahir memahami kode kode seperti itu.
"Emm? Apakah anda mau kembali ke aula doa?" tanya Anna yang bingung.
"Daripada kembali ke ruang doa bolehkah saya ikut beristirahat dengan anda di dalam sini? Saya tidak akan mengganggu istirahat anda Yang Mulia.."
"Oh.. Baiklah, mari kita masuk"
"Bolehkah saya melihat lihat bunganya Yang Mulia"
"Tentu.. Lakukan senyaman anda, karena sejak kemarin saya benar benar lelah jadi saya tidak bisa menemani anda berkeliling, saya akan beristirahat disini.." Anna menunjuk sofa panjang di sudut ruangan.
"Tidak masalah Yang Mulia" Leo berjalan perlahan mengelilingi rumah kaca yang luas itu. Ia tersenyum, menghirup aroma wangi dan udara hangat di ruang itu.
"Rasanya seluruh ruangan ini dipenuhi oleh wangi Yang Mulia Putri"
Telah puas mengulur waktu mengelilingi taman bunga ia kembali ke tempat Putri berada. Siapa sangka.. Leo merasa melihat pemandangan yang jauh lebih menawan daripada bunga bunga yang baru saja dilihatnya sekilas.
Di sofa panjang berwarna putih itu Putri Sylvanna tertidur pulas tanpa kewaspadaan sedikit pun.
"Pasti Beliau benar benar kelelahan" gumamnya.
Karena cuaca yang sudah mulai dingin Leonard melepaskan jubah hitamnya dan menyelimuti tubuh Putri dengan itu. Leo tersenyum karena Putri terlihat lebih nyaman setelah ia menyelimutinya.
Saat Leo masih menatap wajah Putri dengan senyumannya tiba tiba seorang pelayan datang, pelayan itu menatap Leo dengan penuh kecurigaan.
"Stttt.." Leo menyuruh Daisy tidak mengeluarkan suara, Daisy pun mengangguk kemudian Leonard meninggalkan tempat itu.
Setelah beberapa saat Anna terbangun, ia melihat Daisy di hadapannya sedang menyeduh teh, Anna tersenyum.
"Hangat sekali Daisy, terimakasih.. Selimutnya memiliki wangi yang asing tapi aku menyukainya Daisy.."
"Saya tidak tahu menahu tentang asal usul selimut yang sedang anda ciumi itu!" ucap Daisy yang sudah sangat santai berada di dekat Anna.
"Apa maksudmu Daisy?" Tiba tiba Anna bangun, ia menengok ke kiri dan kanan, ia ingat masuk bersama dengan orang lain, tapi dia sendiri malah ketiduran.
"Anda cari siapa?"
"Duke muda! Tadi dia datang bersama denganku Daisy"
"Oh.. Jadi pria yang pergi saat saya tiba itu pemilik jubah itu?" Daisy tersenyum meledek Anna yang pipinya merona.
"Jangan meledekku Daisy! Dia cuma tamu!"
"Oh.. Baiklah, cuma tamu ya?..hi hi"
Daisy merasa sebentar lagi akan tiba musim semi di kehidupan Tuan Putri kecilnya itu. Apakah Daisy terlalu cepat menyimpulkan situasi? Tidak! Daisy lah yang paling tahu, berapa banyak pria pria muda yang mencoba mendekati Putrinya itu dan berapa banyak surat lamaran pernikahan yang sudah di tolak mentah-mentah oleh Raja sejak usia Putri menginjak 17 tahun.
Selain Raja yang masih sangat membatasi lingkup pertemanan Putri dengan seorang pria, Putri sendiri adalah orang yang sangat tertutup, beliau tidak tertarik dengan pergaulan sosialita juga pertemanan dengan para Nona bangsawan.
Dan yang jelas Putri Sylvanna sendiri sulit mempercayai niat dalam suatu hubungan antar manusia karena statusnya sebagai seorang Putri raja satu satunya.
Setelah menyelesaikan pendidikan, saat ini Putri sibuk berlatih pedang, memanah, dan membantu Kaisar mengurus keperluan istana karena Sang Ratu yang sedang di atas angin hidup dengan semaunya sendiri tanpa memperdulikan urusan Istana.
Yang paling membuat Daisy merasa lega adalah fakta bahwa hubungan Putri dan Kaisar berangsur angsur membaik sejak berpulangnya Kaisar terdahulu.
Tiba tiba Ratu datang bersama dayang dayangnya menghampiri Anna tanpa permisi membuat Anna dan Daisy kaget.
"Salam Yang Mulia Ratu" ucap Daisy menunduk.
Sedangkan Anna tetap berada di posisinya sejak tadi, membuat Ratu merasa tidak dihargai.
"Bukankah seharusnya kau setidaknya bangun memberi salam?" ucap Ratu dengan wajah kesal.
"Tolong jangan basa basi Ratu.. Ada kepentingan apa anda kesini?" ucap Anna cuek.
"Hah!! Semakin dewasa kau semakin congkak ya! Sangat mirip dengan Ayahmu itu!"
"Anggap saja itu sifat turunan Ratu.." jawabnya santai.
"Sudahlah.. Aku muak melihatmu lama lama, berikan kunci rumah kaca ini padaku! Aku akan mengadakan perjamuan disini!!"
"Kenapa aku harus memberikannya kepada anda?"
"Karena para nyonya bangsawan akan meremehkan ku jika aku tidak menunjukkan tempat ini!! Memang sudah sejak awal seharusnya tempat ini menjadi milik seorang Ratu tahu!! Anak sepertimu tidak usah sok berkuasa!! Berikan!!"
Bersambung.