Enam tahun lalu, Alisha Husnah melangkah keluar dari kediaman mewah keluarga Raffasyah dengan hati hancur. Sebuah skandal menjijikkan yang dirancang rapi memaksanya percaya bahwa suaminya, Fardan, telah berkhianat. Alisha pergi, membawa rahasia besar tentang janin yang dikandungnya.
Kini, takdir membawa mereka bertemu dalam sebuah proyek besar. Fardan, sang CEO dingin yang menyimpan dendam atas kepergian istrinya, memberikan ultimatum kejam: kembali padanya atau kehilangan hak asuh atas putra mereka, Ghifari.
Namun, baik Fardan maupun keluarga besar Raffasyah tidak menyadari satu hal. Ghifari bukan sekadar bocah biasa. Dibalik wajah imutnya, tersimpan kecerdasan genius yang ia warisi dari ayahnya. Sementara orang tuanya terjebak dalam perang dingin dan sisa-sisa cinta yang luka, Ghifari mulai bergerak dibalik layar.
Dia bukan hanya ingin menyatukan Ayah dan Ibunya saja. Tapi misinya ingin membongkar topeng busuk para penghuni "istana" yang memisahkan keluarganya. Si kecil siap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DUEL DIGITAL.
Malam semakin larut di Jakarta, namun di dalam kamar kerjanya yang bernuansa futuristik, Ghifari sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda mengantuk. Jemari mungilnya menari dengan kecepatan luar biasa di atas papan ketik. Cahaya biru dari tiga monitor besar terpantul di lensa mata kecilnya yang tajam. Ia baru saja selesai menyalin data dari ponsel ibunya dan kini sedang menelusuri jejak sinyal yang melintasi benua.
"Sembunyi di balik peladen enkripsi militer, ya? Menarik sekali," gumam Ghifari dengan senyum miring yang terlihat sangat dewasa.
Tak butuh waktu lama bagi sang jenius cilik untuk membongkar lapisan perlindungan tersebut. Hasilnya mengejutkan. Pengirim pesan itu bukan Sherly, melainkan seseorang dengan profil yang jauh lebih berbahaya. Alexander, kakak laki-laki Sherly. Pria itu kini bersembunyi di sebuah apartemen mewah di luar negeri, memendam dendam yang membara setelah kehancuran bisnis keluarganya dan pengasingan adiknya ke pulau terpencil oleh Fardan.
Fardan masuk ke dalam kamar Ghifari dengan wajah lelah namun penuh rasa ingin tahu. Ia melihat putranya sedang fokus pada deretan kode yang rumit. "Jagoan, kenapa belum tidur? Apa yang sedang kau kerjakan?"
Ghifari tidak menoleh, matanya tetap terpaku pada layar. "Ada tikus besar yang mencoba masuk ke lumbung kita, Ayah. Namanya Alexander. Sepertinya dia tidak terima ayahnya terkena serangan jantung dan perusahaannya hancur total karena perbuatan Ayah."
Fardan tertegun dan segera mendekat. Ia menatap layar monitor yang menampilkan data pribadi Alexander dan seorang peretas bayaran terkenal yang disewa pria itu. "Alex? Aku pikir dia sudah menyerah. Jadi dia yang mengirim pesan ancaman pada Alisha tadi?"
"Benar. Dia menyewa hacker untuk meretas sistem perusahaan kita. Sekarang, mereka sedang mencoba memindahkan dana sebesar lima ratus miliar ke rekening luar negeri," jawab Ghifari dengan nada yang sangat santai, seolah hal itu bukan masalah besar.
Fardan panik dan hampir meraih ponselnya. "Lima ratus miliar? Ghifari, kenapa kau diam saja? Kita harus segera memblokirnya sekarang!"
Ghifari mengangkat tangan kecilnya, memberi isyarat agar ayahnya tenang. "Ssst, Ayah jangan berisik. Nanti Bunda dengar di dapur. Aku sengaja membiarkannya. Aku ingin dia merasa sudah menang. Biarkan dia melihat angka-angka itu masuk ke akunnya selama dua jam ke depan."
Fardan menatap putranya dengan dahi berkerut. "Kau gila? Itu uang perusahaan, Ghifari!"
"Percayalah pada anakmu ini, Ayah yang terhormat," balas Ghifari sambil melirik ayahnya sekilas. "Aku sudah memasang umpan balik. Uang itu sebenarnya tidak pernah keluar dari peladen utama kita. Yang dia lihat di layarnya hanyalah angka palsu yang aku buat agar dia merasa di atas angin."
Dua jam berlalu dengan ketegangan yang hanya dirasakan oleh Fardan, sementara Ghifari asyik mengunyah biskuit gandumnya. Di belahan bumi lain, Alexander tertawa terbahak-bahak di depan komputernya. Ia merasa sudah berhasil menghancurkan Fardan secara finansial sebagai pembalasan atas penderitaan keluarganya.
