NovelToon NovelToon
Jejak Cahaya Di Bumi Pertwi

Jejak Cahaya Di Bumi Pertwi

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintapertama / Tamat
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Jesa Cristian

Langit Jakarta sore itu tidak berwarna biru, melainkan abu-abu pekat, tertekan oleh lapisan polusi yang bercampur dengan awan mendung pembawa hujan. Di lantai empat puluh gedung perkantoran kaca di kawasan Sudirman, AC berdengung halus, menciptakan suhu dingin yang artifisial, kontras dengan panasnya kemacetan yang terlihat jelas dari balik jendela floor-to-ceiling.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jesa Cristian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16: Kopi Dingin dan Senyum di Balik Terali

Tiga bulan telah berlalu sejak konferensi pers bersejarah itu. Musim hujan di Jakarta telah berganti dengan kemarau yang terik, namun panasnya sorotan media terhadap kasus "Wiguna Cipta Nusantara" belum juga reda. Malah, semakin hari semakin membara seiring dengan dimulainya proses penyidikan formal oleh KPK.

Pagi itu, matahari baru saja mengintip dari balik gedung-gedung tinggi Jakarta ketika sebuah mobil tahanan berwarna oranye milik Komisi Pemberantasan Korupsi melaju pelan memasuki area parkir khusus. Di dalamnya, duduk Arya Wiguna. Ia tidak lagi mengenakan jas mahal buatan Italia atau kemeja sutra yang selalu licin. Hari ini, ia memakai kemeja kotak-kotak sederhana dan celana kain longgar yang nyaman. Wajahnya sedikit lebih tirus, jenggotnya tumbuh lebih lebat, namun matanya... matanya justru tampak lebih hidup dan berbinar daripada saat ia masih menjadi CEO yang duduk di menara gading.

Di sampingnya, Pak Gunawan duduk diam, tangannya gemetar memegang tas kecil berisi Al-Qur'an dan sajadah lipat. "Mas Arya," bisiknya lirih, suaranya parau karena kurang tidur. "Aku... aku takut. Bagaimana jika mereka kasar? Bagaimana jika aku tidak kuat di sana?"

Arya menoleh, tersenyum tipis lalu menepuk punggung tangan pria tua itu. "Takut itu wajar, Pak. Itu tanda kita manusia. Tapi ingat, kita tidak masuk ke sana sebagai kriminal yang lari dari tanggung jawab. Kita masuk sebagai tamu Allah yang sedang membersihkan diri. Di dalam sana, justru mungkin kita akan menemukan ketenangan yang selama ini hilang di luar."

Mobil berhenti. Pintu terbuka. Udara pagi yang panas langsung menyergap wajah mereka. Beberapa wartawan sudah menunggu di belakang garis polisi, berteriak-teriak mengajukan pertanyaan yang saling bertumpuk.

"Pak Arya! Apakah Anda menyesal?"

"Mbak Nadia mana? Kenapa tidak mendampingi?"

"Apa pesan Anda untuk karyawan yang mulai resah?"

Arya tidak menjawab dengan pidato panjang. Ia hanya berhenti sejenak, menatap kamera-kamera itu dengan tenang, lalu memberikan salam singkat. "Assalamualaikum. Mohon doakan kami bisa melalui proses ini dengan baik. Jaga kesehatan, jangan sampai sakit karena terlalu banyak bekerja mengejar berita."

Kalimat itu begitu sederhana, begitu manusiawi, hingga membuat beberapa wartawan terdiam. Tidak ada arogansi, tidak ada pembelaan diri. Hanya kepedulian seorang manusia kepada manusia lain.

Mereka digiring masuk ke dalam gedung. Prosesi pemeriksaan identitas, pengambilan sidik jari, dan pemotretan berlangsung cepat. Saat nama "Arya Wiguna" dipanggil untuk foto tahanan, petugas fotografer itu sempat tertegun. "Bukan main, Mas. Dulu saya sering lihat wajah Bapak di majalah bisnis, sekarang malah difoto begini. Nasib memang aneh ya."

