NovelToon NovelToon
SILK AND STEEL

SILK AND STEEL

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Action / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:388
Nilai: 5
Nama Author: lusi rohmah

Ini bukan kisah cinta yang indah dan damai, melainkan hubungan yang dibangun di atas kekuasaan, ketakutan, dan hasrat yang membara namun membinasakan.


Disclaimer: ini cerita pendek

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lusi rohmah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

JEJAK YANG TERSISA DAN ANCAMAN YANG TAK TERDUGA

Alana melepaskan pelukannya perlahan, lalu menatap wajah Raka dengan pandangan yang bercampur antara rasa lega, sayang, dan juga kekhawatiran yang masih tersisa. Ia menyeka noda-noda hitam yang menempel di pipi dan dahi orang itu, tangannya bergerak dengan lembut seolah takut menyakiti meski sedikit saja.

“Lihat dirimu ini... tubuhmu penuh luka dan kotoran,” ungkap Alana dengan suara yang lembut tapi juga ada nada marah halus di dalamnya.

“Tadi aku sudah bilang kan, itu terlalu berbahaya. Kalau sampai ada apa-apa padamu, bagaimana nasibku nanti? Aku tidak akan pernah bisa memaafkan diriku sendiri kalau hal buruk menimpamu.”

Raka tersenyum mendengarnya, senyum yang terlihat lelah tapi juga tulus dan bahagia. Ia memegang tangan Alana yang sedang menyeka wajahnya, lalu mencium punggung tangan itu dengan lembut.

“Maafkan aku ya, sudah membuatmu khawatir lagi,” ujarnya dengan nada yang menenangkan,

“Tapi lihat, aku kembali dengan selamat kan? Dan yang lebih penting lagi, banyak nyawa yang bisa kita selamatkan. Semua itu sepadan, apalagi aku tahu aku punya alasan kuat untuk selalu kembali dengan selamat—yaitu dirimu.”

Kata-kata itu membuat wajah Alana yang tadinya terlihat cemas, kini kembali bersinar dan berwarna. Ia tidak bisa menahan senyum yang muncul di bibirnya, meski air matanya masih belum benar-benar kering.

“Kau ini... selalu saja bisa membuatku lupa marah dan lupa sedih hanya dengan kata-katamu saja,” ujar Alana sambil menundukkan wajah sedikit, merasa malu sekaligus senang.

Mereka berdua berdiri di sana, saling memandang dalam keheningan, seolah dunia di sekitar mereka tidak ada lagi. Suara orang-orang yang sibuk memadamkan api, suara orang yang menangis atau berbicara, semuanya terasa jauh dan tidak penting. Yang ada hanyalah mereka berdua, dan perasaan yang begitu dalam yang mengikat hati mereka.

Tapi suasana damai itu tidak berlangsung lama. Beberapa orang yang bertugas memeriksa tempat kejadian datang menghampiri mereka, wajah mereka terlihat serius dan penuh kebingungan.

“Tuan Raka, Nona Alana,” panggil salah seorang dari mereka.

“Kami sudah memeriksa seluruh bagian bangunan ini, dan kami menemukan hal yang aneh sekali. Kebakaran ini bukan terjadi karena kesalahan atau kecerobohan biasa... tapi ada tanda-tanda bahwa ini dilakukan dengan sengaja. Ada bahan-bahan khusus yang ditemukan di beberapa tempat, dan jalur apinya diatur sedemikian rupa supaya cepat menjalar dan sulit dipadamkan.”

Berita itu seketika membuat suasana berubah. Raka dan Alana saling berpandangan, keduanya merasakan bahwa ada sesuatu yang tidak beres, sesuatu yang masih belum selesai dari segala yang telah mereka lalui.

“Apakah kalian yakin itu?” tanya Raka dengan suara yang kembali menjadi tegas dan serius, rasa lelahnya seketika hilang terganti oleh kewaspadaan.

“Benar sekali, Tuan,” jawab orang itu lagi. “Dan bukan hanya itu saja. Kami juga menemukan jejak-jejak kaki dan barang-barang yang menunjukkan bahwa orang yang melakukannya sudah lama bersembunyi di sekitar sini. Sepertinya mereka sudah merencanakan ini sejak lama, dan menunggu saat yang tepat untuk melakukannya.”

