Setelah 8 tahun pacaran, Nisa yang menunggu dilamar di hari anniversary, justru merima kenyataan pahit jika ia diputuskan oleh Sandi dengan alasan tak setara.
Tapi takdir seperti sedang mengajak bercanda, sebulan kemudian Sandi datang ke rumahnya untuk melamar. Namun bukan ia yang dilamar, melainkan Naina, sang adik yang lulusan S1 dan bekerja sebagai teler di salah satu bank swasta.
Disaat ia terpuruk, ada sosok yang tak sengaja hadir dalam kehidupannya. Sosok yang begitu baik dan humoris, tapi kadang menyebalkan. Dia adalah Januar, seoarang driver ojol.
"Kalau jodoh memang harus setara, kamu nikah sama aku aja, Mbak." Ajakan nikah Januar alias Ojan, hanya disenyumin saja oleh Nisa.
Tapi Ojan, pantang menyerah, ia terus mendekati Nisa, hingga akhirnya wanita itu luluh. Tapi satu kenyataan pahit, membuat Nisa kembali terpuruk. Ternyata selain seorang ojol, Ojan juga merupakan mahasiswa S2. Apakah sekali lagi, ia harus patah hati karena alasan kesetaraan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15
[ Mbak, keluar bentar dong. Aku ada di depan rumah kamu ]
Nisa kaget membaca pesan Ojan. Ia melihat jam di ponselnya, sudah pukul 20.15, untuk apa cowok itu datang.
[ Mbak, nyamuknya banyak, mana betina semua, gigitin aku mulu dari tadi, tahu aja kalau ada orang ganteng. ]
Nisa menahan tawa membaca pesan Ojan berikutnya.
[ Buruan keluar Mbak, sebelum darahku habis ]
Nisa mengetik balasan di ponselnya.
[ Udah malam, mau ngapain sih? ]
[ Aku dapat orderan fiktif Mbak, bantuin makan ]
Nisa mengambil kardigan yang ada di gantungan baju belakang pintu. Menyisir rambut, lalu keluar untuk menemui Ojan.
"Tara...!" Ojan menunjukkan kardus pizza berukuran medium. "Makan pizza yuk!"
Nisa menoleh ke arah rumah, ragu untuk mengajak Ojan masuk. Makan di depan pintu pagar, rasanya juga kurang etis. "E...kita makan di luar aja ya. Maksudnya nyari tempat." Ia tidak enak pada orang tuanya, baru putus masa sudah bawa laki-laki ke rumah.
"Ya udah, kalau gitu bawa ini." Ojan menyerahkan kotak pizza pada Nisa, lalu naik ke atas motor.
"Tadi kamu bawanya gimana?" tanya Nisa saat motor Ojan sudah melesat menuju jalan raya.
"Aku masukin jok. Agak miring sih, semoga aja bentukannya masih bagus." Menatap Nisa dari spion sambil tersenyum. "Mbak, maaf ya, tadi gak bisa jemput kamu."
"Gak papa kok, santai aja."
"Kamu kok gak marah sih, Mbak?"
"Ya engaklah, ngapain marah?"
"Biasanya cewek marah-marah loh, kalau ada di posisi kamu tadi. Udah dijanjiin, tapi malah diingkari." Kalau saja pacarnya yang dulu, pasti sudah tantrum.
Nisa terkekeh pelan. "Ngapain harus marah. Kamu kan kerja, ngojek, nyari uang, bukan sengaja. Kamu juga pastinya punya tanggungan yang harus di penuhi kan? Lagian Ini kota, bukan hutan, dimana nyari transportasi gampang banget. Gak mau lah, buang-buang energi untuk marah-marah soal sepele."
"Kamu terlalu baik, Mbak."
Nisa tersenyum dipuji seperti itu.
"Aku yakin, cowok yang mutusin kamu, bakalan nyesel seumur hidup. Dimana lagi dia bisa dapatin cewek sebaik, se pengertian, dan secantik kamu."
