Dikhianati... Kemudian dibunuh...
Siapa sangka, kematian menjadi awal bagi Lea La Bertha- seorang ahli racun- mengetahui kebenaran yang selama ini ditutupi sang kekasih.
Kehidupan kedua yang ia dapatkan membuat dirinya memilih jalan berbeda dengan bergabung dalam lingkaran dunia mafia.
"Jika aku memintamu membunuh seseorang, apa kau akan melakukannya?" Angkasa.
"Jadikan aku sebagai tangan kananmu. Maka, aku akan lakukan semua perintahmu tanpa terkecuali," Lea.
Dengan ingatan dari kehidupan sebelumnya yang ia bawa, Lea bertekad mengubah takdirnya. Tetapi ia tidak pernah menyangka, perubahan itu justru membuka rahasia besar dari kedua orang tuanya yang sudah tiada.
Lalu, bagaimana jika cinta hadir diantara mereka? Akankah Lea percaya pada 'Cinta'?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FT.Zira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27. Fakta yang disembunyikan.
POV Lea di ruang rahasia sebelum pertemuan dengan Angkasa.
Lea duduk di depan komputer yang menyala. Siku kirinya bertopang di meja dengan dagu bertumpu pada punggung tangan. Tangan kanannya mengulir mouse, membuka serta membaca satu per satu file yang ditinggalkan mendiang kedua orang tuanya
Entah sudah berapa kali ia berdecak kagum dengan apa yang ia baca.
Cara membuat obat menggunakan tanaman liar. Pembuatan penawar racun yang bekerja dalam tiga puluh detik. Pembuatan racun tanpa warna, aroma dan rasa yang larut sempurna dalam air putih. Bahkan cara membuat media pelumpuh saraf menggunakan batu beracun.
Salah satunya ...batu arsenik.
Realgar. Orpimen. Nama-nama itu ia hafal di luar kepala.
Semua itu memang tidak asing baginya, sebagian yang tertulis di sana sudah pernah ia lakukan di kehidupan sebelumnya. Di dalam ruangan yang penuh dengan sampel tanaman dan senyawa kimia, di bawah pengawasan Samuel yang menguras isi otaknya.
Ia menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan, lalu memejamkan mata, berusaha meredakan emosi yang tiba-tiba bergolak sekaligus memproses semua yang ia dapatkan. Sesaat kemudian, ia membuka matanya, kembali membaca file.
-Belladonna. Dosis 2mg\= halusinasi. 5mg\= henti jantung.
-Acontium ...dosis letal: 2mg. Gejala: kelumpuhan saaf, henti napas dalam empat menit ...tidak terdeteksi autopsi standar.
-Ekstraksi As203 dari realgar ...tumbuk halus, campur dengan ...
Ia berhenti menggulir, dahinya berkerut tipis saat ia menemukan video berdurasi singkat. Tanpa ragu, ia menekan 'play'.
Di layar, wajah Nares Arzanka-ayahnya muncul bersama Jovita Simarta-sang ibu, tersenyum menatap kamera. Dua wajah yang sangat Lea rindukan.
"Jika kamu menonton video ini, itu artinya kamu menemukan tempat ini, membaca banyak hal, dan kami tidak lagi bersamamu," ucap Nares. "Dan mungkin saja, kamu juga sudah menemui Don."
"Maafkan kami, Sweety," sambung Jovita. "Bukan maksud kami menyembunyikan kebenaran ini darimu. Kami lebih berharap kamu tidak perlu tahu tentang ini."
Nares menghela napas berat. "Dunia kita tidak sebersih yang kamu pikirkan, Sweetheart. Satu-satunya bahasa yang akan membuat mereka yang tidak tersentuh hukum berhenti melakukan kesalahan adalah racun. Dan penawarnya adalah negoisasi."
"Konsultan bisnis ..." ucap Nares pelan, lebih pelan dari yang terakhir kali Lea ingat. "Itu satu-satunya cangkang yang bisa kami gunakan agar kamu tidak bertanya mengapa kami lebih sering berada di rumah, dan mengapa saat kami pergi memerlukan waktu berhari-hari."
