Dengan bersimbah darah seorang pendekar wanita berjuang sekuat tenaga untuk melarikan diri dari kejaran para prajurit yang masih terus membuntuti nya . Tuduhan pengkhianatan yang di lemparkan seseorang padanya membuatnya terus menjadi buronan di kerajaan tempat tinggalnya .
Hingga dalam kesekian pelariannya di saat nyawanya terasa sudah di ujung tanduk takdir mempertemukannya dengan seorang pemuda desa yang pada akhirnya menyelamatkan nyawanya . Tanpa diketahui jika pemuda itu sebenarnya merupakan seorang pangeran yang sedang menyamar .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SecretPenaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sedra palsu
Cakra menyarungkan belatinya dengan gerakan satu tangan, lalu dengan sigap menggendong Nayan di lengannya. Ia tidak peduli dengan mayat-mayat yang bergelimpangan di sekitarnya fokusnya hanya satu , keselamatan gadis ini.
"Maafkan aku, Nayan... Seharusnya aku tidak membiarkanmu melihat ini." bisik Cakra pelan, suaranya sarat dengan penyesalan.
Di balik matanya yang terpejam, Nayan sebenarnya bisa merasakan detak jantung Cakra yang stabil namun kuat. Aroma tubuh pria itu perpaduan antara wangi hutan dan sedikit bau logam dari senjatanya—terasa begitu dekat. Nayan harus mati-matian menahan napasnya agar tetap terlihat seperti orang yang benar-benar kehilangan kesadaran.
" Sial..,kenapa jantungku malah ikut berdegup kencang? batin Nayan kesal pada dirinya sendiri.
Cakra membawa Nayan menuju sebuah sungai kecil tak jauh dari sana untuk mencari tempat yang lebih tenang. Ia membaringkan Nayan dengan sangat hati-hati di bawah pohon rindang dan menggunakan jubahnya sebagai bantal darurat.
Cakra mengambil air dengan telapak tangannya, lalu memercikkannya perlahan ke wajah Nayan. "Nayan... bangunlah."
Nayan perlahan membuka matanya, berpura-pura tampak linglung dan ketakutan. Ia langsung terduduk dan memeluk lututnya, menatap Cakra dengan tatapan "ngeri" yang dibuat-buat.
"Cakra... mereka... mereka semua..." suaranya bergetar hebat.
Cakra segera memegang bahu Nayan, mencoba menenangkannya. "Sudah berakhir, Nayan. Mereka tidak akan menyakitimu lagi. Aku di sini."
Nayan menunduk, menyembunyikan kilatan matanya yang tajam. "Kau... dari mana kau belajar bertarung seperti itu? Kau terlihat sangat... berbeda."
Cakra terdiam sejenak. Pertanyaan Nayan seolah menembus dinding pertahanannya. Ia menarik tangannya kembali, tatapannya beralih ke aliran air sungai yang jernih.
"Di dunia yang keras ini, kau harus bisa membunuh sebelum dibunuh, Nayan. Itu saja." jawab Cakra dengan nada dingin yang kembali muncul .
Ketegangan di antara mereka pecah saat tiba-tiba sebuah anak panah melesat dan tertancap tepat di pohon di atas kepala mereka. Cakra dengan refleks kilat langsung menarik Nayan ke belakang tubuhnya.
Dari balik rimbunnya pohon, muncul seorang pria tua dengan pakaian compang-camping namun memiliki sorot mata yang sangat tajam. Pria itu memegang busur kayu yang tampak sederhana namun berwibawa.
Nayan tersentak. Jantungnya mencelos." Dia... dia adalah orang yang kucari! "
Cakra menatap anak panah yang masih bergetar di batang pohon itu dengan mata menyipit. Ia memperhatikan detail ukirannya . itu bukan milik militer kerajaan, bentuknya terlalu khusus dan terasa personal.
" Siapa sebenarnya yang sedang mengincarku?" batin Cakra penuh tanya. Ia sama sekali tak menyangka bahwa serangan itu bukanlah peringatan untuknya, melainkan sapaan gelap untuk gadis yang tengah ia lindungi ini .
Di sisi lain, jantung Nayan berdegup kencang, namun bukan karena takut. " Dia sudah menemukanku? Itu artinya dia sudah tahu tentang posisiku saat ini . " pikirnya cemas.
Cakra baru saja hendak melangkah masuk ke semak-semak untuk memburu si pemanah, namun jemari Nayan dengan cepat mencekal lengannya.
