NovelToon NovelToon
Bullet Train To Yesterday

Bullet Train To Yesterday

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Dunia Masa Depan / Romansa Fantasi
Popularitas:391
Nilai: 5
Nama Author: AnaRo

Rain dan Ayyara adalah definisi manusia modern yang mandiri. Di usia kepala tiga, keduanya telah mencapai titik nyaman: karier yang stabil, gaya hidup childfree, dan prinsip teguh anti-pernikahan. Bagi mereka, cinta hanyalah distraksi yang mengancam kebebasan yang telah mereka bangun dengan susah payah.
​Namun, semesta memiliki rencana lain.
​Dalam perjalanan bisnis menggunakan kereta cepat, sebuah cahaya putih seterang kilat menghantam dan melemparkan kesadaran mereka ke masa tujuh belas tahun yang lalu.
Di tengah pencarian cara untuk kembali ke masa depan, sebuah pertanyaan mulai menghantui: Jika mereka berhasil memperbaiki masa lalu, apakah "kebebasan" di masa depan masih menjadi hal yang mereka inginkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaRo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Meriahnya pesta ulang tahun

Aku terpaku di ambang pintu, nyaris kehilangan keseimbangan jika saja Rain tidak menahan lenganku. Mataku mengerjap berkali-kali, mencoba memproses pemandangan surealis yang tersaji di depan mata.

​Absurd. Satu kata itu bahkan tidak cukup untuk melukiskan kekacauan visual ini.

​Di halaman rumah yang cukup luas itu, puluhan anak kecil dari berbagai rentang usia—mulai dari balita yang merangkak hingga anak SD yang berlarian—memenuhi setiap sudut. Balon-balon berwarna mencolok melayang di udara, dan aroma permen kapas bercampur dengan bau minyak telon yang menyengat.

Di tengah kerumunan itu, seorang badut dengan riasan wajah yang terlalu lebar sedang sibuk membuatkan balon berbentuk pedang.

​Namun, pusat dari segala kegilaan ini adalah Niko.

​Pria itu berdiri di atas panggung kecil yang dihiasi backdrop warna-warni. Ia tidak memakai kaos hitam seperti yang dikatakan Mili. Niko mengenakan setelan jas tuxedo lengkap, sangat formal, sangat rapi, seolah-olah ia sedang bersiap menghadiri gala penghargaan di istana negara—bukan merayakan ulang tahun di tengah gerombolan bocah yang sedang memperebutkan bungkusan makanan ringan.

​"Rain..." bisikku dengan suara bergetar, masih belum berani melangkah masuk. "Ini... ini kumpul keluarga atau perayaan hari anak nasional?"

​Rain hanya menghela napas panjang, ekspresinya datar seolah sudah terbiasa dengan kegilaan ini. "Selamat datang di dunia Niko, Ra. Di kepalanya, dia masih berusia sepuluh tahun, tapi dengan anggaran orang dewasa."

​Aku menoleh ke arah meja prasmanan, dan di sana kulihat Mili sedang berdiri dengan wajah yang disembunyikan di balik telapak tangan. Ia mengenakan masker hitam yang sangat rapat, persis seperti instruksinya di telepon tadi. Saat melihatku, ia hanya bisa melambai lemas, seolah ingin berkata: 'Tolong aku, !!" kakaknya memang gila.'

​"Dia... dia pakai jas, Rain? Di siang bolong begini? Di depan anak-anak kecil itu?" tanyaku lagi, masih dalam fase penolakan.

​Niko tiba-tiba melihat kami. Ia melambai dengan semangat yang meluap-luap, jasnya berkilat tertimpa cahaya matahari. "Ayyara! Rain! Sini! Acara potong tumpengnya mau dimulai! Kak Badut, tolong buatkan mahkota balon untuk teman-temanku!"

​Aku spontan memundurkan langkah, merapatkan kardiganku. Penampilanku yang baru saja pulang dari kencan buta dengan gaun cantik dan riasan salon ternyata sangat tidak membantu. Di sini, aku justru terlihat seperti salah satu karakter di pesta ulang tahun mewah ini.

​"Rain," gumamku lirih sembari menatap badut yang kini berjalan ke arah kami dengan mahkota balon warna kuning. "Sepertinya kencan buta dengan Zayn tadi jauh lebih masuk akal daripada lima menit pertama di sini."

​Rain terkekeh, suara tawa yang jarang kudengar. "Pakai maskermu, Ra. Seperti kata Mili, ini adalah latihan mental terbaik sebelum kamu menghadapi pernikahan Bian nanti."

Beberapa menit disini aku menyadari,

Ternyata kegilaan ini bukan hanya milik Niko sendirian. Di sudut taman, aku melihat kedua orang tua Niko yang tampak sama bahagianya. Mereka tertawa lepas, membagikan bungkusan suvenir kepada puluhan anak kecil yang mengerubungi mereka.

