Avara hanya staf administrasi biasa di perusahaan finance yang terbiasa bekerja lembur.
Pada satu hari seperti biasa dia lembur seorang diri, lelah dan mengantuk. Saat terbangun, bukannya berada di kantor, dia justru bertransmigrasi ke dunia iblis. Menjadi satu-satunya sosok manusia di sana, Avara harus dicurigai dan hampir mendapat hukuman mati. Namun berkat kemampuannya mengolah data, dia berhasil selamat!
Kini hari-harinya disibukkan oleh pekerjaan administrasi di istana iblis, dan semata-mata bekerja untuk Raja Iblis Fulqentius yang terkenal keji, dingin, dan misterius.
Bisakah Avara bertahan hidup di dunia yang sama sekali asing baginya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichigatsu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5 - Sistem Manual
Secara mengejutkan Avara memperoleh jamuan yang melebihi angan-angannya sebagai seorang tawanan. Selepas tidur kilatnya, dia diberi seloyang penuh makanan. Saking enaknya, Avara tidak membutuhkan waktu lama untuk menghabiskannya. Dia hanya sedikit ragu saat akan memakan daging yang disajikan.
Dengan sedikit tanpa malu, Avara bertanya pada pelayan iblis, "Apakah ini daging manusia?"
Si pelayan membutuhkan sekian waktu untuk memproses pertanyaan Avara sebelum menjawab datar, "Bukan. Kami tidak sebar-bar itu."
Di luar kuasanya atas dirinya sendiri, Avara bertanya karena penasaran, "Jadi apa yang kalian makan?"
"Sesuatu yang juga kalian makan."
Lalu, brak. Pintu ditutup keras.
Mungkin pertanyaan Avara cukup kasar bagi bangsa iblis. Bagaimanapun jika dia telaah lebih lanjut, bahkan penampilan mereka sama sekali tidak primitif, jauh dari persepsi yang selama ini melekat pada eksistensi mereka. Apalagi dengan istana yang demikian megah, bersih, dan terorganisir. Avara tidak akan terkejut jika para iblis memiliki teknologi canggih mereka sendiri.
Dia mulai penasaran dengan sihir di dunia ini.
Siapa saja kira-kira yang bisa menggunakannya, dan seperti apa bentuknya?
Malam itu Avara tidur sambil terus memikirkannya, membawanya ke dalam mimpi dan membayangkan dirinya menjadi salah satu penggunanya.
Esoknya setelah sarapan, seorang iblis lelaki berbadan gagah menemuinya di kamar dengan setumpuk berkas yang jelas menggunung dan satu perintah sederhana yang dititipkan padanya.
"His Majesty ingin kau mengerjakan laporan."
Avara mengerjap, merasa dejavu saat melihat berkas-berkas itu dan tanggung jawab besar yang menyertainya.
"Apakah ada contoh laporan yang bisa saya jadikan acuan?"
Si iblis memberikan sebuah lembar-lembar kertas yang terjilid kasar kepada Avara, yang kemudian dengan cepat mempelajarinya. Lagi-lagi ada kekacauan data yang dia temukan.
"Siapa yang mengerjakan laporan ini?" tanya Avara yang tanpa sadar melempar tatapan menuduh.
Tak disangka iblis itu berubah panik, matanya berkeliaran enggan ditangkap Avara.
Avara menghela napas. Dia sudah mengira bahwa mungkin tidak ada iblis yang cukup peduli pada birokrasi di dunia ini. Itu tidak mengejutkan.
"Tolong beri aku buku besar. Aku mungkin akan menyelesaikannya dalam sehari semalam."
"Sehari?"
Avara mengangguk, mulai meraih selembar berkas, membacanya cepat. Dari sana, dia sudah tidak lagi peduli pada si iblis yang memperhatikannya sebentar sebelum keluar dari kamar, tak lupa mengunci pintu. Avara bahkan hanya menggumamkan terima kasih pendek saat si iblis kembali dan dia menerima buku yang dia minta, saking fokusnya dia bekerja, meninggalkan si iblis yang terhenyak karena memperoleh ucapan baik dari seorang manusia yang biasa mencaci-maki kaumnya.
Avara mempelajari cepat konteks dari berkas-berkas yang dia terima. Isinya tentu serumit banyaknya berkas-berkas yang tidak beraturan, tapi jika dia analisis, sebenarnya apa yang harus dia laporkan sederhana saja.
Sebelumnya Avara memetakan masalah yang sedang terjadi pada data-data dalam semua berkas itu. Di dalamnya data pasukan berantakan (tidak tercatat per keahlian, level, atau posisi), inventaris senjata hilang (inventaris senjata dan perlengkapan tidak terdokumentasi), dan laporan misi tidak lengkap (tidak dikumpulkan secara sistematis). Avara tahu dirinya harus segera bergerak jika mau semua kekacauan ini selesai dalam sehari. Seperti saat bekerja di perusahaan finance dulu, kini waktu baginya untuk ngebut.
