Dituduh menjual jasad anak kandungnya sendiri, Raznalira Utami (28 th) tidak hanya kehilangan buah hatinya tetapi juga rumah tangganya. Suaminya menceraikannya tanpa memberi kesempatan untuk menjelaskan.
Dalam keterpurukan hidupnya, Razna menerima tawaran menjadi ibu susu bagi bayi laki-laki milik seorang duda muda konglomerat, Rendra Mahardika (35th). Demi bertahan hidup, ia menekan masa lalunya dan masuk ke dunia baru yang terasa asing, dingin, dan penuh rahasia.
Namun takdir seolah belum selesai mempermainkannya.
Di rumah megah itu, Razna bertemu dengan seorang wanita misterius yang membuat darahnya seketika membeku. Wanita tua yang dulu membeli jasad anaknya.
Apa tujuan sebenarnya wanita itu membeli jasad bayi Razna?
Apa hubungan wanita tua itu dengan Rendra?
Kecurigaan Razna berubah menjadi ketakutan saat perlahan ia menyadari sesuatu yang mustahil, apakah itu?
Happy reading 💕
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FR Nursy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23. Ada Titik Terang
Surti membawa dua gelas teh hangat, di sela jari-jarinya tergantung plastik putih yang berisi roti. Senyumnya samar. Dia duduk di samping Razna yang belum menyadari kehadirannya.
"Mbak Razna, minumlah! Setidaknya minuman ini bisa memberi kehangatan tubuh dan pikiranmu," ujarnya lembut.
Razna menoleh sesaat, matanya tertuju pada gelas dan plastik berisi roti yang disodorkan Surti untuknya. Entah sudah berapa jam Razna menahan rasa haus dan lapar.
"Surti...." lirihnya.
"Minum dan makanlah! Dari tadi perut Mbak belum terisi apa-apa," titah Surti perhatian, ia merasa kasihan melihat Razna yang tertekan karena masalah tersebut.
Razna menerima gelas itu dengan tangan gemetar.
"Terima kasih, Ti..."
Surti menatap lorong rumah sakit yang sepi.
Matanya memindai sekeliling. Wanita yang ia perhatikan sejak tadi sudah tidak terlihat lagi.
"Mbak..." panggilnya pelan.
"Iya Ti, ada apa?" Razna menoleh sesaat, seraya sambil memakan roti dengan pelan.
"Saya hanya ingin memastikan, Mbak. Sebelum kejadian tadi siang, Mbak lihat kan Bantal penahannya masih rapi?" tanya Surti, masih mempertanyakan kejadian tadi siang.
Razna langsung mengangguk cepat. Dia sangat yakin, sebelum meninggalkan Finza sendirian di kamar, posisi bantal penahan masih tersusun rapi di pinggir kasur, sehingga bisa dipastikan, bayi akan aman.
"Iya. Saya ingat sekali, Ti. Saya bahkan sempat memastikan posisi bantal sebelum ke kamar mandi," katanya setelah menelan rotinya di suapan pertama.
Surti terdiam. Keningnya berkerut semakin dalam.
"Berarti memang ada yang aneh. .." Gumamnya pelan, matanya menatap lurus ke depan.
Razna menoleh. Dia masih belum paham dengan ucapan Surti.
"Maksud kamu, Ti?"
Surti diam sejenak, dia tampak ragu. Tak lama kemudian bibirnya bergerak dan berkata dengan serius.
"Tadi sebelum Finza terjatuh, saya melihat seseorang berdiri cukup lama di dekat kamar Mbak,"
Deg.
Jantung Razna seolah berhenti saat itu juga. Dia segera meminum teh yang dibawa Surti barusan untuk menetralkan pikirannya.
"Yang benar Ti? Tapi mungkin saja dia hanya sekedar lewat..."
"Engga Mbak, saya lihat dia berdiri lama di depan kamar lalu masuk kamar Mbak dengan mengendap-endap," jelas Surti, yang mendapat tatapan serius dari Razna.
"Siapa orang itu, apa kamu melihat wajahnya?"
Surti menggeleng pelan, "Lampu lorong tiba-tiba mati, Mbak. Jadi saya tidak bisa melihat wajah orang itu. Tapi saya yakin orang itu, seorang wanita,"
Razna menghela nafas perlahan.
"Tapi saya mencurigai seseorang, Mbak..."
"Siapa?"
"Nona Danara."
"Nona Danara?" tanyanya pelan, tidak percaya.
Surti mengangguk pelan. Dia memang mencurigai gerak-gerik dan perlakuan Danara terhadap Razna akhir -akhir ini.
"Tapi saya tidak berani menuduh tanpa bukti. Saya hanya merasa sejak tadi sikapnya aneh, Mbak," ujar Surti hati-hati.
Razna langsung terdiam, pikirannya mendadak kacau. Dia teringat bagaimana Danara terus memojokkannya sejak tadi bahkan terlalu bersemangat menyalahkannya, apalagi kalau ada Rendra.
Razna segera menggeleng pelan.
"Tidak mungkin .." bisiknya lirih.
Surti menatap Razna dalam-dalam. Tangannya menyentuh lengan Razna.
