NovelToon NovelToon
Batas Sunyi Kinaya

Batas Sunyi Kinaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Action
Popularitas:271
Nilai: 5
Nama Author: AKSARA NISKALA

​"Ayah, bawa boneka matanya besar ya? Kinaya nggak mau tidur sendirian!"

​Janji itu hancur bersama truk kontainer di perempatan maut. Haidar terbangun di Niskala, dimensi sunyi tanpa manusia. Satu-satunya cara bicara pada dunianya hanya lewat coretan dinding yang muncul secara misterius di depan putrinya, Kinaya.

​Namun, Haidar diburu "Penjaga" kegelapan. Ada rahasia kelam di balik boneka itu yang mulai terungkap. Haidar harus berjuang kembali atau terjebak selamanya sebagai gema. Karena batas antara kasih sayang dan kutukan hanyalah setipis hembusan napas.

​"Aku tidak mati, Kinaya. Aku hanya tertinggal di balik sunyimu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AKSARA NISKALA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11: GERBANG YANG RUNTUH

Gudang rongsokan di kantor polisi itu beraroma karat, oli tua, dan penyesalan yang mendalam. Di dunia nyata, tempat ini mungkin hanya sebuah ruang penyimpanan pengap yang terlupakan, tetapi di duniaku—di frekuensi yang masih menghubungkan jiwaku dengan Bimo—tempat ini terasa seperti kotak penalti neraka. Aku berdiri di sudut bayang-bayang, menatap sahabat terbaikku yang sedang hancur. Bimo duduk bersimpuh di lantai semen yang retak, tangannya yang kotor oleh oli gemetar hebat saat menyentuh tangki motor bebekku yang sudah ringsek.

"Maafin aku, Dar... Harusnya aku cek lagi remnya... Harusnya aku tidak membiarkanmu jalan hari itu..." Bimo terisak. Suaranya pecah, menggema di antara tumpukan besi tua.

Hatiku perih melihatnya. Aku ingin memeluknya, mengatakan bahwa ini bukan salahnya. Namun, peringatan si Jubah Putih terus berdenging seperti sirine di kepalaku: Putuskan talinya, atau dia akan terseret ke sini. Aku melihat kabut biru Niskala mulai merayap di pergelangan kaki Bimo. Tarikan emosinya terlalu kuat. Jika aku membiarkannya terus meratapi kematianku, frekuensi ini akan menjadi pintu satu arah yang menarik jiwanya masuk ke alam ini. Dan aku tidak akan membiarkan itu terjadi.

"Maafkan aku, Bimo. Kamu harus membenciku agar kamu tetap selamat," bisikku lirih.

Aku memejamkan mata sejenak, membiarkan energi belati hitam di pinggangku merayap ke seluruh tubuh. Aku tidak lagi menampilkan wujud manusiaku. Aku memanipulasi bayangan di gudang itu, membiarkan tubuhku membesar dan berubah menjadi entitas yang mengerikan—manusia yang menyatu dengan rongsokan mesin yang mencuat tajam seperti duri. Lampu neon di langit-langit gudang mulai berkedip hebat sebelum akhirnya meledak satu per satu, meninggalkan kegelapan yang mencekam.

"BIMOOO...!" suaraku keluar bukan sebagai manusia, melainkan seperti gesekan logam raksasa yang rusak.

Bimo tersentak, wajahnya pucat pasi di bawah sisa cahaya bulan yang menembus ventilasi. "Dar? Haidar? Itu kamu?!"

Aku menghantamkan tumpukan ban bekas hingga berhamburan ke arahnya. Aku memunculkan wajahku yang terdistorsi di dinding beton, tepat di depan matanya. "KAU SENGAJA, KAN?! KAU BIARKAN REM ITU RUSAK SUPAYA AKU KOMA DAN TIDAK BISA BANGUN LAGI! KAU MAU AKU MATI SUPAYA KAU TIDAK PERLU REPOT MENGURUSI MOTOR RONGSOKANKU!"

"Tidak, Dar! Demi Allah, tidak!" Bimo berteriak histeris. Dia mundur merangkak, air mata ketakutan mengalir deras. Ketakutan itu seketika memutus aliran kasih sayang yang tadi menghubungkan kami. Rasa ngeri telah menggantikan rasa rindu.

"PERGI! JANGAN PERNAH DEKATI AKU LAGI ATAU AKU AKAN MENARIKMU KE TEMPAT TERKUTUK INI!" teriakku terakhir kali sebelum menghilang ke dalam kegelapan total.

Aku melihat Bimo bangkit dan lari tunggang langgang, meninggalkan gudang itu dengan raungan trauma. Seketika, getaran frekuensi itu putus dengan bunyi klik yang mematikan di benakku. Sunyi. Bimo selamat dari tarikan Niskala, tapi di dalam sini, aku merasa baru saja membakar jembatan terakhir menuju kemanusiaanku. Aku tersungkur di lantai semen yang dingin di Arcapada, menangis tanpa suara di tengah kegelapan yang kini benar-benar sunyi.

