NovelToon NovelToon
Cara Hidup Di Masa Kiamat

Cara Hidup Di Masa Kiamat

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Hari Kiamat / Sistem
Popularitas:332
Nilai: 5
Nama Author: Lloomi

Saat langit retak dan hukum purba kembali berkuasa, manusia jatuh ke dasar rantai makanan. Di tengah keputusasaan itu, Rifana bangkit dengan luka yang tak kunjung sembuh dan ingatan yang perlahan terasa asing.

​Di dunia di mana para Superhuman mulai membangun tatanan baru di atas reruntuhan, Rifana hanyalah anomali yang membawa aroma maut ke mana pun ia melangkah. Dia tidak memiliki kekuatan yang memukau, hanya kemampuan adaptasi yang gila dan perasaan bahwa dirinya bukan lagi manusia yang sama.

​Berapa lama dia bisa bertahan di dunia yang tak lagi mengenali keberadaannya? Dan apa yang sebenarnya mengawasi dari balik fajar yang tak kunjung tiba?

Jadwal Up : 18.30 WIB
6-7 Ch/minggu

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lloomi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Terukir di permukaan

Bercak darah diseret sejauh mata memandang, Rifana mengikuti jejak itu yang kini mengering, terukir di permukaan aspal.

'Berapa banyak mayat yang diseret kemari?'

Langkahnya tanpa sadar dipercepat, dia merinding.

Rifana berjalan jauh, hanya dengan cahaya remang dari celah di langit yang menerangi jalannya.

Aneh, beberapa kali dia kehilangannya.

Namun banyak jejak lainnya tertinggal dimana mana 'Darahnya pasti habis di tengah jalan' Suasana telah janggal sejak tadi.

Langkahnya mengikuti darah itu, namun.

Rifana selalu menengok kebelakang, dia seakan ditatap dan dikuntit oleh sesuatu.

'Mulai gak bener nih.' Dia berjalan semakin cepat, kepalanya selalu menengok kebelakang.

Rasa takut terus memaksanya untuk waspada, ini mengingatkannya akan sesuatu.

'Tidak, itu tidak masuk akal' Rifana menggelengkan kepalanya menolak pikiran itu, lagipula itu hanya kata yang diucapkan seseorang di masa lalu.

Semakin kau takut, semakin mungkin hal itu terjadi.

Frasa pendek itu sudah cukup membuat dirinya khawatir saat ini, dunia telah kiamat sekarang. Ketakutan telah diarahkan pada objek yang berbeda.

Kematian.

Buktinya dia telah mengalaminya.

Dan ini adalah kesempatan terakhirnya.

Rifana berakhir berjalan dengan khawatir, sesuatu menyergapnya dari belakang. Lehernya dingin merasakan tatapan asing dari kejauhan.

Komplek perumahan itu telah sepenuhnya dikosongkan.

Rifana bahkan tak melihat satupun manusia lagi, dunia terlalu sunyi untuknya.

Tak ada rintihan, tak ada lolongan, yang ada hanyalah suara halus angin yang berhembus melewati telinganya.

Saat arahnya semakin jelas, Rifana memutuskan untuk bersembunyi dan beristirahat.

Dia memasuki salah satu rumah, dan rasa dingin di lehernya telah menghilang.

'Kuharap tempat ini aman' Dia membuka ranselnya, mengambil makanan ringan dan memakannya.

Ditengah itu, Rifana membuka panel sistem dan mengecek fitur Chat yang telah lama tak dia buka.

Fitur itu masih menampilkan +999 chat tak terbaca di layar, membuat Rifana menghela nafas tanpa daya.

Semua orang sangat sibuk berdiskusi, bagaimana cara mereka bertahan, atau bahkan membeberkan kesulitan yang mereka alami saat ini demi harapan mendapatkan bantuan.

Rifana hanya mengamati Chat log, tanpa pernah sekalipun mengirim pesan. Meski ingin, dia tak tau harus mengetik apa, skill komunikasinya sudah sangat buruk selama ini.

Dia akhirnya menutup Chat setelah beberapa saat, membaca pesan yang bergulir cepat terlalu memusingkan.

Rifana pergi ke lantai dua.

Kini, kakinya mulai menunjukkan gejala yang lama.

'Ugh...' Itu berdenyut saat rasa sakit yang merobek muncul, perasaan lama ini telah biasa dialami Rifana dia bahkan kini telah beradaptasi untuk menahannya.

Setelah mengatur nafasnya, dia bergumam pada berusaha menenangkan diri 'Tak apa, huft.. Ini tak seberapa..' Dia duduk di sofa rumah asing itu, memijat betisnya yang nyeri.

'Hanya sedikit lagi' Rifana terus menggumamkan kata yang menenangkan, ia memaksa pikirannya untuk percaya bahwa dia baik baik saja.

