Avara hanya staf administrasi biasa di perusahaan finance yang terbiasa bekerja lembur.
Pada satu hari seperti biasa dia lembur seorang diri, lelah dan mengantuk. Saat terbangun, bukannya berada di kantor, dia justru bertransmigrasi ke dunia iblis. Menjadi satu-satunya sosok manusia di sana, Avara harus dicurigai dan hampir mendapat hukuman mati. Namun berkat kemampuannya mengolah data, dia berhasil selamat!
Kini hari-harinya disibukkan oleh pekerjaan administrasi di istana iblis, dan semata-mata bekerja untuk Raja Iblis Fulqentius yang terkenal keji, dingin, dan misterius.
Bisakah Avara bertahan hidup di dunia yang sama sekali asing baginya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichigatsu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
4 - Eksekusi
Avara meneguk ludah. Otomatisasi kerjanya kali ini membuatnya menyesal. Saat dia menyentuh berkas-berkas itu seketika dia lupa bahwa dirinya sedang tidak berada di negerinya sendiri, yang biasa menuntutnya untuk lebih tangkas dan lekas menyelesaikan berbagai tanggung jawab. Dia mendongak pelan-pelan pada raja iblis, ingin mencermati ekspresinya yang sejauh ini selalu sama.
Masih dengan kesan keji yang membayangi sosoknya, sang raja balik menatap Avara.
Avara mengalihkan pandangan pelan-pelan.
"Apakah kita akan melakukan eksekusi pada manusia ini sekarang, Your Majesty?" tanya iblis penyeret. Baru belakangan Avara tahu bahwa ternyata dia bekerja sebagai seorang penjaga.
Avara sudah tidak memiliki tenaga untuk bereaksi saat eksekusi disebut atas dirinya. Jauh dalam benaknya, dia meyakinkan diri bahwa memperbaiki kekacauan data bukanlah dosa. Tidak apa-apa.
ーTapi mungkin akan tetap membuatnya dihukum mati.
Raja iblis membisu, responnya ditunggu semua orang. Tidak ada yang menyangka bahwa ucapannya selanjutnya adalah sebuah pertanyaan. "Apa saja yang bisa kau lakukan?"
Entah kenapa Avara merasa sedang mengikuti interview kerja langsung dengan pemilik perusahaan, jadi dia berusaha menyusun kalimat sebaik mungkin. "Saya bisa mengolah data dan angka, Your Majesty." Namun apa daya, di tengah rasa panik yang belum reda, hanya itu yang bisa Avara katakan.
"Kau bisa menulis laporan?"
Laporan?
Avara sempat ragu sebelum menjawab, "Selama saya tahu formatnya, saya bisa membuat laporan yang diminta."
Sepi sempat mengudara sebelum raja iblis sedikit berpaling ke belakang, memberi titah sekaligus mengumumkan ke khalayak, "Oriole, berikan kamar untuk manusia ini."
Seluruh iblis tercekat.
Oriole memastikan, "Anda tidak akan memberikannya hukuman?"
"Tidak, dia masih bisa dimanfaatkan," putus raja iblis.
"Tapi, Your Majesty, dia manusia!"
"Dia seharusnya dieksekusi!"
Sang raja tidak mempedulikan mereka. Dia menatap Avara tajam, menilai dalam diam penampilan si gadis yang tampak wajar tapi asing. Satu hal yang paling menyita perhatian adalah rambut Avara yang berwarna hitam, yang tumbuh sepanjang punggung. Adalah hal yang tak lumrah memiliki rambut hitam di dunia dengan makhluk berambut berbagai warna. Bisa dikatakan hampir tidak ada sosok yang memiliki rambut sekelam malam kecuali raja iblis semata. Keberadaan Avara adalah satu keganjilan tertinggi yang kali itu baru ditemui sang raja.
Terlebih dengan nama tiga katanya.
Maka untuk memenuhi titah rajanya, Oriole berlalu ke arah Avara yang masih terduduk, memberi pesan singkat pada si penjaga iblis, "Bawa dia."
Sepeninggal mereka, raja iblis kembali ke singgasananya. Berdiam untuk waktu yang singkat sebelum keluhan-keluhan dilayangkan padanya.
"Kenapa Anda membiarkannya hidup?"
"Sejak awal seharusnya dia dihukum mati."
"Kenapa Anda berbaik hati, Your Majesty?"
Raja iblis menghela napas begitu sunyi, tanpa satu iblis pun tahu, sambil bertopang kepala di singgasana yang hanya miliknya seorang. Mata kelamnya menyisir seluruh iblis yang hadir di sana, membungkam mereka satu per satu dengan tatapan dingin yang selama ini tidak pernah ada tandingannya, menciptakan keheningan yang akhirnya tiba setelah sekian lama.
