Maira, seorang istri yang harus membagi penghasilan nya untuk istri dari kakak ipar nya yang sudah meninggal dunia.
Sang suami dan mertua hanya memanfaatkan uang nya, demi kepentingan mereka semua.
Tidak hanya itu, Suami nya, Azam malah menjalin hubungan dengan kakak ipar nya dengan alasan mau membantu janda kakak nya tersebut.
Mereka semua kelimpungan saat Maira memutuskan untuk tidak mau membantu lagi, dan menyerahkan semua nya pada Azam, suami nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leni Anita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22
"Rin, bisa minta tolong gak?" Tanya Maira saat mereka sedang makan siang.
"Ya ampun Maira, tinggal bilang saja kenapa sih!" Arini berdecak sebal melihat kelakuan sahabat nya.
"Ya tanya dulu dong, siapa tahu kamu gak bisa!" Maira berkata sambil nyengir pada Arini.
"Katakan, kamu butuh bantuan apa?" Tanya Arini dengan serius.
"Aku mau nitipin mobil sama kamu Rin, sebelum mobil itu laku terjual!" Maira mengutarakan maksud nya pada Arini.
"Tentu saja boleh, by the way kenapa kamu tiba - tiba mau nitipin mobil nya sama aku?" Tanya Arini penasaran.
"Habis nya kau gak rela aja mobil ku di gunakan oleh mas Azam dan keluarga nya untuk bersenang - senang, mana dia ngaku sama semua orang bahwa itu mobil nya lagi!" Maira bercerita pada Arini.
"Gila banget loh punya laki, udah gak kasih nafkah, mana keluarga nya toxic segala. Kini malah ngaku - ngaku punya mobil lagi, ngeri banget deh keluarga suami mu!" Arini bergidik membayangkan seperti apa keluarga nya Azam.
"Aku nitip nya bentar aja kok, sampai ada yang beli mobil ku!" Ujar Maira lagi.
"Lalu kalau mobil mu sama aku, kamu ke kantor nya gimana?" Tanya Arini lagi.
"Untuk sementara ini, aku berencana mau beli motor saja. Biar mereka tahu rasa dan tidak bisa lagi mengakui nya sebagai mobil nya mas Azam!" Maira berkata sambil menyeruput minuman nya.
"Oh ya kapan kau mau beli motor?, aku ikut ya. Siapa tahu aku juga tertarik nau beli!" Arini bertanya dengan antusias.
"Besok saja deh, saat istirahat makan siang aku mau ke dealer terdekat! Tapi ngomong - ngomong bukan nya kamu gak suka naik motor? Kan kamu takut panas dan kulit mu berubah jadi gelap!" Maira bertanya dengan Arini.
"Gak tiap hari juga Mai, sesekali aja!" Jawab Arini sambil tersenyum.
Maira melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan nya, tidak terasa 15 menit lagi wakti istirahat makan siang sudah akan berakhir.
"Balik ke kantor yuk, sebentar lagi jam kerja di mulai ni!" Maira berkata pada Arini.
"Ayuk!" Kedua nya lalu segera membayar apa yang mereka makan sebelum akhir nya kemari ke ruangan masing - masing.
******
Jam kerja para karyawan sudah berakhir, Maira segera membereskan meja nya. Sore ini dia akan pergi ke rumah Arini terlebih dahulu, karena dia akan mengantarkan mobil nya ke sana. Sebelum mobil itu laku terjual, mobil itu di titipkan nya dengan Arini.
Saat ini Arini masih tinggal bersama orang tua nya, karena dia belum menikah. Maira mengenal orang tua Arini dengan baik, sebab mereka berteman sudah cukup lama. Sejak masih SMA, keduanya sudah bersahabat hingga sekarang ini.
"Selamat sore tante!" Sapa Maira pada Tante Nanda, Mama nya Arini.
"Sore Mai, udah lama tante gak ketemu Maira. Apa kabar nya Mai?" Tanya Tante Nanda.
"Alhamdulillah baik tante!" Jawab Maira sambil mencium tangan tante Nanda dengan sopan.
"Gimana kabar orang tua mu Nak!" Tanya tante Nanda lagi.
"Alhamdulillah, mereka baik - baik saja tante!" Jawab Maira dengan sopan.
"Ya udah deh, kamu ngobrol aja sama Arini. Tante mau keluar sebentar, ada urusan!" Tante Nanda pamit pada Maira.
"Baik tante!" Jawab Maira lagi.