Sepertinya, merayakan ulang tahun anak dewasa dengan mengundang seluruh anak tetangga adalah bentuk sosialisasi paling ekstrem yang pernah kulihat.

​"Ini berulang setiap tahun," bisik Rain tepat di telingaku, suaranya nyaris tenggelam oleh bunyi trompet plastik yang ditiup salah satu bocah.

​Aku menoleh ke arahnya, masih dengan tatapan tak percaya. "Dan kamu... selalu datang?"

​Rain menghela napas panjang, tatapannya menerawang. "Jika aku mencoba menghilang, ibunya sendiri yang akan menjemputku ke rumah. Bahkan dulu, mendiang nenekku adalah salah satu penggemar berat pesta ulang tahun Niko ini. Beliau bilang, setidaknya ada satu hari dalam setahun di mana dunia terasa benar-benar jujur, meski absurd."

​Aku menyapu pandangan ke seluruh area pesta. Benar saja, di antara kerumunan ini, orang yang benar-benar bisa disebut sebagai 'teman' Niko hanyalah Rain, dan sekarang... aku.

Sisanya hanyalah massa yang ikut merayakan kegembiraan, orang-orang yang mungkin hanya datang demi donat green tea atau sekadar ingin melihat atraksi badut gratisan.

​Tiba-tiba, Niko melompat turun dari panggung kecilnya. Dengan setelan jas tuxedo yang masih tampak kaku, ia menghampiri kami sembari menyanyikan lagu ulang tahun untuk dirinya sendiri dengan suara lantang.

​"Ayo, jangan malu-malu! Masa tamu kehormatan pakai topeng!" serunya ceria.

​Sebelum sempat aku menghindar, tangan Niko bergerak cepat. Ia melepas masker yang kupakai, lalu melakukan hal yang sama pada Rain.

Aku merasa telanjang di tengah keramaian ini. Bahkan semua wali anak - anak yang tak mau terlibat secara langsung mengasingkan diri mereka di sebuah tenda, Dan nampaknya sedikit mentertawakan kami. Di sisi lain, Mili yang berdiri tak jauh dari kami langsung menutup wajahnya rapat-rapat dengan kedua telapak tangan. Bahunya gemetar, entah karena menahan tawa atau menahan malu yang teramat sangat.

​"Ra..." Mili berbisik lirih saat Niko kembali sibuk memimpin anak-anak bernyanyi. "Aku mohon dengan sangat, tolong jangan bocorkan kelakuan Kak Niko ini di depan teman-teman kantor. Bisa jatuh harga diriku kalau mereka tahu kakak kandungku merayakan ulang tahun ke-27 dengan badut dan jas resmi."

​Aku hanya bisa tersenyum simpul, menepuk bahu Mili untuk menenangkannya.

Di tengah keriuhan yang aneh ini, aku justru merasa ada kehangatan yang tulus. Niko tidak peduli dengan apa yang dipikirkan dunia; ia hanya ingin bahagia dengan caranya sendiri.

​Aku melirik Rain yang kini sedang dipaksa memakai mahkota balon kuning oleh seorang anak kecil. Ia pasrah, meski wajahnya tetap datar tanpa ekspresi. Melihat pemandangan itu, rasa jengahku perlahan menguap. Beruntung kami sudah terlatih di kafe kids.

​Mungkin, terjebak di tahun 2019 bersama orang-orang "ajaib" ini adalah cara semesta mengingatkanku bahwa hidup tidak selalu tentang hitungan waktu. Terkadang, hidup hanya tentang menikmati donat rasa rumput dan menjadi saksi kebahagiaan seorang pria dewasa yang menolak untuk tumbuh besar di hari ulang tahunnya.

Awalnya, aku dan Rain berdiri kaku layaknya manekin di tengah etalase toko mainan. Namun, Niko bukan tipe orang yang membiarkan tamunya menjadi penonton pasif. Dengan jas tuxedo-nya yang kini sedikit kusut karena menggendong salah satu bocah tetangga, ia menarik tangan kami paksa ke tengah area "lantai dansa" yang sebenarnya hanyalah hamparan rumput dengan sisa konfeti.

​"Ayo, Ra! Rain! Masa kaku banget kayak kanebo kering!" seru Niko sembari memberikan instruksi pada si badut untuk mulai meniup peluit panjang.

​Mau tak mau, pertahananku runtuh. Aku melirik Rain yang kini sudah pasrah dengan mahkota balon kuning yang miring di kepalanya. Aku sendiri? Niko baru saja memasangkan bando telinga kelinci berwarna merah muda yang menyala. Kami saling pandang selama beberapa detik, lalu tawa kami pecah secara bersamaan.

Itu adalah tawa paling jujur yang pernah kurasakan sejak mendarat kembali di tahun 2019.

​"Kamu terlihat... luar biasa, Rain," godaku sembari menunjuk balon kuningnya.

​"Jangan mulai, Ra. Kamu sendiri terlihat siap untuk melompat ke lubang kelinci 'Alice in Wonderland'," balasnya dengan senyum tipis yang tak lagi dipaksakan.

