Selama 15 tahun pernikahan dengan Angga, Nayra bahkan tidak pernah bahagia. Meskipun dia sudah memiliki dua orang putri. Sikap kasar Angga tidak pernah hilang, dia sering memarahi Nayra di depan kedua anaknya. Ternyata sikap Angga, bukan hanya membuat Nayra tersiksa, tapi juga anak pertamanya yang mulai beranjak remaja. Nayra sempat berpikir keras untuk pergi dari rumah itu, tapi yang dia pikirkan hanya kedua anaknya, bagaiman masa depannya. Nayra terus bertahan meskipun luka di hatinya semakin besar, rasa cinta untuk Angga kini telah hilang. Saat Nayra terjebak hutang, Angga masih saja menyalahkannya, kini Nayra sudah berada di titik pasrah. Tapi Tuhan maha baik hidup Nayra di tolong oleh Arsen Wiratama, pemilik perusahaan terbesar di kota itu. Arsen menolong Nayra, tapi semua tidak gratis, Nayra harus bersedia meninggalkan Angga dan juga menikah dengannya secara kontrak. Bagaimana kelanjutan pernikahan kontrak mereka.
IG : purpleflower3125
FB : Flower Arsyta
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 2 : Anda siapa?
Angga menelan ludah. Suasana hening itu terasa menekan, lebih menyakitkan daripada teriakan barusan. Matanya masih tertuju pada Raya, lalu turun ke Alea yang memeluk kaki kakaknya dengan polos. Untuk pertama kalinya, ia tidak tahu harus berkata apa.
"Ayah…" panggil Alea pelan lagi.
Suara kecil itu seperti mengetuk sesuatu di dalam dirinya.
Angga menghela napas panjang, lalu mengusap wajahnya kasar. Emosinya masih bergejolak, tapi kini bercampur dengan rasa bersalah.
"Sudah… kalian keluar dulu," ucapnya, suaranya kini lebih rendah.
Raya ragu. Ia menatap Nayra yang masih terisak.
"Ma, aku..."
"Nggak apa-apa, Sayang… kamu temenin Alea ya," potong Nayra lembut, meski suaranya masih bergetar.
Raya mengangguk pelan, lalu menggandeng Alea keluar. Pintu kembali tertutup.
Kini hanya tersisa Nayra dan Angga. Angga menatap lantai beberapa detik, lalu mengambil kertas tagihan yang tadi terjatuh. Ia menatap angka itu lama.
"Sebesar ini…" gumamnya.
Nayra hanya menunduk.
"Ada berapa totalnya?" tanya Angga tiba-tiba.
Nayra menggigit bibirnya. Ia ragu, tapi akhirnya berkata pelan, "Itu… yang paling besar."
Angga mengangkat wajahnya. "Paling besar? Jadi… ada lagi?"
Nayra tidak langsung menjawab. Dan diamnya, sudah cukup menjadi jawaban. Angga tertawa pendek, tapi kali ini bukan marah... lebih ke arah putus asa.
"Hebat…" katanya lirih. "Kamu simpan semua ini sendirian."
Air mata Nayra kembali jatuh. "Aku takut, Mas…"
Angga terdiam.
"Aku takut kamu marah, takut kamu ninggalin aku, dan takut semuanya hancur…" lanjut Nayra. "Makanya aku coba tanggung sendiri."
Angga mengepalkan tangannya lagi, tapi kali ini bukan untuk melampiaskan amarah..Ia berjalan beberapa langkah, lalu berhenti di dekat jendela. Lampu-lampu jalan mulai menyala di luar sana.
"Kamu pikir dengan diam… semuanya jadi lebih baik?" tanyanya tanpa menoleh.
Nayra menggeleng pelan, meski ia tahu Angga tidak melihatnya. "Aku salah…" bisiknya.
Angga melihat lagi kertas itu dan waktu yang ditentukan hanya tiga hari untuk membayar hutang.
Angga terdiam sesaat. "Waktunya hanya tiga hari. Aku… akan coba cari cara," ucap Angga, suaranya datar.
Nayra langsung mengangkat wajahnya, kaget. "Mas…"
"Tapi ini terakhir kali," potong Angga tegas. "Aku nggak mau ada rahasia lagi."
Nayra mengangguk cepat, air matanya jatuh semakin deras. "Iya, Mas… aku janji."
Namun di dalam hati Nayra, justru kegelisahan itu semakin besar. Karena ia tahu, jumlah itu tidak sedikit. Dan waktu hanya tersisa tiga hari.
Keesokan harinya…
Nayra duduk sendirian di halte kecil pinggir jalan. Tangannya menggenggam tas lusuh, matanya kosong menatap kendaraan yang lalu-lalang.
Ia sudah mencoba menghubungi beberapa teman… tapi tidak ada yang bisa membantu. Pinjaman sudah menumpuk. Dan kini… jalan seolah buntu.
Angin sore berhembus pelan, membuat rambutnya yang terikat berantakan sedikit terurai.
Nayra menghela napas panjang. "Apa aku harus… pinjam lagi?" gumamnya putus asa.
Namun bahkan ia sendiri tahu, itu hanya akan memperburuk keadaan. Tiba-tiba sebuah mobil hitam mewah berhenti tepat di depannya.
Nayra sedikit tersentak. Kaca mobil itu perlahan turun. Seorang pria tampan dengan setelan jas hitam terlihat di dalam. Wajahnya tegas, sorot matanya dingin… tapi tajam.
Pria itu memperhatikan Nayra beberapa detik. Lalu...
"Kamu Nayra Anindita?"
Nayra terdiam. Jantungnya mendadak berdetak lebih cepat.