"Kalau butuh apa - apa tinggal minta sama bibi aja ya!" Tante Nanda berkata sebelum dia pergi.
Tante Nanda segera pergi dengan di antarkan oleh supir pribadi nya, sementara Maira masih di sana bersama Arini.
"Ya udah deh Rin, ini udah sore, aku pulang dulu ya!" Maira segera pamit pada sahabat nya.
"Tunggu Maira, biar aku anter kamu pulang kok!" Arini menawarkan diri.
"Gak usah kok Rin, aku bisa naik taksi online saja!" Tolak Maira dengan halus.
"Kamu gak boleh nolak ya, biar aku yang anterin kamu pulang. Aku mau lihat sendiri bagai mana reaksi suami mu dan juga keluarga nya saat mobil itu sudah tidak ada lagi!" Arini berkata pada Maira.
"Ya udah deh, tapi janji ya jangan buat keributan sama mereka!" Maira mengingat kan sahabat nya.
"Tergantung sikap mereka sih, Mai. Jika mereka gak ngapa- ngapain, ya aku bisa tenang. Tapi jika coba- coba menindas mu, maka aku udah pasti kangen dengan ilmu bela diri ku yang udah lama tidak terpakai ini!" Arini berkata sambil tersenyum.
Maira hanya bisa menggelengkan kepala melihat sikap sahabat nya tersebut, sejak SMA Arini memang sudah menguasai ilmu bela diri. Arini segera melajukan mobil nya meninggal kan halaman rumah nya, kedua sahabat itu bicara banyak hal agar tidak jenuh di dalam perjalanan.
Tidak terasa mobil nya Arini berhenti di depan rumah nya Maira, Maira segera turun dan diikuti oleh Arini. Kedua sahabat itu berjalan memasuki halaman rumah, dan di teras rumah mereka di sambut dengan tatapan sinis dan penuh kemarahan oleh Mama Wina.
Azam tampak nya sudah pulang, dia berdiri di depan pintu bersama Nia dan juga Mama Wina. Tatapan mata Azam tampak nyalang dan dia melihat ke sana - kemari, seperti nya dia mencari mobil nya Maira.
"Mobil di mana Mai?" Tanya Azam spontan.
"Mobil sudah aku jual mas!" Jawab Maira singkat.
"Apa??? Kamu menjual mobil anak ku?" Pekik Mama Wina dengan suara lantang.
"Jangan bercanda, Maira. Di mana mobil ku?" Tanya Azam dengan emosi yang meletup- letup.
"Mobil mu kamu bilang mas? Sejak kapan mobil ku berubah kepemilikan menjadi mobil mu mas?" Tanya Maira dengan nada datar.
"Maira, kurang ajar kamu. Di mana kamu sembunyikan mobil anak ku?" Bentak Mama Wina dengan kasar.
"Mobil yang mana yang Mama sebut milik anak Mama? Mobil itu milik ku dan aku membeli nya sebelum menikah dengan mas Azam, jadi jangan pernah bermimpi untuk memiliki mobil itu!" Maira berkata dengan tak kalah keras.
"Lancang kau Maira, berani nya kau membentak Mama ku!" Azam menjadi sangat emosi.
Azam lalu mencekal pergelangan tangan Maira dengan kasar, sehingga Maira meringis kesakitan.
"Lepas kan, Mas!" Ujar Maira sambil meringis kesakitan.
"Tidak akan Maira, sebelum kau mengembalikan mobil ku!" Azam berkata sambil tersenyum dengan licik.
Arini melihat sahabat nya diperlakukan dengan kasar, dia tidak mau diam saja. Dengan satu gerakan cepat dia menendang tulang kering Azam, sehingga cekalan tangan Azam pada Maira terlepas dan dia meringis kesakitan.
"Berani nya main keroyokan, sini hadapi aku jika kau laki- laki sejati!" Tantang Arini sambil berkacak pinggang.
"Hei, siapa kau? Berani nya kau ikut campur urusan keluarga ku!" Ujar Mama Wina yang sudah sangat marah.
Mama Wina dan Nia segera membantu Azam berdiri, sedang kan Maira hanya menyaksikan saja semua itu sambil tersenyum.
rasa sakit itu akan menjadi dasar balas dendam mu, kau harus bangkit berdiri dan lawan semua musuh mu.. TATAKAE TATAKAE
LAKNATULLAH... AYO SEMUA NYA TERIAK LAKNATULLAH