Syahira tidak pernah membayangkan hidupnya akan berubah secepat ini. Dipaksa masuk sebuah Kampus yang menjurus segalanya tentang agama yang diyakininya. ia mengikuti satu keyakinan mengikuti ayahnya. Ia harus menghadapi dunia yang sama sekali asing baginya. Hafalan panjang, kitab tebal dan Dosen,..yang tidak memberi ruang untuk gagal. Masalahnya bukan itu,..melainkan yang menjadi faktor utama adalah ada pada sang Dosen itu sendiri yang mengajarnya yaitu Abang iparnya sendiri. Ditengah tekanan yang terus menumpuk, kedekatan yang tidak seharusnya,..justru malah tumbuh seiring berjalannya waktu. Mereka lupa ada seseorang yang sudah lebih dulu menyimpan luka.
Kakaknya yang bernama Feryal wanita tomboy satu ini yang terlihat kuat tapi sebenarnya ia begitu rapuh telah banyak menyimpan luka sejak dirinya masih kecil. dan ketika sebuah kebenaran akhirnya terkuak, pilihannya harus dibuat, bukan siapa yang paling dicintai melainkan siapa yang tetap dipilih, bahkan setelah semuanya hancur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gurania Zee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 10
Sementara dikamar, Syahira duduk bersila diatas sajadahnya, mushaf masih terbuka di pangkuannya. Bibirnya bergerak melantunkan ayat suci yang tadi sempat terhenti di kelas.
Kali ini lebih hati hati seolah ia tidak ingin hanya sekedar menghapal. Tapi juga memahaminya apa yang ia kaji selama ini.
Akan tetapi disela sela a membaca ayat itu, pikirannya yang sedang tidak baik baik saja selalu saja menyelinap tipis tipis, pada kejadian tadi siang.
Tentang bagaimana cara dia menatap dan suaranya yang khas, rasa itu entah mengapa dan sejak kapan mulai terasa tidak biasa.
Ia berhenti sejenak, menutup matanya, lalu menggeleng tak ingin percaya atas apa yang ia rasakan saat ini, "Jangan,..ya Alloh jangan,..hamba masih takut dosa,..hilangkan rasa ini ya Robb, Astaghfirullahaladzim" tangannya menusap kasar wajahnya frustasi, takmlama tangannya mengepal diatas mushaf, sebelum akhirnya ia kembali membuka mata seraya melanjutkan bacaannya.
Memaksa dirinya kembali fokus meski hatinya masih berusaha mengejar apa yang tidak boleh ia kejar.
Di lain kota, mesin motor meraung pelan sebelum akhirnya dimatikan, Kaizan melepas helmnya sebentar, mengibaskan rambutnya yang sedikit basah oleh keringat.
Akan tetapi otaknya masih bertraveling tidak berada pada tempatnya yang saat ini ia injak. Bukan soal harta atau uang dan ketenaran dalam sirkuit balapan.
Melainkan dua sosok yang terus muncul begitu saja di ingatannya saat ini. Feryal dan Syahira. Ia bersandar pada motornya, menatap kosong ke arah depan. "Aneh" gumamnya pelan pada dirinya sendiri.
"Kenapa ya, gue enggak pernah sepeduli ini sama orang, tapi dua cewek ini,..kenapa bikin gue kepikiran terus,..heran" gumam Altaz lagi.
kembali ke rumah Feryal, ia berjalan menuju dapur tanpa suara, membuka kulkas dan mengambil minuman kaleng seraya membukanya dan langsung ia teguk sampai tersisa setengahnya saking hausnya.
Dinginnya minuman kaleng itu tidak sedingin hubungannya dengan Bilal suaminya itu, dan tidak juga melegakkan pikirannya yang sedang terasa panas.
diruang yang sama tapi berbeda sudut, Bilal berdiri dalam diamnya memperhatikan tanpa benar benar mendekat. Ia melihat tapi tidak menyapanya sama sekali. ada keinginan bicara tapi entahlah dia sendiri tidak tau harus dimulanua dari mana.
Sudah kesekian kalinya, mereka memilih diam, bukan karena aturan ingin memperbaiki tapi bingung juga harus bagaimana caranya untuk kembali seperti semula lagi.
Angin merayap pelan disela jendela rumah itu di sore yang begitu sendu. Membawa sedikit getaran dingin yang tidak cukup untuk membangunkan suasana yang sudah mulai membeku.
Didapur feryal masih berdiri ditempat yang sama, kaleng minuman ditangannya, kini sudah kosong setengah lebih, tapi ia tidak segera meletakkannya. kedua netranya menatap sudut ruangan seolah mencari sesuatu yang tidak bisa ia definisikan.
Kembali ia menutup kulkasnya, ia menarik napasnya panjang, "Capek" gumamnya pelan.
Tak lama suara langkah kaki mendekat ke arahnya, namun terhenti diambang ruang, seperti orang yang ragu dan mempertimbangkan apakah ia masih layak untuk bertahan dengan sosok yang dihadapannya ini.
