Setelah bertahun-tahun diabaikan dan dibuang, akhirnya Alisa pun kembali kerumah Ayahnya, Pak Ali. Mirisnya, kepulangan Alisa bukan untuk kembali jadi putrinya. Melainkan untuk dijadikan pengantin pengganti untuk Kakak sambungnya, Marisa.
Dan Alisa diharuskan langsung bercerai setelah Marisa kembali. Lalu, bagaimana jadi nya, jika Harlan menolak berpisah dan lebih memilih Alisa untuk tetap menjadi istrinya?
Lalu, apa yang akan dilakukan Ibu Yuni dan juga Marisa untuk merebut kembali posisi Alisa?
Saksikan kisahnya disini….
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Triyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.7
Malam semakin larut, namun suasana di dalam gedung resepsi itu masih terlihat ramai oleh para tamu undangan yang sepertinya, sejak tadi sore belum berkurang sedikitpun.
Musik jazz yang mengalun lembut kini berganti dengan instrumen piano yang lebih melankolis, menciptakan suasana yang lebih intim bagi para tamu yang masih bertahan.
Di tengah hiruk-pikuk itu, Harlan tetap pada posisinya. Menjadi tameng yang kokoh bagi Alisa. Ia menyadari bahwa istrinya itu sudah berdiri berjam-jam lamanya, di atas sepatu hak tinggi.
Tiba-tiba, seorang pembawa acara (MC) melangkah ke tengah lantai dansa, memegang mikrofon dengan penuh semangat.
"Hadirin sekalian, sebagai penutup rangkaian prosesi acara resepsi malam ini, mari kita saksikan momen yang paling dinantikan. Kami persilakan kepada pasangan yang berbahagia, Mas Harlan dan Mbak Alisa, untuk memberikan First Dance mereka sebagai pasangan suami istri." ucapnya, bersemangat.
Alisa tersentak. Ia menoleh ke arah Harlan dengan mata membulat sempurna, membisikkan sesuatu dengan nada panik.
"Kak… Bang… eh, Mas, kenapa tiba-tiba harus dansa? Ini tidak ada di jadwal yang kubaca sebelumnya..." tanya Alisa panik. Menatap ke arah Harlan dengan tatapan yang serius.
Harlan hanya melirik petugas WO di bawah pelaminan yang memberikan kode jempol. Sepertinya, ini adalah kejutan dari keluarga besar atau ide mendadak dari tim penyelenggara.
Membuat Harlan dan Alisa tidak bisa berbuat apa-apa, selain menuruti prosesi terakhir yang harus mereka lalui.
"Kamu bisa berdansa?" tanya Harlan pendek.
"Tidak. Tapi dulu, saat masih SMP, aku sempat mempelajarinya untuk kontes drama sekolah. Tapi itu… sudah lama sekali. Aku tidak yakin kalau aku masih ingat dengan gerakannya. Belum lagi, gaun ini terlalu berat untuk dibawa bergerak. Aku… takut kalau aku akan mempermalukanmu." jawab Alisa gugup.
Harlan tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru mengulurkan tangan kanannya, sementara tangan kirinya berada di belakang punggung, membungkuk sedikit layaknya seorang pangeran yang sedang mengajak sang putri untuk berdansa dengan nya.
"Percaya padaku, dan ikuti saja langkahku. Aku yakin kalau kamu bisa." perintahnya pelan, namun penuh keyakinan.
Meski ragu, namun Alisa tetap meletakkan tangannya di atas telapak tangan Harlan yang lebar dan hangat. Mereka berjalan turun dari pelaminan menuju ke tengah ruangan yang kini telah dikosongkan.
Lampu utama perlahan meredup, menyisakan satu spotlight yang hanya menyoroti mereka berdua. Musik mulai mengalun. Sebuah lagu ballad klasik memenuhi ruangan.
Harlan menarik pinggang Alisa perlahan, merapatkan jarak hingga Alisa bisa mencium aroma parfum maskulin yang bercampur dengan wangi kayu cendana dari tubuh suaminya.
Tangan Alisa bertumpu pada bahu kokoh Harlan, sementara tangan mereka yang lain saling bertautan di udara. Mereka mulai bergerak. Ke kanan, ke kiri, lalu berputar perlahan.