Arya tertawa renyah, tawa yang lepas dan jujur. "Iya, Mas. Hidup itu memang penuh plot twist. Tadi pagi saya masih minum kopi di rumah, sekarang siap-siap jadi model foto ID tahanan. Siapa sangka, kan? Tapi nggak apa-apa, yang penting hati tetap bersih."

Petugas itu ikut tersenyum, suasana tegang di ruangan itu mencair seketika. "Semoga lancar saja prosesnya, Mas. Doa saya menyertai."

Setelah prosedur administratif selesai, Arya dan Pak Gunawan dibawa menuju ruang tunggu sebelum dimasukkan ke sel penahanan sementara menunggu keputusan hakim mengenai status penahanan mereka. Ruang itu sempit, hanya dilengkapi bangku kayu keras dan meja besi yang dingin.

Tiba-tiba, pintu terbuka. Seorang wanita muda berseragam dinas masuk membawa nampan berisi dua gelas plastik berisi air putih dan beberapa bungkus roti tawar polos. Wajahnya lelah, matanya bengkak seolah baru saja menangis.

"Ini makan siang sementara, Pak," ucapnya datar, meletakkan nampan di atas meja besi dengan bunyi brak yang cukup keras. "Nanti sore barulah dapat makanan dari dapur umum."

Saat wanita itu berbalik hendak pergi, Arya memanggilnya lembut. "Mbakk... sebentar."

Wanita itu berhenti, menoleh dengan wajah was-was. "Ada apa, Pak? Saya sibuk."

"Saya Arya," katanya sambil tersenyum ramah, mengulurkan tangan untuk bersalaman meski terhalang jarak. "Terima kasih sudah antar makan. Mbak kelihatan lelah sekali. Sudah makan siang belum?"

Wanita itu terkejut. Biasanya para tahanan, apalagi yang kasus korupsi, cenderung marah-marah, mengeluh, atau mencoba menyuap dengan janji-janji manis. Jarang sekali ada yang menanyakan kabar penjaganya.

"Belum, Pak," jawabnya ragu-ragu. "Antrian di kantin panjang, jadi saya belum sempat."

Arya mengambil salah satu bungkus roti dari nampan di hadapannya, lalu menyodorkannya pada wanita itu. "Ini, ambil saja. Saya belum lapar. Roti ini butuh teman supaya enak dimakannya. Lagipula, saya punya bekal kesabaran dari rumah yang lumayan banyak, jadi bisa menahan lapar sebentar."

Wanita itu terpaku. Matanya berkaca-kaca. "Tapi... itu jatah Bapak. Nanti Bapak kelaparan."

"Nggak akan, Mbak. Lapar itu sehat, kadang bikin pikiran lebih jernih," canda Arya ringan. "Ambillah. Anggap saja sedekah dari calon narapidana yang ingin pahala pertama di hari pertamanya 'menginap' di sini."

Dengan tangan gemetar, wanita itu menerima roti tersebut. "Terima kasih, Pak Arya. Saya... saya doakan Bapak sabar ya. Sebenarnya saya kasihan lihat Bapak. Berita-berita di luar sana jahat sekali, tapi tadi lihat Bapak senyum sama petugas foto, saya jadi yakin Bapak bukan orang jahat."

"Terima kasih doanya, Mbak. Nama Mbak siapa?" tanya Arya antusias.

"Sari, Pak."

"Baik, Bu Sari. Semoga rezeki Bu Sari hari ini dilipatgandakan. Jangan lupa makan ya, nanti maag kambuh."

Bu Sari mengangguk kuat-kuat, lalu buru-buru keluar ruangan agar air matanya tidak terlihat oleh rekan-rekannya.