Feryal tau dia ada disana tapi dia sengaja tidak menoleh sama sekali, hubungan yang dingin dan kaku semenjak perdebatannya tahun yang sudah berlalu efeknya masih terasa sampai sekarang.
Saling diem tanpa suara dan kata, sudah menjadi kebiasaannya sehari hari mereka saat ini, kesunyian diantara pasangan yang pernah saling memahami meski ada perbedaan diantara mereka, saling memahami tanpa banyak kata dan suara.
Bilal akhirnya bersuara, seperti memecahkan suasana yang sedang rapuh. "Fey,..kamu belum makan ya dari tadi?" tanya Bilal.
Feryal tersenyum kecil, "Aku lagi nggak lapar" keduanya terdiam, Bilal mengangguk, meski Feryal tidak melihatnya sama sekali. tangannya mengepal sesaat disisi tubuhnya sendiri, lalu ia mengendurkannya lagi.
Ada banyak yang ingin Bilal utarakan sebenarnya, akan tetapi lidahnya seolah kelu dan tersangkut ditenggelamkan, dan hasilnya ia hanya berkata "kalau butuh apa apa,.. bilang aja"
tidak menunggu jawaban, Bilal pun pergi begitu saja masuk kedalam kamarnya. "kalau aja semudah itu,..sayangnya sulit" gumam Feryal menatap Bilal yang sudah menjauh dan menutup kamarnya.
Di lain kota, Altaz masih bersandar pada motornya, mesinnya sudah benar-benar dingin sekarang, lampu jalan pun sudah pada menyala satu persatu, tapi pikirnya masih saja seolah menggerutu.
Ia meraih ponselnya yang berada di kantong saku jaketnya, menatap layar tanpa notifikasi, tapi pikirannya masih saja terlintas dalam ingatannya.
Seseorang yang berdiri disikuit, banyak yang bersorak memanggil namanya. aura yang tenang, wajah yang dingin dan datar, namun saat bergerak mengendalikan motornya sungguh diluar dugaan.
Tenang, gesit,..penuh trik dan cara bagaimana ia mampu mengalahkan sang lawan, diam saat di lingkungannya tapi nampak liar dalam aksinya balapan di sirkuit. Namun begitu tanpa beban saat hasil yang ia dapatkan disumbangkan begitu saja dengan senyum yang mengembang.
"Cewek aneh" celetuknya namun tanpa sadar bibirnya terangkat, masih menyembunyikan rasa kagumnya yang masih gengsi ia akui.
Bergeser pikirannya pada cewek satunya, yang kini ia pikirkan "satunya dingin,..satunya rapuh,.." dua duanya ribetin" celetuknya,..lalu ia memasang helmnya lagi, dan membiarkan angin malam merayap pada tubuh atletisnya.
Wuzz,.motornya secepat kilat meninggalkan area tempatnya ia melepaskan penat. tanpa tersadar, baru kali ini ia benar benar merasa ingin tahu sampai segitunya.
Kembali ke rumah Feryal dan Bilal. Feryal yang menatap suaminya menjauh dan masuk kamar, lalu ia pun menaruh kembali minuman kalengnya, ia meraih ponselnya dan melihat daftar kontak, dan ada nama Bilal disana.
Tidak pernah benar benar ia hilangkan,..Feryal menghembuskan nafasnya panjang dan perlahan. "udah beda dia sekarang" batinnya entah kenapa dia bisa berpikir seperti itu.
Feryal pun mengalihkan ke arah chat yang lain, secara kebetulan ia mendapatkan pesan undangan balapan lagi, tapi dirinya kali ini sedang tidak mood untuk melakukannya.
"Nanti ajalah,..lagi enggak mood gue Jo" chatnya pada Josef.
"Oke, kabarin kalo mood kau pilih,.hmm"
"Ok"
Dikamar, Bilal duduk di ranjangnya,.."Ternyata bukan dia yang berubah,..tapi aku yang duluan menjauh darinya,.." ucap Bilal saat ia terus merenungkan nasib rumah tangganya dengan Feryal.
Selalu seperti itu, namun kali ini bukan tentang perbedaan lagi masalahnya melainkan pada dirinya sendiri yang mulai goyah, bukan pada wanita lain pada umumnya melainkan pada adik iparnya sendiri.
"Salah,..ya Alloh,...kenapa aku jadi seperti ini?"
"Tidak sepantasnya aku memiliki rasa yang seharusnya tidak aku rasakan terhadap Syahira,..dia adik istriku sendiri,..tidak boleh"
Sama seperti halnya Syahira, yang masih dengan ketidaknyamanan hatinya yang saat ini keduanya nampak rasakan.
"Jika memang aku mulai mencintainya,..hilangkanlah rasa itu ya Alloh, dan jauhkanlah ia dari hidupku"