"Bagus. Kamu melakukannya dengan baik." bisik Harlan tepat di dekat telinga Alisa.
Nafas hangat pria itu menggelitik kulit leher Alisa, membuat bulu kuduknya meremang bukan karena dingin, melainkan karena ada debaran yang kian kencang di dalam dadanya.
Alisa memberanikan diri menatap mata Harlan. Di bawah temaram lampu, mata yang biasanya tajam itu kini tampak berkilau, memantulkan bayangan wajah Alisa di sana.
"Kak… eh, Bang… eh, Mas Harlan..." panggil Alisa lirih.
"Kenapa panggilannya banyak sekali? Kenapa nggak pilih salah satu saja?" tanya Harlan, yang bingung karena sejak tadi Alisa kerap memanggilnya dengan banyak sebutan.
"Habisnya… aku tidak tahu harus memanggilmu apa." jawab Alisa.
Gerakan Harlan melambat sejenak, namun tidak berhenti. Ia menatap Alisa dengan intensitas yang membuat Alisa kembali merasa gugup dan takut.
"Di keluargaku. Pria dewasa yang sudah menikah itu, biasanya dipanggil ‘Mas’ oleh istrinya," jawab Harlan menjelaskan kebiasaan dari keluarganya.
“Oh, begitu. Jadi, aku panggil kamu ‘Mas’ juga?” tanya Alisa.
“Tidak buruk.” jawab Harlan singkat, tapi mantap.
Setelah percakapan singkat itu, Harlan dan Alisa kembali bergerak. Melanjutkan dansa mereka yang sempat ter jeda sebentar.
Lagu berakhir dengan satu putaran lambat dan posisi terakhir dimana Harlan menopang punggung Alisa yang sedikit melengkung ke belakang. Tepuk tangan meriah membahana di seluruh penjuru ruangan.
Harlan membantu Alisa kembali berdiri tegak. Namun, sebelum mereka melepaskan pautan tangan, Harlan mendekatkan wajahnya, berbisik pelan hingga hanya Alisa yang bisa mendengarnya.
"Akhirnya… acaranya selesai juga. Sekarang kita bisa istirahat." bisik Harlan membuat Alisa tersenyum senang.
Alisa mengangguk setuju. Tanpa disadari… Alisa membalas genggaman tangan Harlan, erat dan hangat.
Tepuk tangan masih menggema, mengisi setiap sudut ruangan dengan riuh kebahagiaan para tamu. Harlan dan Alisa berdiri di tengah sorotan, masih dengan nafas yang sedikit tersengal setelah dansa singkat namun penuh perjuangan.
Namun, belum sempat mereka benar-benar melangkah pergi. Suara MC kembali terdengar, kali ini dengan nada yang jauh lebih menggoda.
"Hadirin sekalian… sepertinya malam ini belum lengkap tanpa satu momen lagi yang tak kalah istimewa!" ucapnya, membuat suasana seketika kembali hidup.
Beberapa tamu mulai bersorak kecil, seolah sudah bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya.
Harlan mengernyit pelan. Perasaannya mendadak tidak enak. Dan benar saja… detik kemudian, sang MC kembali bersuara yang membuat Harlan dan Alisa jantungan.
"Dengan ini, kami persilakan kepada pasangan pengantin kita, Mas Harlan dan Mbak Alisa… untuk memberikan first kiss mereka sebagai pasangan yang berbahagia pada malam ini!" serunya. Membuat mata Harlan dan Alisa membulat sempurna.
Suasana langsung meledak. Sorakan, tepuk tangan, bahkan siulan nakal dari beberapa tamu terdengar jelas.
Tubuh Alisa langsung membeku. Nafasnya tercekat di tenggorokan. Perlahan, ia menoleh ke arah Harlan dengan raut wajah yang kembali panik.
"Mas…" bisiknya nyaris tak terdengar saking paniknya Alisa saat ini.
Tangannya yang tadi menggenggam Harlan, kini justru semakin mencengkeram erat tangan itu, seolah mencari pegangan.
"Ini… ini nggak ada di rundown…" lanjutnya dengan suara yang bergetar.
Harlan menghela nafas panjang. Rahangnya mengeras sedikit, matanya melirik cepat ke arah MC, lalu ke arah keluarga besarnya yang tampak tersenyum menggoda.