Alana menggenggam tangan Raka lebih erat, rasa takut yang sempat hilang kini kembali hadir di dalam hatinya.

“Tapi siapa lagi yang masih melakukan hal seperti ini?” tangannya dengan suara yang sedikit bergetar,

“Kita sudah menangkap semua orang yang terlibat, bahkan yang paling tersembunyi sekalipun. Siapa lagi yang masih tersisa dan memiliki keberanian untuk berbuat jahat seperti ini?”

“Aku juga tidak tahu,” jawab Raka, “Tapi satu hal yang pasti, ini bukanlah perbuatan orang biasa. Orang yang melakukan ini pasti memiliki tujuan tertentu, dan ia tahu persis apa yang ia lakukan. Kita tidak boleh lengah sedikit pun, karena ini berarti masih ada bahaya yang mengintip kita dan orang-orang di sekitar kita.”

Mereka segera memerintahkan agar dilakukan pemeriksaan di seluruh penjuru kota, dan meningkatkan penjagaan di tempat-tempat yang penting dan ramai dikunjungi orang. Semua orang diminta untuk berhati-hati dan melaporkan apa saja yang terlihat mencurigakan, supaya hal-hal yang tidak diinginkan tidak terulang lagi.

><><><><

Beberapa hari kemudian, saat keadaan sudah mulai kembali tenang dan bekas kebakaran sudah mulai dibersihkan dan diperbaiki, mereka mendapatkan petunjuk yang lebih jelas. Dari keterangan beberapa orang yang melihat sesuatu yang aneh, dan dari bukti-bukti yang berhasil dikumpulkan, akhirnya mereka tahu siapa yang berada di balik peristiwa itu.

Ternyata, ada satu orang yang selama ini tidak terdeteksi sama sekali. Ia adalah adik kandung dari Darius, orang yang pernah mereka hadapi sebelumnya. Ia selalu hidup di bawah bayang-bayang kakaknya, dan ia menganggap segala sesuatu yang menimpa kakaknya dan kelompoknya itu adalah kesalahan dari Raka dan orang-orang yang bersamanya. Ia bersumpah akan membalas dendam apa pun yang terjadi, dan ia bersembunyi selama ini sambil menyusun rencananya dengan hati-hati dan rahasia.

“Namanya Rian,” ujar orang yang menyampaikan keterangan itu. “Ia tidak seberani dan sekuat kakaknya, tapi ia jauh lebih pendiam, cerdik, dan juga kejam. Ia tidak bergerak secara terang-terangan, tapi selalu bekerja dari belakang, dan ia pandai sekali menyembunyikan keberadaannya. Selama ini ia hidup berpura-pura menjadi orang biasa, sehingga tidak ada yang menyadari siapa dirinya yang sebenarnya.”

“Jadi inilah orang yang selama ini kita lewatkan,” ucap Raka dengan nada yang berat, “Kita pikir semuanya sudah selesai, tapi ternyata masih ada yang tersisa, dan ia menunggu kesempatan yang tepat untuk menyerang kita kembali.”

“Ia tidak hanya ingin mencelakakan kita saja,” tambah orang itu lagi, “Dari apa yang kami ketahui, ia berniat untuk menghancurkan segala sesuatu yang sudah kita bangun, membuat orang-orang menjadi takut dan tidak percaya lagi, dan kemudian ia akan muncul seolah-olah ia orang yang baik dan bisa diandalkan. Ia ingin mendapatkan apa yang menurutnya seharusnya menjadi miliknya, sama seperti orang-orang jahat yang lain.”

“Tapi ia tidak akan pernah berhasil,” kata Alana dengan tegas, “Kita sudah melewati begitu banyak hal sulit dan berbahaya, dan kita selalu bisa mengatasinya. Ia tidak akan bisa mengubah apa pun, dan ia juga akan mendapatkan apa yang pantas untuk ia terima.”

“Kau benar, sayangku,” kata Raka sambil menoleh ke arah Alana, matanya terlihat penuh kekuatan dan keyakinan.