"Akhirnya, Fardan! Kau akan merangkak di bawah kakiku!" teriak Alexander dengan penuh kemenangan.
Namun, tepat saat jarum jam menunjukkan pukul dua pagi, Ghifari meletakkan biskuitnya. "Waktunya panen, Ayah. Perhatikan ini."
Dengan satu tekanan tombol Enter yang mantap, Ghifari meluncurkan serangan balik. Seketika, layar komputer Alexander berubah menjadi hitam dan muncul logo wajah bayi yang sedang tertawa. Dana yang tadinya terlihat di rekening Alex lenyap dalam sekejap, dan yang lebih mengerikan, seluruh aset pribadi Alex yang tersisa di luar negeri mulai terkunci satu per satu.
"Apa yang terjadi! Kenapa sistemnya terkunci!" teriak Alexander dengan histeris saat melihat peretas bayarannya menyerah karena komputernya meledak akibat beban data yang dikirim Ghifari.
Di Jakarta, Ghifari menyandarkan punggungnya di kursi dengan puas. "Aku baru saja membalikkan sistemnya. Sekarang, seluruh dana pribadinya sudah aku bekukan dan bukti keberadaannya aku kirimkan ke Interpol atas tuduhan pencucian uang dan serangan siber internasional."
Fardan melongo tidak percaya. Ia melihat di layar bagaimana Ghifari mengendalikan segalanya dengan begitu presisi. "Kau benar-benar menakutkan, Nak. Aku tidak tahu harus bangga atau merasa kasihan pada Alexander."
"Jangan kasihani dia, Ayah. Dia ingin menyakiti Bunda. Siapa pun yang membuat Bunda sedih, tidak akan aku biarkan tidur nyenyak," ucap Ghifari dengan suara kecil namun penuh penekanan.
Tiba-tiba pintu kamar terbuka. Alisha masuk membawa dua gelas susu hangat. "Kenapa kalian berdua belum tidur? Apa yang sedang kalian diskusikan seserius itu?"
Fardan dengan cepat berdiri dan menghalangi pandangan Alisha ke arah monitor, sementara Ghifari dengan sigap mengganti layar kodenya menjadi gambar kartun kucing yang sedang bermain bola.
"Ah, ini sayang, Ghifari sedang memamerkan kemampuannya menggambar digital padaku," bohong Fardan sambil tersenyum kaku.
Alisha menyipitkan mata, merasa ada yang aneh. "Menggambar digital sampai jam dua pagi? Dan wajahmu terlihat berkeringat, Fardan. Ada apa sebenarnya?"
Ghifari turun dari kursinya dan menghampiri ibunya, lalu memeluk kaki Alisha dengan wajah polos yang sangat menggemaskan. "Ayah tadi kalah main game denganku, Bunda. Dia jadi stres karena skornya jauh di bawahku. Makanya Ayah minta diajarkan cara main yang benar."
Alisha mengelus rambut Ghifari sambil tertawa kecil. "Oh, jadi itu sebabnya. Fardan, kau ini sudah tua jangan terlalu kompetitif dengan anak sendiri. Ayo, segera tidur. Besok kita harus ke kantor cabang."
Setelah Alisha keluar dari kamar, Fardan mengembuskan napas lega dan menatap Ghifari dengan tajam. "Tadi itu hampir saja. Dan apa kau bilang tadi? Aku payah dalam bermain game?"
Ghifari hanya mengangkat bahu sambil berjalan menuju tempat tidurnya. "Itu alasan yang paling logis untuk menyelamatkan muka Ayah di depan Bunda. Lagipula, Ayah memang tidak jago dalam hal teknologi, kan?"
Fardan mendengus, namun ia tidak bisa marah. Ia mendekati putranya dan menyelimutinya. "Terima kasih, Ghifari. Kau sudah melindungi kami semua malam ini. Tapi janji pada Ayah, jangan lakukan hal berbahaya seperti ini sendirian lagi."
"Selama mereka tidak menyentuh Bunda, aku akan diam, Ayah. Tapi jika mereka berani muncul lagi, aku akan memastikan mereka bahkan tidak bisa menyalakan lampu di rumah mereka sendiri," balas Ghifari sebelum memejamkan mata.
Fardan keluar dari kamar dengan perasaan campur aduk. Ia tahu ancaman dari Alexander mungkin belum berakhir sepenuhnya, karena pria itu pasti akan mencari cara lain untuk membalas dendam. Namun, melihat kehebatan Ghifari, Fardan merasa sedikit lebih tenang. Ia harus memastikan bahwa keamanan fisik keluarga mereka juga diperketat, karena ia tahu Alex bukan tipe orang yang hanya bermain di dunia digital.
Di kegelapan malam, Alexander yang sudah kehilangan segalanya bersumpah di depan rumah sakit tempat ayahnya koma. "Ini belum selesai, Fardan. Jika aku tidak bisa menghancurkan hartamu, aku akan menghancurkan apa yang paling kau cintai."
perjuangan
tapi di sebutkan anak anak maya