Rasa sakit itu perlahan menghilang saat Rifana tenang.

'Ha... Gua berhasil, mungkin efek regenerasinya juga ngaruh ke penyakit lama' Skillnya adalah penjelasan paling logis yang dia pikirkan, daripada berpegang pada ketidaktahuan. Dia lebih memilih untuk percaya pada kebohongannya sendiri.

Dia telah berjalan cukup jauh dari rumahnya, namun jejak darah itu masih berlanjut hingga saat ini.

Sekarang setelah sampai di ujung perumahan n dia menjadi semakin khawatir.

Di sana ada suatu tempat yang tak pernah disukainya 'Males dah gua' Ingatan buruk yang dialaminya masih terukir disana, memikirkannya saja sudah membuatnya gemetar.

Tak ada yang begitu menakutkan disana.

Hanya ada sebuah taman yang terletak di sisi danau besar, namun.

Rifana tak ingin mengingat itu.

Dia hanya diam, menatap langit yang luar biasa melalui jendela. Dia mungkin akan berterimakasih pada makhluk kolosal itu jika diberi kesempatan.

Perjalanan ini sangat lancar meskipun rasanya janggal, karena sepertinya makhluk mutasi kecil seperti tikus dan serangga telah melarikan diri dari sini.

Mungkin semua monster dalam radius 1 km dari rumahnya telah melarikan diri sepenuhnya, kecuali beberapa makhluk yang dilihatnya dari jauh.

Di sepanjang jalan tak ada satupun gangguan yang menghalanginya.

Itulah yang membuatnya khawatir, meskipun titan kolosal itu mengusir mereka semua, tidak mungkin mayat-mayat itu berjalan dengan sendirinya.

Rifana yakin kalau ada yang salah.

Dia menatap langit menikmati keindahannya yang mematikan, sebelum tertidur lelap di sofa lantai dua.

...

Waktu berlalu.

Dalam kondisi setengah tertidur sebuah suara ketukan terdengar di telinganya.

'!' Rifana terbangun dari tidurnya melihat sekitar dengan cepat, golok digenggam erat di tangannya bersiap pada apapun yang akan datang.

Tuk.. Tuk..

Suara ketukan itu terdengar sekali lagi 'Atas' Suara itu berasal dari atas!

'Namun ini lantai dua, bagaimana bisa!?' Saat dia mengikuti jejak itu sebelumnya, Rifana memang melihat beberapa siluet terbang dengan cepat di langit.

Ukurannya tidak normal untuk disebut burung, saat itu Rifana yakin dia telah bersembunyi dengan baik dan burung itu telah terbang menjauh.

'Jangan bilang..' Rifana mematung tak bergerak, berusaha tak memancing apapun itu di luar sana. Dia menutup mulutnya dan buru buru merangkak kebawah meja.

Rifana tak tau mengapa, namun dia merasa harus melakukannya dengan cepat.

Jika tidak.

Crack..

Jendela didepan pecah dengan keras, pecahan kaca berserakan ke lantai hampir terpental menusuk Rifana yang tengah bersembunyi.

Jantungnya bedegup kencang, dia meringkuk dibalik meja tak bergerak.

Menahan nafasnya sekuat tenaga Rifana melihat bayangan dari makhluk itu disorot ke sofa dihadapannya.

Matanya membelalak 'Sialan, beneran burung itu!' Tubuh makhluk itu hampir memenuhi jendela besar dua pintu yang dihinggapinya.

Nafas Rifana tercekat, makhluk itu mengikutinya!

Di jendela, burung besar itu mematuk bulunya beberapa kali. Kepalanya berbalik berkali-kali saat matanya mengamati ruangan itu.

"Kackk..." Dia melompat turun dari jendela.

Melalui paruhnya, darah segar menetes jatuh kelantai. Cairan itu dimuntahkan kebawah, mengagetkan Rifana.

Muntahan yang bercampur dengan darah itu terciprat ke punggung Rifana, menyebabkan rasa kesemutan aneh di sana.

'Abaikan, abaikan, abaikan' Dia menutup matanya, menekan dadanya dengan keras mencoba menutupi jantungnya.

makhluk itu mengacaukan lantai dua, pot porselen yang dipajang di dinding dicakar jatuh memecahkannya menjadi ratusan bagian, lemari kayu dirobek layaknya kertas dan pada akhirnya dia mendekat ke sofa.

Tatapan burung itu terpaku pada tumpukan buku di atas meja, kepalanya bergerak dengan aneh saat dia mendekat.

"Kack.."

Fokus makhluk itu tak tergoyahkan, dia bisa menjungkir balikan meja itu kapan saja.

Rifana di sisi lain telah sepenuhnya putus asa.

Tanpa sadar, dia mencengkram dadanya dan kini jantungnya.

Berhenti berdetak.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!