NovelToon NovelToon
CEO Terjebak Cinta Perjodohan

CEO Terjebak Cinta Perjodohan

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Dijodohkan Orang Tua / Janda
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ica Marliani

Aku adalah Raka. Seorang Pebisnis yang telah mapan sebelum usia kepala tiga. Aku mempunyai kekasih seorang janda beranak satu, hubunganku di tentang oleh mama dengan alasan perbedaan pandangan adat dan statusnya.
Aku dijodohkan dengan seorang wanita yang sama sekali tidak aku kenal. Akankah mama berhasil menjdohkanku atau mama akan luluh dengan pilihanku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ica Marliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6: Wanita Dalam Foto

“Ini fotonya.”

Aku terkesiap melihat wanita dalam foto yang Mama sodorkan. Tak salah lagi, wajah itu sangat mirip dengan pramugari yang menegurku saat di dalam pesawat. Aku menggigit bibir. Senyum wanita itu menari-nari di pikiranku. Secepat inikah aku menduakan Ningsih?

“Kak, dek-dekan, nggak?” Kania memecah kebisuan di antara kami.

Pagi ini aku dan Kania jalan santai di GOR yang jaraknya hanya beberapa menit dari rumah. Kami sengaja berjalan kaki ke sini.

GOR ini terakhir kali kukunjungi setelah tamat SMA. Saat itu aku berniat masuk Akmil. Namun sayangnya, impian itu harus kandas ketika aku gugur di tes kesehatan jasmani.

Aku kemudian menyelesaikan studi ilmu bisnis di Jakarta—balas dendam terbaik setelah cita-citaku runtuh.

Selesai kuliah, aku membuka perusahaan sendiri dengan modal dari Papa dan bekal ilmu kampus. Aku jatuh bangun merintis usaha, hingga akhirnya menjadi bos besar di usia yang masih terbilang muda.

“Yah, Kania dicuekin dari tadi.”

Sebuah pukulan ringan mendarat di bahuku, membuatku terperanjat.

“Sakit, Kania!” umpaku kesal.

Kania tertawa lebar, mengundang beberapa pasang mata menoleh ke arah kami.

“Kania nanya abang, malah nggak dijawab,” ujarnya sewot sambil melirikku.

“Abang juga bingung, Kania. Kamu tahu sendiri kerasnya Mama,” balasku sambil mendelik kesal.

Mungkin dari luar aku tampak biasa saja. Tapi di dalam relung hati, entah apa yang bisa kukatakan. Sejak pagi Ningsih sudah beberapa kali menelepon, dan semuanya kuabaikan. Entah ini yang disebut pengecut.

“Tapi Mama begitu demi kebaikan abang. Kak Ningsih bukan wanita terbaik untuk abang.”

Kania tampak sangat hati-hati memilih kalimat, mungkin takut aku tersinggung.

“Ningsih wanita baik dan lembut, Kania. Hanya karena statusnya janda Mama tak bisa terima.”

Aku menghela napas panjang. Setiap membahas Ningsih, dadaku terasa sesak.

“Bang, dia janda dan usianya masih muda. Wajar orang mempertanyakan. Apalagi latar pendidikan yang tidak setara. Dia orang luar yang tak punya suku. Otomatis nanti anak-anak abang juga tak punya suku.”

Kania tampak dewasa kali ini. Namun ucapannya menusuk hatiku. Jika saja dia bukan adikku, mungkin sudah kurobek mulutnya.

“Sebegitu pentingkah suku bagi kamu, Kania?” tanyaku datar, menatapnya tajam.

“Bang!”

Kania menatapku dalam. Ada sesuatu yang ingin ia sampaikan, tapi tertahan.

“Kamu belum kenal Ningsih, Kania. Kamu hanya menilai sisi buruknya,” ucapku mencoba menengahi.

Kania duduk di bangku pinggir lapangan. Ia melirikku sekilas sebelum memalingkan wajah ke seberang lapangan.

“Kalau dia berniat baik, seharusnya tiga tahun abang nggak pernah mudik, dia nggak menahan.”

Aku menarik napas berkali-kali.

“Setiap takbir berkumandang, Mama terisak hanya menyebut nama abang. Abang tahu nggak?”

Kania kini menatapku lagi. Wajahnya tegang, tanpa senyum.

“Apa, Kania?”

“Lebaran tahun kemarin, Kak Ningsih chat Mama.”

