NovelToon NovelToon
Unbound By Royalty

Unbound By Royalty

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mengubah Takdir / Penyelamat
Popularitas:260
Nilai: 5
Nama Author: Yuan La

Alin dikirim ke negara asing untuk menjadi tenaga sukarelawan, negara berbentuk monarki. Terlibat percintaan yang dalam dengan sang pangeran. Pangeran yang mencintainya dengan sepenuh hati dan jiwanya. Namun takdir harus memilih antara tahta dan wanita. Disaat sistem monarki menuntutnya meneruskan kerajaannya, namun Alin hanya ingin hidup bebas tanpa terikat norma dan adat dibalik tembok besar. Akankah cinta mereka berakhir bersama atau justru melepaskan satu sama lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuan La, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 26 : Gangguan rapat

Sesampainya di hotel mewah di pusat kota Bingdu, Alin sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda ingin kabur. Sebaliknya, ia tampak terlalu bersemangat—sebuah pertanda bahaya yang seharusnya disadari Rei sejak awal.

Bingdu: Gangguan di Tengah Rapat Penting

Ruang pertemuan itu berdinding kaca besar yang menghadap langsung ke alun-alun kota yang tertutup salju. Rei duduk di ujung meja panjang, dikelilingi oleh para pejabat tinggi dan investor yang sedang memaparkan proyek pembangunan pelabuhan.

Namun, fokus sang Pangeran sama sekali tidak ada pada grafik di layar besar. Matanya terus melirik ke arah jendela kaca.

Di luar sana, di bawah suhu yang membekukan, Alin sedang "jalan-jalan".

Wanita itu sengaja memilih area yang paling terlihat dari ruang rapat. Dengan mantel putih pemberian Rei, Alin tampak asyik memberi makan burung merpati, tertawa lebar, dan—yang membuat rahang Rei mengeras—dia tampak berbincang akrab dengan seorang seniman jalanan yang sedang melukis potretnya.

"Yang Mulia? Mengenai alokasi dana di sektor ketiga..." Walikota Bingdu menunggu jawaban.

Rei terdiam. Ia melihat dari balik kaca bagaimana seniman itu menyentuh tangan Alin untuk memperbaiki posisinya. Pena di tangan Rei nyaris patah.

"Lanjutkan," sahut Rei pendek, suaranya lebih dingin dari salju di luar.

Beberapa menit kemudian, ponsel di saku jas Rei bergetar. Sebuah pesan masuk.

BIP

Alin: Rei, lihat ke bawah. Aku mau burger jumbo itu, tapi aku lupa bawa dompet. Bisa minta Yuchen turun sebentar? Atau kau saja yang turun?

Rei memejamkan mata sejenak. Ia tahu ini hanya taktik. Ia tahu Alin sedang mengujinya. Wanita itu bahkan tengah melambaikan tangannya dan menunjuk-nunjuk burger yang dimaksud.

"Yang Mulia, apakah ada masalah dengan poin kelima?" tanya seorang investor dengan ragu melihat sang Pangeran yang tampak tidak fokus.

Rei tidak menjawab. Ia justru bangkit berdiri, membuat seluruh ruangan mendadak hening dan tegang. Ia berjalan menuju jendela kaca besar, menatap tajam ke bawah tepat ke arah Alin yang kembali bercengkrama dengan seniman jalanan di sampingnya.

Rei berbalik ke arah forum rapat, auranya begitu mengintimidasi hingga para pejabat itu menahan napas.

"Pertemuan ini ditunda sepuluh menit," ucap Rei tegas.

"Tapi Yang Mulia, kita sedang di tengah poin krusial—"

"Sepuluh menit," potong Rei, suaranya mutlak.

Ia melangkah keluar ruangan dengan langkah lebar, diikuti Yuchen yang tampak kewalahan.

“Bawa Alin kemari. Seret dia jika menolak.” Dingin Rei memerintah Yuchen saat tiba di lobby hotel.

10 menit berlalu.

Alin melangkah dengan wajah kesalnya.

“Ada apa? Aku menyuruh mu untuk membelikan ku burger itu, bukan memaksaku untuk—.”

"Menyenangkan?" bisik Rei, napasnya terlihat seperti uap di udara dingin. “Aku akan turuti kemauan mu tapi setelah rapat ku usai. Sekarang ikut masuk kedalam ruangan itu dan tunggu ku, Yuchen akan membawamu masuk ke ruang rapat setelah aku. Kau akan duduk tepat di sampingku sampai pertemuan ini selesai." Rei menarik lengan Alin.

