Semua orang menganggap aku halu. “Mana mungkin, Bima, aktor tampan yang disukai semua perempuan di Indonesia mengajakmu menikah?” kata sahabatku, sambil tertawa terbahak-bahak. Tapi kemudian dia diam melihat pesan yang dikiimkn Bima kepadaku, ingin serius menikah denganku. Aku memang mencintainya, tapi apakah aku layak hidup dengan seorang aktor tampan, padahal aku hanyalah perempuan biasa yang tidak punya apa-apa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon imafi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 - Naya
Di antara jeda waktu setelah akad nikah dan sebelum resepsi dimulai, suasana gedung itu berubah jadi semacam panggung sirkus yang kehilangan sutradara selama lima belas menit. Semua orang sibuk, semua orang berlari, dan semua orang merasa paling penting.
Aku dan Risa — berusaha menjalankan klien dadakan ini dengan seprofesional mungkin —berdiri di tengah pusaran itu seperti dua manusia yang pura-pura tahu arah, padahal sebenarnya cuma mengandalkan insting dan doa.
Di luar aula utama, karpet merah sudah digelar, sedikit miring karena salah satu ujungnya terlipat dan belum sempat dirapikan. Bunga-bunga dekorasi berdiri anggun, meski salah satu rangkaian mawar di sisi kiri sudah mulai layu seperti ikut kelelahan. Dari dalam gedung, terdengar suara gamelan modern yang diputar dari speaker, kadang sedikit sumbang karena teknisinya bolak-balik mencolok kabel.
Sementara itu, keluarga mempelai mulai berdatangan dari berbagai arah seperti rombongan tur yang tersesat.
“Aduh, kursi VIP yang mana sih?” teriak seorang tante sambil kipas-kipas wajah pakai undangan.
“Ini kenapa AC-nya nggak dingin?” protes seorang om dengan nada yang seolah hidupnya bergantung pada suhu ruangan.
“Mas, fotografernya mana? Anak saya belum difoto dari tadi!” seorang ibu menarik lengan salah satu kru yang jelas-jelas bukan fotografer.
Di tengah kekacauan itu, aku sempat mencuri waktu sebentar. Hanya sebentar. Cuma satu detik kecil di antara ribuan detik yang terasa seperti lomba lari.
Aku membuka ponsel.
Bima: Semoga hari ini lancar. Selamat kerja, sayang.
Sayang.
Satu kata itu seperti kembang api kecil yang meledak pelan di dalam dadaku. Hangat, berkilau, dan entah kenapa bikin pipiku ikut mengembang seperti balon ulang tahun.
Aku tidak bisa berhenti tersenyum. Bahkan ketika seorang kru dekorasi nyaris menabrakku sambil membawa vas bunga, aku masih tersenyum seperti orang yang baru menang undian.
“Liat apa sih?”
Suara Risa muncul dari belakangku seperti hantu yang punya jadwal kerja tetap.
Aku hampir meloncat. Refleks menutup ponsel seperti siswa ketahuan buka chat pas ujian.
“Nggak.”
Risa menyipitkan mata. Tatapannya tajam seperti detektor kebohongan portable.
“Cieee… dari Bima ya? Keliatan tahu!” dia mencolek pundakku, senyumnya nakal. “Makin nggak sabar nikah nih?”
“Apaan sih!” aku langsung berpaling, pura-pura fokus ke pintu masuk, padahal jantungku tiba-tiba berlari sprint.
Dan di situlah masalah dimulai.
“Eh, itu, siapa?” suara Risa berubah dari mode goda jadi mode waspada. “Alfian?”
Nama itu seperti tombol darurat yang langsung menyalakan alarm di kepalaku.
Aku menoleh.
Dan benar saja.
Seorang pria dengan kemeja yang dikeluarkan, celana jins belel, dan aura “aku datang tanpa diundang tapi merasa berhak ada di sini” berdiri di depan meja penerima tamu. Dia celingukan, bertanya sesuatu ke petugas, lalu menatap ke dalam aula seperti pemburu yang mencari mangsa.
“Anjir lah, ngapain dia?” Risa menoleh ke arahku.
Tapi aku sudah kabur.
Aku tidak berpikir. Kakiku bergerak sendiri, seperti punya naluri bertahan hidup yang terlalu aktif. Aku menyelinap ke arah dapur katering.
Dan dunia di balik dapur itu… seperti dimensi lain.
Berbeda dengan aula yang penuh senyum palsu dan wangi parfum mahal, dapur katering adalah kerajaan panas, bising, dan penuh aroma yang saling bertabrakan.
Uap panas mengepul dari panci-panci raksasa yang berjajar seperti barisan tentara. Suara sendok besar beradu dengan wajan menciptakan irama yang tidak beraturan. Bau santan, bawang goreng, daging rendang, dan kuah sup bercampur menjadi satu, menciptakan aroma yang sebenarnya menggoda… tapi juga membuat kepala sedikit pusing.
Para petugas katering bergerak cepat, seperti mesin yang sudah diatur ritmenya.
“Cepet, nasi lagi kurang!”
“Ini ayamnya mana?!”
“Jangan taruh situ, itu buat VIP!”
Seorang ibu-ibu dengan celemek penuh noda minyak mengaduk kuah sambil mengomel, sementara seorang pemuda membawa nampan berisi gelas hampir menabrakku.
Aku terus berjalan, hampir berlari, melewati lorong sempit di antara meja stainless steel yang dipenuhi makanan setengah jadi.
Sampai akhirnya aku tiba di depan toilet.
Dan tentu saja, hidup tidak akan lengkap tanpa satu gangguan lagi.
Seorang MC keluar dari toilet pria, masih memegang cue card, wajahnya terlihat serius seperti akan memimpin sidang negara.
