NovelToon NovelToon
10 Cara Melihat Hantu

10 Cara Melihat Hantu

Status: tamat
Genre:Horor / Misteri / Hantu / Tamat
Popularitas:762
Nilai: 5
Nama Author: Ilza_

10 Cara Melihat Hantu adalah kisah misteri yang menggabungkan rasa penasaran manusia terhadap dunia gaib dengan konsekuensi menakutkan yang tak terduga. Cerita ini berpusat pada seorang remaja bernama Alin yang menemukan sebuah buku tua berdebu berjudul sama—10 Cara Melihat Hantu—di sudut perpustakaan yang hampir terlupakan.
Awalnya, buku itu tampak seperti panduan biasa yang berisi sepuluh metode berbeda untuk membuka “mata batin” dan melihat makhluk tak kasatmata. Mulai dari ritual sederhana seperti menatap cermin di tengah malam, hingga cara yang lebih ekstrem seperti mengunjungi tempat angker seorang diri. Didorong oleh rasa ingin tahu, Alin mencoba satu per satu cara tersebut, tanpa menyadari bahwa setiap langkah yang ia ambil semakin menarik dirinya lebih dalam ke dunia yang seharusnya tidak ia sentuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9: Yang Tidak Pernah Pergi

Pagi datang… tapi tidak benar-benar membawa terang.

Raka terbangun dengan napas tersengal, seolah ia baru saja berlari jauh. Keringat dingin membasahi bajunya.

Ia langsung terduduk, matanya menyapu seluruh kamar.

Semuanya terlihat normal.

Terlalu normal.

Buku itu masih ada di meja.

Cermin pecah semalam kini sudah tidak berserakan—seolah tak pernah ada. Bahkan kursi yang sempat jatuh kini kembali berdiri rapi.

“Tidak mungkin…” gumamnya pelan.

Ia bangkit perlahan, mendekati meja dengan hati-hati.

Tangannya menyentuh buku itu.

Dingin.

Lebih dingin dari udara di sekitarnya.

Raka menelannya ludah, lalu membuka halaman terakhir yang ia ingat.

Kosong.

Tidak ada tulisan.

Padahal semalam… halaman itu penuh.

Ia membolak-balik halaman dengan cepat. Semua kosong.

Tak ada satu pun petunjuk, seolah buku itu kembali menjadi benda mati.

“Apa semua ini… cuma mimpi?” bisiknya.

Namun pertanyaan itu langsung terjawab ketika ia menatap tangannya.

Ada luka kecil di telapak tangannya.

Bekas sayatan.

Bekas pecahan cermin.

Raka terdiam.

“Jadi… itu nyata…”

Tiba-tiba, suara ketukan terdengar dari pintu.

Tok. Tok. Tok.

Raka menoleh cepat.

“Ka, kamu sudah bangun?” suara ibunya terdengar dari luar.

Suara yang biasa.

Menenangkan.

Namun entah kenapa, kali ini terdengar… berbeda.

“Iya, Bu…” jawab Raka, meskipun suaranya sedikit bergetar.

Pintu terbuka perlahan.

Ibunya masuk dengan senyum hangat, membawa segelas teh.

“Kamu kelihatan capek. Semalam begadang lagi?” tanyanya lembut.

Raka menatap ibunya.

Wajah itu sama.

Senyum itu sama.

Tapi…

Ada sesuatu yang mengganggu.

“Ibu…” Raka ragu. “Semalam… Ibu dengar apa-apa?”

Ibunya mengerutkan kening.

“Dengar apa?”

“Suara… atau mungkin… sesuatu dari kamar aku?”

Ibunya menggeleng pelan.

“Tidak ada. Kamu cuma mimpi buruk, ya?”

Raka terdiam.

Mimpi buruk.

Kalimat itu terasa terlalu sederhana untuk menjelaskan apa yang ia alami.

“Iya… mungkin,” jawabnya akhirnya.

Ibunya tersenyum, lalu mengusap kepalanya.

“Jangan terlalu banyak mikir yang aneh-aneh. Nanti malah kebawa mimpi terus.”

Raka mengangguk pelan.

Namun saat ibunya berbalik untuk keluar—

Raka melihat sesuatu.

Bayangan ibunya di lantai…

Tidak mengikuti gerakannya.

Bayangan itu… diam.

Raka membeku.

“Ibu…” panggilnya pelan.

Ibunya berhenti di depan pintu.

“Iya?”

Raka menatap bayangan itu.

Masih diam.

“Tidak apa-apa…” katanya cepat.

Ibunya tersenyum lagi, lalu keluar dan menutup pintu.

Klik.

Sunyi.

Raka menoleh lagi ke lantai.

Bayangan itu sudah normal.

Seolah tak pernah terjadi apa-apa.

“Tidak… ini tidak mungkin…” bisiknya.

Ia mundur perlahan, duduk di tepi tempat tidur.

Pikirannya kacau.