Kalimat itu membuat mulutku terbuka, tapi membeku. Mataku melotot, tak percaya.

“Apa? Ningsih chat Mama?”

Aku tertawa mengejek. “Mana mungkin. Dia saja takut dengar suara Mama. Dia nggak punya nomor Mama.”

“Kamu jangan becandain abang, Nia. Ningsih nggak pernah simpan nomor Mama.”

Aku meninggikan suara.

“Bang, Kak Ningsih mengirim foto abang berdua sama dia di kamar ke WhatsApp Mama.”

Duar.

Rasanya seperti disambar petir di pagi buta. Dadaku diremas begitu kuat. Seketika aku sadar—Ningsih tak sepolos yang kukenal.

Itu kejadian setahun lalu, beberapa hari sebelum Idulfitri. Tapi antara aku dan Ningsih tidak terjadi apa-apa. Aku hanya kelelahan setelah olahraga hingga hampir pingsan. Ningsih berinisiatif memapahku ke kamar.

“Tapi kenapa Mama nggak bilang, abang?” protesku pada Kania.

“Karena Mama nggak mau abang makin jauh. Abang pasti nggak akan percaya.”

Kania menghela napas berat. Dari raut wajahnya, kulihat ada penyesalan telah mengatakan semua ini.

Aku benar-benar seperti lelaki bodoh tak berpendirian.

Aku tak tahu harus mempercayai siapa. Ningsih selama ini tampak baik tanpa celah. Dan Kania—dia adikku. Aku sangat paham karakternya. Ia tak mungkin berbohong soal ini.

Kuremas kepalaku yang mulai buntu. Hingar-bingar pagi justru membuatku merasa sendirian.

“Itulah alasan terkuat Mama menjodohkan abang dengan Kak Laras.”

Kania menoleh padaku, menyunggingkan senyum hambar.

“Abang harus menelepon Ningsih.”

Kania menyipitkan mata, seakan mengejek.

“Kenapa? Abang nggak percaya sama Kania?”

Aku menggeleng pelan, lalu mengusap kepala adik bungsuku.

Aku harus tahu kebenarannya.

“Hallo, sayang. Akhirnya kamu meneleponku juga.”

Suaranya serak dan parau. Aku tahu dia habis menangis—tak satu pun chat dan panggilannya kubalas.

“Aku mau nanya sesuatu, Ningsih,” ucapku berat.

“Ada apa, Raka? Kamu baik-baik saja di sana?”

Nada khawatir itu tiba-tiba membuatku muak. Biasanya rengekannya adalah ketenanganku. Tapi sejak pengakuan Kania tadi, terasa ada jarak yang tercipta.

“Foto apa yang kamu kirim ke Mama sebelum Lebaran kemarin, Ningsih?”

Kata-kata itu keluar dengan emosi yang nyaris tak terkendali.

Bahkan Kania sampai terkejut melihat ekspresiku.

“Maksud kamu apa, sayang?”

Ningsih terbata-bata. Lama hening, lalu terdengar isakannya. Senjata andalannya setiap kali merasa bersalah—dan biasanya selalu membuatku luluh.

“Kenapa, Ningsih? Aku tahu kamu mencintaiku. Tapi apa yang kamu lakukan justru akan jadi penilaian buruk untukmu.”

Aku benar-benar kecewa. Wanita yang selalu kubela mati-matian di depan Mama.

“Maafkan aku, sayang,” isaknya.

“Aku hanya ingin memilikimu. Tapi Mamamu selalu menentang. Aku berharap dengan foto itu, Mamamu merelakanmu untukku.”

“Cukup, Ningsih!” potongku keras.

Tangisannya semakin parau, menghujani telingaku.

“Maafkan aku, Ningsih. Jika malam ini aku akan bertunangan dengan wanita pilihan Mama. Semoga setelah ini kamu menemukan laki-laki terbaik yang bisa memperjuangkanmu.”

Kalimat itu berhasil kukatakan—bahkan tanpa rasa bersalah.

Aku memutus sambungan telepon tanpa menunggu balasannya.

Beberapa detik kemudian, Ningsih menelepon lagi. Aku membiarkannya berdering, meski hatiku sangat sakit.

Kamu memang lelaki pengecut yang pernah aku kenal, Raka.

Ingat, aku tak akan pernah pergi dari kehidupanmu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!