Di tengah puing-puing yang membara, takdir mempertemukan Rangga dengan sosok misterius, Pertapa Gila Tanpa Tanding. Sang pertapa bukanlah orang sembarangan; di balik pakaian compang-camping dan tawa yang nyeleneh, ia adalah pemegang rahasia Pedang Naga Emas Seribu Langit, pusaka sakti yang konon mampu membelah awan dan menggetarkan bumi. Rangga kemudian dibawa ke lereng Gunung Kerinci yang berselimut kabut, sebuah tempat terpencil di mana waktu seolah berhenti berputar.
Selama lima belas tahun, Rangga dididik dengan keras di bawah gemblengan sang Pertapa Gila. Ia tidak hanya belajar olah kanuragan dan ilmu meringankan tubuh yang membuat gerakannya seringan kapas, tetapi juga ditempa secara spiritual untuk mengendalikan api dendam yang membara di dadanya. Sang pertapa mengajarkan bahwa kekuatan sejati bukan terletak pada tajamnya bilah pedang, melainkan pada kemampuan hati untuk tetap tegak di jalan kebenaran. Rangga tumbuh menjadi pemuda yang gagah perkasa..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Idwan Virca84, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23: BIDADARI YANG BANGKIT DI LEMBAH MAYAT
“Akhirnya… kau sadar juga, Bidadari Penebus Nyawa.”
Suara itu terdengar lembut, namun menyimpan getaran kewibawaan yang sangat dalam. Suara itu menggema pelan, memantul di dinding-dinding kayu sebuah pondok sederhana yang berdiri kokoh di tengah keangkeran Lembah Mayat—sebuah wilayah yang selalu diselimuti kabut abadi dan aroma tanah basah yang pekat.
Ayu Wulandari mengerjap pelan. Kelopak matanya terasa seberat timah, seolah-olah sisa-sisa maut masih enggan beranjak dari raganya. Namun perlahan—dengan perjuangan yang menyesakkan dada—ia membuka matanya yang kuyu.
Pandangan pertama yang ia lihat adalah langit-atap kayu tua yang menghitam. Di udara, aroma tajam ramuan obat-obatan hutan dan uap rempah gunung yang mendidih di atas tungku memenuhi ruangan, menyengat penciumannya yang baru saja pulih.
“Di… mana aku…?”
Suaranya lirih, pecah dan parau, nyaris tak terdengar seolah tenggorokannya baru saja melewati padang pasir yang gersang.
Ia mencoba menggerakkan bahunya untuk bangkit, namun rasa nyeri yang menusuk segera merambat ke seluruh sarafnya.
“Jangan bergerak dulu.”
Suara itu kembali terdengar, menghentikan gerak Ayu dengan ketegasan yang tak kasat mata.
Ayu menoleh dengan gerakan kaku, lehernya terasa berderit.
Seorang wanita duduk di dekat pembaringannya. Sosok itu tampak begitu kontradiktif.
Wajahnya—Muda dan cantik jelita tanpa kerutan sedikit pun.
Namun sorot matanya—Dalam, tua, dan penuh dengan rahasia purba, seolah-olah ia telah menyimpan ratusan tahun pengalaman hidup di balik sepasang manik mata yang jernih itu.
“Siapa… kau…?” tanya Ayu pelan, matanya menyipit mencoba mengenali sosok asing yang tampak abadi tersebut.
Wanita itu tersenyum tipis, sebuah lengkungan bibir yang tenang namun misterius.
“Aku… orang yang menyelamatkan nyawamu.”
Ayu mengernyit, kepalanya berdenyut hebat saat mencoba memanggil kembali kepingan ingatan yang tercerai-berai.
“Namaku… Nini Ruai.”
Nama itu—sebuah nama yang sering dibisikkan dalam legenda-legenda tua kaum persilatan—membuat Ayu seketika terdiam. Sebuah getaran aneh merambat di jantungnya.
“Nini… Ruai…?”
Ia mencoba mengeja nama itu, berusaha memastikan bahwa ia tidak sedang bermimpi di alam baka.
“Lembah Mayat…” lanjut wanita itu, nadanya datar namun dingin. “Tempat yang tidak seharusnya didatangi manusia hidup.”
