Demi cinta, Kataleya rela meninggalkan kokpit dan menyerahkan mimpinya menjadi Kapten Pilot pada suaminya, Arkana. Ia memilih menjadi istri dan ibu, mengorbankan karier yang dulu hampir berada di puncak.
Enam tahun kemudian, pengorbanan itu justru dibalas dengan pengkhianatan. Arkana berselingkuh, menghina penampilan Kataleya, dan menyebutnya wanita yang sudah tak pantas berdiri di sisinya.
Akan tetapi Arkana lupa satu hal, langit itu dulunya milik Leya. Saat wanita itu menuntut cerai dan kembali mengenakan seragam pilotnya, seluruh dunia penerbangan mulai menyadari siapa dia sebenarnya.
Di akademi pilot, ia bertemu Kaisar... pria misterius yang selalu berada di sisinya. Arkana baru sadar terlalu terlambat, wanita yang dulu ia rendahkan kini kembali terbang lebih tinggi darinya. Leya menjadi Kapten Pilot, yang tak akan pernah bisa ia miliki lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter — 19.
Esok malamnya, pesta penyambutan. Acara itu diadakan di ballroom sebuah hotel dekat bandara. Tempatnya luas, dengan lampu gantung yang menyala hangat. Musik live mengalun pelan dari panggung kecil di sudut ruangan. Meja-meja bundar tertata rapi, di sisi lain ada buffet panjang berisi makanan dan minuman.
Pilot, pramugari, teknisi, hingga staf manajemen maskapai mulai memenuhi ruangan. Suasana santai, tapi tetap terasa seperti acara resmi. Beberapa pilot senior berdiri di dekat bar kecil sambil bercanda. Sementara beberapa pramugari berkumpul di meja lain, tertawa membicarakan rute penerbangan.
Kaisar berdiri di dekat panggung bersama beberapa kapten pilot baru. Namun matanya sesekali melihat ke arah pintu masuk seperti sedang menunggu seseorang. Tak lama kemudian, pintu ballroom terbuka dan Leya melangkah masuk.
Wanita itu menggunakan gaun hitam sederhana yang jatuh sampai bawah, rambutnya dibiarkan terurai begitu saja dengan riasan tipis di wajahnya. Tidak berlebihan, tetapi tampak elegan.
Beberapa orang langsung menoleh.
"Bukankah itu kapten baru, yang katanya mendapatkan poin tertinggi di setiap ujian?“
“Namanya, Kataleya.“
"Cantik juga, ya. Meski usianya tidak semuda pilot lain... auranya tetap kelihatan."
"Kenapa aku merasa wajah dan namanya familiar?"
Bisik-bisik itu datang dari para pilot senior. Namun mereka bukan satu angkatan dengan Arkana dan Leya saat masih di akademi. Karena itu, hanya sedikit pilot yang tahu kalau Leya pernah menjadi istri Arkana.
Kaisar yang mendengar bisik-bisik kagum dari para pilot senior mulai merasa tidak nyaman. Ia tidak suka melihat banyak pria memperhatikan dan memuji-muji kecantikan Leya.
Tanpa menunggu lama, ia berjalan ke arah wanita itu.
“Leya, akhirnya kau datang juga. Aku sempat panik waktu kau bilang tak mau dijemput tadi," kata Kaisar sambil cemberut.
Leya terkekeh geli. “Kau tahu? Kalau wajahmu seperti ini, kau mirip Ical kecil yang selalu manja padaku."
“Aku sudah bilang, aku nggak suka dipanggil begitu. Kau kekanak-kanakan sekali," gerutunya.
Leya tertawa pelan. “Oke oke... kau sudah dewasa sekarang."
Kaisar mengambil dua gelas minuman non-alkohol dari meja dekat pintu, ia menyerahkan satu gelas pada Leya.
“Kapten Leya, selamat datang di dunia penerbangan.“
Leya menerima gelas itu, “Kau juga.“
Ting!
Keduanya bersulang, lalu mereka berdiri di dekat jendela besar yang menghadap ke arah bandara. Lampu landasan terlihat seperti garis panjang bercahaya di kejauhan.
