Dalam satu waktu, Giana kehilangan dua hal paling berharga dalam hidupnya. Bayi yang ia nantikan sejak lama, dan suami yang memilih pergi saat ia sangat rapuh. Di tengah duka yang belum sembuh, satu-satunya penghiburnya hanyalah suara tangis bayi yang baru lahir.
Namun, takdir justru mempertemukannya dengan Cameron Rutherford, presdir kaya dan dingin yang tengah mencari ibu susu untuk keponakannya yang baru lahir. Sebuah kontrak pun disepakati. Giana mendadak jadi Ibu susu bagi keponakan sang presdir.
Awalnya, semua berjalan seperti biasa. Giana melakukan tugasnya dengan baik. Tetapi kemudian, semuanya berubah saat Cameron merasa terpesona oleh ibu susu keponakannya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 04
“Kak, anakmu tidak mau berhenti menangis. Kumohon, sebentar saja, gendonglah dia. Setidaknya, biarkan dia merasakan pelukanmu dan—”
“Harus berapa kali kukatakan padamu, Cameo? Bawa jauh anak itu dari hadapanku!” sentak Cassandra menatap adiknya dengan tajam.
“Jangankan menyusui dan memeluknya, aku bahkan tidak mau melihatnya! Kenapa kau masih saja tidak mau mengerti?!” seru Cassandra, kesal.
“Tapi, Kak. Mau bagaimanapun, dia adalah putramu, darah dagingmu sendiri,” kata Cameron;agi, berusaha membujuk Cassandra. Ia setengah berharap sang kakak mau menggendong dan menyusui anaknya meskipun ia tahu hasilnya akan berakhir dengan penolakan.
“Bawa anak si*lan itu menjauh dariku! Astaga. Kepalaku menjadi sangat sakit mendengar tangisannya yang menyebalkan itu!” jeritnya lagi, kali ini sambil melemparkan bantal semata agar Cameron dan perawat yang sedang menggendong sang bayi segera keluar.
***
Giana baru saja merapikan barang-barangnya saat tiba-tiba suara tangisan bayi terdengar di luar ruang rawatnya.
“Suara bayi siapa itu?” gumamnya lalu berjalan keluar dengan naluri seorang ibu.
Di luar Cameron bersama dengan seorang dokter dan perawat tampak panik, mereka sudah berusaha menenangkan tangisan bayi itu, namun usaha mereka sia-sia belaka.
“Bagaimana ini, Dok? Kenapa dia tidak mau berhenti menangis?” tanya Cameron cemas.
Belum sempat dokter menjawab, Giana sudah lebih dulu menyahut.
“Maaf, jika diizinkan, bolehkah aku menggendongnya sebentar saja?” katanya, menatap dokter dan Cameron bergantian.
Tanpa menjawab, Cameron langsung menyerahkan keponakannya itu ke dalam dekapan Giana.
“Aku tidak tahu kenapa dia terus menangis, dia bahkan tidak mau minum susu yang diberikan perawat,” terang Cameron seraya menyeka keringat di pelipisnya.
Giana mengangguk-angguk lalu menimang bayi yang masih menangis itu, lalu menatap Cameron.
“Maaf, tapi jika diizinkan apakah aku boleh mencoba menyusuinya?” tanyanya hati-hati. “Kebetulan, aku juga baru melahirkan dan … kau mengerti maksudku, bukan?”
Cameron mengangguk mengerti, ia lalu menatap dokter seolah meminta pendapat sang dokter. Begitu melihat sang dokter mengangguk singkat, Cameron pun memberikan izinnya.
Giana membawa sang bayi ke dalam ruangannya untuk menyusui bayi itu sementara Cameron tetap menunggu di luar ruang rawat.
Kepalanya menimang-nimang niatnya sendiri. Haruskah ia meminta Giana untuk menjadi ibu susu bagi keponakannya atau tidak?
Selama beberapa lama kemudian, Giana keluar bersama dengan sang bayi yang sudah tertidur pulas dalam dekapannya.
Melihat itu, Cameron menjadi semakin yakin untuk menjadikan Giana sebagai ibu susu bagi keponakannya.
“Dia sudah tidur, kau bisa membawanya kembali. Kurasa, dia hanya kehausan tadi,” kata Giana setengah berbisik sambil tetap mengayun pelan bayi dalam dekapannya.
“Terima kasih, kau sudah membantuku dua kali,” katanya pelan, menatap wajah tenang keponakannya lalu menatap Giana kembali. “Jika kau tidak keberatan, maukah kau membantuku untuk ketiga kalinya?”