Pak Gunawan yang menyaksikan adegan itu hanya bisa geleng-geleng kepala. "Mas Arya, kita sudah di ambang penjara, kehilangan kebebasan, reputasi hancur, tapi Mas masih sempat-sempatnya memikirkan orang lain? Aku benar-benar tidak mengerti logikamu."

Arya tertawa lagi, kali ini lebih pelan. "Justru di saat kita kehilangan segalanya, Pak, kita baru sadar apa yang sebenarnya kita miliki. Kita masih punya hati untuk peduli, punya mulut untuk berterima kasih, punya tangan untuk memberi walau hanya sepotong roti. Itu kekayaan sejati, Pak. Uang miliaran di rekening tadi pagi sekarang tidak bisa saya gunakan. Tapi senyuman Bu Sari tadi? Itu harganya tak terhingga."

Siang berlalu perlahan. Matahari bergerak ke barat, menyinari terali besi jendela ruang tunggu yang menciptakan pola bayangan kotak-kotak di lantai semen. Suasana mulai sepi. Tiba-tiba, terdengar suara langkah kaki tergesa-gesa di lorong, diikuti oleh suara familiar yang membuat jantung Arya berdegup kencang.

"Mas Arya!!"

Itu suara Nadia.

Arya langsung berdiri, mendekati pintu kaca yang memisahkan ruang tunggu dengan area pengunjung. Di balik kaca tebal itu, terlihat Nadia berdiri dengan wajah pucat, mata sembab, namun sorot matanya penuh cinta dan kekuatan. Di sampingnya berdiri Hendra dan Pak Ujang yang juga tampak cemas.

"Nad..." panggil Arya, tangannya menempel di kaca.

Nadia juga menempelkan tangannya di sisi yang berlawanan, seolah ingin menyentuh kulit suaminya meski terhalang dinding transparan itu. Air matanya akhirnya tumpah ruah. "Mas... kamu nggak apa-apa? Mereka nggak macem-macem? Kamu udah makan? Haus nggak?"

Pertanyaan itu keluar bertubi-tubi, khas seorang istri yang khawatir setengah mati. Arya tersenyum lebar, senyum yang berusaha menenangkan badai di hati istrinya.

"Aku baik-baik saja, Sayang. Tenang... jangan nangis gitu nanti cantiknya hilang, lho," goda Arya lembut, mencoba mencairkan suasana. "Di sini aman. Petugasnya baik-baik. Tadi bahkan aku baru saja berbagi roti sama seorang petugas bernama Bu Sari. Kita baik-baik saja."

Nadia tertawa kecil di sela isak tangisnya. "Kamu ini, Mas. Sudah di posisi begini masih bisa bercanda. Aku kira kamu pasti stres berat."

"Stres? Sedikitlah. Tapi kalau aku stres, nanti kamu yang makin sedih. Aku nggak tega lihat kamu susah," jawab Arya tulus. "Gimana kabar di luar? Karyawan oke? Proyek Green Valley gimana?"

Hendra yang berdiri di belakang Nadia maju sedikit ke arah kaca. "Semua aman, Mas. Setelah pengakuan Mas kemarin, justru banyak donor bermunculan untuk program sekolah tahfizh. Ibu-ibu PKK di sekitar proyek malah gotong royong bantu bangun tembok asrama tanpa dibayar. Mereka bilang, 'Kalau Bosnya aja berani jujur sampai masuk bui, masa kita nggak mau bantu?' Moral mereka justru naik drastis, Mas."

Arya mengangguk puas, dadanya terasa lapang. "Alhamdulillah. Lihat kan, Pak Gunawan," ia menoleh ke belakang dimana Pak Gunawan duduk termenung. "Kebenaran itu punya energi sendiri. Dia menular."

"Lalu... bagaimana status penahanannya, Mas?" tanya Nadia lagi, suaranya bergetar. "Pengacara bilang sidang praperadilan besok. Ada kemungkinan kalian ditahan penuh selama 20 hari ke depan untuk penyelidikan lanjutan."