“Apa kau masih nggak percaya, sudah sampai sejauh ini?" tanya Kaisar.
“Sedikit."
"Akhirnya... impianmu enam tahun lalu menjadi kapten pilot yang sempat kau lepaskan, sekarang bisa kau raih lagi.“
Leya tersenyum getir. "Aku akui, enam tahun lalu... aku terlalu bodoh."
“Sekarang, kamu bebas memilih hidupmu sendiri. Dan kalau suatu hari kamu mau menerimaku... percayalah, aku tak akan pernah memotong sayapmu. Kamu tetap bisa berkarier sampai kamu sendiri yang ingin berhenti.“ Kaisar menatap Leya dengan pandangan dalam.
Mata wanita itu seketika melebar, ia jelas tak menyangka Kaisar akan menyatakan hal seperti itu.
“Aku nggak ngerti yang kamu bicarakan, sebaiknya kita kembali bergabung dengan yang lain." Tanpa menunggu jawaban, Leya berbalik dan melangkah pergi.
Kaisar hanya menghela nafasnya, ia tak berniat menyerah dan akan terus mencoba sampai hati Leya terbuka untuknya.
Di sisi lain ruangan, Arkana berdiri dengan segelas minuman di tangannya. Matanya tertuju pada Leya yang terlihat sangat cantik. Penampilan wanita itu hampir sama seperti enam tahun lalu, begitu memukau dengan aura yang kuat. Melihat mantan istrinya tertawa bersama Kaisar membuat dadanya terasa sesak, apalagi banyak pria yang memuji-muji Leya.
Seorang pilot senior namun dua angkatan dibawahnya, menepuk bahu Arkana.
“Kapten Arkana, dari tadi diam saja. Apa ada sesuatu?"
Arkana menggeleng seraya menyesap minumannya. “Tak ada.“
Acara resmi dimulai beberapa saat kemudian, Direktur umum maskapai naik ke panggung.
“Selamat malam semuanya. Malam ini... kita berkumpul untuk menyambut lima belas kapten pilot baru yang akan bergabung dengan Maskapai Penerbangan Nusantara.“
Tepuk tangan terdengar di seluruh ruangan. Lalu nama-nama kapten pilot baru dipanggil satu persatu ke atas panggung.
“Kapten Kataleya...“
Beberapa orang kembali bertepuk tangan, Leya naik ke atas panggung bersama para kapten baru lainnya. Kaisar masih berdiri di bawah panggung, sambil memperhatikan Leya dengan bangga.
Setelah acara formal selesai, suasana kembali santai. Musik dimainkan lebih hidup, beberapa orang mulai berdansa. Pilot dan pramugari bercampur dalam obrolan ringan. Di antara para pramugari itu ada Shanaz. Namun ia hanya diam saja, tidak terlihat berniat mengusik Leya.
Sekitar satu jam kemudian, Leya berdiri di dekat meja makanan bersama beberapa pramugari. Ia mendengarkan dengan fokus ketika salah satu dari mereka bercerita tentang penumpang panik saat turbulensi.
Tak lama kemudian, Leya menaruh gelas di meja. “Maaf, saya permisi."
Leya berjalan keluar dari ballroom menuju lorong hotel yang lebih sepi. Lampunya redup, suara musik dari ballroom terdengar samar-samar. Baru saja beberapa langkah ia berjalan, ketika suara seseorang memanggilnya.
“Leya...“
Wanita itu berhenti, ia langsung tahu suara siapa itu. Ia menoleh dengan ekspresi jengah. “Ada apa lagi, Kapten Arkana?"
Arkana berjalan mendekat. “Aku ingin bicara..."
“Kita sudah selesai bicara kemarin, pergi!“ Leya berniat kembali melanjutkan langkahnya, tetapi pria itu tiba-tiba meraih pergelangan tangannya.
“Arkana! Lepas!"
Namun Arkana malah menariknya sedikit lebih dekat, tubuh keduanya hampir saling menempel.