“Tapi kita juga tidak boleh meremehkannya. Ia sudah bersembunyi begitu lama, dan itu menunjukkan bahwa ia orang yang sabar dan pandai merencanakan sesuatu. Ia pasti sudah tahu banyak hal tentang kita, dan ia akan menggunakan itu untuk melawan kita. Kita harus berhati-hati, dan kita harus bersiap menghadapi apa saja yang akan ia lakukan.”

><><><><

Hari-hari berikutnya dijalani dengan penuh kewaspadaan. Raka dan Alana tidak pernah berpisah terlalu jauh satu sama lain, dan di mana pun mereka pergi, selalu ada orang-orang yang menjaga dan mengawasi keadaan. Tapi meski suasana menjadi tegang dan penuh kekhawatiran, hubungan mereka berdua justru menjadi semakin erat dan kuat. Setiap saat yang mereka lalui bersama terasa semakin berharga, dan mereka selalu berusaha membuatnya menjadi momen yang indah dan tak terlupakan.

Suatu malam, saat bulan bersinar terang dan langit dipenuhi bintang-bintang yang gemerlap, Raka mengajak Alana pergi ke tempat yang menjadi tempat kesukaan mereka—tempat di mana mereka sering menghabiskan waktu bersama, tempat yang penuh dengan kenangan manis dan juga kenangan sulit yang pernah mereka lalui bersama.

Di sana, suasana terasa sepi dan tenang, hanya ada suara angin yang berhembus lembut dan suara serangga yang berkicau di sekitar mereka. Cahaya bulan yang putih dan terang menerangi seluruh tempat, menciptakan suasana yang begitu indah dan menyejukkan hati.

Mereka berjalan beriringan di antara pepohonan, tangan mereka saling tergenggam erat, seolah tidak ingin terpisah sedikit pun. Tidak ada banyak kata yang terucap, tapi kebersamaan itu saja sudah cukup membuat hati mereka merasa damai dan bahagia, meski mereka tahu bahwa ada bahaya yang masih mengintip di luar sana.

Setelah berjalan cukup jauh, Raka berhenti dan memutar badannya menghadap ke arah Alana. Ia menatap wajah gadis itu dengan pandangan yang begitu lembut dan dalam, pandangan yang membuat hati Alana berdebar kencang dan terasa penuh dengan kehangatan.

“Alana,” panggilnya dengan suara yang rendah dan lembut.

“Selama ini kita sudah melalui begitu banyak hal bersama-sama. Kita pernah merasakan suka dan duka, kita pernah berada di titik terendah dan juga di titik tertinggi dalam hidup kita. Kita sudah saling menyelamatkan, saling menopang, dan saling melengkapi satu sama lain. Dan dari semua itu, aku semakin yakin bahwa dirimulah orang yang ditakdirkan untuk bersamaku, untuk menjadi bagian dari hidupku selamanya.”

Ia berhenti sejenak, lalu berlutut di hadapan Alana. Dari dalam saku pakaiannya, ia mengeluarkan sebuah kotak kecil yang berisi sebuah cincin yang sederhana tapi terlihat indah dan berharga. Cincin itu terbuat dari bahan yang diambil dari tempat yang pernah mereka kunjungi bersama, dan diukirkan tanda yang hanya mereka berdua yang mengerti maknanya.

Melihat apa yang dilakukan Raka, mata Alana seketika terisi dengan air mata haru dan kebahagiaan. Ia menatap orang yang dicintainya itu dengan pandangan yang tidak percaya sekaligus penuh rasa sayang.

“Raka...” bisiknya pelan, suaranya terasa tercekat di tenggorokan.

Raka mengangkat wajahnya, dan senyum yang tulus terukir di bibirnya.

“Alana, gadis yang aku cintai lebih dari nyawaku sendiri,” tuturnya dengan suara yang jelas dan tegas.

“Maukah kau bersedia menemaniku sampai akhir hayat nanti? Maukah kau menjadi pendamping hidupku, untuk berbagi segala suka dan duka, segala kebahagiaan dan kesulitan yang akan kita lalui bersama? Aku berjanji akan selalu menyayangimu, melindungimu, dan setia kepadamu selamanya, tidak peduli apa pun yang akan terjadi nanti. Kau adalah segalanya bagiku, dan aku tidak bisa membayangkan hidupku tanpa dirimu di dalamnya.”

