NovelToon NovelToon
DENDAM ISTRI PERTAMA

DENDAM ISTRI PERTAMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Motjaaa

⚠️ Harap mengatur emosi selama membaca ⚠️
"JANGAN PIKIR KARENA AKU LEMAH, AKU BAKALAN DIAM YA, MAS!"

10 tahun menikah, Hanum tidak pernah merasakan arti keluarga yang "Sakinah, Mawadah, Warahmah" seperti yang pernah diucapkan saat ijab kabul pernikahannya dulu.

Puncaknya, gara-gara kelakuan bejat suaminya itu, dia harus menanggung derita yang lebih berat dibandingkan sebelumnya.

"VANYA... KAU BOLEH SAJA MEREBUT SUAMI KU. AKU BERIKAN DIA, TAPI KAN KU REBUT SELURUH HIDUP KALIAN BERDUA!" — Hanum Arsyila Putri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Motjaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

27. Love u in the dark

Love u in the dark (Aku mencintaimu dalam kegelapan)— Bramasta Dirgantara Pratama

...----------------...

"Keluar lo, Bramasta!" Devan berteriak sekeras mungkin sambil menggedor-gedor pintu mobil hitam itu. Wajahnya tampak gusar, salah satu polisi segera menenangkan Devan.

"Percuma, Bramasta sudah gelap mata dengan perempuan itu," ucap Vanya yang kini tangannya telah diborgol oleh polisi. Memanas-manasi suasana.

Pintu mobil itu akhirnya terbuka. Segera Devan menarik paksa Bramasta dan melayangkan tinjunya.

"DASAR BEDEBAH SIALAN!"

Bramasta menerimanya dengan lapang dada. Tak mengelak sedikit pun.

"Berani-beraninya lo bawa Hanum?!" Devan menarik kuat kerah kemeja Bramasta. Tetapi pria itu terdiam dan menunduk lemas saja.

"Lo siapa, huh? Apa Hanum minta cerai karena laki-laki simpanannya?" Bramasta menyeringai.

Devan melepaskan cengkeramannya. "Ngaca! Lo yang selingkuhin istri lo sendiri, brengsek!"

Bramasta membalasnya dengan tertawa kecut. "Seharusnya gue gak lepasin Hanum saat itu..," ucapnya pelan.

"Gue masih mencintainya. I love her in the dark. Sayangnya gue ceroboh."

"Setelah lo hancurin perasaan Hanum?!" Devan hendak melayangkan satu pukulan lagi, tetapi polisi itu segera menengahinya.

"Sudah, Pak. Urusan ini mari kita selesaikan nanti. Untuk saat ini, mereka akan kami bawa ke kantor polisi," ucap polisi itu kepada Devan yang masih terbawa emosi. Dia membuang muka dan segera masuk ke dalam mobil. Menatap miris terhadap seorang perempuan yang terbaring lemah di kursi belakang dengan darah yang mengucur di kepalanya.

"Astaghfirullah, Hanum.., maafin aku..," ucap Devan menyesali dirinya yang tadi masih saja diam menunggui Hanum menyelesaikan urusannya.

Dia membawa Hanum ke dalam mobilnya. Sebelum itu, Bramasta yang hanya menatap kosong kepada Devan sempat berkata, "Gue seharusnya gak lepasin dia.., gue akui gue brengsek, Devan," ucapnya.

Namun, Devan tidak menghiraukannya sama sekali. Masa bodoh dengan kedua bajingan itu.

Setibanya di Rumah Sakit, Hanum dibawa ke UGD. Para perawat segera memeriksa keadaan Hanum dan meminta Devan untuk menunggu hasil pengecekan tersebut.

Waktu menuju pukul empat dini hari. Devan masih duduk di ruang tunggu sendirian. Hingga akhirnya salah satu dokter keluar dan memberitahukan keadaan Hanum.

"Syukurlah pasien dibawa dengan cepat, Pak. Tampaknya luka di kepalanya banyak mengeluarkan darah. Jadi, butuh beberapa jahitan dan istirahat dalam beberapa hari ke depan untuk memulihkan energinya kembali," terang Dokter kepada Devan.

"Baiklah, Dok. Tolong bawa Hanum ke ruangan VIP. Saya akan mengurus administrasi nya," ujar Devan sambil berterimakasih kepada Dokter.

Setelah mengurus administrasi, dia langsung masuk ke dalam ruangan Hanum. Meskipun sebenarnya dia tahu, penampilan perempuan itu seharusnya tidak boleh dilihat sebab Hanum tidak memakai penutup kepala sama sekali. Rambutnya yang hitam legam nan indah itu tergerai begitu saja.

Ingin rasanya dia menyentuh tangan perempuan itu dan memegangnya erat. Sayang sekali Hanum belum membalas perasaannya.

Suara dering telepon Devan membuatnya berdiri dan mengecek ponselnya. Telepon dari Bunda, ia pun segera mengangkatnya.