"Kami berharap kamu tidak mengikuti jejak kami," sambung Jovita. "Tinggalah bersama pamanmu. Hiduplah seperti yang kami impikan untukmu. Don mungkin terlihat garang, tapi percayalah, dia menyayangimu sebanyak kami sayang padamu."
"Tapi ..." nada suara Nares berubah menjadi lebih berat dari sebelumnya. "Jika kamu terpaksa menggunakan tanganmu seperti kami menggunakan tangan kami, semua yang kamu butuhkan ada di sini."
Video itu berakhir begitu saja tanpa salam perpisahan, layar kembali menampilkan barisan tulisan yang ia baca beberapa saat lalu.
Hening.
Hanya ada suara hujan di luar ruangan.
Ia menunduk, menatap kedua tanganya. Tangan yang diajari ayahnya beritung cepat, tangan yang diajari ibunya untuk membuat minuman penurun demam, tenyata adalah tangan yang mewarisi ilmu tentang cara menghentikan napas seseorang tanpa meninggalkan jejak.
Bibirnya terkatup rapat. Tidak ada suara isak tangis, hanya bunyi 'klik' yang sesekali terdengar saat jarinya menekan mouse. Kedua tangannya mengepal, membuat buku-buku jarinya memutih.
"Paman, boleh aku bertanya sesuatu?"
Kalimat itu tiba-tiba berdengung di telinga Lea. Pertanyaan yang ia ajukan di pertemuaan keduanya dengan Donantello
"Apa?"
"Kenapa namaku-..."
"Tidak menggunakan nama belakang ayahmu?" potong Donantello cepat.
Lea mengangguk.
"Tentu saja untuk melindungimu, menurutmu apa?" sahut Donantello kala itu.
Lea memejamkan mata sekali lagi, kali ini diikuti dengan bulir bening yang membasahi pipi tanpa ijin. Dadanya terasa sesak. Berulang kali ia merutuki dirinya sendiri mengapa di kehidupan sebelumnya ia tidak menemukan semua ini.
Kini, setelah melihat semua yang ditinggalkan oleh kedua orang tuanya, ia memiliki keyakinan jika kecelakaan yang menimpa kedua orang tuanya adalah kecelakaan sengaja.
Dan tugasnya, mencari kebenaran itu.
Ia kembali mengatur napas, meredakan gejolak di hatinya sambil menghapus linang di pipinya, berusaha menguatkan diri sendiri untuk kembali menggulir mouse. Dan saat itulah ia melihatnya.
Di antara daftar nama yang tertulis, ada satu yang memiliki rincian paling panjang. Rincian yang membuat ia yakin jika ia bisa mendapatkan kebenaran jika datang pada orang itu.
Tidak ada foto, tidak ada keterangan keluarga, tidak ada data diri selain nama, namun apa saja yang sudah dilakukan tertulis rapi di sana.
Angkasa Kalvandra Costa.
.
.
"Karena aku tahu wajah asli di balik topeng mafiamu, Aksa."
Kalimat yang Lea ucapkan membuat waktu seolah berhenti.
. . .
. ..
To be continued...
.
.
Hallo sahabat pembaca... Salam hangat... Salam sayang...
Autor mau cerita sebentar...
Autor mendapatkan bom atom dari editor yang sukses membuat mood menulis autor terjun bebas ke dasar samudra...😭😭🤧🤧🤧
Mau tau apa yang autor dapatkan? Sini Autor ajak kalian melihatnya.
Jadi....
Untuk para pembaca tersayang Autor... Tolong dengan amat sangat yaa.. Kalau baca karya ini, bukan cuma karya ini saja. Tapi di semua karya penulis lain juga. Kalau mau baca karya, cukup pakai satu akun saja... Jangan ganti akun, lanjut baca atau baca ulang menggunakan akun berbeda. Karena imbasnya di kami para penulis.
Rasanya dituduh melakukan hal yang tidak dilakukan tahu dong gimana rasanya...
Hati Autor potek dapet ini.. 💔💔😭😭😭
Sekian dulu dari Autor... Salam sayang buat kalian semua.
Autor sayang kalian....
smangaat