"Kalian sadar kalau alarm kerajaan tidak berbunyi meski manusia itu datang?"
Suara-suara terhenyak berubah menjadi koor riuh-rendah.
"Kalian tahu apa maksudnya?"
Hening sebentar sebelum seorang iblis maju dan memberi hormat. "Manusia itu tidak masuk dari semua gerbang kerajaan kita, Your Majesty."
"Jadi?"
"Bisa jadi dia benar-benar langsung tiba di ruang arsip." Iblis itu menarik napas panjang sebelum melanjutkan kesimpulan yang paling mungkin dari situasi yang sedang mereka hadapi. "Manusia itu benar-benar berasal dari dunia lain, yang masuk melalui sebuah portal."
Raja iblis mengangguk sekali. "Karena manusia dari kerajaan manapun tidak akan bisa menerobos masuk ke sini menggunakan semua jenis portal."
Kasak-kusuk terdengar rendah dari gerombolan iblis yang akhirnya memahami duduk permasalahan yang ingin disampaikan sang raja. Mereka kini paham bagaimana asing dan uniknya seorang manusia yang terdampar di istana mereka. Apalagi dengan kemampuan yang sudah sempat dipertunjukannya.
Maka sekarang timbul satu pertanyaan yang sama di kepala semua iblis di sana; apa yang akan raja mereka lakukan pada manusia itu?
...****************...
Avara berjalan dengan bebas tanpa ikatan apapun di kaki maupun tangannya. Dia berada di tengah di antara Oriole dan si iblis penjaga, dalam perjalanan menuju 'kamar' yang dimaksud raja iblis. Melalui koridor panjang dengan jendela-jendela tinggi, Avara menyuarakan rasa penasarannya, "Apakah aku tidak akan diikat?"
Oriole menyahut tanpa menoleh. "Itu tidak perlu. Kau bahkan tidak punya mana."
"Mana? Energi sihir?"
"Hanya dengan melihat sekilas, kami sudah tahu kau bukan penyihir, dan tidak punya mana sama sekali," ujar si iblis penjaga sambil secara iseng mendorongnya cukup keras.
Avara hampir jatuh terjerembab sebelum tiba-tiba mereka berhenti di depan sebuah pintu kayu. Agaknya mereka telah sampai di kamar tempat Avara akan dikurung.
Mengenai kenyataan itu, tentu saja dia sadar bahwa demikianlah yang akan terjadi terhadap dirinya. Tidak mungkin raja iblis menjamunya seperti tamu kehormatan, apalagi dengan asal-usulnya yang tidak jelas. Maka Avara siap mendapati jika kamar itu begitu sempit dan tidak layak huni.
Namun yang ditemuinya justru kamar yang jauh lebih mewah dari kamar indekosnya, yang cukup luas dan sangat rapi. Ada sebuah ranjang single, satu set meja tulis dan kursi, dan lemari baju dari kayu berornamen. Jika Avara nilai, kamar itu jelas bukan kamar untuk pelayan apalagi seorang tawanan. Apakah mereka salah menunjukkan kamar?
"Mulai hari ini, kau akan menempati kamar ini. Kau tidak boleh berkeliaran tanpa ijin apalagi kabur dari sini. Kau mengerti?"
Avara mengangkat tangannya yang tidak terikat. "Tenang saja. Aku tidak memiliki mana."
Oriole tidak cukup puas dengan jawaban itu, tapi dia membiarkan iblis penjaga untuk mendorong masuk Avara. Mereka pergi setelah menutup pintu dan menguncinya.
"Mereka bahkan mengunci pintu, bagaimana mungkin mereka pikir aku bisa kabur?" keluh Avara.
Di sana terdapat satu jendela yang menghadap langsung halaman belakang istana dan menunjukkan ketinggian tempat kamar itu berada. Namun nyali Avara tidak cukup besar untuk membuatnya berniat melarikan diri dari sana, sebab bagaimanapun dia hanya seorang diri tanpa pengetahuan yang mumpuni terhadap semua hal di dunia baru itu. Untuk saat ini menjadi tawanan bukanlah hal yang buruk, terutama demi keselamatannya sendiri.
Maka Avara mendekati ranjang, merasakan empuknya dengan lekas berbaring di sana. Dia mengistirahatkan tubuh yang digunakannya lembur dan melalui interogasi melelahkan tadi, membiarkannya dikelilingi kelembutan yang tidak dia sangka-sangka. Debar jantungnya sudah kembali normal, kepanikan sudah enyah, sekarang tinggal rasa kantuk yang mulai hinggap dan memaksa untuk dilayani sebagai tamu terhormat. Avara menyerah, matanya memejam dan dia segera lelap.