Arya menghela napas, lalu menatap mata Nadia dalam-dalam melalui kaca. "Jika memang itu jalannya, maka kita jalani dengan ikhlas, Nad. Dua puluh hari itu waktu yang singkat dibandingkan umur kita. Anggap saja ini retreat spiritual paksa buat aku. Aku bakal punya banyak waktu buat tahajud, baca Quran, dan renung tanpa gangguan email atau rapat."

"Tapi aku kangen, Mas," bisik Nadia, air matanya mengalir lagi. "Rumah jadi sepi banget tanpa kamu. Anak-anak santri di Green Valley juga nanyain terus kapan 'Pak Guru Arya' datang lagi."

"Aku juga kangen, Sayang. Kangen banget," aku Arya, suaranya serak menahan emosi. "Tapi jarak fisik nggak bisa memisahkan hati kita. Setiap detik aku di sini, aku bakal doa-in kamu. Kita jadikan ini ujian cinta kita. Kalau kita kuat melewati ini, insya Allah pernikahan kita bakal jadi pernikahan sekuat baja."

Tiba-tiba, seorang petugas approach mereka. "Maaf, waktu besuk sudah habis. Harus selesai sekarang."

Nadia terkejut, buru-buru merapikan hijabnya. "Iya, Pak. Terima kasih." Ia kembali menatap Arya. "Mas, aku bawa baju ganti, sabun, sama makanan favorit Mas: rendang buatan Ibu. Nanti aku titip lewat bagian logistik ya. Makan yang banyak, jangan sampai kurusan."

"Iya, Nd. Hati-hati di jalan pulang. Jangan ngebut. Assalamualaikum," ucap Arya sambil melambaikan tangan.

"Waalaikumsalam. I love you, Mas Arya. Tetap semangat!" seru Nadia sebelum digiring keluar oleh petugas.

Arya berdiri mematung di depan kaca itu hingga sosok Nadia hilang di belokan lorong. Hatinya hangat meski rindu mulai menyelinap. Ia berbalik, melihat Pak Gunawan yang sedang mengusap air matanya sendiri.

"Mbak Nadia... istri yang luar biasa," gumam Pak Gunawan. "Mas Arya, kamu beruntung sekali."

"Iya, Pak. Dia anugerah terbesar dalam hidupku setelah iman," jawab Arya sambil kembali duduk di bangku kayu yang keras itu. "Oke, Pak. Sekarang kita siapkan diri. Malam pertama di 'hotel bintang minus' ini. Ada request khusus? Mau minta selimut tambahan atau bantal empuk?" canda Arya lagi, mencoba menghibur rekannya.

Pak Gunawan tertawa getir. "Ah, Mas Arya ini. Ya sudahlah, apa adanya saja. Yang penting kita sehat."

Sore itu, mereka akhirnya digiring menuju blok sel tahanan. Lorong-lorongnya panjang, berdinding beton abu-abu, dengan bau apek yang khas tempat tertutup. Namun, bagi Arya, lorong ini terasa seperti jalan menuju sebuah gua pertapaan modern.

Sel mereka tidak terlalu besar, berisi dua tingkat tempat tidur besi, kloset jongkok di sudut, dan ventilasi kecil di atas. Ada tiga orang lainnya di dalam sel itu: seorang pria paruh baya kasus narkoba, seorang pemuda kasus pencurian, dan seorang kakek kasus penggelapan dana desa.

Saat Arya dan Pak Gunawan masuk, suasana di dalam sel mendadak hening. Para penghuni lama menatap mereka dengan curiga. Biasanya, tahanan kasus korupsi (koruptor) dianggap sombong, jijik pada lingkungan kotor, dan suka memerintah.

"Wah, ada tamu baru nih. Kasus apa lo?" tanya si pria narkoba sambil mengunyah sesuatu di mulutnya, tatapannya tajam.

