NovelToon NovelToon
SENTUHAN PAPA MERTUA

SENTUHAN PAPA MERTUA

Status: sedang berlangsung
Genre:Rumah Tangga / Balas Dendam
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

"Pa, Papa mau apa??" Adelia terkejut saat papa mertuanya tiba-tiba mendekat dan memeluknya dari belakang. la tak pernah membayangkan, kalau setelah menikah papa mertuanya itu justru berubah dan bersikap seolah ia adalah istrinya.

Apakah Adelia mampu mengendalikan diri dari papa mertuanya?

Atau ia justru ikut terjerumus juga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DUA PULUH TUJUH

Restoran hotel itu dipenuhi cahaya kekuningan lembut, membuat suasananya tampak hangat dan berkelas. Di antara suara gelas yang beradu dan obrolan tamu-tamu lain, Lukas duduk lebih santai dibanding biasanya. Ia menyandarkan punggung, memegang gelas minum, dan sesekali tertawa kecil mendengar cerita Ririn.

Ririn sendiri tampak sangat menikmati momen itu.

Pipi halusnya memerah, matanya berbinar, dan senyumnya tak pernah hilang sejak mereka mulai makan malam. Ia jarang bisa berbicara panjang lebar dengan Lukas tanpa gangguan pekerjaan. Kini, kesempatan itu datang dengan sangat mulus.

"Jadi, kamu dulu kuliah sambil kerja?" tanya Lukas sambil mengaduk minumannya.

Ririn mengangguk antusias. "Iya, Pak. Saya kerja di toko buku. Seru banget, saya bisa dapat banyak kesempatan baca gratis."

"Pantas kamu cepat memahami laporan-laporan tebal.

Dasarnya sudah ada, ya?" ujar Lukas.

Ririn tertawa. "Nggak juga, Pak. Saya cuma... suka mempelajari hal baru."

"Kamu ambisius," kata Lukas sambil tersenyum tipis. "Itu bagus."

Ririn hampir meleleh mendengar pujian itu.

"Apa Bapak sendiri dulu pernah kerja sambil kuliah?" tanyanya lagi.

"Iya," jawab Lukas. "Saya kerja di perusahaan kecil, jadi kurir sambilan."

"Kurir?!" Ririn menutup mulutnya, tak percaya. "Pak Lukas... jadi kurir?"

Lukas mengangguk bangga. "Ya, setahun penuh. Hujan, panas, saya tetap jalan."

Ririn geleng-geleng. "Saya benar-benar nggak nyangka. Bapak kelihatan... selalu berada di puncak sejak lahir."

Lukas tertawa kecil. "Tidak semua yang kamu lihat sekarang itu hasil lahir. Banyak yang harus saya bangun sendiri."

Ririn mengangguk pelan, merasa semakin kagum. "Saya senang bisa bekerja dengan orang seperti Bapak..."

Lukas hendak merespons, tetapi langkah seseorang dari belakang tiba-tiba menarik perhatian. Seorang pelayan muda tampak berjalan membawa nampan berisi empat gelas minuman. Pelayan itu kelihatan terburu-buru, mungkin baru saja dimarahi di dapur. Cara ia berjalan goyah, dan ia tampak tidak fokus.

Ririn tidak menyadari ancaman itu.

Tapi, Lukas melihatnya.

Dalam sekejap semuanya terjadi begitu cepat.

Pelayan itu tersandung pada kaki kursi tamu lain.

Nampan bergoyang.

Gelas-gelas di atasnya miring.

Minuman berwarna merah keunguan hampir tumpah langsung ke arah Ririn.

"Rin! Awas!"

Lukas berdiri lebih cepat dari reflek normal, melangkah ke depan dan menutupi tubuh Ririn dengan tubuhnya sendiri. Minuman itu tumpah-SHRRRAAAKKK-dan sebagian besar mengenai dada dan lengan Lukas.

Ririn memekik kecil. "Pak Lukas!!"

Cairan dingin itu membasahi kemeja Lukas. Pelayan itu pucat, hampir menangis.

"MA-maaf, Pak! Saya nggak sengaja! Saya... saya-"

Lukas menatap pelayan itu dengan tegas. "Hati-hati dong kalau bekerja! Kamu hampir mencelakai tamu!"

Pelayan itu langsung menunduk dalam-dalam. "S-saya benar-benar minta maaf, Pak..."

Sementara itu, Ririn berdiri, menatap Lukas dengan campuran terkejut dan kagum.

"Pak Lukas... Bapak-Bapak melindungi saya," katanya lirih.

Lukas mengibaskan sedikit kemejanya yang basah.

"Refleks saja. Saya tidak mau kamu terluka. Minumannya panas sedikit soalnya."

Ririn menggigit bibir, menahan perasaan yang tiba-tiba meletup. Ia meraih tisu dan mencoba membersihkan kemeja Lukas, namun pria itu menahan tangannya.

"Nggak apa, Rin. Saya bisa bersihkan sendiri," tolak Lukas.

"Tapi, Bapak bisa ganti baju? Itu pasti dingin..."

"Saya akan ke kamar sebentar, tidak masalah."

Ririn menatap Lukas lama, lalu tersenyum lembut.

"Terima kasih, Pak... sungguh."

Lukas tidak menanggapi lebih jauh. Ia hanya tersenyum tipis, kemudian mengambil serbet untuk mengeringkan sedikit bagian yang basah.

Namun dari jauh-

Sean baru kembali dari toilet dan langsung menghentikan langkahnya ketika melihat adegan itu.

Matanya melebar.

"Pak Lukas berdiri menutupi Ririn? Badannya jadi basah? Dan Ririn... lagi-lagi tampak terlalu dekat dengan beliau?"

Sean menyipitkan mata penuh kecurigaan.

Ia mendekat perlahan.

"Eh... saya ketinggalan apa ini?" tanyanya sambil memandang dari Lukas ke Ririn.

Ririn buru-buru menjauh sedikit. "Se-seorang pelayan tadi hampir menumpahkan minuman ke saya, Sean. Tapi... Pak Lukas menolong saya."

Sean melirik kemeja Lukas yang basah, lalu menatap kedua orang itu bergantian.

"Wah... heroik banget ya, Pak..." Sean menyeret suaranya, seperti mengejek.

Lukas menghela napas. "Itu hanya refleks, Sean."

"Tentu, refleks yang... luar biasa cepat ya," goda Sean sambil terbahak kecil.

Lukas memijat batang hidungnya. "Sean, tolong jangan buat ini jadi besar!"

"Baik, baik," jawab Sean sambil mengangkat tangan.

"Cuma... kalau dilihat sekilas kayak adegan drama Korea sih."

Ririn langsung memerah seketika.

"Sean!" tegurnya.

Lukas menggeleng sambil tersenyum tipis. "Ayo lanjut makan! Setelah ini kita kembali ke kamar."

Mereka kembali duduk, namun Sean masih sesekali melirik Ririn dengan tatapan menyelidik dan Ririn pura-pura tidak melihatnya. Sementara Lukas sibuk mengatur jadwal besok sambil menahan dinginnya kemeja basah.

Bagi Lukas, itu hanya insiden kecil. Bagian dari sikap refleksnya sebagai pemimpin dan sebagai pria yang bertanggung jawab.

Namun bagi Ririn...

Itu jauh lebih dari sekadar refleks.

Itu adalah momen yang membuat hatinya semakin yakin bahwa ia bisa menempati ruang dalam kehidupan Lukas-meski ia tahu ruang itu sudah dimiliki oleh Adelia.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!