Air mata bahagia mengalir deras di pipi Alana. Ia mengangguk berulang kali, tidak bisa berkata-kata karena terlalu terharu dan senang.

“Ya Raka... aku mau... aku mau sekali,” jawabnya akhirnya dengan suara yang bergetar dan penuh rasa bahagia.

“Aku juga tidak bisa membayangkan hidupku tanpa dirimu. Aku akan selalu ada di sisimu, mendampingimu, dan menyayangimu sampai kapan pun juga. Aku bersedia menjadi pendamping hidupmu, dan kita akan menghadapi segala sesuatu bersama-sama.”

Raka tersenyum lebar, senyum yang paling bahagia yang pernah terlihat dari dirinya. Dengan hati yang penuh rasa syukur dan cinta, ia memasangkan cincin itu di jari tangan Alana, lalu mencium tangan gadis itu dengan lembut dan penuh rasa hormat.

Ia berdiri kembali, lalu menarik Alana ke dalam pelukannya. Mereka berpelukan erat sekali, merasakan kehangatan dan kebersamaan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata apa pun. Di bawah cahaya bulan yang terang dan bintang-bintang yang bersinar, momen itu menjadi sesuatu yang paling indah dan berharga dalam hidup mereka, sesuatu yang akan selalu mereka ingat dan jaga seumur hidup.

“Terima kasih, Alana,” bisik Raka di telinga gadis itu.

“Terima kasih telah hadir dalam hidupku, terima kasih telah menerima diriku apa adanya. Aku berjanji akan membuatmu menjadi orang yang paling bahagia di dunia ini.”

“Terima kasih juga padamu, Raka,” jawab Alana sambil menempelkan wajahnya di dada orang yang dicintainya itu.

“Kaulah yang membuat hidupku menjadi indah dan berarti. Aku sudah bahagia sekali hanya dengan bersamamu saja.”

Tapi kebahagiaan yang mereka rasakan itu seketika terganggu ketika dari kejauhan terdengar suara orang yang berteriak-teriak, dan terlihat cahaya api yang menyala di salah satu bagian kota. Mereka saling berpandangan, dan tahu bahwa itu pasti perbuatan Rian. Ia tidak tinggal diam, dan ia menyerang tepat di saat-saat yang paling bahagia dan berharga bagi mereka, berusaha menghancurkan segala sesuatu yang membuat mereka senang dan damai.

Raka segera melepaskan pelukannya, tapi ia tetap memegang tangan Alana erat-erat.

“Tetaplah di dekatku, Alana,” katanya dengan suara yang tegas tapi tetap lembut, “Aku tidak akan membiarkan siapa pun mengganggu kita, apalagi menghancurkan apa yang sudah kita miliki. Kita akan menghadapinya bersama-sama, seperti yang selalu kita lakukan selama ini.”

Alana mengangguk dengan tegas, matanya terlihat penuh keberanian dan keyakinan.

“Ya, kita akan menghadapinya bersama-sama. Tidak ada yang bisa memisahkan kita, dan tidak ada yang bisa menghancurkan kebahagiaan kita. Kita akan menghentikannya, dan kita akan hidup damai dan bahagia selamanya.”

Mereka segera bergerak menuju ke tempat di mana peristiwa itu terjadi, siap untuk menghadapi tantangan baru yang datang. Mereka tahu bahwa apa yang akan mereka hadapi kali ini bisa jadi adalah yang paling sulit dan berbahaya dari semuanya, tapi mereka tidak takut sama sekali. Karena mereka memiliki satu sama lain, mereka memiliki cinta yang tulus dan kuat, dan mereka memiliki keyakinan bahwa kebenaran dan kebaikan akan selalu menang pada akhirnya.

Perjalanan mereka memang belum berakhir, dan masih ada hal-hal yang harus mereka lalui dan selesaikan. Tapi mereka sudah siap, dan mereka tahu bahwa apa pun yang akan terjadi, mereka akan selalu bersama, saling melindungi, dan saling menyayangi selamanya. Dan itulah yang membuat mereka menjadi orang-orang yang paling kuat dan paling beruntung di dunia ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!