Arya tersenyum ramah, lalu membungkukkan badan sedikit sebagai tanda hormat—sebuah gestur yang sangat jarang dilakukan oleh tahanan baru, apalagi yang berasal dari kalangan elit. "Assalamualaikum, Bang. Saya Arya, ini Pak Gunawan. Kami kasus korupsi, Bang. Mohon bimbingannya ya, kami masih awam soal aturan main di sini."

Si pria narkoba terbelalak. "Lo... lo nyapa gue? Gue kira lo bakal minta dipindahin sel karena jijik liat kita-kita."

"Ngapain jijik, Bang? Kita semua sama-sama manusia yang pernah khilaf di hadapan Tuhan," jawab Arya santai sambil meletakkan tas kecilnya di sudut kosong. "Justru saya senang bisa kenal sama Bang-bang semua. Siapa tahu kita bisa saling belajar. Saya belajar ketabahan dari Bang, siapa tahu Bang bisa belajar... ya entahlah, maybe kita bisa ngaji bareng?"

Suasana cair seketika. Si pemuda pencuri tertawa. "Wah, unik juga lo, Bang Arya. Biasa yang masuk sini muka ditekuk,好多 complaint. Lo malah mau ngaji bareng."

"Kenapa nggak? Di luar saya sibuk banget sampai lupa ngaji, sekarang dikasih waktu luang sama Negara, sayang kalau nggak dipakai," canda Arya sambil duduk bersila di atas kasur tipis yang disediakan. "Eh, Bang, ada yang punya Quran nggak? Punya saya disita sementara buat pemeriksaan bukti."

Si kakek penggelapan dana desa, yang dari tadi diam saja, tiba-tiba bangkit dari sudut gelap. Dengan tangan gemetar, ia mengeluarkan sebuah mushaf kecil yang sudah lusuh dari balik bantalnya. "Ini, Nak. Punya saya. Sudah agak rusak sih, tapi masih bisa dibaca."

Arya menerimanya dengan kedua tangan, seolah menerima harta karun. "Masya Allah, terima kasih banyak, Kek. Ini berharga banget buat saya. Nanti malam kita baca bareng ya, Kek. Saya yang jadi imam, boleh?"

Si kakek mengangguk antusias, wajahnya yang keriput berbinar bahagia. "Boleh, Nak. Boleh sekali."

Malam pun turun. Di dalam sel berukuran 3x4 meter itu, terjadi pemandangan yang langka. Seorang mantan CEO miliaran rupiah duduk bersila di antara seorang pengedar narkoba, pencuri motor, dan penggelap dana desa. Mereka melingkari sebuah mushaf lusuh di bawah lampu neon yang berkedip-kedip. Suara Arya yang merdu melantunkan ayat-ayat suci, diikuti oleh suara-serak para penghuni sel lainnya yang mencoba mengikuti.

Tidak ada sekat sosial. Tidak ada label "koruptor" atau "penjahat". Yang ada hanyalah hamba-hamba Allah yang mencari cahaya di tengah kegelapan sel besi. Pak Gunawan duduk di samping Arya, air matanya mengalir deras setiap kali ayat tentang ampunan dibacakan. Ia merasa, untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun terakhir, jiwanya benar-benar bersih.

Setelah salat Isya berjamaah (dengan imam bergantian), mereka duduk melingkar lagi, kali ini berbagi cerita. Si pria narkoba, yang ternyata bernama Damar, bercerita tentang anaknya yang ia tinggalkan. Si pemuda pencuri, Rio, bercerita tentang ibunya yang sakit. Si kakek, Pak Darmo, bercerita tentang desanya yang kekeringan sehingga ia terjerumus hutang.