"Siapa… Anda?" tanyanya ragu.
Pria itu tidak langsung menjawab. Ia membuka pintu mobilnya perlahan, lalu keluar. Tingginya menjulang, auranya dingin dan berwibawa.
"Saya sudah mencari kamu," ucapnya singkat.
Nayra semakin bingung. "Mencari saya?"
Pria itu menatapnya dalam. "Ada seseorang yang ingin menyelesaikan semua masalahmu."
Nayra membeku.
"Dan saya… ingin menjemput kamu."
Angin kembali berhembus. Dan tanpa Nayra sadari, pertemuan itu adalah awal dari takdir yang akan mengubah hidupnya selamanya. Nayra menatap pria itu dengan perasaan campur aduk... bingung, takut, tapi juga ada secercah harapan yang tidak ia mengerti.
"A-apa maksud Anda?" tanyanya pelan.
Pria itu tidak langsung menjawab. Ia hanya membuka pintu mobil di sampingnya.
"Masuk. Kita bicara di tempat yang lebih tenang."
Nayra ragu. Pikirannya berputar cepat. Ia bahkan tidak mengenal pria ini. Tapi… kata-katanya barusan, membuat jantungnya Nayra berdegup kencang.
"Saya tidak punya banyak waktu…" lanjut pria itu datar. "Kalau kamu ingin keluar dari masalahmu, ini satu-satunya kesempatan."
Ucapan itu seperti menekan Nayra. Ia menggenggam tasnya erat. Lalu… perlahan, ia melangkah masuk ke dalam mobil. Di dalam mobil, suasana hening. Hanya suara mesin halus dan jalanan kota yang terdengar samar. Nayra duduk kaku, tangannya saling menggenggam di pangkuan.
Sementara pria itu duduk di sebelahnya, menatap lurus ke depan.
"Apa Anda dari… perusahaan penagihan juga?" tanya Nayra hati-hati.
Pria itu melirik sekilas. "Bukan." Jawaban singkat.
"Lantas... Anda siapa?"
Beberapa detik pria itu diam.
"Saya Arsen Wiratama."
Nayra sedikit tertegun. Nama itu… terdengar tidak asing. Dan sebelum ia sempat berpikir lebih jauh...
"Saya CEO dari Wiratama Group."
Nayra langsung menoleh cepat, matanya melebar. Ia pernah mendengar nama perusahaan itu, itu perusahaan yang sangat besar.
"Tapi… kenapa Anda mencari saya?" tanyanya, masih tidak percaya.
Arsen menatapnya sekarang. Tatapannya tajam. "Karena kamu punya sesuatu yang saya butuhkan."
Deg.
Nayra menelan ludah. "Apa maksudnya?"
Arsen menyandarkan tubuhnya sedikit. "Baik langsung saja," katanya. "Semua hutangmu… akan saya lunasi."
Nayra membeku. Sejenak, ia bahkan lupa cara bernapas.
"Apa?"
"Tapi tentu saja," lanjut Arsen tenang, "semua itu tidak gratis."
Jantung Nayra kembali berdegup cepat. "Apa yang harus saya lakukan?" suaranya hampir berbisik.
Arsen menatapnya dalam. "Menjadi... istri saya."
Waktu seakan berhenti. Nayra menatapnya tak percaya.
"Anda… bercanda?" suaranya bergetar.
"Tidak." Jawaban itu dingin. Tegas. Tanpa keraguan. "Ini pernikahan kontrak. Tidak lebih," lanjut Arsen. "Saya butuh seorang istri untuk kepentingan tertentu. Dan kamu… butuh uang."
Kata-kata itu terasa tajam. Seperti kesepakatan tanpa perasaan.
"Tidak ada hubungan suami istri. Tidak ada campur perasaan. Kamu hanya perlu memainkan peran."
Nayra terdiam, pikirannya kacau. Ini gila, sangat gila. Tapi… bayangan Johan, surat tagihan, Angga, dan kedua anaknya. Semua itu muncul bersamaan.
"Apa… tidak ada cara lain?" tanya Nayra lirih.
Arsen menggeleng pelan. "Waktu kamu tinggal berapa hari?"
"Ti-tiga."
"Kalau begitu kamu tidak punya banyak pilihan."
Mobil itu terus melaju, dan di dalamnya Nayra sedang berperang dengan dirinya sendiri.
"Tapi, saya sudah punya suami…" ucap Nayra akhirnya.
Arsen tidak terlihat terkejut. "Saya tahu." Jawaban itu membuat Nayra langsung menoleh.
"Anda… tahu?"
"Saya tahu semuanya tentang kamu Nayra Anindita," katanya tenang. "Termasuk pernikahanmu."
Nayra merasakan dingin menjalar di tubuhnya. "Lalu kenapa, Anda tetap..."
"Karena itu bukan masalah bagi saya." Jawaban dingin itu membuat Nayra tercekat.
"Yang saya butuhkan hanya status. Bukan cinta."
Kata-kata itu menggantung di udara. Mobil perlahan berhenti di depan sebuah gedung tinggi yang megah. Lampu-lampunya menyala terang.
"Turun," ucap Arsen.
Nayra menatap gedung itu. Hidupnya seperti sedang berada di persimpangan. Satu langkah… bisa mengubah segalanya.
Arsen membuka pintu, lalu berdiri di luar. Ia menatap Nayra. "Keputusan ada di tanganmu."
Nayra menggenggam tasnya erat. Lalu perlahan, ia turun dari mobil. Langkahnya terasa berat, namun ia tetap berjalan. Menuju sesuatu yang bahkan ia sendiri tidak tahu, apakah itu jalan keluar?
semangat, lanjut thoor😄👍