"Jangan pakai namaku untuk karakter mati tragis, Elodie!"
Peringatan Blair diabaikan. Ia justru terbangun sebagai Charlotte Lauren Blair, istri durhaka dan ibu kejam dalam novel sahabatnya. Di naskah asli, ia akan mati mengenaskan dikhianati selingkuhannya, Andreas.
Misi Blair hanya satu: Batalkan Kematian!
Namun, rencananya terhambat oleh suaminya, Ralph Liam Alexander. CEO dingin yang ditakuti dunia itu selalu menatapnya tajam. Tapi tunggu... kenapa Blair bisa mendengar suara hati suaminya yang sangat berisik?
Liam (Dingin): "Jangan harap kau bisa bercerai dariku!"
Suara Hati Liam (Bucin): [Tolong jangan pergi... Aku mencintaimu sampai mau gila. Satu langkah kau menjauh, aku akan mengurungmu di kamar selamanya!]
Ternyata, sang "Monster" adalah simp kelas berat yang takut kehilangan dirinya! Bisakah Blair mengubah alur tragis ini, meluluhkan hati putranya yang membencinya, dan bertahan dari obsesi gila sang suami?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34: Perjamuan Para Pengkhianat
"Aku tidak tahu sejak kapan meja makan rumahku berubah menjadi panggung sandiwara untuk mengumpulkan sampah-sampah dari masa lalu, Maximilian."
Suara Liam yang berat dan penuh tekanan menggetarkan udara di ruang makan malam itu. Ia berdiri tegak di depan kursinya, tangannya mencengkeram sandaran kursi mahoni hingga urat-urat di punggung tangannya menonjol tajam. Matanya yang hitam pekat berkilat penuh amarah, menatap lurus ke arah Maximilian yang duduk dengan tenang di ujung meja.
Namun, bukan Maximilian yang memicu kemarahan Liam sedahsyat itu. Melainkan sosok pria yang duduk di sebelah Maximilian—seorang pria paruh baya dengan setelan jas murah yang mencoba terlihat mewah, wajahnya yang penuh kerutan kemunafikan sangat kukenali dari foto-foto lama di laci Blair.
Dia adalah Bapak Sanjaya, mantan pengelola keuangan pribadi Blair sepuluh tahun lalu—pria yang menghilang setelah dituduh menggelapkan dana warisan ibu kandung Blair.
[Bajingan ini... kenapa dia ada di sini?! Sanjaya adalah orang yang menghancurkan kepercayaan Blair terhadap uang. Dia yang membuat Blair depresi sepuluh tahun lalu! Maximilian benar-benar gila, dia membawa pria ini untuk memancing emosi Blair. Jika Blair meledak, dia akan dicatat sebagai 'tidak stabil'. Tenang, Liam... jangan biarkan mereka melihatmu goyah. Tapi sial! Aku ingin meninju wajah Sanjaya sekarang juga!]
Aku menghela napas panjang, menepuk pelan punggung tangan Liam untuk menenangkannya. Aku melirik Sanjaya yang tampak gemetar namun berusaha tetap tegak karena perlindungan Maximilian.
"Tuan Sanjaya," ucapku dengan nada yang sangat tenang, hampir seperti desiran angin malam. "Aku terkesan kau masih punya keberanian untuk muncul di hadapanku setelah sepuluh tahun bersembunyi di lubang tikus mana pun kau berada."
Sanjaya menelan ludah, suaranya parau. "N-Nyonya Blair... saya di sini hanya untuk meluruskan sejarah. Tuan Maximilian meminta saya memberikan kesaksian tentang... kondisi keuangan dan mental Anda di masa lalu."
Maximilian menyesap anggur merahnya, lalu menyela dengan nada datar. "Audit gaya hidup tidak akan lengkap tanpa kesaksian dari orang yang paling dekat dengan urusan finansial Anda sebelum 'perubahan' besar ini terjadi, Nyonya. Tuan Sanjaya mengklaim bahwa sepuluh tahun lalu, Anda memberikan kuasa penuh atas aset Anda karena Anda... sering merasa 'mendengar suara-suara'."
Aku tertawa. Bukan tawa histeris, melainkan tawa dingin seorang profesional perbankan yang baru saja mendengar lelucon akuntansi yang buruk.
"Suara-suara?" aku mencondongkan tubuh ke arah meja, menatap Sanjaya hingga pria itu memalingkan muka. "Atau mungkin itu suara nuranimu yang berteriak saat kau memalsukan tanda tanganku untuk mencairkan deposito di bank swasta itu? Tuan Maximilian, Anda membawa seorang terpidana kasus penggelapan—yang catatan kriminalnya baru saja dihapus oleh pihak tertentu—sebagai saksi ahli?"
Maximilian menaikkan alisnya, tampak sedikit terkejut. "Catatan kriminal?"
"Axelle," panggilku tanpa menoleh.
Axelle yang duduk di sampingku langsung membuka tabletnya. "Data dari Kepolisian Daerah menunjukkan bahwa Sanjaya adalah DPO kasus penipuan tahun 2016. Namun, empat puluh delapan jam yang lalu, statusnya berubah menjadi 'Bersih' melalui akses dari server yang berbasis di Zurich. Sangat kebetulan, bukan?"