Arya mendengarkan dengan saksama, tidak menghakimi, hanya memberi nasihat-nasihat kecil yang menyejukkan. Ia menceritakan tentang Nadia, tentang proyek Green Valley, tentang mimpinya membangun sekolah. Cerita-cerita itu membuat mata para penghuni sel berbinar. Mereka seolah ikut terbang bersama imajinasi Arya, keluar dari tembok sel untuk sesaat.

"Gila, Bang Arya," kata Damar terkagum-kagum. "Lo punya segitu banyak mimpi, tapi rela masuk sini demi prinsip? Kalau gue dulu, pasti udah lari ke luar negeri pas ketahuan."

"Lari cuma nunda masalah, Bang. Dan nggak akan pernah bikin hati tenang," jawab Arya sambil tersenyum. "Lagipula, di sini saya nemuin teman-teman baru yang asik. Siapa tahu setelah kita keluar nanti, kita bisa ketemu lagi dan kolaborasi. Misalnya, Bang Damar bisa bantu distribusi logistik buat sekolah kita, Rio bisa bantu maintenance bangunan, Pak Darmo bisa jadi pengawas lahan pertanian percontohan."

Mereka tertawa. Tawa yang tulus, lepas, dan penuh harapan. Di tempat yang paling tidak menyenangkan di dunia, Arya Wiguna berhasil menciptakan oasis kebahagiaan dan persaudaraan.

Jam menunjukkan pukul 22.00. Lampu utama dimatikan, hanya menyisakan lampu tidur remang-remang. Para penghuni sel mulai menyiapkan tempat tidur masing-masing.

"Selamat tidur, semuanya," ucap Arya pelan. "Besok kita punya hari baru. Semoga hari esok lebih baik dari hari ini."

"Selamat tidur, Bang Arya. Makasih ya udah bikin malam ini nggak serem-serem amat," sahut Rio.

Arya berbaring di kasur besinya yang keras. Di sampingnya, Pak Gunawan sudah terlelap dengan senyum tipis di bibir. Arya menatap langit-langit sel yang retak-retak. Pikirannya melayang pada Nadia yang mungkin sedang tidur sendirian di rumah, pada karyawan yang sedang bekerja keras, pada masa depan yang masih abu-abu.

Tapi ia tidak takut. Hatinya penuh. Ia merasa hidup. Lebih hidup daripada saat ia duduk di kursi empuk kantornya dulu. Di sini, di atas kasur keras ini, ia merasakan denyut nadi kemanusiaan yang sesungguhnya. Ia menyadari bahwa novel kehidupannya tidak ditulis dengan tinta emas di atas kertas mahal, melainkan dengan keringat, air mata, dan tawa di atas lembaran realitas yang pahit namun manis.

"Ya Allah," bisiknya dalam hati sebelum memejamkan mata. "Terima kasih untuk hari ini. Untuk roti yang dibagi, untuk senyum Bu Sari, untuk tangisan Pak Gunawan, untuk tawa Damar dan Rio, dan untuk cinta Nadia yang tak putus meski terhalang kaca. Jadikan malam ini sebagai malam pertobatanku yang sejati. Dan izinkan aku bangun besok dengan semangat baru untuk menebus dosa-dosaku."

Di luar sel, angin malam berhembus pelan melewati jeruji besi, membawa serta doa-doa dari dalam sel nomor 402 itu menuju langit Jakarta yang luas. Kehidupan terus berjalan, keras dan tak terduga, namun bagi Arya Wiguna, setiap detiknya adalah hadiah yang harus disyukuri.

Dan kisah ini, kisah tentang jatuh, bangun, dan menemukan makna sejati kehidupan di tempat yang paling tak terduga, masih akan terus berlanjut. Besok pagi, sidang praperadilan menanti. Tantangan baru akan datang. Tapi Arya siap. Karena ia tahu, selama ia memiliki iman dan teman-teman seperjuangan (bahkan di dalam sel sekalipun), ia tidak akan pernah kalah.

[BERSAMBUNG]

1
Uking
semangat thor😍
Jesa Cristian: iya makasih bang
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!