​Sesi foto menjadi bagian paling gila.Niko menyewa fotografer profesional—yang sepertinya juga bingung harus mengarahkan gaya seperti apa—untuk memotret kami bertiga. Niko di tengah dengan pose formal ala CEO, sementara aku dan Rain di sampingnya harus berpose "V-sign" dengan latar belakang anak-anak yang sedang berebut donat green tea.

​Kami berfoto dengan berbagai gaya; mulai dari gaya serius yang gagal karena ada anak kecil yang tiba-tiba memegang kaki Niko, hingga foto melompat yang membuat gaun butikku tersingkap sedikit dan membuatku tertawa sampai sakit perut.

​Puncaknya adalah saat makan kue bersama. Kue ulang tahun Niko bukan black forest elegan, melainkan kue tart raksasa berbentuk karakter robot jadul yang warnanya sangat mencolok. Kami duduk lesehan di karpet plastik bersama anak-anak. Aku mencicipi krim biru dari kue itu, sementara Niko menyuapi Rain sesendok besar kue dengan paksa.

​"Enak kan? Ini rasa 'nostalgia'!" teriak Niko bangga.

​Satu jam kemudian, keriuhan itu perlahan surut. Satu per satu anak tetangga pulang dengan membawa bingkisan, menyisakan halaman yang berantakan dengan sisa balon pecah, piring kertas, dan remahan kue. Si badut sudah pamit, menyisakan kami berempat—aku, Rain, Niko, dan Mili—di tengah kesunyian sore yang mulai merayap.

​Niko melepas jasnya, menyisakan kemeja putih yang lengannya digulung hingga siku. Wajahnya tampak lelah tapi sangat puas. Tanpa dikomando, aku dan Rain mulai bergerak membantu. Aku mengumpulkan piring-piring plastik bekas, sementara Rain membantu Niko melipat kursi-kursi sewaan.

​"Ra, beneran nggak apa-apa bantu beresin?" tanya Mili yang sedang mengumpulkan sampah plastik, wajahnya masih memerah karena sisa rasa malu.

​"Nggak apa-apa, Mil. Justru ini bagian paling menenangkan," jawabku tulus.

Rain menghentikan motornya tepat di depan gerbang kos bercat abu-abu yang tampak mulai kusam dimakan usia. Aku turun perlahan, melepaskan helm, dan mencoba merapikan rambutku yang berantakan terkena angin jalanan.

​"Ra," panggil Rain saat aku baru saja hendak melangkah masuk. Ia masih duduk diam di atas motor, menatap fasad gedung kosku dengan dahi yang sedikit berkerut, seolah sedang menghitung sesuatu di kepalanya. "Setiap hari kamu ke kantor naik apa? Bus atau ojek online?"

​Aku menoleh, menyisipkan anak rambut ke belakang telinga sembari tersenyum tipis. "Gantian. Kalau lagi ingin melamun dan menikmati jalanan, aku naik bus. Tapi kalau sudah telat karena kebanyakan melamun di kamar, ya terpaksa ojek online. Memangnya kenapa?"

​Rain tidak langsung menjawab. Ia memutar kunci, mematikan mesin motor hingga suasana di gang sempit itu mendadak sunyi senyap.

​"Jarak dari sini ke kantor lumayan jauh, Ra. Apalagi kalau sudah masuk musim hujan begini," ucapnya dengan nada yang lebih berat. "Apa kamu nggak ada rencana cari kos lagi di area yang lebih dekat seperti dulu? Maksudku, kalau kamu mau, besok lusa pas weekend, kita cari bareng? Kebetulan kontrakan yang kemarin aku booking juga masih belum jelas sudah kosong atau belum. Sekalian aku mau pastikan itu juga."

​Aku tertegun sejenak.

Ada kehangatan yang merambat di dadaku mendengar tawarannya yang begitu spontan. Rain yang biasanya irit bicara, kini menawarkan bantuan yang sangat praktis.

​"Terima kasih, Rain. Tawaran yang menarik," kataku, mencoba menetralkan rasa canggung yang tiba-tiba muncul. "Nanti malam aku coba cari-cari pilihannya secara online dulu. Kalau sudah ada yang sreg di mata, baru kita survei bareng hari Minggu. Dan... terima kasih juga untuk hari ini."

​Aku mengangkat paper bag bergambar kartun retro berisi camilan anak-anak itu, sedikit menggoyangkannya di udara sebagai tanda pamit.

​Rain mengangguk pelan, seulas senyum tipis yang tulus muncul di wajahnya. "Sama-sama, Ra. Masuklah, istirahat. Jangan sampai camilan Niko itu membuatmu lupa makan malam beneran."

​Aku tertawa kecil, melambai sekali lagi sebelum gerbang abu-abu itu tertutup, memisahkan kami. Di balik punggungku, deru mesin motor Rain kembali terdengar, menjauh perlahan, meninggalkanku.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!