"Cakra... kumohon, kita pulang saja," bisik Nayan dengan wajah yang dibuat sepucat mungkin. "Aku sudah tidak sanggup lagi..."
Cakra menoleh, melihat guratan kelelahan dan ketakutan (yang ia kira nyata) di wajah Nayan. Ia menghela napas panjang, mencoba meredam insting pemburunya.
"Aku akan kembali lagi nanti untuk menyelidikinya sendiri. " batin Cakra .
Dengan penuh proteksi, ia merangkul bahu Nayan dan membimbingnya meninggalkan hutan dengan langkah tergesa.
****
Jauh di kedalaman sebuah gua yang lembap dan tersembunyi, suasana terasa mencekam. Wisya melepas topeng logamnya, membiarkan cahaya obor menyinari wajahnya yang dihiasi senyum kemenangan yang mengerikan.
Dialah otak di balik pasukan bayangan yang meneror wilayah Selatan. Dialah "Sedra Palsu" yang sedang mencoreng nama baik saudaranya sendiri dengan darah dan penjarahan.
"Hahaha... inilah yang aku nantikan selama ini Sedra!" tawanya menggema, memantul di dinding gua yang dingin.
"Kau pikir untuk apa aku membiarkanmu lolos dari penjara semudah itu? Aku tidak ingin kau mati cepat. Aku ingin melihatmu menderita, dihina, dan diburu oleh seluruh dunia sebelum akhirnya kau memohon kematian padaku."
Dua orang prajurit setianya masuk, membawa beberapa peti berat hasil jarahan mereka hari ini.
"Nona Wisya, ini persembahan kami." lapor salah satu dari mereka sembari membungkuk hormat.
Wisya melangkah mendekati peti-peti yang terbuka itu. Matanya berkilat saat melihat tumpukan koin emas dan perhiasan permata yang berkilauan di bawah cahaya api. Ia menyunggingkan senyum licik , sementara ujung jarinya menyapu permukaan benda-benda berharga itu dengan sangat lembut seolah ia sedang menyentuh luka lama yang akhirnya terobati oleh balas dendam.
***
Seperti rutinitas yang menjemukan, seorang pelayan datang membawa nampan berisi ramuan obat ke kamar Pangeran Yoka.
Di atas ranjangnya, Yoka hanya terdiam . Sosok yang selama ini dianggap dunia sebagai pangeran lumpuh yang malang dan kehilangan suaranya.
Yoka menerima obat itu, membiarkan cairan pahit itu masuk ke dalam mulutnya. Namun, dengan gerakan yang sudah sangat terlatih, ia menahan cairan itu di pangkal lidahnya tanpa menelannya sedikit pun.
Begitu si pelayan berbalik dan melangkah pergi, Yoka membuang sisa obat itu ke dalam kain tersembunyi.
" Aku yakin mereka adalah kaki tangan Elias . " batin Yoka dengan kemarahan yang tertahan. "Aku tidak boleh gegabah. Untuk sementara, aku akan mengikuti permainan kotor mereka."
Yoka kini menyadari sepenuhnya kebenaran yang mengerikan itu. Penyakit yang menderanya selama bertahun-tahun bukanlah takdir, melainkan rencana sistematis Elias.
Bagaimana tidak setiap kali Yoka meminum obat yang di berikan pelayan , tubuhnya justru terasa semakin rapuh dan layu? Seolah obat itu bukan untuk menyembuhkan, melainkan racun yang perlahan-lahan ingin memadamkan nyawa Yoka tanpa meninggalkan jejak.
Tatapan mata Yoka tetap kosong, menatap langit-langit kamar dengan hampa, namun di dalam kepalanya, badai sedang berkecamuk.
" Aku harus bertahan hidup. Aku tidak boleh mati sebelum aku bisa mengungkap kejahatan Elias di depan semua orang " bisik hatinya penuh tekad.
Pikiran Yoka kemudian beralih pada sosok yang kini tengah menjadi buronan yang paling dicari. " Sedra... aku harus menemukannya . Aku harus menyelamatkannya dari fitnah biadab ini."
Keheningan di kamar itu tiba-tiba terusik. Telinga Yoka yang tajam menangkap suara langkah kaki di lorong . Sebuah irama langkah yang sangat familiar, langkah yang selalu membuatnya waspada. Suara itu semakin dekat, pelan namun terasa begitu mengintimidasi saat berhenti tepat di depan pintunya.
Bersambung....
🌽🌽🌽🌽