"Assalamualaikum, Nak. Kamu lagi dimana?"

"Waalaikumussalam, Bun.., Devan lagi di Rumah Sakit, Bun. Nemenin Hanum," ucap Devan siap menghadapi reaksi panik ibunya.

"INNALILAH, KENAPAA?? KOK BISA, NAK?! DIMANA ALAMATNYA BUNDA MAU KESANA SEKARANG!"

Devan menceritakan kejadian yang dialami oleh Hanum tadi dan mencoba menenangkan Bundanya.

"Habis subuh Devan pulang ke rumah ya, Bun. Sekalian kita barengan ke sini," pinta Devan pada Bunda.

"Ya sudah, jangan lama-lama ya datangnya. Kalau bisa langsung kesini," kata Bunda tampak masih khawatir.

Setelah telepon berakhir, Devan kembali menatap Hanum. Membayangkan apa yang sudah dihadapi oleh perempuan ini beberapa jam yang lalu membuatnya ingin terus berada di sampingnya. Waktu masih sisa sejam lagi untuk salat subuh. Devan bergegas keluar, menuju mobilnya dan pergi ke kantor polisi.

"Gimana kabar, Hanum?" ucap Bramasta dari balik jendela tahanan.

"Gue kesini bukan kasih info tentang Hanum." Devan masih muak dengan lontaran kata dari Bramasta.

"Serahin tanda tangan lo di sini," Devan menyodorkan iPad dan Stylus Pen miliknya sekaligus. "Lo harus kembaliin butik milik dia sekarang."

Bramasta menatap layar putih iPad itu dengan sinis. "Apa untungnya buat gue? Lo pikir gue mau, huh?"

"Lo udah rebut hak milik Hanum, Bram," ucap Devan dengan gusar. "Dan parahnya lo berikan ke orang yang sama sekali gak ada sangkut-pautnya sama dia. Jadi, kalau lo masih ada otak balikin sekarang juga!"

Bramasta tertawa kecil. "Gue masih heran sama lo. Lo siapa bisa-bisanya ikut campur masalah gue sama mantan bini gue?"

"Gue gak ikut campur, tapi status lo sekarang gue bisa."

"Kalau gue gak mau gimana?" Bramasta menatap dingin.

Devan mengangkat tangannya. "Gue gak bakalan biarin lo lolos dari sini."

"Haha.." Bramasta tertawa sebal. "Oke, gue tandatangani sekarang. Puas Lo?" Dia segera membuat tanda tangannya.

"Lagi pula butik itu sudah hancur. Bilang ke dia urusin lagi sampe kembali seperti biasa. Gue bakal ambil lagi," Bramasta terkejut saat tidak ada orang di depannya.

"BRENGSEK!"

Devan masuk ke dalam mobilnya. Lalu kembali ke rumah untuk menjemput Bunda sebelum waktu subuh tiba. Baginya, untuk mengurus dokumen pemindahan aset bisa dia serahkan pada salah satu temannya yang bekerja di bidang itu.

"Lo urus itu sekarang juga ya, Bre," ucap Devan saat menelponnya.

"Ok beres, Bro..Ntar gue kabarin."

Saat mobilnya merapat di rumah, dia melihat Bunda yang sudah membukakan pintu untuknya. Terkejut melihat banyak barang yang berjejer di depan teras.

"Bunda.., ini semua mau dibawa juga?" tanyanya keheranan.

"Iya, Nak. Bunda sudah siapkan semua makanan sama barang buat jaga Hanum sampai benar-benar pulih. Kamu istirahat dulu sana, biar Bunda sama Bi Inah yang masukin..," kata Bunda kini mulai mengangkat salah satu totebag.

"Bun.., ini masih gelap..," Devan tak habis pikir dengan ibunya ini.

"Habis Bunda khawatir sih. Ah, udah lah kamu cepetan sono siap-siap. Bunda tungguin."

Devan tersenyum. Dia segera masuk ke dalam kamarnya. Sejenak hal ini mengingatkan kembali pada adik kecilnya yang telah mendahuluinya. Betapa sedihnya Bunda kala adik perempuannya itu pergi, hatinya hancur berkeping-keping. Bahkan, suasana di dalam rumah itu hampa seolah tidak ada keluarga yang menghuninya. Hingga Hanum tiba, Bunda yang mulai menerima keadaan pun perlahan mengobati hatinya dengan menganggap Hanum sebagai putrinya sendiri. Terlebih Hanum juga seorang yatim piatu.

Tetapi kejadian malam ini membuat Bunda menjadi lebih tanggap dan perlahan tangguh. Dalam hatinya, Devan bersyukur atas anugerah ketenangan hati yang telah diberikan oleh Tuhan kepada bundanya.

"Bunda tunggu lima belas menit lagi ya! Pakai timer!" seru suara Bunda dari ruang tengah.

"Siap, Bos!"

1
silainge01
Kasih komen ya beb 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!