Sementara itu, jauh dari gema kehancuran emosi Haidar, di sebuah wilayah yang tak pernah terjamah oleh ingatan publik...

Sebuah bangunan tua berdiri kokoh di puncak bukit yang selalu tertutup kabut abu-abu. Gereja Tua dengan arsitektur gotik yang sudah terkikis waktu, seolah-olah bangunan itu sendiri sedang perlahan membusuk di bawah langit yang tak pernah berubah. Di dalamnya, keheningan adalah penguasa tunggal, sampai sebuah bayangan menyelinap melalui celah jendela tinggi yang kacanya sudah pecah berkeping-keping.

Sesosok pria mendarat dengan sempurna di atas altar kayu yang sudah berjamur. Langkah sepatu boot militernya tidak mengeluarkan suara, menunjukkan betapa ahli pria ini dalam bergerak di dalam sunyi. Seragam tempurnya yang compang-camping dipenuhi noda lumpur dan darah yang sudah mengering, saksi bisu dari pertempuran panjang yang telah ia lalui di duniaku ini. Baret merahnya terpasang miring, menutupi sebagian luka parut yang melintang di pelipisnya. Matanya yang sedingin es menyapu setiap sudut ruangan dengan kewaspadaan seorang predator.

Pria ini dikenal sebagai Sersan. Siapa dia sebenarnya di dunia nyata? Tidak ada yang tahu pasti, tapi auranya menunjukkan dia adalah seorang pejuang yang terjebak dalam nasib yang sama dengan Haidar—mencari jalan pulang melalui kekerasan.

Dia tidak datang untuk berdoa. Sersan melangkah pasti menuju perpustakaan bawah tanah di balik sakristi. Tangannya yang kasar menyapu debu tebal yang menutupi rak-rak buku tua yang sudah membatu. Dia sedang mencari sesuatu yang menurut rumor tersembunyi di sini: catatan tentang rahasia struktur Niskala.

Setelah beberapa menit pencarian yang intens di antara rak yang nyaris runtuh, dia menemukannya. Sebuah buku besar dengan sampul kulit yang sudah mengering dan menghitam. Di sampulnya terdapat simbol mata yang dicoret—lambang The Watcher. Sersan membuka buku itu perlahan, matanya bergerak cepat membaca baris demi baris tulisan dalam bahasa kuno yang ia pelajari selama masa "pengasingannya" di sini.

"Struktur sembilan distrik... Niraksara di pusatnya," gumam Sersan dengan suara rendah, tegas, dan sangat dingin.

Dia menemukan sebuah peta kuno. Di sana dijelaskan bahwa Niskala bukanlah tempat yang tanpa batas. Tempat ini memiliki aturan, memiliki penguasa di setiap gerbangnya, dan yang paling penting: memiliki kunci untuk keluar. Di halaman terakhir, Sersan menemukan catatan kaki yang ditulis dengan tinta hitam yang memudar: Sang Penjaga hanyalah budak dari delusi, namun kuncinya ada pada belati yang diberikan oleh penguasa Arcapada.

Sersan menutup buku itu dengan bunyi debuman yang berat. Debu beterbangan memenuhi ruangan bawah tanah yang pengap tersebut. Dia kini memiliki pengetahuan yang tidak dimiliki oleh jiwa manapun di tempat ini. Dia tahu bahwa untuk menghancurkan sistem ini dan "bangun", dia tidak bisa bergerak sendirian. Dia membutuhkan seseorang yang membawa 'tanda' atau senjata dari penguasa tersebut sebagai kunci pembuka jalan.

"Waktunya menjemput rekan baru," ucap Sersan pada dirinya sendiri sambil memperbaiki posisi pisaunya di pinggang. Dia melompat keluar melalui celah dinding, menghilang ke arah kota Arcapada dengan kecepatan yang tak masuk akal bagi manusia biasa.

Kembali ke pusat Arcapada yang sunyi, di mana waktu seolah berhenti berputar bagi mereka yang terlupakan...

Aku kembali ke pusat kota dengan langkah yang terasa seberat timah. Kota ini sekarang benar-benar mati. Tidak ada lagi gema tawa Kinaya yang sayup-sayup terdengar, tidak ada lagi aroma masakan rumah yang biasanya muncul saat memori tentang keluargaku menguat. Keputusanku untuk memutus frekuensi Bimo adalah tindakan pengorbanan yang menyakitkan. Di dunia nyata, ragaku mungkin masih bernapas di atas kasur rumah sakit, tapi di sini, aku merasa jiwaku sedang membusuk sendirian.