Mata Ayu membesar seketika. Kesadarannya tersentak hebat, seolah disiram air es di tengah malam buta.
“Aku… di Lembah Mayat…?”
Nini Ruai mengangguk pelan, jemarinya yang ramping bergerak merapikan selimut kain kasar yang menutupi tubuh Ayu.
“Dan kau datang ke sini… dalam keadaan hampir mati.”
Sunyi sejenak merayap di antara mereka. Di luar sana, suara angin lembah yang melolong seperti rintihan arwah terdengar samar menembus dinding pondok.
Ayu menelan ludah yang terasa pahit. Rasa takut dan penasaran bergejolak di dadanya.
“Siapa… yang membawaku ke sini…?”
Nini Ruai menatapnya dalam, seolah sedang membaca setiap helai sukma yang ada di balik mata Ayu.
“Seorang pemuda.”
Ayu langsung tertegun. Sebuah nama langsung mencuat di kepalanya, membawa serta rasa hangat yang tak terduga.
“Rangga…?”
Nini Ruai tersenyum tipis, melihat binar aneh yang muncul di mata gadis itu.
“Rangga Nata.”
Mata Ayu seketika berkaca-kaca. Ada sesak yang menyeruak di kerongkongannya, namun kali ini bukan karena sakit, melainkan karena haru yang meluap.
“Dia… masih hidup…?”
“Bukan hanya hidup,” jawab Nini Ruai dengan nada tenang yang meyakinkan. “Dia yang menyelamatkanmu.”
Ayu terdiam. Dadanya naik turun dengan perlahan, mencoba mencerna kenyataan bahwa ia masih bernapas berkat pemuda itu.
“Ceritakan…” bisiknya, menuntut penjelasan dari kegelapan yang sempat menyelimuti ingatannya.
Nini Ruai menghela napas pelan, matanya menerawang ke arah jendela pondok yang tertutup kabut putih pekat.
“Ketika dia membawamu ke sini…”
“Tubuhmu sudah hancur dari dalam.”
Ayu menutup matanya rapat-rapat. Bayangan pukulan dahsyat di Istana Macan Hitam kembali terlintas, membawa kembali rasa nyeri yang membakar punggungnya.
“Pukulan Macan Hitam…” Nini Ruai melanjutkan dengan nada yang kian serius. “…bukan pukulan biasa.”
Ayu mengangguk lemah, setuju dengan pernyataan pahit itu.
“Aku tahu…”
“Organ dalammu rusak.”
“Aliran tenagamu kacau.”
“Nyawamu… hanya tinggal menunggu waktu.”
Sunyi menyergap kembali. Di sudut ruangan, pelita minyak yang temaram menari-nari ditiup angin yang menyelinap dari celah pintu.
“Namun…”
Nada suara Nini Ruai berubah. Lebih dalam, mengandung rasa hormat yang samar terhadap sebuah kegigihan.
“Anak itu… tidak menyerah.”
Ayu membuka matanya kembali, menatap Nini Ruai dengan penuh tanda tanya.
“Dia memohon padaku…”
Nini Ruai menatap jauh ke arah luar, seolah sedang memutar kembali kejadian dramatis tujuh malam yang lalu di pelataran pondoknya.
“Dia berkata—”
Ia berhenti sejenak, memberikan penekanan yang menusuk batin Ayu.
“‘Selamatkan dia… berapa pun harganya.’”
Ayu terdiam, hatinya seolah dihantam gelombang pasang. Rasa haru dan sesak beradu menjadi satu di dalam dadanya.
“Dan kau tahu… apa yang dia lakukan?”
Ayu menggeleng pelan dengan mata yang kian lembap.
“Dia memberikan separuh tenaga dalamnya…”
Mata Ayu membesar. Sebagai seorang pendekar, ia tahu betul apa artinya memberikan separuh tenaga dalam kepada orang lain. Itu adalah taruhan nyawa.
“…Dia harus kehilangan separuh tenaga dalamnya selama tujuh hari.”
Sunyi. Ruangan itu terasa kian sempit oleh kebisuan Ayu.
Ayu tidak bergerak, tubuhnya mematung mendengar pengorbanan yang begitu besar itu.
