Aldi Mahendra seorang pemuda yang hidup sebatang kara, dia dari usia empat tahun hidup di jalanan. Hingga akhirnya bertemu seorang kakek yang mengangkatnya menjadi cucunya. Aldi di sekolah hingga lulus SMK, kini dia bekerja sebagai kuli panggul di pasar.
Walaupun uangnya tak seberapa tapi bisa untuk makan setiap hari, apalagi pekerjaan untuk lulusan SMK itu sedikit susah. Aldi di pandang rendah oleh siapapun hingga saat ini berusia 19 tahun dia tetap berusaha hidup di setiap gempuran ombak yang besar datang di kehidupannya.
Semua berubah ketika mendapatkan sebuah cincin merah delima, kehidupannya berubah menjadi lebih baik lagi tapi sesuatu keanehan di kedua matanya membawa dia kedalam dunia yang seharusnya tidak terjadi.
Perjalanan kota maupun di desa menjadi tolak ukur bagi pengalaman Aldi menjadi lebih berani lagi, seperti bentuk tubuhnya yang tinggi dan kekar dengan wajah tegasnya mulai terlihat dalam perjalanan hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon D.P. Auzora., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sita Mendapatkan Masalah
"Al, lu udah bilang sama adik gue kalau pulang?," tanya Niko.
"Iya barusan tadi," balas Aldi.
"Ngambek tuh dia!!, tapi untung sih lu pinter banget bilang boleh kedesa kalau pas libur," ujar Niko.
"Iya siapa tau kan!!, pengen main lagi bareng kita disini," Aldi berkata.
"Iya juga ya!, kok gue gak kepikiran untuk ajak pulang kampung kalau libur kuliah sedikit lama," Niko tidak pikiran kesana barulah Aldi berkata seperti itu Niko juga berencana akan mengajak adiknya kerumah di desa.
Setelah obrolan singkat mereka, mereka melanjutkan lagi perjalanan pulang kampung. Dalam perjalanan pulang itu Aldi selalu merasakan perasaan gelisah, entah apa yang membuat Aldi merasakan itu masih dalam tanda tanya.
Tempat pukul 15.30 akhirnya Aldi dan Niko sampai di Desa Joyo, dengan langkah perlahan mereka menurunkan barang-barang milik Aldi ke dalam rumahnya.
Niko berpamitan untuk pulang karena ada yang harus di kerjakan di rumah, Aldi sendiri kebingungan di rumah karena lemari dia sudah tak layak pakai lagi.
Dia keluar dari rumah sambil membawa kresek cukup sedang berisi oleh-oleh untuk Mbak Sita dan Bima. Tepat dia sampai!, ada sebuah keributan di rumah Sita.
Dengan kebingungan Aldi berlari untuk melihat ada apa. Aldi sangat terkejut ternyata Mantan suami Mbak Sita pulang untuk menjual paksa rumah yang seharusnya sudah milik mbak Sita.
Amarah Aldi meledak ketika melihat luka di pelipis Sita yang mengeluarkan darah, kontrol emosi Aldi benar-benar tak bisa di tahan. Dia menarik kerah baju mantan Suami Sita. Aldi yang mendengarkan keseluruhannya hingga ada keributan kembali membuat dia berdiri di depan Sita.
Badan Tinggi dan besar sekaligus otot-otot Aldi langsung meregang memegang kerah baju Anton, mantan suami Sita.
"Enak bener lu bang, tiba-tiba dateng kesini paksa jual tanah mbak Sita. Maksud lu apaan!!," ujar Aldi, dengan tatapan tajam.
Anton yang badannya kalah tinggi dan besar nyali sedikit ciut.
"Bukan begitu mas, -bukan begitu apa hah apa!!," Anton yang ingin berkata langsung di potong oleh nada tinggi Aldi.
"Lu itu jadi laki-laki goblok bener, sudah ninggalin anak terus lu kesini mau ambil tempat tinggal dia!!, aku tanya maksudmu apa bang hah.. apaa?," dengan penuh emosi Aldi mendorong tubuh Anton hingga terduduk di tempatnya.