Aku duduk bersimpuh di tengah aspal jalanan utama yang kelabu. Lampu-lampu jalan di Arcapada mulai redup satu per satu, seolah-olah kota ini sedang kehilangan daya hidupnya bersamaku. Aku menatap belati hitam di genggamanku—benda ini adalah satu-satunya milikku sekarang. Pemberian si Jubah Putih yang terasa semakin berat di tangan.

"AKU INGIN BANGUN! AKU INGIN PULANG!" raungku sekuat tenaga ke langit yang gelap tanpa bintang.

Suara teriakan itu hanya memantul di dinding-dinding ruko yang kosong, terdengar menyedihkan bahkan di telingaku sendiri. Aku merasa benar-benar sampai di titik terendah. Aku ingin menyerah. Aku ingin membiarkan diriku hancur menjadi debu dan lenyap selamanya. Rasa sakit karena merasa tak punya jalan keluar jauh lebih hebat daripada luka fisik apapun. Di sini, aku menangis sejadi-jadinya, menghantamkan tinjuku ke aspal sampai tanganku terasa mati rasa.

TAP... TAP... TAP...

Suara langkah kaki yang ritmis dan berat terdengar mendekat dari arah belakang. Aku tidak mendongak. Aku tidak peduli jika itu adalah makhluk lain yang datang untuk mengakhiri penderitaanku.

Langkah itu berhenti tepat di depanku. Aku melihat sepasang sepatu tempur yang kokoh, berlumuran noda perang yang abadi. Aku mendongak perlahan dengan mata yang masih sembab. Di hadapanku berdiri seorang pria dengan wajah yang sangat tegas, seolah dipahat dari batu karang. Luka parut melintang di pipinya menunjukkan bahwa dia sudah melewati banyak hal di duniaku ini.

"Masih mau terus meratap di tengah jalan seperti pecundang, Haidar?" tanya pria itu. Suaranya tenang, namun memiliki wibawa yang membuatku terpaksa berdiri meski lututku masih lemas.

Aku tertegun, mencoba mengingat kembali di mana aku pernah melihat pria ini. "Kamu... Sersan? Kamu masih di sini?"

Aku mengingatnya sebagai orang yang pernah memperingatiku sebelumnya. Tapi kali ini, dia tampak memiliki tujuan yang jelas. Dia tampak seperti seseorang yang tahu cara untuk menang.

"Air mata tidak akan membuatmu bangun dari tempat ini, dan ratapan tidak akan membawamu kembali pada keluargamu," ucap Sersan dingin. "Kamu merasa sendirian? Bagus. Sekarang kamu tidak punya beban lagi untuk bertarung. Kamu tidak perlu takut mencelakai siapapun dengan frekuensi sialan itu lagi."

Dia mengulurkan tangannya yang kasar ke arahku. "Aku baru kembali dari tempat yang jauh. Ada jalan keluar dari kegilaan ini. Kita bisa menghancurkan sistem ini dan kembali ke raga kita, tapi jalannya harus melewati pertempuran yang tidak pernah kau bayangkan sebelumnya."

Aku menatap tangannya, lalu menatap kota Arcapada yang mulai runtuh karena ketiadaan energi penghuni. "Kembali? Kamu serius tahu caranya agar kita bisa bangun dari koma ini?"

"Sembilan kota, Haidar. Sembilan gerbang yang harus kita ratakan sebelum kita bisa memenggal kepala The Watcher di pusat Niraksara. Kamu punya belati itu, aku punya pengalaman tempurnya. Pilihannya hanya dua: mati jadi sampah di aspal ini, atau ikut aku menghancurkan dunia ini hingga mereka tidak punya pilihan selain membiarkan kita pulang."

Aku menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberanianku. Aku meraih tangan Sersan dan dia menarikku berdiri dengan satu sentakan kuat yang sangat bertenaga.

"Aku ikut," ucapku dengan suara yang kembali keras.

Sersan hanya mengangguk tipis, sebuah senyum dingin muncul di wajahnya yang keras. "Bagus. Simpan energimu. Perjalanan kita dimulai dari kota terdekat, Distrik Senyap. Saatnya kita mulai melakukan apa yang seharusnya dilakukan oleh orang-orang yang ingin hidup: menyerang."

Malam itu, di bawah langit Arcapada yang sekarat, dua jiwa yang sama-sama ingin pulang akhirnya bersatu. Satu membawa senjata keramat, satu membawa taktik maut. Sembilan kota menanti, dan perang untuk kembali pulang baru saja dideklarasikan.

1
T28J
saya mampir kesini juga kak 👍
Manusia Ikan 🫪
hmmmm
AKSARA NISKALA
nantikan terus kelanjutannya ya kak😍
Wigati Maharani
ceritanya keren si tapi masih agak bingung ini alur nya gimana, apa beda dimensi atau gimana bikin penasaran banget😭 cepet update torrr
Wigati Maharani
ceritanya kayak ada horor" nyaa 😭 agak takut sii bacanya tp penasaran😞
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!