NovelToon NovelToon
Sistem Absolut: Evolusi Tanpa Batas

Sistem Absolut: Evolusi Tanpa Batas

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem / Action
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: septian123

Di dunia yang kejam, tempat di mana yang lemah selalu diinjak, dia hanyalah sampah yang diremehkan. Namun, ketika nyawa nyaris terenggut dan pengkhianatan terasa di setiap sudut, sebuah sistem misterius muncul memberinya kesempatan untuk bangkit.

Dari titik terendah, ia memulai perjalanan menaklukkan dunianya, mengasah kekuatan, dan mengungkap rahasia di balik kekuasaan yang tersembunyi. Setiap pertarungan bukan hanya soal kekuatan, tapi strategi, kepercayaan, dan pengorbanan. Dari seorang yang hina, ia perlahan berubah menjadi sosok yang tidak bisa diremehkan, menantang dewa dan musuh yang lebih kuat dari imajinasi.

Apakah ia akan menjadi penakluk dunia atau korban dari permainan yang lebih besar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23 - Tim Sementara

Area bercabang itu tidak hanya luas, tetapi juga terasa seperti pusat dari sesuatu yang lebih besar. Dinding batu di sekelilingnya dipenuhi retakan yang lebih dalam, dan cahaya redup yang keluar dari celah-celah itu bergerak tidak stabil, seolah mengikuti ritme yang tidak teratur. Udara terasa sedikit lebih padat dibandingkan sebelumnya, membuat setiap tarikan napas terasa berat walau tidak sampai mengganggu.

Alverion Dastan tetap diam di posisinya, memperhatikan perubahan kecil di lingkungan sekitar. Ia tidak hanya fokus pada jalur di depan, tetapi juga pada reaksi orang-orang di sekitarnya. Cara mereka berdiri, arah pandangan, hingga jeda dalam napas, semuanya memberikan gambaran yang lebih jelas daripada kata-kata yang mereka ucapkan.

Kaelvarion Thorne melangkah setengah langkah ke depan, matanya bergerak dari satu jalur ke jalur lain. Ia tidak terburu-buru menentukan arah, seolah sedang menyusun kemungkinan di dalam pikirannya.

“Kita tidak akan memilih secara acak,” katanya akhirnya.

Eryndor Vale mendengus pelan, tetapi kali ini tidak langsung membantah. Ia terlihat mulai menahan diri, meskipun jelas tidak sepenuhnya setuju dengan cara Kaelvarion mengambil alih situasi.

Serin Althaea mengangkat tangan sedikit, energi halus mulai berputar di sekitarnya. Ia memejamkan mata, mencoba membaca aliran yang tidak terlihat.

“Jalur kiri lebih stabil,” ucapnya pelan. “Tapi bukan berarti aman.”

Nerithra Solen melirik ke arah yang sama, lalu mengangguk tipis.

“Yang kanan terasa lebih kacau. Ada sesuatu yang bergerak di sana.”

Lysera Virel menyilangkan tangan, mempertimbangkan.

“Kalau begitu kita ambil yang lebih stabil dulu. Kita belum cukup tahu untuk mengambil risiko besar.”

Kaelvarion tidak langsung menjawab. Ia menoleh sedikit ke arah Alverion, seolah ingin melihat apakah ada pendapat lain.

Alverion tidak menghindari tatapan itu.

“Stabil bukan berarti tidak berbahaya,” katanya tenang. “Tapi itu memberi kita waktu untuk membaca pola.”

Kaelvarion tersenyum tipis.

“Cukup.”

Keputusan diambil tanpa banyak perdebatan lanjutan. Mereka mulai bergerak ke jalur kiri dengan formasi yang sedikit diperbaiki, meskipun jarak antar kelompok masih terasa jelas. Tidak ada yang benar-benar menyatu, hanya berjalan dalam arah yang sama dengan tujuan yang belum sepenuhnya selaras.