Lina istri baru dan sekaligus teman Sita yang menjadi hancur berkeping-keping rumahnya tangga bersuara dengan nada tinggi tak terima dengan tindakan pemuda itu.
"Kamu jangan dorong-dorong suamiku bangsat..," teriaknya, Lina sangat kesal walaupun ada ketakutan.
Aldi yang mendengarkan itu tatapan seketika menajam membuat Pak RT dan Ketua Desa sedikit terkejut dan rasa takut mereka mulai tubuh entah darimana.
"Teman macam apa kamu hahh!, dasar wanita murahan. Kau rebut suami temanmu sendiri yang sudah memiliki anak!!, kau itu perempuan!!, kalau kau punya hati gak mungkin semurah itu," balas Aldi, dengan kata-kata sangat tajam membuat kekesalan Lina semakin menjadi-jadi.
Sita yang melihat itu hanya menangis tersedu-sedu menahan lengan Aldi agar tidak berbuat kasar lagi. Pak RT kini juga menahan Aldi yang suaranya cukup keras ketika emosi tidak seperti Aldi yang tenang.
Niko dan pemuda lainnya yang mendengar kabar ada keributan mereka langsung berkumpul untuk datang ke rumah Sita.
Aldi menarik napasnya dalam-dalam menahan segala amarahnya yang meledak-ledak, dengan perlahan kini Aldi duduk di samping Sita sambil membersihkan lukanya.
"Biar lu cepat pergi dari sini, 200 juta setengah dari rumah ini gua yang kasih. Dan lu,!! Aldi berhenti sejenak dengan tatapan tajam dia melanjutkan ucapannya "pergi gak perlu datang kesini lagi!, pahamkan dua manusia gak punya malu," suara lantang Aldi, cukup mengejutkan semua orang yang baru datang.
Anton masih tidak mengenali siapa sebenarnya pemuda di depannya yang membela Sita begitu besarnya, apalagi Lina sendiri hanya terdiam ketika di hina oleh Aldi.
"Oke, gue akan pergi gak akan kembali kesini," balas Anton.
Aldi membuka hpnya meminta nomor rekening Anton langsung mengirimkan uang 200 juta secara langsung, Lina yang melihat itu senyum kemenangan tapi kebencian dia terhadap Aldi terlihat jelas.
"Inget ya lu bang!," Aldi berkata dengan suara begitu dalam ketika Anton hendak pergi, Anton berhenti dengan Lina melihat tatapan tajam dengan otot-otot lengan terlihat begitu menyeramkan bagi mereka berdua.
"Gue Aldi sampai tau lu bikin sakit lagi mbak Sita gua habisin lu," suara Aldi begitu tajam dengan rahang yang sedikit mengeluarkan gertakan menahan emosi.
Anton terkejut tak menyangka, pemuda yang dulu selalu di rawat oleh Sita dan di bantu sekarang menjadi pelindungan terbaik bagi Sita. Apalagi ketika menerima uang itu dia berfikir keras kenapa bisa Aldi sudah sebasar itu.
Anton dengan senyum sinis dia pergi dari rumah Sita dengan teriakan warga desa dan pemuda yang baru datang. Kini Aldi duduk di samping Sita yang masih menangis tersedu-sedu.
Beberapa warga desa di minta pulang oleh Ketua desa dan Pak RT, Niko sendiri tetap berada disitu melihat Aldi yang masih menahan amarahnya. Kedua kalinya Niko melihat Aldi marah ini masih di tahan jika tidak sudah habis pria tadi.
"Sudah Al, tenangkan dirimu," pinta ketua desa.
"Sabar Al, semua sudah kamu selesaikan," ikut pak RT berkata pelan.
"Iya ketua desa, pak RT. Maaf kalau saya tidak bisa mengontrol emosi saya," balas Aldi dengan pelan.
"Iya sudah saya mau kembali pulang dulu," ucap ketua desa.
Ketua desa dan pak RT pun pergi meninggalkan Aldi, Niko dan Sita yang masih duduk di sofa kecil.