“Dia duduk di sampingmu…”
“Menyalurkan tenaga dalamnya…”
“Menahan racun…”
“Menjaga jantungmu tetap berdetak…”
Suara Nini Ruai kini terdengar pelan, namun setiap kata yang terucap terasa seperti sembilu yang mengiris hati Ayu.
“Jika sedikit saja dia lengah…”
“Bukan hanya kau yang mati…”
“Dia juga.”
Ayu menutup mulutnya dengan tangan yang gemetar. Air mata kini tak lagi bisa dibendung, mengalir deras membasahi pipinya yang pucat.
“Bodoh…” bisiknya pilu.
Namun suaranya kini penuh dengan getaran kasih dan rasa bersalah yang amat mendalam.
“Kenapa… dia melakukan itu…”
Nini Ruai tersenyum tipis, menatap Ayu dengan pandangan yang sulit diartikan.
“Pertanyaan yang sama yang ingin kutanyakan padamu.”
Ayu terdiam, tenggelam dalam samudera pemikirannya sendiri. Mengapa pemuda yang sering ia cibir itu bersedia mati untuknya?
Beberapa saat berlalu dalam kesunyian yang mencekam.
“Di mana dia sekarang…?” tanya Ayu pelan, suaranya masih bergetar.
“Perguruan Melati Putih.”
Ayu mengangguk pelan. Rasa lega sedikit menyusup di antara sesak dadanya.
“Ya…”
“Sekarang aku ingat…”
Ia menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan kembali sisa-sisa kesadarannya.
“Aku menemani dia…”
“Ke Istana Macan Hitam…”
“Untuk meminta Nini Suro…”
“Memberikan penawar racun…”
Nini Ruai mengangguk, melihat ingatan gadis itu mulai tertata kembali.
“Ingatanmu mulai kembali.”
Ayu membuka matanya penuh, semangatnya mendadak bangkit kembali saat teringat misi mereka.
“Dewi Melati… Selasih…”
“Apakah mereka selamat…?”
Nini Ruai tersenyum tipis, sebuah senyum yang menenangkan badai di hati Ayu.
“Jika Rangga masih hidup…”
“Sudah pasti mereka selamat.”
Ayu menghela napas lega. Ia merasa sebuah beban raksasa baru saja terangkat dari pundaknya.
Namun—
Ada satu hal lagi yang mengusik hatinya. Seorang pendekar tak pernah bisa tenang tanpa senjatanya.
“Pedangmu…?”
Nini Ruai bangkit perlahan dari duduknya. Gerakannya begitu luwes dan anggun, seolah ia tidak berpijak di bumi.
Ia berjalan ke sudut ruangan yang remang-remang, di mana bayangan kayu-kayu pondok terlihat memanjang.
Mengambil sesuatu yang terbungkus kain sutra hitam kusam.
“Kau mencarinya?”
Ia membuka kain itu dengan satu gerakan tangan yang mahir.
Sebuah pedang ramping yang bilahnya berkilau kena cahaya pelita menampakkan diri.
Ayu tersenyum tipis. Melihat pedang itu seperti melihat bagian dari jiwanya yang kembali.
“Terima kasih…”
Nini Ruai tidak langsung memberikannya, tangannya masih memegang erat sarung pedang itu.
“Belum.”
Ayu mengernyit, kebingungan menyelimuti wajah ayunya.
“Kenapa?”
Nini Ruai menatapnya dalam, sebuah tatapan yang menuntut jawaban dari dasar hati terdalam.
“Karena kau belum cukup kuat untuk memegangnya lagi.”
Ayu terdiam. Ia baru menyadari bahwa tangannya sendiri pun masih sulit untuk digerakkan.
“Tubuhmu memang sudah sembuh…”
“Tapi tenagamu belum pulih sepenuhnya.”
Sunyi merajai pondok itu kembali. Di luar, kabut Lembah Mayat kian menebal, menyembunyikan pondok itu dari dunia luar.
“Ayu Wulandari…”
Nada suara Nini Ruai mendadak berubah. Lebih serius, lebih berat, penuh dengan wibawa seorang tokoh tingkat tinggi.