"Mbak harus lebih berhati-hati. Tidak semua orang di rumah itu suka melihat kedekatan Mbak dengan Finza apalagi kalau Mbak dekat dengan Tuan Rendra," jelas Surti mengingatkan agar lebih waspada.
Kalimat itu membuat dada Razna terasa sesak. Seingatnya, dia tidak pernah macam-macam dengan siapa pun. Apalagi dengan Danara. Dia sangat menghormati adik ipar majikannya itu.
Belum sempat ia memberi tanggapan, suara langkah kaki terdengar mendekat ke arah mereka.
Danara muncul dari ujung lorong sambil membawa tas mahal di tangannya. Di tangan satunya dia membawa buket buah-buahan sebagai buah tangan, agar bisa masuk ruangan itu.
Tatapannya langsung berhenti saat melihat Surti dan Razna duduk bersama. Langkahnya terhenti tepat di depan mereka.
"Astaga, ternyata kalian masih di sini?" tanya Danara sambil tersenyum tipis, namun senyum itu terasa dingin.
Surti hanya diam dan memalingkan wajahnya. Malas menatap wajah wanita yang ada di hadapannya itu.
Sementara Razna hanya menundukkan wajahnya.
"Tuan Rendra itu sudah menyuruh kamu pulang, kan? Kenapa masih bertahan di sini?" tanyanya lembut tetapi terdengar sangat menusuk.
"Saya hanya ingin memastikan Finza baik-baik saja, Nona. Saya khawatir Finza haus dan lapar," jawab Razna pelan.
Danara tertawa kecil lalu mengibaskan tangannya.
"Setelah berhasil membuatnya jatuh?"
Ucapan itu langsung membuat wajah Razna menjadi pucat.
Surti mulai tidak tahan mendengar ucapan Danara yang selalu menyudutkan Razna. Dia berdiri menatap tajam Danara.
"Maaf Nona, Mbak Razna juga sebenarnya tidak sengaja..."
"Tapi tetap saja dia sudah ceroboh," potong Danara cepat. Tatapannya kemudian turun, meneliti Razna dari atas kepala hingga kaki dengan sorot dingin.
"Kalau benar sayang sama Finza, harusnya kamu sadar diri dong. Kamu itu cuma ibu susu, bukan ibu kandungnya. Jadi jangan berharap lebih," tunjuknya dengan sorot mata yang tajam.
Kalimat itu menghantam hati Razna begitu keras hingga air matanya kembali jatuh tanpa suara.
Danara menatap puas saat melihat Razna kembali menangis. Kini ia semakin yakin, bahwa wanita di hadapannya itu benar-benar sedang terluka.
Sementara itu di ruang rawat, Rendra duduk di samping ranjang bayi sambil memperhatikan Finza yang sedang tertidur lelap setelah menangis cukup lama. Tatapannya masih dipenuhi kekhawatiran. Sesekali ia mengusap kepala kecil Finza dengan lembut.
"Maafkan Papa. Hampir saja papa kehilanganmu..." gumamnya pelan.
Pikirannya masih kacau membayangkan tubuh kecil itu terjatuh dari kasur tanpa pengaman di sisinya.
Telinga Rendra mulai terusik oleh keributan kecil yang ia dengar dari luar. Ternyata pintu ruangan itu tidak tertutup dengan sempurna sehingga suara dari luar terdengar cukup jelas.
"Sepertinya ada keributan di luar.." gumam Rendra sambil mengeryitkan dahi.
Dia langsung bangkit dari tempat duduknya. Dia melangkah menuju pintu, untuk memastikan sumber suara tersebut.
Dari sana, Rendra melihat interaksi yang tidak bersahabat antara adik iparnya dan Razna. Ada rasa kasihan melihat Razna yang selalu mendapatkan perlakuan kurang baik dari Danara. Dia pun tertegun ingin lebih memahami situasi dan kondisi wanita itu.
Bagaimanapun Razna adalah ibu susu bagi anak laki-lakinya.
Finza masih membutuhkan Razna. Apalagi kasih sayang Razna bisa dilihat sejak pertama kali menjadi ibu susunya. Hanya satu kesalahan yang belum bisa dibuktikan dengan jelas, Razna sudah mendapatkan tekanan dari Danara.
"Kalau benar sayang sama Finza, harusnya kamu sadar diri dong. Kamu itu cuma ibu susu, bukan ibu kandungnya. Jadi jangan berharap lebih,"
kalimat itu tidak hanya menghantam jiwa Razna namun hati Rendra pun merasa teriris, karena hal ini menyangkut masa depan anak kandungnya.
Dari balik pintu, Rendra terus mendengarkan ucapan Danara yang membuat telinganya panas juga. Tidak seharusnya adik iparnya itu mengatakan hal yang buruk pada Razna. Tatapan Rendra langsung berubah dingin. Rahangnya mengeras. Tangannya membuka pintu dengan sempurna.
"Danara!"
raz.. kan dia kerja.. tp kmcemburu .. dan km yg berharap sama Rendra
padahal Rendra ngk suka ma km.. dia ngangap km adik .. pahamm!
udah jadi adek ipar masih aja ngelunjak pgen jdi istri... ngk tau diri
Degar sendiri kan dra klakuan adek ipar mu...