Lorong di jalur kiri terasa sedikit lebih luas, tetapi bukan berarti nyaman. Permukaan tanahnya lebih rata, namun retakan cahaya di dinding tampak lebih aktif, berdenyut dengan ritme yang sulit ditebak. Setiap beberapa langkah, cahaya itu meredup lalu kembali terang, menciptakan bayangan yang bergerak tidak konsisten.

Alverion memperlambat langkahnya sedikit, membiarkan orang lain berada setengah langkah di depannya. Ia tidak ingin berada di garis depan, tetapi juga tidak ingin tertinggal. Posisi seperti ini memberinya ruang untuk mengamati tanpa terlalu menarik perhatian.

Beberapa menit berlalu tanpa gangguan langsung, tetapi perasaan tidak nyaman justru semakin jelas. Keheningan di tempat ini bukan karena tidak ada apa-apa, melainkan karena sesuatu sedang menunggu.

Dan itu terbukti tidak lama kemudian.

Suara kecil terdengar dari atas.

Bukan langkah, bukan gesekan biasa, melainkan suara seperti batu yang bergeser pelan.

Semua langsung berhenti.

Lysera mengangkat tangan sebagai tanda.

“Jangan bergerak.”

Eryndor menatap ke atas, matanya menyipit.

“Di mana?”

Serin tidak membuka mata.

“Di atas kita. Lebih dari satu.”

Kalimat itu cukup membuat suasana berubah.

Alverion mengangkat pandangannya perlahan. Dinding di atas mereka tidak sepenuhnya halus, ada tonjolan dan celah kecil yang sebelumnya tidak terlalu diperhatikan. Dalam kondisi cahaya yang tidak stabil, bagian itu mudah diabaikan.

Dan di sanalah mereka berada.

Beberapa bayangan kecil bergerak di antara celah batu, hampir menyatu dengan warna dinding. Jika tidak diperhatikan dengan seksama, mereka terlihat seperti bagian dari lingkungan.

“Lebih kecil dari sebelumnya,” gumam Eryndor.

Nerithra langsung membalas dengan nada datar.

“Jumlahnya lebih banyak.”

Belum ada yang bergerak.

Namun tekanan di udara berubah.

Makhluk-makhluk itu tidak langsung menyerang. Mereka berpindah perlahan, seolah mengamati dari atas, menunggu momen yang tepat.

Alverion memperhatikan pola gerakan mereka. Tidak acak, tidak juga sepenuhnya teratur. Mereka seperti saling memberi ruang, menjaga jarak, tetapi tetap berada dalam satu ritme yang sama.

“Mereka tidak menyerang sembarangan,” katanya pelan.

Kaelvarion mengangguk.

“Mereka menunggu.”

Eryndor menghela napas kasar.

“Kalau begitu kita paksa mereka turun.”

Ia melangkah sedikit ke depan, tetapi sebelum ia sempat melakukan sesuatu, salah satu makhluk itu jatuh.

Bukan melompat.

Jatuh dengan kecepatan tinggi.

Serangan pertama datang tanpa peringatan yang jelas.

Lysera bereaksi cepat, menarik tubuhnya ke samping. Makhluk itu menghantam tanah di tempat ia berdiri sebelumnya, menciptakan suara benturan yang cukup keras.

Namun itu hanya awal.

Dalam hitungan detik, yang lain mengikuti.

Beberapa jatuh dari atas, sementara yang lain bergerak menyusuri dinding dengan kecepatan yang sulit diikuti mata. Mereka tidak menyerang secara bersamaan, tetapi bergantian dengan ritme yang membuat celah hampir tidak ada.

“Formasi,” kata Kaelvarion singkat.

Timnya langsung merespons, membentuk posisi yang lebih terstruktur. Nerithra bergerak ke sisi kanan, menjaga area yang mulai dipenuhi bayangan.

Di sisi lain, Lysera mencoba mengatur ulang posisi timnya.

“Jangan terpencar,” katanya.

Namun kondisi tidak semudah itu.

Serangan datang dari berbagai arah, memaksa mereka untuk terus bergerak. Tidak ada waktu untuk berdiri diam terlalu lama, karena setiap jeda bisa menjadi celah bagi makhluk-makhluk itu.

