Gisel (23 tahun) adalah definisi "matahari" berjalan: ceria, blak-blakan, dan punya selera humor yang terkadang sedikit ‘nakal’. Hidupnya jungkir balik saat ia dipaksa menikah dengan Dewa, CEO dingin yang aura intimidasi-nya bisa membekukan ruangan. Dewa bukan cuma sekadar duda kaya, ia adalah pria yang menutup rapat hatinya demi mendiang istrinya dan ketiga anaknya yang super nakal.
Mampukah ocehan ceplas-ceplos Gisel mencairkan gunung es di hati Dewa? Dan bagaimana jadinya jika si gisel positive vibes ini harus menghadapi tiga anak tiri yang siap mengujinya, sementara sang suami masih bayang-bayang masa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nia nuraeni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23: Strategi Istri Muda & Keberangkatan Tuan Es
Gisel masih termangu di depan jendela, menimbang-nimbang pesan Dewa, ketika tiba-tiba ponselnya bergetar hebat. Sebuah nama muncul di layar: Raka.
Gisel mengerutkan kening. Si Sulung yang sedingin es itu jarang sekali menghubunginya duluan, apalagi lewat telepon suara. Dengan jantung sedikit berdebar, Gisel menggeser tombol hijau.
"Halo, Raka? Ada apa?" tanya Gisel, suaranya kembali ke mode ceria yang biasa.
Hening sejenak di seberang sana. Hanya terdengar suara napas teratur. Lalu, suara berat dan datar khas Raka terdengar.
"Rumah berisik," ucap Raka singkat tanpa salam.
Gisel menahan tawa. "Berisik kenapa? Kan biasanya emang ramai ada Diego."
"Diego rewel. Dia nggak mau tidur kalau nggak dibilangin 'Ibu Gisel sudah di jalan'. Papa juga mondar-mandir terus di ruang tengah, bikin pusing lihatnya," keluh Raka dengan nada ketus yang dibuat-buat.
Gisel tersenyum tipis, ia tahu ini cara Raka menyampaikan kekacauan di rumah. "Terus? Hubungannya sama aku apa, Tuan Muda?"
Raka berdeham, gengsinya terdengar jelas dari nada bicaranya. "Ya... kalau besok lo nggak pulang, gue nggak jamin rumah ini masih utuh. Diego nangis, Papa kayak orang linglung, dan gue nggak bisa belajar buat ujian. Jadi, terserah lo mau pulang jam berapa besok, asal jangan telat sebelum gue berangkat sekolah."
"Ciee... jadi ceritanya kamu kangen ya sama aku?" goda Gisel dengan sifat ceplas-ceplos-nya.
"Nggak usah kepedean. Gue cuma butuh ketenangan buat belajar," potong Raka cepat, meski suaranya sedikit melunak di akhir kalimat. "Udah ya, gue tutup. Berisik."
Klik. Sambungan terputus begitu saja.
Gisel menjauhkan ponsel dari telinganya dan tertawa kecil. Raka memang fotokopi ayahnya—sama-sama gengsian dan kaku. Tapi di balik kata-kata ketusnya, Gisel tahu Raka sebenarnya sedang meminta tolong agar ia kembali.
Keputusan Gisel pun bulat. Ia tidak bisa membiarkan "anak-anaknya" (dan si duda es itu) hancur berantakan tanpa kehadirannya.
Pagi belum benar-benar terang, tapi Gisel sudah sibuk mengemasi tasnya. Maya, dengan rambut acak-acakan dan mata mengantuk, bersandar di pintu kamar sambil memegang cangkir kopi.
"Beneran pulang lo? Nggak mau nunggu dapet transferan 'uang damai' dulu dari CEO itu?" goda Maya dengan suara serak khas bangun tidur.
Gisel menyeringai nakal. "Gue nggak butuh uangnya, gue butuh jantungnya biar nggak kaku lagi. Lagian, kasihan itu anak-anak, terutama si Sulung yang gengsinya sebukit."
Maya mendengus, mengingat teror pesan semalam. "Sampaikan salam 'sayang' gue buat Mas Dewa. Bilang ke dia, kalau mau tanya kabar istri, minimal beliin gue paket data setahun kek sebagai kompensasi gangguan mental!"
Gisel tertawa renyah sambil memeluk sahabatnya itu. "Siap, laksanakan! Dah, Maya! Makasih tumpangannya!"
Pukul 06.00 WIB - Kediaman Dewa
Gisel masuk menggunakan kunci cadangannya. Suasana rumah masih sepi, tapi ia bisa mendengar suara langkah kaki gelisah dari arah dapur. Gisel mengintip dan menahan tawa. Dewa, dengan kemeja kantor yang sudah rapi namun rambut yang sedikit berantakan, sedang mencoba menyeduh susu untuk Diego sambil sesekali melirik jam tangan.
Tanpa suara, Gisel menyelinap masuk ke dapur.
"Mas, kalau bikin susu itu air hangat dulu, baru bubuknya. Biar nggak menggumpal," ucap Gisel tiba-tiba di belakang telinga Dewa.
Dewa terlonjak kaget hingga sendok susunya terlempar ke lantai. Ia berbalik dan menemukan Gisel sedang tersenyum manis dengan apron yang sudah terpasang.
"Gisel? Kamu... sejak kapan?" Dewa terpaku, matanya yang biasanya mengintimidasi kini membelalak tidak percaya.
"Barusan. Udah, Mas duduk aja bareng Diego. Biar aku yang ambil alih dapur," ucap Gisel dengan sifat ceplas-ceplos-nya yang khas.
Tak butuh waktu lama, aroma nasi goreng mentega dan telur mata sapi memenuhi ruangan. Diego, yang baru saja bangun dengan mata sembab, langsung berlari menuruni tangga begitu mencium aromanya.
"Ibuuu! Ibu Gisel!" teriaknya girang, langsung menghambur ke pelukan Gisel.
Raka yang baru keluar kamar dengan seragam SMA-nya pun terhenti di anak tangga teratas. Ia melihat Gisel yang sedang sibuk menyajikan makanan sambil tertawa bersama adiknya. Meski wajahnya tetap datar dan cuek, ada binar lega yang tidak bisa ia sembunyikan.
"Gue bilang juga apa, rumah ini bakal hancur kalau lo nggak ada," gumam Raka pelan saat melewati meja makan, mengambil sepotong roti dengan gaya paling cuek sedunia.
Dewa hanya bisa terduduk di kursinya, memperhatikan keramaian yang kembali hidup di rumahnya. Saat Gisel meletakkan sepiring nasi goreng di depannya dan mengedipkan mata dengan nakal, Dewa kembali tersenyum—senyum yang jauh lebih tulus dari sebelumnya.
"Terima kasih sudah pulang, Gisel," bisik Dewa.
Gisel hanya nyengir. "Sama-sama, Mas Duda. Tapi inget ya, ini bukan berarti aku udah maafin semua kaku-kakunya Mas!"