"Nyesel apanya, yang ada dia udah punya pacar sekarang."
"Tuh kan Mbak, apa aku bilang." Ojan menoleh sekilas. "Cowok kalau mutusin cewek, pasti karena sudah ada gantinya."
"Kamu kayak gitu juga ya?"
"No no ya, aku anti yang namanya selingkuh. Aku kalau udah gak cocok, ya putus baik-baik."
Ojan menepikan motornya di pinggir jalan, mengajak Nisa duduk di kursi panjang besi yang ada di trotoar. Zaman sekarang, dimana-mana banyak banget dijumpai trotoar dengan kursi-kursi dan lampu jalan yang indah. Mau nyari taman terlalu jauh, tadi Nisa bilang kalau gak bisa lama karena sudah malam, takut dikunciin, jadi ia memilih lokasi ini karena yang paling dekat.
Biasanya, lokasi ini serasa biasa setiap kali ia lewat, tapi malam ini, kesannya sedikit beda. Lampu-lampu jalan yang ada di trotoar, seperti menciptakan kesan romantis. Dan suara deru mesin kendaraan, mendadak seperti lagu cinta yang jadi backsound sempurna sebagai pelengkap suasana. Efek dipanggil sayang, jadi bawannya apapun serasa indah, serasa romantis.
Melihat pizza medium dengan full keju, mata Nisa langsung membulat. "Jan, ini pasti mahal." Pizza biasa saja mahal, apalagi yang kayak gini. Mana pas ditarik, kejunya langsung molor. Tatapannya pada Ojan, seketika berubah, kasihan. "Kamu sering dapat orderan fiktif kayak gini?"
"E... beberapa kali sih." Sebenarnya ia bohong, aslinya ya beli. Modus aja, biar Nisa kasihan dan mau keluar.
"Berapa harganya?"
"85."
"Astaga, itu mahal loh." Nisa yang sudah memegang 1 slice, ragu untuk memakannya.
"Udahlah, yang pentingkan gak mubadzir, kita yang makan." Ojan mengambil satu potong dan langsung memakannya. "Enak, Mbak," ujarnya sambil mengunyah. "Buruan dimakan, mumpung anget."
Nisa mulai memakan pizzanya, sambil ngunyah, menatap Ojan, kasihan. "Jan, kamu kok kayak gak sedih sih dapat orderan fiktif. 85 itu mahal loh untuk ukuran orang kayak kita."
Ekspresi wajah Ojan seketika berubah, ia berhenti mengunyah. Bukan pura-pura sedih, tapi beneran sedih. Bukan soal duit 85 ribu, tapi soal panggilan. Bukannya tadi sore sayang ya, kenapa sekarang kembali panggil nama?
"Nanti kita patungan aja ya, aku kasih 40 ribu, biar kamu gak rugi-rugi amat." Nisa makin kasihan melihat ekspresi sedih Ojan.
Ojan menggeleng cepat. "Enggak Mbak, gak usah."
"Gak papa, aku ikhlas kok. Kita makannya sama-sama, jadi bayarnya ya sama-sama." Nisa mengambil ponsel di saku kardigan. "Aku transfer ke dompet digital kamu ya, kamu pakai apa nih?"
"Gak usah Mbak, beneran." Ojan menarik ponsel Nisa, meletakkan ke atas kursi, di tengah-tengah mereka.
"Tapi uang segitu banyak loh, Jan."
Astaga! Kok Jan lagi sih manggilnya. Mana panggilan sayangnya? Jadi pen nangis guling-gulingkan.
"Eh Jan, soal tadi sore, maaf ya."
"Ma, maaf?" perasaan Ojan mendadak tak enak karena membahas tadi sore. Kata kunci sore itulah yang bikin gelisah.
"Soal aku manggil kamu sayang. Aku gitu karena lagi manas-manasin mantan."
Ojan melongo, sisa pizza di tangganya sampai jatuh gara-gara lemes. "Ya elah Mbak, aku udah terlanjur baper. Tega kamu!"
🤣🤣🤣