Sita terus menerus menangis tersedu-sedu di bahu Aldi dia sangat berterima kasih dan bingung harus bagaimana selanjutnya. Aldi berusaha menenangkan mbak sita, sambil membersihkan air matanya dia sangat tidak suka wanita yang selalu membantu dia di sakiti.
"Bima kemana mbak?," tanya Aldi.
"Dia di rumahmu Al, tadi aku ke rumahmu karena Bima ingin tidur di kamar satunya," balas Sita, dia berusaha menenangkan dirinya.
"Al," panggil pelan Sita.
"Iya mbak," balas Aldi.
"Mbak gak tau harus mengganti uangmu bagaimana caranya," Sita berkata dengan air matanya turun kembali.
"Sudah mbak jangan pikirkan uang itu. Yang terpenting mbak sekarang kuat saja demi Bima, kasihan kalau Bima liat mama tercantiknya ini menangis," balas Aldi.
Sita yang mendengarkan itu akhirnya dia sadar bahwa hidupnya masih memiliki harapan terbesar untuk membesarkan anak satu-satunya, dengan perlahan Sita menghapus air matanya lalu dia memandang wajah Aldi begitu dalam.
Pandangan Sita memiliki makna sekaligus arti kekaguman kepada seorang pemuda yang dulu kecilnya dia ajari hingga besar kini ternyata menjadi perlindungan pertama dalam mengahadapi masalah untuk pertama kalinya.
"Kerumah aja yuk mbak!, disini sudah gak enak karena tadi," ajak Aldi.
"Oi Al gua disini!, gak diajak ngomong apa," seru Niko, dia sedikit kesal.
"Oh iya lupa gua. Ini aja deh!!, bantu carikan aku lemari kayu yang bagus nanti harganya chat aja," pinta Aldi.
"Oke siap bos," balas Niko, lalu pergi meninggalkan Aldi dan Sita.
Dengan perlahan Aldi dan Sita pergi dari rumah dengan mengunci pintunya.
Setelah sampai rumah Aldi mengambil alat kesehatan yang dia punya sisa luka sebelumnya, dengan perlahan Aldi membersihkan kembali luka di pelipis Sita.
Setelah selesai Aldi membuatkan teh hangat agar Sita lebih tenang dan rileks, lalu Aldi mengambil oleh-oleh yang akan di berikan kepada mbak Sita dan Bima.
"Mbak ini oleh-olehnya," dengan perlahan Aldi memberikan oleh-oleh itu.
"Loh kok ponsel Al, lalu dua pakaian ini buat aku gitu?," tanya Sita yang kebingungan.
"Ponselnya buat bara sekolah nanti. Kalau pakaiannya biar Mbak Sita makin cantik aja," balas Aldi.
Sita yang mendengarkan itu tersenyum kecil, dia sangat senang sekaligus bahagia ternyata kebaikannya dulu kepada Kakek Budi dan Aldi kini memberikan perlindungan nyata kepadanya.
"Coba mbak pakai, biar aku yang pertama kali melihat janda anak satu memakai gaun indah itu," pinta Aldi.
"Ish kamu bisa aja. Iya mbak pakai sebentar," balas Sita.
Dia masuk kedalam kamar Aldi untuk mencoba gaun itu setelah memakai dia berjalan keluar dengan begitu cantiknya. Aldi yang melihat itu sangat terpesona dengan kecantikan Sita yang begitu sempurna.
Sita tersenyum melihat Aldi bengong tanpa berkata apa-apa, dalam hati Sita sangat suka dengan apa yang di berikan Aldi. Pakaian sederhana yang begitu mewah namun dia tidak tau harganya berapa.
"Aldi jangan bengong dong," ucap Sita.
Aldi yang mendengarkan itu langsung tersadar, dengan sedikit gugup Aldi berkata. "Mbak Sita benar-benar cantik seperti dulu lagi," ujar Aldi.
°°°°°°°
Ceritanya udah bagus, hanya tinggal memperbaiki peletakkan tanda baca.