NovelToon NovelToon
Satu Nama, Selamanya

Satu Nama, Selamanya

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Fantasi
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Rea Sayne

Aku Andrea Sayne memiliki Satu kakak laki laki bernama Hazel, kakak ku Memiliki banyak teman Salah satu nya Panggil saja Luq, Luq bukan sekadar teman baik Hazel. Bagiku, dia adalah "bintang" yang selalu mampir ke ruang tamu kami, membawa tawa yang sama, namun dengan efek yang berbeda di hatiku.
Sejak kecil, aku sudah terbiasa melihat punggung Luq saat dia berjalan masuk ke rumah, atau mendengar candaannya dengan Kak Hazel dari balik pintu kamar. Aku tumbuh dengan mengaguminya dalam diam, membiarkan perasaan itu menetap, bahkan ketika aku mulai beranjak remaja dan menyadari bahwa perasaanku tidak lagi sesederhana saat kami masih bermain Mobile Legends Bersama Di ruang tamu.
Dulu, aku hanya "adik kecil yang menyebalkan". Sekarang, saat aku beranjak dewasa, jarak antara aku dan Luq terasa semakin membingungkan. Apakah mungkin dia melihatku lebih dari sekadar "adiknya Hazel"? Atau, apakah perasaanku hanya akan menjadi rahasia yang terkunci rapat di balik pintu ruang tamu kami?..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rea Sayne, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 3 : Gosip Di Koridor sekolah

Selasa pagi, aku berjalan menuju gerbang sekolah dengan perasaan yang jauh lebih ringan dibanding kemarin. Kenangan aroma parfum Luq saat memboncengku masih tertinggal di ingatan. Namun, saat aku menginjakkan kaki di depan kelas 8-B, atmosfernya terasa berbeda.

Teman-teman sekelasku yang biasanya heboh soal tugas Matematika, hari ini justru berkerumun di meja Sebut aja Rizkia—cewek paling update soal gosip di sekolah.

"Eh, itu Rea dateng!" salah satu dari mereka berseru.

Aku mengerutkan kening. "Kenapa?"

Rizkia menoleh, matanya menyipit dengan senyum yang tidak enak dilihat. "Rea, kemarin gue lihat lo dijemput cowok naik motor Ninja, ya? Itu abang-abangan lo? Anak SMK mana sih?"

Darahku mendesak ke kepala. Aku tahu ini akan terjadi. "Itu... temen Kak Hazel. Kebetulan Kak Hazel lagi ada praktik bengkel, jadi dia yang jemput."

"Temen Abang lu itu?" Rizkia tertawa sinis, diikuti teman-temannya. "Halah, masa iya temen Hazel sampai jemput lo segala? Lo nggak lagi caper sama dia, kan? Hati-hati, Rea, cowok SMK tuh biasanya udah punya cewek anak SMK juga. Jangan sampai lo cuma jadi 'pelarian' atau adik-adik-an yang nggak dianggap."

Kata-kata itu menghujam tepat di dadaku. Adik-adik-an. Itu adalah ketakutan terbesarku. Rizkia terus nyerocos tentang bagaimana anak-anak SMK lebih "gaul" dan punya standar cewek yang lebih dewasa daripada anak SMP culun sepertiku.

"Lagian Aku engga punya perasaan sama dia, Gausah ngurusin urusan orang lain deh." ujar ku pada Rizkia dan teman teman nya, Sebelum mereka terdiam.

Sepanjang jam pelajaran, aku sama sekali tidak bisa fokus. Pikiran buruk itu meracuni kepalaku. Apa benar Luq hanya kasihan padaku? Apa dia sebenarnya risih harus menjemput anak SMP?

Saat Jam pelajaran Terakhir...

Nada dering WhatsApp Ku Berbunyi.

[Kak Luq] : "Rea, sekolah kamu gimana baik baik aja kan? Gue tadi lewat depan sekolah lo, rame banget ya pas pulang?"

Aku menatap layar ponsel itu lama. Tanganku gemetar. Aku ingin sekali membalasnya dengan ramah, tapi ego dan rasa rendah diriku sedang menang. Aku takut jika aku terlalu merespon, aku memang hanya akan jadi "adik-adikan" yang memalukan baginya.

Aku mengetik balasan dengan kaku.

Andrea: "Iya kak, rame. Makasih ya kemarin udah jemput. Kak Luq nggak usah repot-repot lagi kok kalau nanti Hazel nggak bisa jemput, aku bisa naik ojek online aja."

Aku menekan tombol send dan meletakkan ponsel dengan keras di meja.

Tidak sampai dua menit, ponselku bergetar lagi.

[Kak Luq] : "Kenapa tiba-tiba ngetik gitu? Ada yang bikin kamu nggak nyaman ya selama di jalan kemarin?"

Aku tidak membalas. Aku menatap keluar jendela, menahan air mata yang tiba-tiba menggenang. Aku merasa terjepit. Aku ingin dekat dengannya, tapi aku juga takut dihina teman-temanku dan takut bahwa duniaku dan dunianya memang terlalu jauh untuk disatukan.

Tiba-tiba, Rizkia lewat di depanku, sengaja menyenggol bahuku keras. "Hati-hati, Rea. Jangan mimpi ketinggian. Anak SMK nggak bakal liat anak SMP, kecuali buat main-main."

Aku mematung. Ternyata, bukan cuma soal gosip, tapi perasaanku sendiri yang mulai bergejolak karena ketakutan itu.