“Leya, aku salah. Ternyata aku mencintaimu. Aku... nggak bisa berhenti memikirkanmu. Aku benar-benar menyesal...“
“Lepas...!!!“ Leya mulai memberontak, namun cekalan Arkana sangat kuat.
Pria itu menarik Leya lebih dekat dan mencoba mencium bibir wanita itu. Leya langsung memalingkan wajahnya.
“Apa yang kau lakukan?!“ teriak Leya, ia mendorong dada Arkana dengan kuat.
Namun Arkana tetap mencoba mendekat. “Aku cuma ingin—“
Belum selesai ia menyelesaikan kalimatnya, seseorang menarik kerah jasnya dari belakang dengan keras
“Lepaskan dia! Bajingan!“
Arkana terpental mundur, Kaisar berdiri di sana dengan wajah marah.
Leya terlihat lega. “Kai..."
Arkana menatap Kaisar dengan tajam. “Jangan ikut campur! Pergi!"
Kaisar mendengus muak. “Cih! Dasar pecundang! Leya sudah bilang padamu, lepaskan dia!“
Arkana maju lalu mendorong Kaisar mundur setengah langkah. Namun detik berikutnya...
BUGH!
Kaisar memukul wajah Arkana dengan sangat keras sampai pria itu meringis. Beberapa detik kemudian Arkana membalas menyerang, pukulannya mengenai bahu Kaisar.
Pukulan demi pukulan terjadi di lorong hotel, Leya kaget melihat perkelahian kedua pria itu.
“Berhenti! Kalian berhenti!“
Namun keduanya sudah terlanjur emosi, Arkana mencoba memukul lagi tapi Kaisar berhasil menghindar dan kembali memukul Arkana.
BUGH!
Pukulan Kaisar kali ini mengenai rahang Arkana sampai punggungnya menabrak dinding.
Suara keributan mulai terdengar sampai ke dalam ballroom, beberapa orang berlari keluar.
“HEY! BERHENTI...!!“
Dua pilot senior langsung menarik Kaisar mundur, sementara yang lain menahan Arkana.
“Sudah-sudah! Apa kalian gila?!"
Arkana terengah-engah, bibirnya berdarah.
Kaisar juga bernafas berat, matanya masih menatap tajam ke arah Arkana. Dia menunjuk wajah Arkana dengan tatapan dingin. “Berani ganggu dia lagi, aku pastikan kau menyesal seumur hidupmu!“
Arkana tak terima, dia ingin maju lagi tapi dua orang menahannya.
“Sudah cukup!“
Leya berdiri tak jauh dari mereka, wajahnya pucat. Ia menatap Arkana dengan kebencian yang dalam. “Mulai sekarang, jangan pernah mendekatiku lagi!"
Arkana terdiam, tatapan Leya yang penuh kebencian padanya membuatnya tak bisa berkata-kata.
Beberapa menit kemudian, situasi mulai tenang. Beberapa orang membawa Arkana menjauh, sementara Kaisar masih berdiri di tempat.
Leya mendekatinya. "Ayo obati, kamu berdarah."
Kaisar menyentuh sudut bibirnya, “Hanya sedikit, tak masalah.“
Leya menghela nafas, ia merasa bersalah. “Kai, kamu nggak perlu melakukan semua ini."
"Aku tidak suka melihat wanita yang aku cintai disakiti," kata Kaisar sambil kembali menatap Leya dalam-dalam.
Leya terdiam, namun pada akhirnya dia tidak menanggapi apapun. Mereka berdua tak menyadari, seseorang merekam semua keributan dan perkelahian itu dengan ponsel.
Shanaz tersenyum menyeringai, besok dia akan membuat maskapai gempar.
biasa ny kn benci jd berubah jd cinta ,,
eeeits tp anda bukan tokoh utama dsni ,, mending kerja aj yg professional yx rafii ,, jgn menghancurkn apa yg sudh km miliki skrang ,, jgn kaya si arkana2 tu ,, 😒😒😒😒
perlu berendam di kawah gunung merapi ni shanaz biar otak ny rileks🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