"Apa?! Tidak mau! Itu membosankan!" protes Alin.

"Pilihannya dua, Alin," Rei mendekatkan wajahnya, memberikan tatapan yang membuat Alin bergidik. "Duduk manis di sampingku sebagai dokter pribadiku, atau aku akan menciummu di depan seluruh pejabat itu sekarang juga agar mereka tahu kenapa fokusku terganggu."

Alin terdiam, wajahnya merona hebat antara marah dan malu. "Kau... kau benar-benar gila hormat!"

"Dan kau adalah gangguan yang paling indah, Dokter Yi," sahut Rei tenang sambil menarik tangan Alin menuju lift, kembali ke ruang rapat dengan kemenangan yang baru saja ia rebut kembali.

Alin tetap berulah meski sudah duduk di sebelah Rei, membuat sang Pangeran harus berjuang ekstra keras menjaga wibawanya.

Rei duduk kembali di kursi utamanya, sementara Alin duduk tepat di sampingnya. Suasana ruang rapat mendadak canggung karena para pejabat bingung melihat keberadaan seorang wanita dengan rambut yang sedikit berantakan karena angin salju di samping Pangeran mereka.

"Lanjutkan," perintah Rei dengan suara beratnya yang kembali tenang.

Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. Di bawah meja yang tertutup taplak beludru panjang, Alin mulai beraksi. Ia melepas salah satu sepatunya dan dengan sengaja mulai mengusik kaki Rei dengan ujung jemari kakinya.

Rei tersedak pelan di tengah penjelasan Walikota. Ia berdehem, mencoba tetap menatap layar presentasi. Tangannya yang berada di atas meja mengepal kuat, sementara tangan satunya di bawah meja mencoba menangkap kaki nakal Alin untuk menghentikannya.

"Mengenai efisiensi pelabuhan..." Walikota berhenti bicara karena melihat wajah Rei yang mendadak memerah. "Yang Mulia? Anda baik-baik saja?"

"Lanjutkan saja, Walikota. Saya hanya... sedikit kepanasan," sahut Rei. Ia kemudian menoleh pada Alin dan berbisik sangat rendah, "Hentikan, atau aku akan memangkumu di depan mereka semua."

Alin hanya tersenyum lebar tanpa suara, lalu dengan santainya mengambil pulpen mewah milik Rei dan mulai menggambar kumis kucing di kertas dokumen negara yang sangat penting itu. Rei hanya bisa memejamkan mata, menghela napas panjang, dan membiarkannya. Kesabarannya mencapai level dewa hari itu.

Rei melirik dokumen di depannya. Di sana, tepat di samping kolom tanda tangannya, ada gambar kucing sedang marah dengan tulisan kecil di bawahnya: "Pangeran Galak."

Bukannya meledak, Rei justru menarik napas dalam, mencoba meredam gejolak di dadanya. Ia mengambil kembali pulpen itu dari tangan Alin. Namun, bukannya menjauhkan tangan Alin, Rei justru menggenggam tangan wanita itu di atas meja—tepat di depan mata semua orang yang hadir.

Seluruh ruangan mendadak hening. Napas para pejabat seolah berhenti melihat kontak fisik yang begitu berani itu.

Alin tertegun. Ia mencoba menarik tangannya membiarkan pulpen tersebut diraih oleh Rei. Dan kali ini pangeran melepaskan mangsanya.

“Lanjutkan.” Perintah pangeran terhadap para pejabatnya.

"Kau ingin bermain, Lin?" bisik Rei, sangat pelan hingga hanya Alin yang bisa mendengar, sementara matanya tetap menatap layar presentasi dengan tajam. "Setelah ini, pastikan kau punya energi yang cukup. Karena aku tidak akan sesabar ini saat kita hanya berdua di kamar hotel nanti."

Alin menelan ludah. Nyalinya sedikit menciut melihat kilat di mata Rei yang kini tidak lagi menahan diri. Alin berniat membuat Rei tidak fokus, tapi ia lupa satu hal: Rei adalah seorang pemburu, dan sekarang, ia justru memberikan dirinya sendiri untuk "diterkam" dengan cara yang sangat berisiko.

Rapat tetap berlanjut selama satu jam penuh. Satu jam di mana Alin terpaksa duduk tegak dibawah tekanan Rei, menyadari bahwa mengusik seorang Pangeran di depan umum adalah ide yang sangat seru, namun memiliki konsekuensi yang sangat... panas.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!