Eryndor mulai menyesuaikan diri. Serangannya tidak lagi seagresif sebelumnya, tetapi lebih terarah. Ia mulai membaca pola jatuh dan pergerakan makhluk itu, mencoba memotong jalur mereka sebelum menyerang.

Serin mempertahankan jaraknya, membangun lapisan energi yang lebih stabil. Kali ini, ia tidak mencoba menahan serangan secara langsung, tetapi mengalihkan arah dan mengurangi dampaknya.

Alverion masuk ke dalam ritme pertarungan tanpa banyak bicara. Ia tidak mencoba mengambil alih, hanya menyesuaikan dengan alur yang ada. Setiap gerakannya lebih hemat, lebih terukur, tidak membuang tenaga untuk hal yang tidak perlu.

Ia mulai melihat sesuatu.

Makhluk-makhluk ini tidak hanya bergerak cepat, tetapi juga saling menyesuaikan. Ketika satu gagal menyerang, yang lain langsung mengisi celah tanpa jeda yang jelas. Mereka tidak membutuhkan komunikasi yang terlihat, tetapi tetap bergerak seperti satu kesatuan.

“Jangan ikuti pola mereka,” katanya.

Lysera menoleh sekilas.

“Maksudmu?”

“Mereka yang mengatur ritme. Kalau kita terus mengikuti, kita akan kehabisan tenaga lebih dulu.”

Kaelvarion mendengar itu.

“Ubah tempo,” katanya langsung.

Nerithra mengerti lebih dulu. Ia mundur setengah langkah, membiarkan satu serangan lewat tanpa ditahan, lalu membalas di momen yang tidak terduga. Pola yang sebelumnya konsisten mulai terganggu.

Eryndor menyesuaikan, meskipun sedikit terlambat. Serangannya menjadi lebih tidak terduga, tidak lagi mengikuti alur sebelumnya.

Perubahan itu kecil.

Namun cukup untuk mengganggu.

Makhluk-makhluk itu mulai kehilangan sinkronisasi yang sempurna. Beberapa serangan mereka meleset tipis, memberi ruang yang sebelumnya tidak ada.

Alverion memanfaatkan celah itu.

Satu gerakan cepat, cukup untuk menjatuhkan satu makhluk sebelum ia sempat menyesuaikan diri. Tubuhnya langsung hancur menjadi partikel energi, menghilang seperti sebelumnya.

Namun tidak ada waktu untuk memperhatikan lebih lama.

Yang lain masih ada.

Pertarungan terus berlanjut, tetapi kali ini mereka tidak lagi sepenuhnya tertekan. Ritme mulai berpindah perlahan, meskipun belum sepenuhnya berada di tangan mereka.

Di tengah kekacauan itu, Alverion menyadari sesuatu yang lebih mengganggu.

Energi di sekitar mereka berubah.

Bukan karena pertarungan.

Melainkan karena sesuatu yang lain.

Ia melirik ke arah lebih dalam lorong.

Cahaya di retakan dinding berdenyut lebih cepat dari sebelumnya.

Dan untuk sesaat, ia merasa seperti ada sesuatu yang memperhatikan dari balik kegelapan yang lebih jauh.

Bukan makhluk kecil ini.

Sesuatu yang lebih besar.

Ia tidak mengatakan apa pun.

Namun pikirannya sudah mencatat satu hal penting.

Pertarungan ini mungkin hanya bagian kecil dari sesuatu yang belum mereka pahami sepenuhnya.

1
Manusia Ikan
bruh bro punya sistem, dan akan menjadi OP
Manusia Ikan
dadah pecundang😏👋
Manusia Ikan
😌👉itu tragis, tapi aku suka. aku akan menambahkan kejadian yang serupa di karya ku juga. karena aku memerlukan karakter baru
Manusia Ikan
bro anda sudah menjelaskan bagian ini :v
Manusia Ikan
baiklah aku mulai tertarik. aku akan mengikutinya perlahan lahan😌👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!