Liam menyeringai dingin, ia kembali duduk namun auranya tetap mengintimidasi. "Sepertinya Raven Trust mulai menggunakan taktik kotor dengan mempekerjakan kriminal hanya untuk menjatuhkan seorang wanita."
[Bagus, Axelle! Anak pintar! Lihat wajah Maximilian, dia mulai merasa dipermalukan. Tapi tunggu... ada yang aneh. Sanjaya terus melirik ke arah pintu dapur. Apa ada orang lain? Apa dia membawa bukti fisik? Blair, tetaplah di sampingku. Apapun yang dia bawa, aku akan menghancurkannya sebelum sampai ke tangan Maximilian.]
"Kesampingkan soal catatan hukumnya sejenak," Maximilian kembali tenang. "Tuan Sanjaya, Anda bilang Anda membawa 'Buku Harian Finansial' milik Nyonya Blair dari sepuluh tahun lalu? Buku yang menunjukkan ketidakteraturan pola pikirnya?"
Sanjaya merogoh tasnya, mengeluarkan sebuah buku catatan kulit berwarna kusam. "Ini... Nyonya Blair selalu menuliskan angka-angka yang tidak masuk akal di sini. Dia sering merasa bahwa uangnya akan berubah menjadi kertas biasa jika dia tidak melakukan ritual tertentu..."
Buku itu diletakkan di atas meja. Liam hendak meraihnya, namun aku lebih dulu menahan tangannya.
"Biarkan aku, Liam," bisikku.
Aku mengambil buku itu. Membukanya halaman demi halaman. Isinya memang tulisan tangan Blair yang asli—berantakan, penuh coretan depresi, dan angka-angka yang memang tampak gila. Elodie benar-benar telah merusak mental Blair asli lewat obat-obatan itu hingga dia menulis hal-hal seperti ini.
"Sangat menarik," ucapku sambil menutup buku itu. "Tuan Maximilian, apakah Anda tahu apa yang tertulis di halaman terakhir buku ini?"
Maximilian menyipitkan mata. "Apa?"
"Sebuah daftar nomor rekening rahasia yang beralamat di Swiss, atas nama 'L. Alexander'. Rekening yang digunakan untuk menyalurkan dana hibah kepada firma hukum Raven Trust selama tiga puluh tahun terakhir," aku berbohong. Aku tidak tahu apa isinya, tapi aku menggunakan teknik gertakan perbankan n "Jika buku ini masuk ke pengadilan audit, maka seluruh independensi Raven Trust akan dipertanyakan karena menerima 'uang suap' dari pendiri Alexander Group."
Wajah Maximilian memucat untuk pertama kalinya. "Itu mustahil."
"Coba saja periksa," aku menyodorkan buku itu kembali padanya dengan senyum penuh kemenangan. "Atau Anda ingin kita membedah isi buku ini di depan media besok pagi?"
Sanjaya gemetar hebat, ia menyadari permainannya telah berbalik arah. "T-Tuan Maximilian, saya tidak tahu soal itu! Saya hanya diminta membawa bukunya!"
"Pergi!" bentak Liam pada Sanjaya. "Pergi dari rumahku sebelum aku memastikan kau kembali ke sel penjara dalam satu jam!"
Sanjaya lari terbirit-birit meninggalkan ruang makan. Maximilian berdiri, merapikan jasnya dengan tangan yang sedikit gemetar. Ia menatapku dengan tatapan yang kini bukan lagi sekadar curiga, tapi penuh dengan kewaspadaan tingkat tinggi.
"Anda benar-benar wanita yang berbahaya, Nyonya Blair," gumam Maximilian.
"Aku hanya melindungi apa yang menjadi milikku, Tuan Maximilian," sahutku tenang. "Silakan lanjutkan makan malam Anda. Tapi ingat, setiap kali Anda mencoba menggali masa laluku, Anda mungkin akan menemukan lubang yang cukup besar untuk menenggelamkan reputasi Raven Trust sendiri."
Setelah Maximilian pergi, Liam langsung memelukku dari samping, napasnya keluar dengan sangat lega.
[Ya Tuhan... dia luar biasa. Bagaimana dia bisa tahu soal rekening rahasia itu? Apa itu benar ada? Atau dia hanya menggertak? Tapi cara dia melakukannya... dia terlihat seperti ratu yang sedang memegang pedang. Aku sangat bangga sekaligus takut. Aku tidak ingin kehilangan wanita sehebat ini.]
Aku menyandarkan kepalaku di bahu Liam. "Itu hanya gertakan, Liam. Tapi dia tidak akan berani memeriksanya dalam waktu dekat."
"Mama benar-benar keren!" seru Axelle sambil memberikan jempol.
Namun di balik kemenangan kecil ini, aku tahu Elodie—meski fisiknya sudah tidak ada di sini—masih meninggalkan jejak beracun dalam buku itu. Aku harus segera mencari tahu apa sebenarnya "ritual" dan "obat-obatan" yang dimaksud Sanjaya tadi, sebelum Maximilian menyadari bahwa gertakanku hanya kosong belaka.
semoga bisa menghibur semuanya...
mending kalian berdua pergi biar Liam nyesek/Right Bah!/