Aku tidak pernah menyangka pria yang kupanggil “Om” akan menjadi suamiku.
Pernikahan ini bukan karena cinta, tapi karena sebuah rahasia yang mengikat kami.
Dia dingin, kejam, dan penuh aturan. Tapi semakin aku mencoba menjauh… dia justru tidak pernah melepasku.
Di balik sikapnya yang kejam, ada sesuatu yang tidak bisa aku pahami. Apakah aku hanya permainan… atau benar-benar miliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jlianty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alasan Menikah
Zahra tidak sengaja dengar namanya disebut. Bukan dari Rafandra. Tapi dari seseorang yang menelepon Rafandra suaranya cukup keras untuk tembus ke ruang keluarga tempat Zahra duduk dengan laptopnya, karena pintu studio tidak tertutup rapat.
Satu kalimat. Jelas.
"Kamu menikahi anak Hendra karena perasaanmu bukan karena bisnis. Aku tahu itu, Rafa. Dan kamu tahu aku tahu."
Lalu suara Rafandra yang menjawab dengan sesuatu yang terlalu pelan untuk ditangkap.
Zahra duduk diam di sofa. Jantungnya berdegup dengan ritme yang tidak normal. 'Karena perasaanmu.'
Ia tidak langsung masuk ke studio. Butuh sepuluh menit duduk diam di sofa itu menatap layar laptop yang sudah sleep, tidak bergerak sebelum akhirnya berdiri. Dia ketuk pintu studio dua kali.
"Masuk."
Rafandra ada di mejanya. HPnya sudah tidak di telinga percakapan itu sudah selesai. Ia mendongak waktu Zahra masuk, dan sesuatu di matanya langsung berubah. Ia tahu.
"Kamu mendengar." Bukan pertanyaan.
"Satu kalimat," kata Zahra jujur. Dia duduk di sofa sudut tanpa dipersilakan. "Tapi cukup."
Rafandra menutup laptopnya. Hening.
"Siapa yang nelpon?" tanya Zahra.
"Seseorang yang mengenal aku terlalu lama." Rafandra bersandar ke kursinya. "Dan terlalu bebas berpendapat."
"Pendapatnya bener?"
Rafandra menatapnya. Tidak menjawab dan dari diam itu Zahra sudah punya jawabannya.
"Om," kata Zahra pelan. "Gue perlu tau. Kebenarannya."
Rafandra berdiri dari kursinya. Berjalan ke jendela studio yang menghadap taman samping berdiri di sana dengan punggung ke Zahra, tangan di saku.
Lama sekali tidak bicara.
"Aku mengenal kamu sebelum semua ini," katanya akhirnya. Pelan. "Tidak dekat tapi cukup untuk tahu kamu ada."
Zahra menunggu.
"Waktu situasi keluarga Hendra mulai memburuk dua tahun lalu aku yang pertama tahu. Ayahmu cerita ke aku sebelum cerita ke siapapun." Rafandra masih memunggungi Zahra. "Dan waktu aku mulai memikirkan solusinya ada satu opsi yang selalu kembali."
"Pernikahan."
"Ya."
"Tapi bukan karena bisnis."
Rafandra diam sebentar. Lalu berbalik. Menatap Zahra langsung dengan ekspresi yang malam ini tidak ada benteng di depannya.
"Bukan sepenuhnya karena bisnis," katanya. "Pernikahan ini menyelesaikan masalah bisnis itu benar. Tapi kalau itu satu-satunya alasan, ada cara lain yang lebih efisien."
Zahra menatapnya. "Cara lain seperti apa?"
"Injeksi modal langsung. Akuisisi parsial. Banyak opsi." Rafandra berjalan kembali ke mejanya tapi tidak duduk. Berdiri di belakang kursinya, tangan di sandaran. "Tapi aku memilih ini."
"Kenapa?" Satu kata. Tapi beratnya seperti dua puluh.
Rafandra menatap mejanya sebentar.
"Karena dua tahun lalu, waktu ayahmu pertama kali cerita soal kondisi perusahaannya dia juga cerita soal kamu." Suaranya turun. "Bukan sengaja. Hanya lewat, cara orang tua cerita soal anaknya. Tapi aku ingat."
Zahra tidak bergerak.
"Apa yang Papa ceritain?"