Avara mulai membagi informasi dalam tumpukan dokumen itu menjadi kategori logis; personel/pasukan, inventaris, misi/operasi, dan keuangan/sumber daya.
Tangannya tidak berhenti menulis.
Personel/pasukan: nama, usia, spesialisasi, loyalitas, status kesehatan, catatan pangkat, misi yang pernah dijalani, dan performa.
Inventaris: senjata, baju zirah, ramuan, artefak magis, lokasi, jumlah, kondisi, dan pemilik terakhir.
Misi/operasi: tujuan, tanggal, pasukan yang terlibat, hasil, resiko yang dihadapi, dan catatan strategi.
Keuangan/sumber daya: pajak, harta rampasan, bahan baku, dan makanan.
Gadis itu membuat spreadsheet secara manual di buku besar, dengan menggambar kolom dan baris yang memuat data-data disertai sentuhan warna merah-kuning-hijau untuk menunjukkan kondisi item. Dibandingkan dengan pekerjaannya yang biasa menggunakan komputer, kesibukannya yang sekarang terasa lebih menantang karena dia memerlukan tenaga yang lebih banyak dan ketelitian yang lebih tinggi. Bahu, punggung, dan jemarinya sudah menjerit sakit tapi Avara enggan menyerah sebelum semuanya rampung.
Dia terus bertahan sampai malam turun dan penerangan dari hasil teknologi sihir berpendar membantunya tetap bisa melihat dalam gelap. Avara tidak punya waktu untuk terpukau jadi dia tetap bergelut dengan buku dan data-datanya, yang bahkan hampir membuatnya melewatkan makan malam yang disantapnya begitu terlambat.
...****************...
Si iblis dengan tubuh gagah berjalan sambil menggapit buku besar yang semula dikerjakan Avara. Dengan sebelah tangannya yang bebas, dia mengetuk sepasang pintu kembar, memberikan suara bagi keheningan di selasar yang tidak dihuni siapapun.
Dari dalam, raja iblis menyuruhnya masuk.
"Ini laporan yang sudah dikerjakan manusia itu, Your Majesty," ujar si iblis sambil menyerahkan buku itu pada Oriole, yang segera memberikannya pada sang raja.
Raja iblis menerimanya sambil mempelajari ekspresi si iblis muda. "Ada apa, Oxron?"
Muka Oxron sedikit pias, dengan rasa segan yang tak dapat dia sembunyikan. "Saya tidak tahu bagaimana bisa dia mengerjakannya, Your Majesty. Terlebih dalam waktu sesingkat itu."
Raja iblis tidak membutuhkan waktu lama untuk menimang buku itu, dia membukanya sejak halaman pertama; ringkasan. Dia tidak menyangka jika akan menemui sebuah ringkasan di awal sebuah laporan yang ditulis manual di sebuah buku. Sang raja membacanya.. dan mengerti.
Sama sekali tidak ada hal yang sulit dipahami dari ringkasan itu. Semuanya sangat jelas dan sederhana, tapi tidak meninggalkan fakta utama berupa data yang menjadi bagian fiskal. Raja iblis membolak-balik halaman, mempelajari pula laporan menyeluruh yang sudah Avara buat, dan terkesan dengan cepat. Gadis itu bisa membuat sekian banyak data mentah itu menjadi sangat mudah dipahami.
Raja iblis mulai kagum padanya, tapi enggan mengakui.
Saat buku itu digeletakkan di meja sepeninggal Oxron yang keluar ruangan, Oriole meminta ijin untuk turut membacanya. Raja iblis mengijinkan.
"Ini.. luar biasa, Your Majesty."
Sang raja bergeming.
"Perempuan itu punya kemampuan menarik," tukas Oriole, seolah menyuarakan kata hati raja iblis. "Dia pasti akan sangat berguna bagi kerajaan dan bangsa iblis. Keputusan Anda sangat tepat."
Raja iblis bersandar ke punggung kursi, membiarkan tubuhnya tersiram cahaya matahari pagi yang masuk melalui jendela besar di belakang mejanya. Jarinya mengetuk-ngetuk meja, seakan-akan menghitung detik demi detik yang berlalu selama dia diam dan berpikir.
Lalu, "Siapkan kontrak untuknya," titahnya pada Oriole.
"Anda sudah memutuskan begitu, ya?"
Raja iblis beranjak, menghampiri jendela terbukanya, membelakangi Oriole yang menunggu. Punggungnya adalah misteri.
"Kita tidak boleh membiarkan makhluk sepertinya lolos."
Di kamarnya, Avara tidur dengan nyenyak setelah semalaman menyelesaikan laporan pertamanya di dunia itu. Kali itu dia tidak bermimpi sedang melakukan verifikasi telepon dengan konsumen.