Kalau semalam nyata… berarti sesuatu masih tersisa.

Sesuatu belum selesai.

Tatapannya kembali ke buku di

meja.

Kosong.

Tapi ia tahu… buku itu tidak pernah benar-benar kosong.

Dengan tangan gemetar, ia

menyentuh halaman pertama.

Dan saat itu—

Tulisan muncul.

Perlahan.

Seperti tinta yang meresap dari dalam kertas.

“Kau pikir semuanya berakhir?”

Raka menarik tangannya cepat.

Jantungnya berdegup kencang.

Tulisan itu terus berlanjut.

“Yang kau buka… tidak bisa ditutup sepenuhnya.”

“Tidak…” Raka menggeleng.

“Kami tidak datang dari luar.”

Tulisan itu semakin cepat

muncul.

“Kami… selalu ada.”

Lampu kamar berkedip.

Sekali.

Dua kali.

Lalu stabil kembali.

Raka menatap sekeliling.

Tidak ada bayangan aneh.

Tidak ada suara.

Namun perasaan itu—

Masih ada.

Perasaan sedang diawasi.

Ia berdiri perlahan, berjalan menuju jendela.

Cahaya matahari masuk,

menyinari kamar.

Memberi rasa aman yang semu.

Raka menatap ke luar.

Jalanan terlihat biasa.

Orang-orang beraktivitas seperti biasa. Tidak ada yang aneh.

Namun saat ia menatap kaca jendela—

Pantulannya terlihat… terlambat bergerak.

Raka langsung menjauh.

“Cukup…” katanya pelan.

Ia memegang kepalanya.

“Aku harus berhenti.”

Ia menoleh ke buku itu lagi.

Untuk pertama kalinya, ia merasa takut untuk mendekat.

Bukan karena apa yang akan ia lihat…

Tapi karena apa yang mungkin tidak bisa ia hentikan.

Tiba-tiba, ponselnya bergetar.

Sebuah pesan masuk.

Dari nomor yang tidak dikenal.

Raka ragu sejenak, lalu membukanya.

Isi pesannya singkat.

“Kamu juga lihat, kan?”

Raka membeku.

Jari-jarinya gemetar.

Ia membalas dengan cepat.

“Siapa ini?”

Beberapa detik kemudian, balasan datang.

“Aku pernah baca buku itu juga.”

Napas Raka tercekat.

“Dan sekarang… mereka ikut aku.”

Raka menelan ludah.

“Kita harus ketemu.”

Jantungnya berdegup semakin

kencang.

Ia menatap layar ponselnya lama.

Ini pertama kalinya ia tahu… ia tidak sendirian.

Namun entah kenapa—

Itu tidak membuatnya merasa lega.

Justru sebaliknya.

Lebih menakutkan.

Ia mengetik perlahan.

“Di mana?”

Balasan datang hampir seketika.

“Tempat yang sama seperti awal semuanya.”

Raka mengernyit.

“Awal…?”

Pikirannya langsung menuju satu tempat.

Tempat ia menemukan buku itu.

Gudang tua di belakang sekolah.

Tempat yang seharusnya sudah lama ditutup.

Raka menggenggam ponselnya

erat.

Pilihan ada di tangannya.

Pergi… dan mungkin

menemukan jawaban.

Atau…

Tetap di sini… dan membiarkan semuanya terus

menghantuinya.

Ia menatap buku itu sekali lagi.

Halaman kosong.

Namun ia tahu… buku itu sedang menunggu.

Menunggu untuk dibuka lagi.

Raka menarik napas panjang.

“Aku harus mengakhiri ini…” bisiknya.

Ia mengambil jaketnya.

Langkahnya masih ragu, tapi matanya mulai menunjukkan tekad.

Saat ia membuka pintu kamar—

Ia berhenti.

Di ujung lorong, ia melihat sesuatu.

Seseorang berdiri di sana.

Diam.

Membelakanginya.

Tubuhnya tinggi… kurus… dan terlalu pucat.

Raka tidak bergerak.

“Bu…?” panggilnya pelan.

Sosok itu tidak menjawab.

Perlahan—

Kepalanya berputar.

Bukan tubuhnya.

Hanya kepalanya.

Berputar… hingga menghadap Raka.

Wajahnya—

Adalah dirinya sendiri.

Namun dengan senyum yang sama seperti di cermin semalam.

Raka mundur selangkah.

Dan saat ia berkedip—

Sosok itu menghilang.

Lorong kembali kosong.

Sunyi.

Seolah tak pernah ada apa-apa.

Raka berdiri terpaku.

Napasnya berat.

“Ini belum selesai…” gumamnya.

Ia melangkah keluar dari kamar.

Kali ini, tanpa ragu.

Karena ia tahu satu hal.

Apa pun yang terjadi—

Ia tidak bisa lari lagi.

Dan di suatu tempat…

Sesuatu sedang menunggunya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!