Siti Alesia, anak jawara silat yang tewas konyol, terbangun di tubuh Permaisuri Alessia—wanita lemah yang dijadikan "mesin pembuat anak" dan ditindas hingga mati oleh selir licik.
Tapi mereka salah sasaran. Alesia bukan wanita yang bisa menangis! Dengan mulut pedas dan jurus Golok Seliwa, ia mengobrak-abrik aturan kolot istana. Selir yang meracuninya? Dibanting sampai encok! Ibu Suri yang galak? Dibuat kicep lewat diplomasi sambal terasi!
Raja Magnus yang sedingin es dan sekaku kanebo kering pun dibuat meleyot. Sang penguasa kini sadar; istrinya bukan lagi pajangan, melainkan macan betina yang siap membelah siapa pun yang berani menyentuh harga dirinya.
"Bang Magnus, jangan kaku-kaku amat! Mending latihan silat sama gue, biar otot lu kaga karatan!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27: Proklamasi Jiwa Dan Titik Didih Orizon
Kemenangan di Lembah Kabut seharusnya menjadi momen perayaan, namun kabut yang menyelimuti hati Magnus justru semakin tebal. Di dalam ruang kerja darurat di tenda militer, sebuah dokumen dengan segel lilin hitam dari Biara Utara tergeletak di atas meja. Isinya bukan lagi sekadar fitnah, melainkan deklarasi perang suci.
"Ibu Suri sudah gila," desis Magnus, suaranya parau karena kurang tidur. "Dia merilis dokumen ke seluruh aliansi kerajaan tetangga. Dia menyatakan bahwa Alessia yang asli telah wafat di jurang itu, dan raga yang sekarang kau huni adalah Iblis 'Bintang Jatuh' yang harus dimusnahkan demi keselamatan dunia."
Alesia, yang sedang asyik mengunyah singkong bakar di sudut ruangan, nyaris tersedak. Ia meneguk air putihnya dengan cepat. "Waduh, si Emak beneran kagak ada matinya ya, Bang? Udah diasingkan ke gunung bukannya tobat malah jadi admin lambe turah internasional."
"Ini serius, Siti," Magnus menatapnya tajam, namun ada kilat kecemasan di matanya. "Jika para raja tetangga percaya, mereka akan membentuk koalisi. Orizon akan dikepung dari empat penjuru. Mereka tidak akan melihat ini sebagai invasi, tapi sebagai penyucian."
Alesia meletakkan sisa singkongnya. Ia berdiri dan berjalan mendekati Magnus, lalu duduk di pinggiran meja, menatap suaminya dengan lekat. "Bang, dengerin gue. Kebenaran itu kayak kentut, mau ditutupin kayak gimana juga baunya bakal kecium. Sekarang masalahnya, mereka mau percaya bau yang mana?"
"Maksudmu?"
"Ibu Suri punya dokumen, tapi gue punya bukti nyata," Alesia mengetuk keningnya. "Gue punya rakyat Orizon yang udah gue selametin dari haus dan wabah. Rakyat itu kalau udah sayang, mereka bakal lebih galak dari singa. Kita jangan cuma siapin benteng, kita harus siapin mental rakyat."
Keesokan harinya, Alesia meminta Magnus mengumpulkan seluruh perwakilan rakyat, mulai dari petani, pedagang, hingga para veteran perang di alun-alun kota terdekat. Suasana sangat tegang. Bisikan tentang "Permaisuri Iblis" sudah mulai merayap di antara mereka.
Alesia berdiri di atas panggung tinggi tanpa mahkota. Ia hanya mengenakan pakaian sederhana yang ia pakai saat gerilya kemarin, lengkap dengan noda lumpur yang sengaja tidak ia bersihkan seluruhnya.
"Warga Orizon! Dengerin gue!" suara Alesia menggema, dibantu oleh corong bambu yang ia modifikasi. "Gue denger ada surat dari gunung yang bilang kalau gue ini iblis. Katanya, Alessia yang asli udah mati, dan gue ini siluman yang mau ngerusak kerajaan kalian."
Suasana alun-alun mendadak sunyi senyap. Semua mata menatapnya dengan campur aduk antara takut dan bingung.
"Gue kaga bakal bohong sama kalian," lanjut Alesia, matanya menyisir kerumunan. "Emang bener, gue bukan Alessia yang kalian kenal dulu. Alessia yang dulu itu lemah, sering nangis, dan kaga bisa ngapa-ngapain pas kalian kesusahan. Tapi liat gue sekarang! Gue yang turun ke selokan bareng kalian! Gue yang nyampur obat buat anak-anak kalian! Gue yang numpahin minyak goreng buat ngusir musuh!"
Alesia maju satu langkah ke tepi panggung. "Kalau iblis itu artinya orang yang mau kotor-kotoran buat rakyatnya, kalau iblis itu artinya orang yang berani mati demi perbatasan ini, maka silakan... panggil gue iblis sepuas kalian!"
Seorang petani tua maju ke depan, suaranya gemetar. "Tapi Gusti... Ibu Suri bilang raga Anda sudah tidak memiliki jiwa manusia..."
"Pak Tua," Alesia tersenyum tulus. "Jiwa itu bukan dari apa yang tertulis di kertas, tapi dari apa yang gue lakuin buat kalian. Apa iblis bakal peduli sama got yang mampet? Apa iblis bakal nangis liat anak kecil sembuh dari demam? Kalian yang ngerasain sendiri, bukan Ibu Suri yang duduk manis di gunung!"