Kalimat "Kak Luq nggak usah repot-repot lagi" yang kukirimkan tadi terus terngiang di kepalaku. Aku bodoh. Kenapa aku harus mengirim pesan seegois itu? Padahal, hatiku berteriak sebaliknya. Aku rindu saat dia memboncengku kemarin, rindu aroma jaketnya, dan rindu perhatian sederhana yang ia berikan.

Namun, ketakutan akan ejekan Rizkia dan teman-temannya jauh lebih besar. Aku merasa seperti gadis kecil yang sedang mencoba memakai sepatu hak tinggi milik ibunya; tidak pas, tidak nyaman, dan membuatku hampir terjatuh setiap saat.

"Rea! Lo dipanggil ke gerbang depan," suara seorang teman sekelas memecah lamunanku.

Jantungku melompat. "Siapa?"

"Mana gue tahu. Cowok motor gede, kayaknya sih kakak-kakak an lo yang kemarin itu," jawabnya dengan nada menyindir.

Seketika, perutku terasa mulas. Kakiku terasa berat saat melangkah menuju gerbang sekolah. Di sana, di balik pagar besi yang tinggi, berdiri sosok yang sejak tadi menghantui pikiranku. Luq. Dia tidak memakai jaketnya, hanya kaus hitam polos dan celana jeans. Dia terlihat mencolok di antara kerumunan siswa SMP yang berseragam putih-biru.

Rizkia dan gengnya sudah ada di sana, berdiri tak jauh dari Luq, berbisik-bisik sambil melirik ke arahku dengan tatapan yang sangat tidak menyenangkan.

Saat matanya bertemu denganku, Luq tidak langsung tersenyum. Raut wajahnya terlihat bingung, bahkan sedikit khawatir. "Rea," panggilnya pelan saat aku sampai di depannya.

Aku menunduk, menghindari tatapannya. "Kak Luq... ngapain ke sini? Aku kan udah bilang nggak usah jemput."

"Lo kenapa, sih? Chat kamu tadi aneh rasanya," suara Luq terdengar rendah, namun ada ketegasan di sana. "Tiba-tiba ngusir, tiba-tiba bilang nggak perlu jemput. Kamu lagi sakit atau ada apa?"

"Enggak ada apa-apa," jawabku cepat, suaraku hampir tidak terdengar.

"Bohong," balasnya.

Tiba-tiba, tawa nyaring Rizkia pecah di belakangku. "Waduh, lagi drama ya? Udah dibilangin juga, nggak usah kepedean. Anak SMK mah seleranya anak kuliahan, bukan anak SMP yang masih sibuk ngerjain PR!"

Tanganku mengepal. Panas menjalar ke pipiku. Aku ingin menghilang saat itu juga atau memukul Wajah Rizkia sekarang juga.

Luq terdiam. Dia menoleh ke arah Rizkia dan teman-temannya. Matanya yang biasanya hangat kini berubah tajam, dingin, dan benar-benar menakutkan. Dia tidak berteriak, tapi kehadirannya membuat area di sekitar kami seolah membeku.

"Dek," panggil Luq padaku, suaranya tenang tapi cukup keras untuk didengar Rizkia. "kamu dengerin gue ya. Gue ke sini bukan buat dengerin suara orang nggak penting. Gue ke sini karena Hazel nitip pesen, dia ada kelas tambahan sampai sore dan minta gue buat nganterin kamu sampai rumah dengan selamat."

Luq beralih menatap Rizkia dengan tatapan datar. "Dan buat kalian... kalau nggak tahu apa-apa, mending belajar yang bener daripada ngurusin hidup orang. Nggak ada yang larang kalian buat ngomong, tapi kalau omongan kalian bikin orang lain nggak nyaman, itu namanya sampah."

Suasana mendadak hening. Siska dan teman-temannya langsung bungkam, wajah mereka memerah padam karena malu. Mereka tidak menyangka "anak SMK" itu akan merespons setajam itu.

Luq kembali menatapku. Tatapannya melunak seketika. "Gue cabut dulu, ada urusan. Jaga diri lo baik-baik. Jangan dengerin omongan orang yang nggak ngasih makan lo."

Dia memutar motornya dan pergi begitu saja, meninggalkan aku yang mematung dengan perasaan campur aduk.

Di satu sisi, aku merasa sangat lega karena dia membelaku. Tapi di sisi lain, perasaan rendah diriku justru semakin menjadi-jadi. Aku merasa sangat kecil. Aku merasa tidak pantas ada di dekatnya jika dia terus-terusan harus turun tangan menghadapi masalah kekanak-kanakan di duniaku.

Apakah ini artinya dia hanya kasihan padaku? Pertanyaan itu justru semakin menghantui saat aku berjalan kembali ke kelas, menjauh dari kerumunan murid yang masih bergosip tentang kejadian tadi.

1
Andrea Zye
Lucu banget Luq
Andrea Zye
nooo Dia Berubah.
Andrea Zye
LUQ APAKAH ITU KAMUU? :(
Andrea Zye
Duh Mau jadi Reaaa
Andrea Zye
Kasian banget... luq nya
Andrea Zye
semangatt Kak luq yang gantengg
Andrea Zye
Keren kakk, Aku sukaaa
Andrea Zye
seruu banget alurnyaa
Rea
cerita remaja menginspirasi, semangat othor
Andrea Zye: Terimakasih authorr sudah Membuat novel Ini, Saya sangat sukak
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!