Giana mengernyit. “Maaf?” tanyanya tak mengerti.
“Bisa kita bicara sebentar? Ada sesuatu hal yang ingin kubicarakan denganmu,” katanya meminta izin dengan sopan. “Ini menyangkut anakku.”
Mendengar nada bicara pria itu pun, Giana mengangguk dan mengajak Cameron untuk masuk ke dalam ruang rawatnya.
Masih dengan menggendong sang bayi, Giana duduk di tepi bed sementara Cameron duduk di bangku yang tersedia.
“Begini … aku akan langsung ke intinya saja. Aku ingin menawarkan sebuah kesepakatan denganmu,” kata Cameron pelan.
Giana diam mendengarkan sambil mengira kesepakatan apa yang akan dibuat oleh pria di depannya.
“Kau sudah tahu, bukan? Bahwa ibunya baru saja meninggal dan dia sama sekali tidak bisa minum susu formula. Aku ingin menawarimu pekerjaan sebagai ibu susu.”
“Apa? Ibu susu?” tanya Giana seolah tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
Cameron mengangguk dengan mantap. “Tenang saja, aku akan membayarmu dengan mahal. Kau … kau bahkan bisa menyebutkan berapa nominal biaya yang kau inginkan, asal kau bersedia menjadi ibu susu bagi anakku.”
Giana terdiam, tak tahu harus menjawab apa. Ia menatap wajah bayi itu dengan intens. Jujur saja, saat menggendong bayi itu, rasa rindunya cukup terobati dan rasa penasarannya menjadi seorang ibu bisa terpenuhi.
“Jika kau memerlukan waktu untuk berpikir, aku bisa memberimu waktu. Kau juga bisa mendiskusikan hal ini kepada keluargamu lebih dulu,” kata Cameron lagi, ia sangat berharap Giana mau menerima tawarannya.
Giana menengadah, “Aku sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi di dunia ini. Kau juga sudah tahu apa yang terjadi padaku. Kurasa … aku bersedia.”
“A-apa? Kau … kau bersedia? Sungguh?” tanya Cameron tak menyangka, matanya berbinar senang dan tersenyum pada Giana. “Terima kasih. Terima kasih banyak.”
Giana mengangguk pelan, ia belum tahu apakah keputusan yang diambilnya sudah tepat atau belum. Yang ia tahu, ia ingin bersama dengan bayi itu demi mengobati rasa rindunya pada anaknya yang sudah tiada.
Lalu, Cameron berdiri dan merapikan kemejanya. “Kalau begitu, kita bisa mulai berkemas dan pulang besok. Kau tinggal di mana? Biar aku yang akan mengurus segala keperluanmu.”
Alih-alih menjawab, Giana menatap Cameron dengan nanar. “Sebelum itu, bolehkah aku membuat satu permintaan kecil?” tanyanya pelan.
“Ya, tentu saja. Katakanlah, aku pasti akan menyanggupinya,” sahut Cameron cepat.
“Aku sudah bercerai dari suamiku, dan aku bersumpah tak pernah mau bertemu dengannya lagi. Bisakah kau membantuku untuk menyembunyikan identitasku? Aku tahu dia pasti tidak akan mencariku lagi, tapi aku juga tidak ingin suatu hari dia datang dan mengusik kehidupanku,” kata Giana lirih, tatapan matanya menyiratkan luka dan kesedihan yang mendalam.
Melihat itu, Cameron turut merasa sedih dan ibu. “Tentu saja, kau tidak perlu khawatir soal itu. Selama kau menjadi ibu susu bagi anakku, akan aku pastikan tidak ada seorangpun yang akan mengganggumu.”
Giana tersenyum tipis. “Terima kasih.”
“Selain itu, aku juga akan memberimu satu rumah yang bisa kau tempati jika kau sudah tidak menjadi ibu susu bagi anakku. Setelah kontrak diantara kita sudah selesai, kau bisa tinggal di sana dengan aman,” kata Cameron lagi, ia bisa memberikan materi apapun kepada orang-orang yang sudah membantunya.
Namun, Giana menggeleng pelan. “Itu tidak perlu. Sejujurnya, aku menyetujui tawaran itu, hanya karena bayi ini mengingatkanku kepada anakku.”
“Baiklah jika itu keinginanmu. Aku akan pergi sebentar untuk mengurus beberapa hal. Bisakah kau menjaganya untukku?”