Tiba-tiba, Lily maju ke depan panggung dan berteriak sekuat tenaga. "Demi Dewata! Hamba adalah saksi setiap malamnya! Permaisuri kita adalah berkah! Beliau bukan iblis, Beliau adalah pelindung kita!"
"Hidup Permaisuri!" teriak seorang prajurit dari barisan belakang.
"Hidup Gusti Alesia!" suara itu mulai menjalar, dari satu orang menjadi puluhan, hingga ribuan orang di alun-alun bersorak serempak.
Malam harinya, di dalam benteng pertahanan utama. Magnus memandangi peta pertahanan kota yang sedang disusun oleh Jenderal Kael.
"Rakyat sudah di pihak kita, Bang," ucap Alesia sambil masuk membawa dua cangkir kopi hitam—racikan barunya dari biji kopi hutan utara. "Sekarang tinggal gimana kita ngadepin koalisi itu. Mereka pasti bakal dateng bawa pasukan gede."
Magnus menerima kopi itu, menyesapnya perlahan. "Mereka akan menyerbu melalui gerbang utama. Kita tidak punya cukup orang untuk menahan kepungan dari luar jika mereka menyerang serempak."
"Makanya, kita jangan nunggu dikepung," Alesia menunjuk titik di peta, sebuah lembah sempit menuju ibu kota. "Kita pake taktik 'Psikologi Perang'. Kita bikin mereka mikir kalau istana ini beneran berhantu. Kita kasih mereka pertunjukan yang kaga bakal mereka lupain."
"Maksudmu?" Jenderal Kael bertanya dengan dahi berkerut.
"Kalian punya kembang api atau bubuk mesiu buat perayaan kan? Kita campur sama belerang dan pewarna. Kita bikin kabut warna-warni di sepanjang jalan. Terus, tim Mata-Mata Mawar gue bakal pake kostum yang... ya, agak nyeremin dikit lah. Kita mainin mental mereka sebelum pedang mereka sempet keluar dari sarungnya."
Magnus tertawa kecil, ia meletakkan kopinya. "Kau benar-benar ingin membuat mereka percaya pada fitnah Ibu Suri?"
"Kagak, Bang. Gue cuma mau kasih mereka 'pemanasan' biar mereka mikir dua kali. Pas mereka lagi bingung dan ketakutan liat kabut warna-warni dan suara-suara aneh, di situlah pasukan lu masuk buat nangkep mereka tanpa banyak tumpah darah. Efisien kan?"
Magnus menarik Alesia ke dalam pelukannya. "Taktikmu selalu di luar nalar, tapi entah kenapa aku selalu merasa itu akan berhasil."
"Gue ini lulusan 'Universitas Kehidupan Jalanan', Bang. Di sana, kalau lu kaga pinter muter otak, lu bakal kemakan sama keadaan," Alesia membalas pelukan itu, menyandarkan kepalanya di dada Magnus yang bidang.
Tiba-tiba, suara kepakan sayap burung merpati terdengar di jendela. Lily mengambil pesan yang terikat di kakinya.
"Gusti... Yang Mulia Raja," suara Lily bergetar. "Pesan dari mata-mata kita di perbatasan timur. Pasukan Koalisi Tiga Kerajaan sudah terlihat. Mereka membawa meriam penghancur tembok. Mereka akan sampai di sini dalam dua hari."
Alesia melepaskan pelukannya, matanya berkilat berani. "Dua hari ya? Cukup lah buat nyiapin 'panggung sandiwara' paling gede dalam sejarah Orizon."
Magnus menghunus pedangnya, menancapkannya ke meja peta. "Kael! Siapkan seluruh pasukan. Kita tidak akan membiarkan satu inci pun tanah Orizon disentuh oleh mereka yang datang dengan niat menghancurkan apa yang telah kita bangun."
"Dan Lily," panggil Alesia. "Siapkan anak-anak Mawar. Kita butuh banyak kain putih, pewarna merah, sama bambu buat bikin efek suara."
"Baik, Gusti Permaisuri!"
Alesia menatap ke arah kegelapan di luar jendela. Perang besar memang sudah di depan mata, tapi kali ini ia tidak takut. Ia punya Magnus di sampingnya, rakyat di belakangnya, dan otak cerdiknya yang selalu punya cara untuk memutarbalikkan takdir.
"Bang," panggil Alesia pelan.
"Ya?"
"Ntar kalau ini semua udah kelar, kita liburan ya? Ke pantai atau ke mana gitu yang kaga ada politik-politikan."
Magnus tersenyum, mengecup dahi Alesia dengan lembut. "Aku janji. Kita akan pergi ke mana pun yang kau mau. Bahkan jika harus mencari cara menuju 'Depok'-mu itu."
Alesia tertawa kecil. "Depok mah jauh, Bang. Mending di sini aja, asal ada lu."
Di bawah langit Orizon yang mendung, sebuah rencana gila mulai disusun. Sebuah rencana yang akan menentukan apakah Alesia akan tetap menjadi Permaisuri, atau benar-benar menjadi legenda sebagai "Bintang dari Langit Lain".
gx da lembut2ny ,, tp mantap laa Alessia ,, aq suka gaya muuu 🤟🤟🤟🤟🤟
semangat trus ya kak nulis ny
hai kak ,,
aq mampir ksniii