Bahkan beberapa dari mereka sudah mengangkat ponsel, siap mengabadikan momen romantis itu.
Harlan kembali menghela nafas panjang. Jika sudah begini, maka, tidak ada jalan mundur untuknya dan Alisa.
Karena, jika mereka menolak… semua mata akan mempertanyakan hal itu dan akan menjadikan kejadian itu sebagai bahan gunjingan.
Harlan kembali menatap Alisa. Kali ini lebih dalam dan lebih tenang.
"Alisa," panggilnya rendah.
Alisa menatapnya, dengan gugup.
"Maaf… tapi sepertinya, kita tidak bisa menolak. Kalau kita menolak… maka, kejadian ini…akan jadi bahan gunjingan. Kamu tahu itu, kan?" ujar Harlan, suaranya pelan namun tegas.
Alisa terdiam. Ia tahu. Sangat tahu. Puluhan pasang mata itu sekarang tertuju pada mereka. Menunggu dengan penuh pengharapan.
Perlahan, Alisa menelan ludah. Tidak yakin, tapi juga, tidak ada jalan lain.
"Tapi… aku takut." jujurnya semakin lirih.
Harlan tidak langsung menjawab. Tangannya yang besar bergerak perlahan, menggenggam kedua tangan Alisa, mencoba menenangkan gadis itu.
"Tolong… Sekali lagi ini, percayalah padaku. Aku… tidak akan melakukan yang berlebihan." ucapnya. Meyakinkan Alisa untuk kembali percaya kepadanya.
Nada suaranya datar, namun entah kenapa… itu justru membuat Alisa sedikit lebih tenang.
Harlan melangkah lebih dekat. Jarak mereka yang sejak tadi sudah dekat… kini semakin merapat lagi.
Alisa bisa merasakan hembusan nafas Harlan di wajahnya. Detak jantungnya kembali berdegup tak karuan.
Dug.
Dug.
Dug.
Cepat. Detak jantungnya terlalu cepat hingga membuat wajah Alisa memanas dan merah merona.
"Izin, ya. Untuk melakukannya,” bisik Harlan tepat di wajah Alisa.
Kalimat itu… Entah kenapa, membuat Alisa seperti terhipnotis. Refleks, ia langsung mengangguk pelan, memberi izin kepada Harlan meski tanpa berucap.
Sorakan tamu semakin riuh saat melihat keduanya mulai merapatkan diri.
Harlan mengangkat satu tangannya, menyentuh lembut sisi wajah Alisa. Ibu jarinya mengusap pelan pipi gadis itu yang mulai memanas.
Alisa langsung memejamkan mata. Jantungnya terasa seperti akan melompat keluar saat Harlan menyentuh wajahnya.
Dengan jarak yang semakin menipis. Harlan menundukkan wajahnya.
Dan dalam hitungan detik bibir mereka pun akhirnya bertemu.
Sentuhan itu… lembut. Sangat lembut membuat tubuh Alisa membeku sepenuhnya.
Dunia seakan berhenti. Tidak ada gerakan. Tidak ada balasan. Hanya Harlan saja yang bergerak… namun entah kenapa sentuhan itu terasa jauh lebih dalam dari yang seharusnya.
Beberapa detik kemudian, Harlan kembali bergerak, menjauh. Memberi jarak antara tubuhnya dan tubuh Alisa. Namun tidak benar-benar menjauh.
Tepuk tangan langsung pecah lebih meriah dari sebelumnya. Sorakan, tawa, bahkan teriakan penuh semangat menggema di seluruh ruangan.
Alisa masih memejamkan mata. Tubuhnya masih kaku. Pikirannya pun masih kosong. Namun pipinya… merah merona.
Perlahan, ia membuka mata. Dan yang pertama kali ia lihat adalah Harlan… yang kini menatapnya dengan ekspresi yang sulit diartikan.
Harlan lalu menarik tangan Alisa pelan. Beranjak dari tempat itu untuk kembali ke pelaminan.
"Ayo," ujarnya singkat. Menuntun Alisa kembali ke atas pelaminan. Alisa menurut, mengikuti langkah Harlan dengan degup jantung yang masih memburu.