Rafandra diam sebentar. "Bahwa kamu keras kepala tapi tidak pernah menyerah. Bahwa kamu bilang apa yang kamu pikir tanpa takut. Bahwa kamu satu-satunya orang di keluarga itu yang bisa baca situasi dengan tepat tapi tetap memilih untuk percaya pada orang-orang yang dia sayang."
Ruangan itu sunyi.
"Aku tertarik sebelum pernah benar-benar mengenalmu," lanjut Rafandra. Pelan. Tapi tidak menghindari. "Dan waktu situasinya membuat pernikahan ini menjadi opsi yang masuk akal aku tidak mencari alasan untuk menolak."
Zahra menatapnya lama. Mencerna
Ia tertarik duluan. Sebelum semua ini. Sebelum Zahra bahkan tahu dia ada dalam konteks ini.
"Om bisa saja bilang ini dari awal," kata Zahra akhirnya.
"Bisa." Rafandra tidak menyangkal. "Tapi kamu tidak akan percaya."
"Kenapa?"
"Karena kamu akan pikir itu manipulasi." Matanya ke Zahra langsung, tidak menghindar. "Pria tiga puluh delapan tahun yang bilang tertarik sama perempuan yang baru dia kenal baik, di tengah situasi yang memaksa pernikahan kamu akan pikir itu strategi."
Zahra membuka mulut. Menutupnya lagi. "Dia benar."
Dua bulan lalu bahkan satu bulan lalu Zahra memang akan berpikir seperti itu.
"Dan sekarang?" kata Zahra.
"Sekarang kamu sudah cukup mengenal aku untuk tahu mana yang strategi dan mana yang tidak."
Zahra menatapnya. Rafandra menatap balik dan tidak ada yang disembunyikan di sana malam ini. Tidak ada benteng, tidak ada jarak yang dijaga, tidak ada lapisan CEO yang dingin dan terkontrol.
Hanya dia. Apa adanya.
"Om takut nggak?" tanya Zahra pelan. "Waktu mutusin ini."
"Ya." Tidak ragu. "Karena ada kemungkinan besar kamu akan benci aku selamanya."
"Dan Om tetap lanjut."
"Ya."
Zahra menunduk sebentar. Menatap tangannya sendiri di pangkuan. Lalu mendongak.
"Gue nggak benci Om Rafa," katanya. Pelan tapi jelas.
Rafandra menatapnya.
"Gue tau itu mungkin bukan yang Om mau denger sekarang," lanjut Zahra. "Gue belum siap bilang lebih dari itu. Tapi gue mau Om tau gue nggak benci Om. Dan gue nggak nyesel ada di sini."
Ruangan itu sunyi. Rafandra menatapnya lama dengan ekspresi yang Zahra baru pertama kali lihat di wajah itu. Bukan lega sepenuhnya maupun bahagia yang meluap.
Sesuatu yang lebih dari itu, terlihat seperti seseorang yang sudah lama berdiri di luar pintu, dan baru saja diizinkan masuk meski baru selangkah.
"Terima kasih," katanya akhirnya. Dua kata yang dari mulutnya terasa seperti lebih.
Zahra berdiri dari sofa.
"Om Rafa."
"Hm."
"Lain kali jangan tunggu dua bulan buat bilang hal penting." Zahra berjalan ke pintu. "Gue bisa handle lebih dari yang Om kira."
Dia keluar sebelum Rafandra menjawab. Tapi di koridor, dengan punggung bersandar ke dinding di luar studio Zahra berdiri diam sebentar.
Jantungnya berdegup tidak karuan. 'Dia tertarik sebelum semua ini. Sebelum gue tahu. Sebelum gue sempat memilih atau tidak memilih.'
Zahra menutup matanya sebentar.
"Dan sekarang gue di sini. Dengan perasaan yang sama-sama nggak diminta, Sama-sama ada dan sama-sama tak dimengerti."
Dia menarik napas panjang. Mendorong diri dari dinding. Melangkah ke tangga d bawah, suara studio yang kembali sunyi.
Di atas, kamar yang menunggunya dan di antara dua tempat itu di koridor yang redup ini Zahra berdiri di titik yang terasa seperti sesuatu sudah berubah. Tidak bisa dikembalikan. Tidak perlu dikembalikan.
"Gue nggak nyesel ada di sini." Kalimat yang keluar tadi Zahra baru sadar sekarang bukan cuma untuk Rafandra. Tapi untuk dirinya sendiri juga.
.
.
.
plisss lanjut ceritanya kak🥰🙏🏼🙏🏼