“Berapa lama kau ingin hidup sebagai pendekar biasa?”
Ayu mengangkat wajahnya, menantang tatapan wanita abadi di depannya itu.
“Apa maksudmu…?”
Nini Ruai melangkah mendekat. Langkah kakinya sama sekali tidak mengeluarkan suara di atas lantai kayu yang tua.
“Bertahan hidup…”
“Menolong orang…”
“Lalu hampir mati lagi…”
Ia menatap tajam, seolah sedang menguliti setiap keraguan di batin Ayu.
“Berapa kali lagi?”
Ayu terdiam. Kata-kata itu menghujam tepat di ulu hatinya, menyadarkannya akan kelemahannya selama ini.
“Kalau kau ingin benar-benar bertahan di dunia ini…”
Nini Ruai melanjutkan, nadanya kini menggelegar di dalam telinga batin Ayu.
“…kau harus menjadi lebih kuat.”
Sunyi yang panjang menyelimuti ruangan. Ayu bisa mendengar detak jantungnya sendiri yang kian kencang.
“Aku punya satu tawaran.”
Ayu menatapnya dengan binar mata yang kembali menyala.
“Apa itu?”
“Tinggallah di Lembah Mayat…”
Nini Ruai berkata pelan, namun mengandung janji kekuatan yang tak terbayangkan.
“…selama tiga bulan.”
Ayu terkejut. Tiga bulan di tempat seangker ini?
“Tiga bulan…?”
Nini Ruai mengangguk pasti.
“Aku akan melatihmu.”
Sunyi sejenak. Angin di luar melolong lebih keras, seolah ikut mengamini tawaran tersebut.
“Menjadikanmu… muridku.”
Ayu terdiam. Ia tahu, menjadi murid seorang Nini Ruai adalah anugerah yang dicari oleh ribuan pendekar di tanah Andalas.
“Dan…”
Nini Ruai berbalik menuju sebuah peti kayu jati kuno di sudut lain.
Mengambil sesuatu lagi dari sana.
Sebuah pedang dengan sarung berwarna putih tulang.
Namun pedang itu—sangat berbeda dengan pedang mawar miliknya. Aura yang terpancar darinya sangat kuat dan dingin.
Bilahnya putih keperakan saat ditarik sedikit dari sarungnya. Memancarkan aura dingin yang seolah mampu membekukan udara di sekitar. Namun bentuknya tampak begitu agung.
“Ini…”
Ayu membelalak. Ia mengenali ciri-ciri pusaka legendaris itu dari kitab-kitab lama.
“Pedang Elang Putih…”
Nini Ruai mengangguk, memegang pedang itu dengan khidmat.
“Pusaka ini… akan menjadi milikmu.”
Sunyi yang sakral kini memenuhi seluruh pondok sederhana itu.
“Jika…”
Ia menatap Ayu dalam-dalam, sebuah ujian terakhir bagi tekad sang bidadari.
“…kau mau menjadi muridku.”
Ayu menunduk dalam-dalam.
Pikirannya berputar liar. Rangga. Pertarungan yang belum usai. Dendam kepada Macan Hitam. Dan fakta bahwa ia hampir saja kehilangan nyawa karena kelemahannya sendiri.
Perlahan—
Ia mengangkat wajahnya kembali.
Matanya kini telah berubah. Tidak ada lagi keraguan. Hanya ada ketegasan yang membaja.
“Aku…”
Ia menarik napas panjang, memantapkan sukmanya.
“…bersedia.”
Nini Ruai tersenyum puas. Seolah ia baru saja memenangkan sebuah pertempuran batin.
“Bagus.”
Angin di luar berhembus pelan, seolah merayakan sumpah kependekaran yang baru saja terucap. Kabut Lembah Mayat bergerak melingkar, melindungi rahasia besar di dalam pondok itu.
Dan di tempat yang dijuluki lembah kematian itu—
Seorang bidadari…
Telah benar-benar bangkit kembali dari tidurnya.
Namun kali ini—
Bukan sebagai gadis yang hampir mati dan tak berdaya.
Melainkan sebagai seorang calon pendekar pilih tanding…
Yang kehadirannya kelak akan mengguncang dunia persilatan.
Bersambung… 🔥