“Mau ke mana, Kak?”
“Ke toilet!” jawabku cepat.
Dia melirik jam tangannya. “Udah mau jam 11, kita mulai resepsi jam 11, kan?”
“Iya, ada Kak Risa kok di depan. Aku mau mules dulu!” kataku tanpa dosa, lalu langsung masuk sebelum dia sempat bertanya lebih jauh.
Begitu pintu tertutup, aku bersandar sebentar.
Sunyi.
Hanya suara AC kecil dan tetesan air dari keran yang bocor.
Aku mengeluarkan ponsel dengan napas masih sedikit terengah.
Naya: Dia ngapain, Kak?
Risa: Nyariin kamu!
Naya: Mau ngapain?
Risa: Nggak tau! Kamu di mana?
Naya: Toilet. Usir, Kak!
Risa: Udah, udah diusir, tapi dia malah ke belakang nyariin kamu.
Aku memejamkan mata.
Bagus. Hebat. Luar biasa.
Hari yang sudah chaos ini ternyata masih punya bonus level.
Dari luar, suara MC mulai menggema, sedikit teredam dinding.
“Para tamu undangan, sebentar lagi, acara resepsi akan dimulai. Dimohon untuk tidak menghalangi pintu masuk dan karpet merah.”
Aku mengetik lagi.
Naya: Alfian ada di mana, Kak?
Tidak ada balasan.
Tentu saja.
Risa pasti sudah masuk mode profesional. Tidak ada waktu untuk drama pribadi di tengah resepsi.
Aku menatap layar ponselku.
Kasih tau Bima?
Bayangan Bima tiba-tiba muncul di kepalaku. Wajahnya, caranya bicara, dan… kemungkinan reaksinya.
Aku langsung menggeleng.
Nggak mungkin.
Kalau aku kasih tau, bisa-bisa dia muncul tiba-tiba seperti adegan film aksi. Naik ojek? Masih mending. Tapi dengan gaya dia… jangan-jangan naik helicopter.
Dan aku tidak siap punya adegan “mantan vs calon” di tengah pesta orang.
Dari luar, musik pembuka mulai terdengar. Dentingan dan irama yang megah memenuhi udara.
Aku menarik napas dalam-dalam.
Aku harus keluar.
Pelan-pelan aku membuka pintu toilet, mengintip seperti pencuri amatir.
Kosong.
Lorong sepi. Semua orang sudah fokus ke dalam gedung.
Aku keluar, lalu menyelinap kembali lewat dapur.
Kali ini dapur lebih sibuk. Piring-piring mulai disusun, makanan di plating, para pelayan bersiap seperti pasukan yang akan turun ke medan perang.
Dari dalam aula, musik tarian pembukaan sudah dimulai. Tepuk tangan samar terdengar.
Aku berhenti di ambang pintu, mengintip ke dalam.
Gedung itu sekarang hidup.
Lampu-lampu menyala lebih terang, panggung dipenuhi penari dengan kostum berkilau. Para tamu duduk rapi, mata mereka tertuju ke depan. Fotografer mondar-mandir, mencari sudut terbaik. Risa berdiri di dekat kameramen, wajahnya serius tapi tetap tenang. Shanaz sibuk mengatur tamu VIP.
Dan di pelaminan, kedua mempelai duduk seperti raja dan ratu sehari.
Tidak ada Alfian.
Dadaku sedikit lega.
Aku melangkah masuk.
Satu langkah.
Dua langkah.
“Naya!”
Suara yang sudah aku blok dari telinga ku itu tiba-tiba seperti panah yang dilepaskan tepat ke arah telingaku.
Aku menoleh. Dan di sana, di balik unit AC sebesar lemari, berdiri Alfian.
Sial.
“Ngapain kamu!” suaraku sedikit lebih keras dari yang seharusnya.
Beberapa kepala menoleh.
Senyum sosial langsung berubah jadi rasa ingin tahu.
Alfian tidak menjawab. Dia langsung menarik tanganku masuk ke dapur. “Aku perlu bicara sama kamu.”
“Lepasin!” aku menepis tangannya dengan keras.
Gerakanku terlalu cepat.
Tanganku menyenggol seorang petugas katering yang sedang membawa nampan berisi puding.
Dan dalam satu detik yang terasa seperti slow motion—
Nampan itu miring.
Puding-puding bergoyang seperti penari balet yang kehilangan keseimbangan.
Lalu jatuh.
Plok.
Buyar di lantai.
Sunyi sepersekian detik.
Lalu—
“YA AMPUN!” teriak si petugas.
Suara itu cukup keras untuk memanggil Risa.
Dia muncul di dapur seperti superhero tanpa jubah.
Melihat kami.
Melihat lantai.
Melihat puding.
Dan langsung menarik kami berdua keluar.
Di depan toilet, dia berhenti dan menatap kami dengan mata melotot.
“Jangan bikin ribut di acara orang ya!”
Aku menunjuk Alfian. “Dia yang bikin ribut!”
“Aku nggak pengen ribut!” bantah Alfian.
“Terus maunya apa?” aku dan Risa berkata bersamaan.
Alfian menatapku.
Matanya serius. Tidak seperti biasanya.
Sejenak, dunia terasa mengecil.
Suara musik, tepuk tangan, semua seperti menjauh.
“Aku mau balikan.”
Dari dalam gedung, tepuk tangan meriah menggema.
Seolah dunia sedang merayakan sesuatu.
Sementara aku…
Berdiri di antara masa lalu dan masa depan, dengan puding yang masih menempel di ujung sepatuku.
dijudesin,egonya tinggi.klo elo sifatnya sprt itu nay cocok tu ma Alfian!!
baca ni Noval lama"MLS bet